Edisi 12 - Cerpen
TANGISAN CINTA DARI LANGIT
Aku tak kuasa menahan air mata ini. Penyesalan akan perbuatan yang telah aku lakukan telah mengombang-ambingkan perasaanku. Kenapa aku tidak mengenal Tuhan sejak dulu? Padahal Tuhan telah menampakkan kuasanya jelas di pelupuk mata ini. Apakah nuraniku telah mati? Atau jiwa ini yang memang terlalu kotor untuk menyambut sapaan Tuhan? Aku tak tahu kemana arah yang harus aku tempuh, mencari keindahan Tuhan atau tetap diam menuhankan selembar ijazah formal. Ah!!
“Andre, kenapa masih bengong di situ nak? Udah jam setengah tujuh, ntar kamu telat yang mau sekolah” sapaan ibuku membuyarkan renunganku. Aku menoleh sejenak ke arah ibu. lalu tenggelam lagi dalam duniaku, mencari jawaban lewat cahaya mentari pagi ini.
“Sayang kamu kenapa sich? Sepertinya kamu punya masalah nak? Cerita dong ke ibu” bujuk ibu sedikit memaksa. Aku menarik nafas perlahan.
“Andre lagi males sekolah Bu” jawabku sekenanya. Ku lihat ibu tersenyum.
“Kamu kenapa sich nak? Cerita dong sama ibu”
“Kalaupun Andre cerita, ayah sama ibu pasti akan marah dan menganggap keputusan Andre hanyalah keinginan anak kecil yang tidak tahu tentang arti kehidupan” jelasku. Aku masih menatap cakrawala langit yang tak pernah lelah memberikan keindahan. Mendengarkan itu ibu sedikit terkejut lalu menghampiriku dan dengan penuh kasih sayang beliau membelai rambutku, mengingatkanku pada masa kecilku dulu saat ayah dan ibu belum sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sekarang? Entahlah! Mungkin hanya keajaiban yang bisa mengubahnya. Karena kedua orang tuaku sudah jarang ada di rumah, mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
“Ceritakanlah nak, ibu akan mendengarkan, kalau kamu tidak mau cerita bagaimana mungkin ibu dan ayah mau membantu kamu” aku menatap wajah ibu yang kini telah mulai memasuki usia senja, sorot matanya menyiratkan kasih sayang yang mendalam.
Ah, aku masih belum bisa menceritakannya, aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya pada kedua orang tuaku. Karena aku tahu semua ini bertentangan dengan prinsip ayah yang menjadi ketua Departemen Agama Jawa Timur. Meskipun berlabel agama, pandangan ayah terhadap pesantren sangat negatif. Dengan belajar di pesantren berarti aku harus siap hidup dalam kemiskinan. Hingga pesantren divonis sebagai lembaga yang mencetak santrinya bermental lemah. Karena tidak punya kemajuan dalam Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi. Begitulah jawaban ayah saat aku bertanya tentang pesantren dulu. Aku hanya bisa diam.
***i-@m***
“Ayah, Andre ingin berhenti sekolah, saya ingin belajar di pesantren” kataku saat kami makan malam. Ayah, ibu dan Yuni, kakak perempuanku kaget. Seketika mereka memandang ke arahku. Setelah sekian hari aku mengumpulkan kekuatan untuk mengutarakan semua ini. Kini aku siap menerima resiko apapun yang akan menimpaku. Aku menatap mereka dengan pandangan mengiba.
“Apa ayah tidak salah dengar?” Tanya ayah dingin, seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku mengangguk, meyakinkan kalau aku serius dengan keputusanku.
“Mau jadi apa kamu kalau masuk pesantren? Apa belum cukup ayah berikan segalanya buat kamu” tukas ayah mulai marah. Aku menarik nafas perlahan
“Saya berterima kasih dengan semua ini Yah. Malahan pemberian Ayah sudah lebih dari cukup. Namun Andre juga ingin kebahagiaan batin. selama ini Andre tidak pernah mengenal siapa Tuhan Andre Yah… Andre hanya hidup dalam keglamoran dan kesenangan sesaat. Dari kecil Andre memang tidak pernah dididik tentang agama oleh ayah dan ibu. Sekarang salahkah anakmu ini jika ingin mengenal dan dekat dengan Tuhan yang menciptakan Andre” jelasku panjang lebar. Kupandangi ayah dengan penuh harap, mengharap agar beliau mengabulkan keinginanku, untuk kali ini saja.
