Pencerahan
Alhamdulillah saya sudah membaca karya Karen Armstrong yang terkenal, A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam—tentu saja dalam edisi Indonesia-nya. Saya pikir, siapapun yang membacanya akan segera berkesimpulan jika penulisnya memang brilian; menguasai tradisi keagamaan dan pergolakan keimanan pada tiga agama besar dunia: Yahudi, Kristen dan Islam—kendati harus dicatat bahwa worldview yang digunakan tidaklah Islami.
Sudut pandang yang tidak Islami itu, salah satunya, tampak dari persepsinya yang menggeneralisasi perspektif setiap pemeluk agama mengenai Tuhan; bahwa Tuhan adalah eksistensi yang dimunculkan oleh perspesi manusia. Artinya manusialah yang menciptakan agama sekaligus mempersepsi eksistensi Tuhan mereka. Padahal, kamâ huwal-ma‘lûm, Islam tidak termasuk dalam kategori ini.
Dalam Islam, Tuhanlah yang menciptakan agama, lalu memberikan petunjuk kepada manusia untuk mengikuti ajaran-ajaran-Nya, sehingga mereka mengenal Tuhannya. Jadi Tuhan dalam Islam tidak dibentuk oleh persepsi manusia. Karena itu sebetulnya mafhum Islam akan Tuhan berbeda, dan karena itu harus dibedakan, dengan mafhum-mafhum yang berkembang di luarnya.
Pada gilirannya kita akan mendapati Armstrong tampak sering terdesak pada ketidak-mungkinan untuk melakukan kajian “visi tiga sisi” (triple vision) dalam study comparative relegion yang dilakukannya. Akhirnya kajian pada suatu tema menjadi tidak seimbang. Dalam batas-batas tertentu, ini tak seperti pada bukunya yang lain, “Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World,” atau “The Battle for God,” atau “A History of Jerusalem: One City, Three Faiths,” ketika ia menggunakan pendekatan serupa.
Satu misal, ketika Armstrong membahas “Pencerahan” dalam A History of God. Di sini, ia nyaris tak memasukkan uraian apapun berkenaan dengan sejarah keimanan umat Islam. Ia hanya menguraikan pengalaman Yahudi dan Kristen secara panjang lebar. Hal itu terjadi karena memang Islam tidak memerlukan “pencerahan” apapun, kendati agama ini telah berusia satu setengah milenium.
Tak sebagaimana agama lain, Islam bukan agama sejarah, kultur atau budaya. Sejak awal, Islam diturunkan sebagai cahaya petunjuk bagi seluruh umat manusia, sehingga ia telah cerah sejak awal. Sebagai cahaya penerang, ia tidak perlu dicerahkan kembali seiring perjalanan sejarah, pergantian kultur dan budaya.***