Memahami Tasybîh dalam Sastra Arab
Tasybîh adalah salah satu bagian dari ilmu bayân dalam balâghah (Ilmu tentang retorika sastra arab). Secara etimologi berarti ‘menyerupakan’. Adapun secara terminologi tasybîh ialah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan menggunakan alat tasybîh, baik yang tersurat (tertulis), maupun yang tersirat (tidak tertulis), yang memang antara keduanya ada titik persamaan. Jika kita perhatikan definisi tasybîh secara bahasa, definisi itu masih terlalu global dan tidak bisa kita pakai.
Dalam tasybîh ada empat unsur yang menjadi syarat sebuah susunan kata disebut tasybîh yaitu,musyabbah (yang di serupakan), musyabbah bihi (yang di serupai), alat tasybîh (perantara untuk menyerupakan), dan wajah syabah (titik kesamaan antara musyabbah dan musyabbah bihi). Gambaran mudahnya:
اَنْتَ كَاالْبَحْرِ فِيْ السَّمَاحَةِوَالشَّمـ * شِ عُلُوًّا وَالْبَدْرِ فِيْ الْاِشْرَاقِ
“Kau dermawan bagaikan lautan, tinggi seperti matahari, bersinar laksana purnama “
Bait ini sudah mengandung empat unsur yang harus dipenuhi dalam tasybîh yaitu: musyabbah (yang diserupakan)berupa kata ‘kamu (anta)’, musyabbah bihi (yang diserupai) berupa kata ‘laut, matahari, dan purnama (bahr, syams, dan badr)’, alat tasybîh berupa kata ‘bagaikan, seperti, dan laksana (huruf kaf), dan wajah syabah (titik persamaan) berupa kata ‘dermawan, tinggi, dan bersinar (samâhah, ulûw, dan isyrâq)’. Dari sini kita juga tahu bahwa musyabbah bihi-nya atau sifat lafadz yang diserupai lebih kuat dari pada musyabbah. Matahari (musyabbah bihi) dengan manusia (musyabbah) tentu lebih tinggi matahari. Dani ini juga termasuk persyatan tasybîh.(2)
Tapi juga akan timbul pertanyaan, apakah ketentuan-ketentuan di atas merupakan syarat paten yang harus di penuhi tanpa bisa diganggu gugat? Ternyata tidak, semua syarat di atas boleh saja tidak terpenuhi, masalahnya satu atau dua unsur tasybîh boleh saja dibuang. Dan tasybih akan punya nama yang berbeda ketika unsur yang di buang berbeda pula. Dengan meninjau unsurnya tasybîh sendiri terbagi menjadi lima kategori yaitu:muakkad, mujmal, mufasshal, mursal, dan baligh. Contohnya kalimat “Kau cantik bagaikan Purnama”. Perinciannya, ketika kata ‘bagaikan’ dibuang dinamakan tasybîh muakkad, bila tidak dibuang maka dinamakan tasybîh mursal. Ketika kata ‘cantik’ di buang maka di namakan tasybîh mujmal, dan bila di sebutkan maka disebut tasybîh mufasshal. Namun ketika kedua kata ‘bagaikan’ dan ‘cantik’ di buang, maka di namakan tasybîh bâligh. Setelah anda mengetahui unsur-unsur tasybîh secara mendasar sekaligus tinjauannya, saatnya untuk lebih mendalami tasybîh sesuai dengan unsur yang ada.
Unsur-unsur Tasybîh
Dua tharaf tasybîh (musyabbah-musyabbah bihi) adalah dua unsur yang mempunyai peran fital dalam hal ini. Keduanya tidak mungkin di hilangkan, bahkan meniadakan salah satunya akan menjadikan susunan kalam yang salah. Sedang orientasinya tasybîh adalah menyerupakan. Kata menyerupakan memberi indikasi bahwa ada dua barang yang diserupakan seperti, “Pipimu lembut bagaikan mawar”. Pipi dan Mawar dua hal yang di serupakan, sehingga mustahil untuk mentiadakan salah satunya karena tak ada yang diserupakan dan yang diserupai.
Keduanya (musyabbah-musyabbah bihi) ada yang sama-sama hissî (indrawi). Maksudnya, sesuatu yang dapat di rasakan dengan panca indra yang lima; penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagai contoh, “Suaramu seperti bunyi bel”. Suara dan bunyi bel yang keras dapat di rasakan melalui pendengaran.
Kadang kal keduanya sama-sama aqlî (nalar). Madsudnya, tidak dapat di temukan kecuali oleh akal dan perasaan mutakallim(pembicara) atau penyair terhadap kalam yang di sampaikan. Contoh,”Ilmu itu seperti kehidupan”. Ilmu dan kehidupan tak dapat di rasakan oleh lisan, tak tercium oleh hidung, tak dapat di pegang oleh tanagan dll. Namun, dapat kita rasakan dengan akal, bahwa ilmu dikatakan hidup bila di amalkan dan di manfaatkan untuk orang lain. Dan kadang dua tharaf-nya berbeda. Dengan artian, musyabbah hissî sedangkan musyabbah bihi-nya aqlî atau sebaliknya.
Meninjau dari aspek titik kesamaan (wajah syabah) tasybîh ada dua; tahqîqî (Kongkrit) dan tahyîlî (Abstrak). Adapun tahqîqî merupakan gabungan dari dua tharaf yang sama-sama hissî misalnya, “Pak haji bersorban putih bagaikan salju”. Ini jelas bahwa keberadaan sifat putih merupakan gabungan sifat sorban dan salju yang kongkrit. Sedangkan tahyîlî hasil kombinasi dari dua tharaf yang sama-sama aqlî atau keduanya berbeda, sedangkan yang menyamakan antara keduanya adalah alat tasybîh.[*]
Catatan akhir:
Syekh Amin, Dr. bakrî, al-Balaghah al-Arabiah. Dar as – tsaqafah el-Islamiah, hal. 17.
Ali al-Jarim, Mustafa Amin, Al-Balaghah al-Wadlihah. Hal. 19.
Abu Bakar Abd. Qahir al-Farisî al-Jurjânî,Asrar al-Balaghah, juz 1,hal. 33.
Jalaluddin al-Qazwaini, al-îdlôh fî ulûm al- Balaghah. juz 1 hal. 71.