Namun semuanya sia-sia, kata-kataku ternyata tidak mampu meluluhkan hatinya. Matanya semakin memerah.
“Pokoknya ayah tidak mau kamu belajar di pesantren. Tak ada alasan bagimu untuk belajar di sana. Kalau kamu masih mengaku Ayah dan ibu sebagai orang tua kamu, kamu harus ikuti semua aturan yang telah Ayah tetapkan” aku tercengang. Perlahan mataku menitikkan air mata. Apakah aku harus mengorbankan cita-citaku? Atau menuruti keinginan orang tua yang tak sejalan dengan nuraniku? Ya Allah berilah hamba kekuatan. Jerit batinku.
“Ayah, Andre mohon untuk kali ini kabulkanlah permintaan anakmu ini, saya mohon ayah” kataku terbata sambil bersimpuh dikaki beliau
“Kalau kamu masih memaksa untuk belajar di pesantren, lebih baik kamu pergi dari rumah ini, uruslah dirimu sendiri. Dan jangan pernah kembali untuk meminta bantuan kepada Ayah” aku terkejut. Tak kusangka ayah akan berkata demikian. Begitu hinakah pesantren di mata ayah? Aku berdiri perlahan. Kutatap ayah yang masih tampak memendam amarahnya. Namun sorot matanya jelas menyiratkan kemarahan yang sangat.
“Begitu berartikah sebuah pendidikan formal di mata ayah? Sampai ayah tega mencela dan mengusir darah daging Ayah yang telah Ayah besarkan dengan tetesan keringat Ayah. Kalau itu kemauan Ayah. Baik, Andre akan pergi dari sini. Dan Andre tidak akan pernah kembali ke sini sebelum Andre bisa membuktikan bahwa Andre bisa sukses dengan belajar di pesantren” tegasku.
Pyaar…. Tangan kekarnya mendarat di pipiku. Aku terpelanting. Bibirku pecah dan mengeluarkan darah. Aku meringis kesakitan.
“Dasar anak tak tahu diuntung. Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali lagi kerumah ini. Aku tidak sudi punya anak seperti kamu” bentaknya dengan tatapan merah menyala. Aku berdiri perlahan, kulihat ibu dan kakak perempuanku menangis. Mereka hanya bisa diam, tak berani menghampiriku, karena tak ada yang berani menentang keputusan ayah dirumah ini, semua tunduk pada kuasanya. Sebelum pergi aku menghampiri ibu dan kakakku
“Ibu… Mbak Yuli… maafkan Andre. Inilah jalan yang harus Andre pilih. Suatu saat Andre pasti kembali Bu… Andre pasti kembali… mohon doanya. Assalamualaikum…” kucium punggung tangan ibu penuh takdzim lalu beranjak pergi meninggalkan rumah ini tanpa mengambil satu barangpun dan tidak menghiraukan jeritan ibu yang memanggiku, meskipun dalam hati kecilku aku tidak ingin meninggalkan ibu yang telah membesarkanku dan mencurahkan segala kasih sayangnya. Namun aku harus pergi demi sebuah cita-cita suci. Aku harus rela…
***i-@m***
Kaki ini terus melangkah, tanpa arah. Hanya bermodalkan tujuan yang tidak tahu kemana ia bersemayam. Pesantren, ya itulah tujuan utamaku. Aku berharap menemukannya pada serpihan cahaya bintang malam ini. Orang-orang di sekelilingku menatap iba pada langkahku yang tertatih-tatih, seperti menyeret sekarung derita yang tak mampu ku emban. Aku berhenti sejenak dibawah naungan pohon kelapa yang berjejer rapi di pinggir jalan tuk sekedar melepas lelah. Aku belum makan, perutku menjerit perih. Apakah aku harus mengemis pada setiap warung yang berjejer ini? Tidak, aku tidak mau menjual harga diriku dengan meminta-minta padahal tubuh ini masih kuat untuk bekerja. Batinku menentang.
