Dari Santri untuk Gus Dur
Tulisan ini tentu tidak akan bisa mengkafer setiap hal tentang Gus Dur secara utuh, bahkan mungkin sekadar curriculum vitae-nya saja sekalipun. Sebab Gus Dur adalah kyai, pemimpin organisasi, politisi, diplomat, “komentator” sepak bola, serta banyak lagi. Akhirnya banyak orang yang kesulitan memosisikan Gus Dur, dan karena itu mereka menempatkan Gus Dur di “rumah” masing-masing. Kini Gus Dur adalah tokoh dunia yang “dimiliki” setiap kalangan, yang karenanya terlalu kompleks dan “rumit” untuk mendeskripsikannya secara sederhana. Pernyataan keseharian Gus Dur yang sangat akrab dengan kita, “Gitu aja kok repot”, ternyata tidak benar-benar akrab jika kita gunakan untuk membaca pribadi dan kepribadian Gus Dur itu sendiri.
Jauh sebelum kewafatannya, telah banyak ragam apresiasi mengenai Gus Dur; apakah itu yang terlontar secara sporadis di kolom-kolom majalah, harian, analisis pendek di televisi, atau yang tertuang secara “utuh” dalam sebuah buku. Setelah kepergiannya, sebagaimana telah kita saksikan, Indonesia, bahkan mungkin dunia, tampak “sesak” oleh banyak hal tentang Gus Dur. Ungkapan belasungkawa, pujian, dukungan memperoleh identitas kepahlawanan, terus mengalir dari dalam dan luar negeri. Dan, yang tidak boleh dilupakan, shalat ghaib, tahlilan dan minimal pembacaan doa, terus mengalir dari para santri di seluruh negeri.
Secara akademis, Gus Dur memang tidak memiliki reputasi yang istimewa. Tapi siapapun tidak ada yang perlu menyangsikan prestasinya. Sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga internasional, serta Doktor Honoris Causa dari sekitar sepuluh universitas ternama di luar negeri, membuat siapapun jadi tahu jika Gus Dur adalah tokoh istimewa yang “tiada duanya”. Gus Dur-lah, seperti dikatakan banyak orang, sang pelopor di wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap “angker”. Gus Dur-lah, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, yang mempersilakan kyai-kyai NU berkunjung ke Istana Kepresidenan dengan memakai sarung dan sendal jepit. Gus Dur-lah orangnya, yang sekalipun menyandang status sebagai Kepala Negara, tapi masih akrab dengan hidangan kacang goreng dan jajan pasar.
Sepenggal cerita akan kesederhanaan Gus Dur “ala santri” itu membuat kita teringat akan gaya kepemimpinan Khulafâ’ur-Rasyidîn. Kita jadi teringat kepada Abu Bakar, yang kendati telah dilantik sebagai Khalîfatu Rasûlillâh, pada pagi-pagi buta beliau masih pergi ke pasar untuk mencari nafkah. Atau seperti Umar Ibnil-Khaththab, yang kendati telah didaulat sebagai Amîrul-Mu’minîn, masih meneruskan tradisi lamanya dengan tidur di bawah pohon. Kesederhanaan yang merakyat seperti itulah yang ditangkap oleh orang-orang akan Gus Dur, dan ternyata dari hal-hal yang serba biasa seperti itulah Gus Dur menggulirkan revolusinya sendiri.
Dan, akhirnya, begitu Gus Dur meninggalkan kita, spontan kita seakan menyaksikan suatu keajaiban. Bersamaan dengan hari-hari penutupan tahun 2009, Gus Dur tutup usia, dan karena itulah persiapan pesta pergantian tahun, hura-hura dengan segala pernak-perniknya, harus diganti dengan acara belasungkawa. Saat itu, kita menyaksikan seakan Dunia tampak tunduk di bawah “Sang Penakluk” Gus Dur, seorang Abdurrahman Wahid, yang memiliki nama asli Abdurrahman Addakhil, yang berarti Abdurrahman “Sang Penakluk” itu.
Maka, di bawah bayang-bayang kebesaran Gus Dur itu, para santri akan konsisten dengan tradisi dan pemikiran mereka sendiri. Para santri tidak akan ikut bergabung dengan orang-orang di luar mereka, yang menyibukkan diri hendak menyematkan status “pahlawan” untuk Gus Dur secara formal. Sebab, seperti biasa, dunia pesantren selalu mengedepankan isi daripada kulit. Pesantren terbiasa mengesampingkan label-label formal, sambil terus berkomitmen membangun kualitas melebihi standar-standar formal itu sendiri. Karena itu bagi para santri, sejatinya para pahlawan Indonesia jauh lebih banyak dari jumlah yang telah tercatat secara resmi. Sejak lama pesantren memiliki komitmen dan peran riil dalam memajukan bangsa, dan karena itu setiap pengasuh pesantren adalah pahlawan.
Adalah lebih penting bagi pesantren dan para santri untuk terus menjaga, melestarikan dan memajukan pesantren. Sebab, keprihatinan terhadap pesantrenlah yang membuat Gus Dur membatalkan niat belajar ke luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren. Untuk itulah, barangkali, Gus Dur, sebagai pemimpin pesantren besar yang bernama “Nahdlatul Ulama”, sebelum meninggal dunia, sempat berziarah ke makam kakeknya, KH. Hasyim Asyari dan mengatakan makam itu kotor. Tapi bukankah Gus Dur tidak bisa melihat? Memang, dan saat itupun makam KH. Hasyim Asyari masih bersih, dan itu sebabnya yang dimaksudkan Gus Dur sebenarnya adalah, bahwa NU itu harus dibersihkan dari campur tangan orang-orang yang tidak lagi memiliki ideologi yang bersih, dan malah mengotori NU. Makam Kiai Hasyim pun jadi kotor, dan karena itu perlu dibersihkan.(*)