07 September 2010 | 28 Ramadhan 1431 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
   
   
 
ARTIKEL ARTIKEL
Bangsa Arab Pra Islam

Awal Muncul Kemusyrikan

Mayoritas Bangsa Arab masih mengikuti dakwah Nabi Ismail ‘Alaihissalâm dan menganut agama yang dibawanya. Beliau meneruskan dakwah ayahnya, Ibrahim ‘Alaihissalâm, yaitu menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Namun, karena sekat waktu yang cukup lama dengan kedatangan nabi setelahnya (Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam) mereka akhirnya mulai lupa banyak hal tentang apa yang pernah diajarkan kepada mereka.

Sekalipun begitu, tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim masih tersisa pada mereka, hingga munculnya seorang Amru bin Luhai, pemimpin Bani Khuza’ah. Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal suka berbuat kebajikan, bersedekah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani.1

Kemudian dia mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam yang menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik dan benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah Subhânahu wata‘âlâ. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Mekkah karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci.2

Berhala yang paling dahulu mereka (orang-orang Hijaz) sembah adalah Manât, yang ditempatkan di Musyallal di tepi laut Merah dekat Qudaid. Kemudian mereka membuat Lâta di Thaif dan ‘Uzza di Wâdî Nakhlah. Ketiga berhala tersebut merupakan yang paling besar. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di setiap tempat di Hijaz.

Begitulah kisah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala, yang menjadi fenomena terbesar dari agama orang-orang Jahiliyyah, yang menganggap dirinya masih menganut agama Ibrahim ‘Alaihissalâm. Kepercayaan semacam ini; kepercayaan bernuansa syirik, penyembahan terhadap berhala, keyakinan terhadap hipotesis-hipotesis lemah dan khurafat-khurafat adalah merupakan kepercayaan/agama mayoritas Bangsa Arab3. Disamping itu juga, ada agama lain seperti; Yahudi, Nashrani, Majusi dan Shâbi’ah. Agama-agama ini juga mendapatkan jalan untuk memasuki pemukiman Bangsa Arab.

 

Agama-agama Lain

Pertama, Yahudi. Ada dua periode yang sempat mewakili keberadaan orang-orang Yahudi di jazirah Arab. Pertama, proses hijrah yang mereka lakukan pada periode penaklukan Bangsa Babilonia dan Assyiria di Palestina; tekanan yang dialami oleh orang-orang Yahudi, luluh lantaknya negeri dan hancurnya rumah ibadah mereka oleh Nebukadnazer pada tahun 587 SM, serta ditawan dan dibawanya sebagian besar mereka ke Babilonia, menyebabkan sebagian mereka yang lain meninggalkan negeri Palestina menuju Hijaz dan bermukim di sekitar belahan utara.

Kemudian, pendudukan yang dilakukan oleh Bangsa Romawi terhadap Palestina dibawah komando Pettis pada tahun 70 M membuahkan imigrasi besar-besaran suku dari bangsa Yahudi ke Hijaz dan menetap di Yatsrib (Madinah), Khaibar dan Taima’. Disana mereka mendirikan perkampungan, istana-istana dan benteng-benteng. Agama Yahudi tersebar di kalangan sebagian bangsa Arab melalui kaum imigran Yahudi tersebut. Di kemudian hari, mereka memiliki peran yang sangat signifikan dalam percaturan politik sebelum munculnya Islam. Ketika Islam muncul, suku-suku Yahudi yang sudah ada dan masyhur adalah Khaibar, an-Nadhir, al-Mushthaliq, Quraizhah dan Qainuqa’. Sejarawan, as-Samhudi menyebutkan bahwa suku-suku Yahudi yang mampir di Yatsrib dan datang ke sana dari waktu ke waktu berjumlah lebih dari dua puluh suku.4

Sementara itu, masuknya agama Yahudi di Yaman adalah melalui penjual jerami, As’ad bin Abi Karb. Ketika itu, dia pergi berperang ke Yatsrib dan di sanalah dia memeluk agama Yahudi. Dia membawa serta dua orang ulama Yahudi dari suku Bani Quraizhah ke Yaman. Agama Yahudi tumbuh dan berkembang dengan pesat di sana, terlebih lagi ketika anaknya, Yusuf yang bergelar Dzu Nuwas menjadi penguasa di Yaman. Dia menyerang penganut agama Nashrani dari Najrân dan mengajak mereka untuk menganut agama Yahudi, namun mereka menolak. Karena penolakan ini, dia kemudian menggali parit dan mencampakkan mereka ke dalamnya lalu mereka dibakar hidup-hidup.

