INFORMASI BUKU
Sejak lima tahun terakhir, Agus Mustofa tampak sebagai fenomena yang mewarnai pemikiran masyarakat, terutama kalangan perkotaan, yang pemahaman keagamaannya tidak memadai. Namun, pemahaman-pemahaman keagamaan yang tertuang dalam serial buku diskusi tasawuf modern karya Agus Mustofa didapati sekian banyak kesalahan, sebagaimana diulas secara tuntas dalam buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa: Koreksi terhadap Serial Diskusi Tasawuf Modern.
Ada dua poin penting yang menjadi isi kandungan buku ini. Petama, buku ini ‘membantu’ merumuskan teori-teori pemikiran yang dibangun oleh Agus Mustofa dalam seluruh serial buku diskusi tasawuf modern. Sebab dalam melakukan kajian, Agus Mustofa tidak merumuskan suatu teori apapun yang dianutnya, selain apa yang ia sebut sebagai “metode puzzle” yang masih teramat global, kabur, dan tidak cukup memadai untuk dapat memahami jalan pemikiran Agus Mustofa sendiri secara utuh.
Hal itu memang penting untuk dilakukan, sebab teori dan landasan berpikir merupakan representasi dari suatu keyakinan yang terpendam dalam diri setiap penulis, termasuk Agus Mustofa. Karenanya setiap pemikiran yang dilontarkan oleh Agus Mustofa pada dasarnya merupakan pantulan dari keyakinan-keyakinan tertentu (ideologi) yang ia yakini akan kebenarannya secara absolut.
Kedua, buku ini melakukan pembedahan ulang terhadap tema-tema fundamental dalam Islam yang dibedah oleh Agus Mustofa dalam setiap serial buku diskusi tasawuf modern. Buku ini kembali mengkaji tema-tema itu secara ilmiah, dengan mendasarkannya pada rujukan-rujukan yang otoritatif, lelu menunjukkan titik-titik kelemahan pemikiran Agus Mustofa dan ketidakabsahan kesimpulan-kesimpulannya yang tertuang dalam serial buku diskusi tasawuf modern.
Sebab bagaimanpun, tema-tema yang diangkat dalam serial buku diskusi tasawuf modern adalah tema-tema fundamental dalam Islam yang termasuk dalam kategori metafisik, seperti alam akhirat, surga, neraka, penciptaan, takdir, pahala, siksa, perjalanan spiritual Nabi, dan semacamnya, sehingga kesimpulan pemahaman terhadapnya akan janggal jika pendekatan yang digunakan tidak memadai, apalagi cacat, secara ilmiah. Waallhua’lamubisshowab