Sensasi Kiamat: Dari Prediksi as-Suyuthi Hingga Mitos 2012
RAMALAN, prediksi ilmiah atau apapun namanya, bila terkait dengan tanggal terjadinya kiamat, selalu saja menarik. hal itu mungkin karena waktu kiamat adalah tema yang menantang, karena merupakan sesuatu yang sangat rahasia. tidak ada yang tahu kecuali allah, termasuk rasulullah muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam dalam keyakinan umat islam, atau yesus sekalipun dalam keyakinan umat kristen.
Tidak hanya orang-orang biasa, beberapa ulama pun juga tertantang untuk menerka-nerka kiamat, tentu dengan dalil-dalil agama yang dapat diterima menurut mereka. Konon, Imam ath-Thabari pernah memprediksikan bahwa kiamat akan terjadi pasca tahun 500 Hijriyah. Setelah ath-Thabari, terkaan yang paling heboh datang dari Imam as-Suyuthi, meskipun mungkin sebelum beliau juga masih ada ulama-ulama lain. Dalam kitabnya yang berjudul al-Kasyfu an Mujâwazati Hâdzihil-Ummah al-Alf Imam as-Suyuthi secara khusus membahas kapan akhir sejarah dari umat Islam. Kesimpulan inti dari kitab itu, bahwa usia umat Islam akan melewati 1000 tahun, tapi tidak sampai 1500 tahun.
Ada banyak dalil Hadis yang dijadikan pijakan oleh Imam as-Suyuthi dalam hal ini. Yang paling pokok adalah Hadis-hadis yang menyatakan bahwa usia dunia adalah 7000 tahun, dan umat Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berada di 1000 tahun terakhir.
Setelah mengutip ucapan Wahb bin Munabbih dalam riwayat Imam Ahmad, “Dunia ini telah melewati waktu selama 5600 tahun.”, Imam as-Suyuthi berkomentar, “Hal ini menunjukkan bahwa masa umat Islam melampaui 1000 tahun, kira-kira lebih 400 tahun.” Berarti menurut prediksi beliau, akhir sejarah dunia ini kira-kira terjadi pada abad 14 atau abad 15 Hijriyah.
Apa yang ditulis Imam as-Suyuthi itu menjadi salah satu rujukan utama para penulis Muslim modern yang berbicara tentang prediksi kedatangan al-Mahdi, Dajjal, Nabi Isa, Perang Besar (Armageddon) dan semacamnya, sebagaimana sudah banyak tersebar buku-bukunya saat ini. Sebab, buku apapun yang menulis tentang prediksi kiamat, baik yang menggunakan sudut pandang ilmu agama, astronomi, astrologi, primbon atau yang lain, selalu menjadi buku yang menarik minat baca dan tentunya juga minat beli.
Namun demikian, siapapun yang memberikan prediksi tentang kiamat tentu saja ia sedang membuat sebuah kontroversi, termasuk Imam as-Suyuthi atau Imam ath-Thabari sekalipun. Karena, bagaimanapun, telah ditegaskan dengan sangat jelas dalam al-Qur’an QS al-A’raf [7]: 187 dan sekian banyak Hadis sahih bahwa kiamat itu adalah rahasia Tuhan.
Imam al-Alusi dalam tafsir Rûhul-Ma’âni termasuk yang tidak setuju dengan apa yang ditulis oleh Imam as-Suyuthi. Beliau menyatakan, “Bila al-Mahdi tidak muncul pada akhir abad ini (Abad 13 Hijriah) maka apa yang dibangun oleh as-Suyuthi, secara otomatis menjadi roboh… Dan, menurutku bangunan itu memang roboh.”
Al-Alusi juga menolak semua prediksi tentang kiamat, seperti asumsi para filsuf yang menyatakan bahwa alam saat ini berada dalam periode kendali Virgo (Burûj Sunbulah). Bila periode ini berakhir maka akan terjadi bencana dan kerusakan total di bumi. Setelah itu, muncul kehidupan yang betul-betul baru di bawah kendali Libra (Burûj Mîzân). Juga, prediksi filsuf lain yang menyatakan bahwa periode kendali 12 bintang itu bila dijumlah maka hasilnya adalah 70008 tahun.