Sedangkan agama Nasrani masuk ke jazirah Arab melalui pendudukan orang-orang Habasyah dan Romawi. Pendudukan orang-orang Habasyah yang pertama kali di Yaman terjadi pada tanun 340 M dan berlangsung hingga tahun 378 M. Pada masa itu, gerakan kristenisasi mulai merambah pemukiman di Yaman. Tak berapa jauh dari masa ini, seorang yang yang dikenal sebagai orang yang zuhud, doanya makbul dan juga dianggap mempunyai kekeramatan, yang dikenal dengan sebutan Fimiyun datang ke Najran. Dia mengajak penduduk Najran untuk memeluk agama Masehi. Mereka melihat tanda-tanda kejujuran pada dirinya dan kebenaran agamanya. Oleh karena itu mereka menerima dakwahnya dan bersedia memeluk agama Nasrani.

Tatkala orang-orang Habasyah menduduki Yaman untuk kedua kalinya pada tahun 525 M -sebagai balasan atas perlakuan Dzu Nuwas atas apa yang dulu pernah dilakukannya- dan tampuk pimpinan dipegang oleh Abrahah, maka dia menyebarkan agama Nasrani dengan gencar dan target sasaran yang luas. Usaha ini mencapai puncaknya tatkala dia membangun sebuah gereja di Yaman, yang diberi nama “Ka’bah Yaman”. Dia menginginkan agar haji yang dilakukan oleh Bangsa Arab dialihkan ke gereja ini. Disamping itu, dia juga berniat menghancurkan Baitullah di Mekkah, namun Allah Subhânahu wata‘âlâ membinasakannya.

Agama Nashrani dianut oleh kaum Arab Ghassan, suku-suku Taghlib dan Thayyi’ dll. Hal itu disebabkan mereka bertetangga dengan orang-orang Romawi. Bukan itu saja, sebagian raja-raja Hirah juga telah memeluk agama Nashrani.

Sedangkan agama Majusi (Zoroaster) lebih banyak berkembang di kalangan orang-orang Arab yang bertetangga dengan orang-orang Persia, yaitu orang-orang Arab di Iraq, Bahrain (tepatnya di Ahsa’), Hajar dan kawasan tepi pantai teluk Arab yang bertetangga dengannya. Elit-Elit politik Yaman juga ada yang memeluk agama Majusi pada masa pendudukan Bangsa Persia terhadap Yaman.

Adapun agama Shâbi’ah, menurut penemuan yang dilakukan melalui penggalian dan penelusuran peninggalan-peninggalan mereka di negeri Iraq dan lainnya menunjukkan, bahwa agama tersebut dianut oleh kaum Ibrahim Chaldeans. Agama tersebut juga dianut oleh mayoritas penduduk Syam dan Yaman pada zaman purbakala. Setelah beruntunnya kedatangan beberapa agama baru, seperti agama Yahudi dan Nasrani, agama ini mulai kehilangan identitasnya dan aktivitasnya mulai redup. Tetapi masih ada sisa-sisa para pemeluknya yang membaur dengan para pemeluk Majusi dan hidup berdampingan dengan mereka, seperti di masyarakat Arab di Iraq dan di kawasan tepi pantai teluk Arab.

Agama-agama tersebut merupakan agama yang sempat eksis sebelum kedatangan Islam. Namun dalam agama-agama itu, sudah terjadi penyimpangan dan hal-hal yang merusak.5[*]

Catatan akhir:

1 Ibn adl-Dliya’, Tarîkh Mekkah al-Musyarrafah wa al-Masjid al-Harâm, Mauqi’ al-Warraq, vol. 1 hlm. 30

2 Ibn Hisyam, Sîrah Ibn Hîsyam, Maktabah Syamilah, vol.1 hlm.202

3 Op cit. vol. 1 hlm. 203

4 As-Samhudi, Wafâul Wafâ’, hlm. 116

5 Philips K Hitty, Histori of the Arabs.

 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.