09 September 2010 | 30 Ramadhan 1431 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Gairah Ilmiah I A S S

LUmrahnya, pada rubrik ini kita membahas isu-isu yang sedang up to date, berkenaan dengan wacana-wacana global. Wacana yang barangkali tampak jauh dengan masyarakat akar rumput. Akan tetapi penting untuk diingatkan, bahwa sesuatau yang up to date dan penting tidak hanya berkenaan dengan diskursus global. Hal-hal lokal pun kadang penting mendapatkan perhatian lebih, setidaknya agar kita tidak melupakan posisi kaki kita berpijak.

Bahwa kini kita tengah menyaksikan, atau mungkin juga ikut merasakan, tensi kegairahan yang menarik di tubuh IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri), dalam sejumlah aspeknya. Hal itu, setidaknya, tampak dari kegiatan-kegiatan yang belakangan intens digelar oleh IASS, baik yang melibatkan anggota IASS secara umum, seperti reuni nasional; anggota dalam lingkup konsulat, seperti haul masyayikh dan pengajian berkala; maupun pertemuan-pertemuan pengurus IASS.

Kita mengamati, atau mengikuti, pergerakan IASS secara konsisten terus maju ke depan, mengarah pada jenjang proferionalitas. Di sini IASS membentuk divisi-divisi yang memungkinkannya untuk bekerja secara profesional, mengembangkan dan memberdayakan anggotanya melalui sektor-sektor yang menjadi bagian dari bidang kerjanya; pendidikan, keterampilan, sosial-kemasyarakatan, dls.

Kendati terlalu dini untuk memperbin-cangkan hasil, pencapaian maupun prestasi, namun gairah aktivitas IASS yang kita saksikan hingga saat ini, sekurang-kurangnya ada hal baru dan menarik yang terjadi, yakni pengajian berkala yang diselenggarakan oleh IASS berdasarkan konsulat, dan diasuh langsung oleh Hadratusy-Syaikh KH A Nawawi Abd Djalil.

Bagaimanapun, kegiatan ini tampak telah memberikan kegairahan baru bagi setiap alumni. Tentu, kegairahan ini diharapkan terus menjadi semacam pembakar semangat yang tak padam-padam, terus berkobar, membentuk akumulasi semangat yang dahsyat, sehingga apa yang menjadi visi-misi atau cita-cita iktan ini segera tercapai.

Dari kegiatan semacam ini, setidaknya ada tiga manfaat yang akan dicapai:

Pertama, mengukuhkan identitas. Pengukuhan identitas di sini barangkali terjadi secara personal, dan tumbuh dalam perasaan masing-masing individu. Namun bagaimanapun, gairah yang ditunjukkan oleh alumni, dengan antusiasme yang tinggi untuk berpartisipasi, merupakan ungkapan tak terkatakan dari perasaan mereka yang meluap-luap, yang seakan-akan mereka telah mendapatkan kepercayaan-dirinya kembali, meraih identitas kesantriannya.

Kendati mungkin setiap alumni faham betul akan definisi santri versi Sidogiri, namun bagaimanapun, kesibukan-kesibukan di luar terkadang nyaris terlalu dominan, dan berperan penting dalam membentuk kepribadian seseorang yang berbeda sama sekali dengan identitas sebelumnya. Dan, mengaji kepada Pengasuh, dengan waktu yang terbatas sekalipun, tampak menjadi solusi yang paling mungkin untuk mengatasi masalah ini.

Kedua, konsolidasi ikatan. Kegiatan ini, pada waktu bersamaan, sebetulnya juga menjadi forum silatur-rahim, mempererat ikatan kekeluargaan, sebagai sesama santri Pondok Pesantren Sidogiri. Di sini, kerenggangan-kerenggangan yang semula terjadi, karena banyak hal, kesibukan, dan urusan yang tak terhitung jumlahnya, telah terpecahkan. Panas dan kekeringan satu tahun itu telah terlewatkan hanya dengan hujan satu jam. Nostalgia kebersamaan masa lalu akan kembali terekam di sini, dan sangat mungkin jika hal ini selanjutnya memicu tumbuhnya jalinan-jalinan kerjasama yang lebih intens, serius, dan perlu.

Ketiga, meningkatkan gairah keilmuan. Kegiatan pengajian ini, bagaimanapun, telah memberikan sumbagan besar bagi terbentuknya gairah baru keilmuan. Hal ini sesungguhnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran paling asasi dari pesantren sendiri, yang menyatakan bahwa waktu mencari ilmu adalah sejak lahir sampai meninggal; gairah ilmiah yang sangat idealis ini, adalah semacam jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya, “Sampai kapan kau akan belajar?” Imam Ahmad menjawab, “Ma’al-mikhbarah ilal-maqbarah” (Aku akan bersama tempat mangsi [belajar] sampai mati).

Memang, sekecil apapun, gairah ilmiah yang kita sumbangkan sungguh sangat berarti bagi terbentuknya peradaban Islam yang luhur. Ilmu menjadi ujung tombak setiap peradaban, dan tampa ilmu peradaban tidak akan pernah ada. Gairah ilmiah yang besar telah membawa kegemilangan peradaban Islam pada masa lalu, di mana konon, pada masa Imam Hasan al-Bashri, forum-forum ilmiah semacam pengajian rata-rata dihadiri oleh tidak kurang dari 400.000 sampai 600.000 orang, hingga tak jarang ujung paling belakang sebuah forum ilmiah bergandengan dengan ujung paling belakang dari forum ilmiah lain, yang jaraknya sebetulnya sangat berjauhan. Spektakuler!

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.