Menantang Al-Qur’an
Seroang penulis Mesir, Kamil Gilani, menceritakan pegalamannya bersama seorang pengamat kebudayaan Timur bernama Finkle, yang gemar mengkritik al-Qur’an. Finkle, sahabat yang menjalin hubungan intleketual dengan Gilani itu berkata, “Katakan padaku, apakah engkau masih bersama dengan kelompok yang menganggap al-Qur’an itu sebagai sebuah keajaiban?” Tanya Finkle sambil tertawa dengan puas. Melihat sikap sahabatnya, Gilani pun ikut tertawa. Lalau dia bergumam, “Sebelum membicarajan pendapat kita tentang gaya al-Qur’an, pertama-tama kita harus melihat dulu apakah kita mampu membuat buku yang setara dengan al-Qur’an?! Setelah kita mencobanya, baru kita bisa mengambil keputusan, apakah manusia mampu menghasilkan sesuatu yang setara dengan al-Qur’an?”
Gilani lalu menantang sahabatnya yang fasih berbahasa Arab, Inggris, Jerman dan Ibrani itu untuk turut membantu menulis satu pemikiran al-Qur’an ke dalam bahasa Arab, guna membuat saingan terhadap al-Qur’an. Keduanya pun sepakat ingin menulis tetang neraka. Mulailah mereka menulis: “Neraka itu luas”, “Kepandaian manusia tak mampu mengukur dalamnya neraka”. Begitulah mereka terus menulis sampai mereka kehabisan kata untuk menulisnya. Gilani memandang Finkle dengan penuh kemenangan.
“Sekarang kita tahu, bahwa al-Qur’an melebihi semua karya manusia. Jika dibanding dengan al-Qur’an, kita hanyalah anak kecil.” Ucap Gilani puas. “Apa yang dikatakan al-Qur’an dengan fasihnya tetang neraka?” Selidik Finkle. Gilani kemudian membacakan suatu ayat dalam surat al-Qaf. “Di hari ketika kita bertanya kepada neraka: apakah sudah penuh?” Neraka menjawab “Apakah masih ada lagi?”***
Diambil dari Mohammad A Prophet for All Humanity
karya Maulana Wahiduddin Khan, Oleh Sofyan Tsauri, Pontianak