Asumsi para filsuf seperti yang disebutkan oleh al-Alusi ini sebetulnya mirip dengan mitologi kiamat ala Suku Maya yang sedang ramai diperbincangkan saat ini, atau penghitungan China ala Zhou Yi. Menurut Suku Maya, kiamat adalah siklus pembaruan alam yang terjadi setiap 5125 tahun sekali. Dalam setiap siklus itu bumi mengalami perubahan total. Yang membuat heboh, karena menurut hitungan kalender mereka, periode kehidupan saat ini berakhir pada tanggal 21 Desember 2012, kira-kira tiga tahun lagi.
Ramalan Suku Maya itu sebetulnya hanya sebuah mitologi sebagaimana mitologi kiamat yang sudah biasa dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Ramalan tersebut menuai perhatian luas hanya karena faktor sensasi publikasi. Sensasi itulah yang kemudian membuat orang bersemangat untuk menghubung-hubungkannya dengan berbagai prediksi ilmiah tentang kemungkinan terjadinya badai matahari atau peralihan magnet bumi pada tahun yang sama. Juga, dengan kalender Zhou Yi dari China dan kalender Indian Cherokee yang kebetulan juga berakhir pada tahun yang sama. Atau, kalau mau dipaksa-paksakan mungkin juga dihubungkan dengan prediksi Imam as-Suyuthi di atas, dan prediksi bangsa Sumeria di Timur Tengah bahwa planet Nibiru akan menghantam bumi pada tahun 2003. Orang-orang yang ingin mengail perhatian publik bisa saja memfokuskan seluruh prediksi tentang kiamat tersebut hanya kepada tahun 2o12, karena berbagai prediksi di atas kebetulan menyebut tahun yang sama atau saling berdekatan.
Yang jelas, apapun yang dikatakan orang tentang waktu kiamat, dengan menggunakan sudut pandang dan dalil apapun, tidak penting bagi kita untuk mempercayainya. Yang harus kita yakini adalah bahwa kiamat itu sudah dekat, karena Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku diutus, sedangkan kiamat seperti dua (jari) ini (jari telunjuk dan jari tengah).” (HR al-Bukhari).
Terhadap isyarat dua jari itu, ada saja orang yang berupaya untuk menafsirkan kapan kira-kira terjadi kiamat dengan membandingkan ukuran jari telunjuk dengan jari tengah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menolak keras upaya-upaya semacam itu. “Yang benar adalah tidak usah membahas hal itu… Yang memulai hal semacam itu adalah Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari…” tegas Ibnu Hajar. Sementara itu, kata Ibnu Hajar, Hadis-Hadis mengenai usia dunia yang disebutkan oleh ath-Thabari dalam mukadimah Târikh ath-Thabari, sebagian sanadnya sangat dha’îf, dan sebagian lagi maudhû’.
Hal yang sama ditegaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dengan sangat tegas ia menyatakan, “(Ramalan tentang usia dunia) ini termasuk kebohongan yang paling nyata.” Hal itu karena ramalan-ramalan tersebut bertentangan dengan pernyataan tegas al-Qur’an bahwa waktu terjadinya kiamat hanya Allah yang tahu.
Jika pendapat para ulama yang berdasarkan Hadis-hadis Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam saja ditolak oleh ulama-ulama yang lain, apalagi hanya sekadar asumsi Suku Maya tentang ilmu perbintangan kuno yang tentunya banyak bercampur baur dengan mitos dan khurafat!. Kepercayaan terhadap mitos-mitos hanya mengantarkan kita menjadi manusia yang terbelakang. Karena, salah satu ciri orang-orang terbelakang adalah ia lebih suka mendengarkan sesuatu yang luar biasa meskipun hal itu jelas-jelas tidak terjadi, daripada mendengarkan sesuatu yang biasa-biasa meskipun hal itu jelas-jelas terjadi.(*)