Cukup lama aku berjalan. Kaki ini sudah mulai terasa lelah. Dinginnya angin malam mulai merasuk halus melalui pori-pori tubuhku. Ditambah perut yang tak terisi sedikitpun makanan mulai tadi malam. Dengan terpaksa aku mencari makanan di keranjang-keranjang sampah. Siapa tahu di situ ada sisa-sisa makanan yang masih layak untuk ku makan.
“Andre, lagi ngapain kamu?” sebuah suara menyapaku yang masih asyik mengunyah sisa nasi bungkus yang kutemukan di keranjang sampah tadi. Aku menoleh kearah suara. Fahmi, teman kuliahku yang selalu kubenci setiap melihatnya. Entah kenapa? Padahal ia tidak pernah menampakkan kebencian sedikitpun kepadaku. Aku hanya merasa ia terlalu “sok suci”. Ia juga sering mendapatkan perlakuan jahatku, mungkin karena ia adalah putra dari kiai besar di pulau Jawa ini. Aku menunduk. Malu menatap wajah yang selalu menyungging senyum itu. Sosok itu menghampiriku
“Andre kamu kenapa? Kenapa keadaanmu seperti in?” tanya Fahmi iba melihat keadaanku. Aku hanya bisa diam. Wajahku tiba-tiba pucat. Keringat dingin merembes dari dahiku. Sepertinya ia tahu apa yang aku rasakan. Fahmi duduk di sebelahku lalu mengatakan kalau ia tidak punya dendam terhadap apa yang telah kulakukan, dan ia juga berjanji akan membantu masalahku. Ada sedikit ketenangan meyusup halus dalam hatiku ketika mendengar suara ikhlas itu.
Dengan terbata aku menceritakan masalahku dengan kedua orang tuaku, dan juga tentang keinginanku yang mau belajar di pesantren. Setelah mendengar penjelasanku, Fahmi menangis. Seketika ia langsung memelukku erat seraya bertasbih dan bertakbir.
“Aku bangga padamu sobat… Allahu akbar…. Subhanallah….”
“Aku malu padamu, dulu aku sering berbuat jahat dan menganiaya kamu. Tapi sekarang, kamu rela mengulurkan tanganmu untukku. Aku tidak pantas menerima semua ini. Aku malu Fahmi… Aku malu… Aku menyesal…” aku masih menangis dalam pelukan Fahmi. Fahmi melepas pelukannya, lalu memegang pundakku. Air matanya belum mengering
“Andre, aku sangat bersyukur kepada Allah karena telah melimpahkan hidayahnya kepadamu. Aku juga bangga dengan tekad yang telah kamu bangun. Kita lupakan yang telah berlalu. Sekarang, kamu ikutlah denganku, insya Allah kamu akan mendapat banyak bimbingan tentang agama” kata-kata itu begitu halus merasuk dalam hati, lalu menjalar keseluruh tubuh bagai embun di pagi hari.
“Tapi aku tidak punya biaya sedikitpun” keluhku. Fahmi tersenyum bijak
“Siapa yang butuh biaya? Kamu bisa tinggal bersamaku sampai kapanpun kamu mau tanpa sepeser pun biaya yang harus kamu keluarkan. Dengan kehadiranmu aku sudah bahagia” mendengar itu, seketika aku melaksanakan sujud syukur. Memuji nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan kepadaku. Ya Allah terimalah tangis tobatku di keindahan malam-Mu ini. Lirihku parau. Melihat tingkahku Fahmi hanya menyungging senyum. Di atas sana perlahan langit meneteskan air matanya menerpa tubuhku yang masih larut dalam sujud. Fabiayyi âlâi Rabbikumâ Tukadzdzibân. []nsyth/i-@m indacandy.
Bingkisan kecil untuk adikku tercinta
Imam Bukhari yang baru menyapa dunia…
Hisyam Muhammad.