30 Juli 2010 | 18 Sya'ban 1431 H
Home Forum Diskusi Link Download Maklumat Kontak
   
       
 
 
 
  Buletin sidogiri Ijtihad Istinbat Nasyith Bina Saadah Tauiyah  
 
   
 
MEDIA SIDOGIRI
Edisi
 
Rubrik

Edisi 62 - Tabyin

Obati Hati dengan Al-Quran
Oleh: Miqdad UQ*
 
”Obat hati itu lima perkaranya...
yang pertama baca Quran dan maknanya...”
 
LIRIK lagu senandung Wali Songo yang amat akrab di masyarakat ini memang tidak berlebihan, dengan menempatkan membaca al-Quran sebagai tingkatan pertama dalam pengobatan hati. Ini merupakan sebuah dorongan untuk membersihkan hati dengan cara termudah. Hal ini tidaklah mustahil, karena ketika al-Quran dibaca akan mengandung sistem pencerahan hati yang bisa melebur penyakit-penyakit hati yang kronis. Namun tidaklah cukup dengan hanya membacanya saja tanpa memperhatikan panjang pendek bacaan, waqaf (berhenti) dan washal (menyambung) dan segala hal yang berhubungan dengan al-Quran dari sisi ke-tajwîd-annya, karena bukan lagi pencerahan hati yang diperoleh melainkan murka Allah I yang didapat, kecuali bagi mereka yang sedang dalam tahap belajar.
Oleh karenanya, al-Quran tidak hanya diturunkan berdasarkan lafadz atau maknanya saja, melainkan beserta tata cara membacanya yang disebut dengan ilmu Tajwid.
Mempelajari Tajwid sebagai disiplin ilmu merupakan fardhu kifâyah (kewajiban kolektif yang bisa gugur bila ada satu yang telah mengerjakannya). Tetapi membaca al-Quran dengan memakai aturan-aturan Tajwid merupakan fardhu 'ain (kewajiban pribadi perorangan). Membaca al-Quran termasuk ibadah dan karenanya harus sesuai dengan ketentuannya.
Mengenai hal di atas, Allah I telah menegaskan di dalam al-Quran, ”...Bacalah al-Quran itu dengan tartîl” (Qs.al-Muzammil [73]4). Arti tartîl menurut Imam Ibnu Katsir adalah membaca al-Quran dengan perlahan dan hati-hati, karena hal itu akan membantu dalam pemahaman serta perenungan terhadap al-Quran.
Pendapat ini juga diperkuat oleh pendapat Imam ar-Razi mengenai tafsir ayat di atas, bahwa perintah membaca al-Quran dengan perlahan-lahan (tartîl) adalah perintah untuk memperjelas huruf-huruf yang diucapkan, memulai dan berhenti pada tempat-tempatnya masing-masing. Sehingga pembaca dan pendengar dapat memahami dan menghayati kandungan makna dan pemahamannya.
Dalam satu riwayat diceritakan bahwa sahabat Ibnu Masud mempunyai suara yang merdu ketika membaca al-Quran, bacaannya mampu membuat pendengarnya paham akan isinya, merasakan rahasia-rahasia kemukjizatannya, dan membuat khusyuk dan rendah hati di hadapan Allah I. Tentang bacaan Imam Ibnu Masud, Rasulullah r pernah menyinggungnya pada suatu ketika, "Barang siapa yang senang membaca al-Quran dengan lembut sebagaimana ketika diturunkannya, (maka) bacalah sebagaimana Ibnu Mas'ud membacanya”. (HR. Ahmad bin Hanbal).
Dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa, "Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengar seorang Nabi yang indah suaranya yang sedang membaca al-Quran, ia membacanya dengan lantang”. Di dalam Hadis ini dijelaskan bahwa orang yang membaca al-Quran dengan lantang (jelas huruf-huruf yang dibacanya sesuai tuntunan yang ada di dalam ilmu Tajwid) bacaannya akan didengar oleh Allah I sebagaimana mendengarkan bacaannya para nabi yang indah suaranya ketika membaca al-Quran.
Maka betapa hebat dan mulianya orang yang membaca al-Quran degan ilmu Tajwid, hingga Allah I pun turut mendengarkan bacaannya. Bahkan di dalam Hadis lain disebutkan bahwa, "Orang yang membaca al-Quran dengan mahir, maka dia bersama para malaikat yang mulia lagi sangat taat. Sedangkan orang yang membaca al-Quran dengan tertatih-tatih dan bacaan itu terasa sulit baginya, maka ia masih mendapat dua pahala” (HR Bukhari Muslim).
Karena itu, marilah kita obati hati kita dengan memperbanyak membaca al-Quran yang disertai dengan Tajwid, dengan tujuan agar bacaan kita didengar oleh Allah I dan kita bersama para malaikat-malaikat yang mulia lagi sangat taat kelak dihari kiamat. Wal-Lâhu a'lamu bish-Shawâb...
 
*Penulis adalah Santri Sidogiri asal Jember
 
SEARCH
 
MEMBER LOGIN
User
Password
 
   
         
                      Copyright © 2007 SMI Indonesia. All Rights Reserved.