PEMESANAN
Anda bisa
membeli VIA telephone.
Silahkan
hubungi sales consultant
kami di
034-343155
atauemail ke
alamat
INFORMASI BUKU
Secara global, ada tiga kelompok aliran yang menghadang Ahlussunnah Waljamaah. Pertama, Wahabi. Aliran yang muncul sebagai ‘titisan’ dari khawarij. Kedua, paham liberal, yang konon adalah ‘jelmaan’ dari aliran Muktazilah. Dan ketiga, Syiah, yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ si Yahudi.
Menghadapi kelompok pertama dan kedua (paham wahabi dan liberal) relatif lebih mudah, sebab keduanya secara terang-terangan menampakkan dan memperopagandakan doktrin-doktrin mereka. Paham liberal, dengan paham relavisme kebenaran, kesetaraan, dan lainnya, tentu sangat mudah mudah dibaca dan ditanggapi.
Nah, menghadapi kelompok Syiah inilah yang agak sulit, karena mereka selalu mengusung doktrin mereka dangan cara taqiyah: menutup-nutupi yang asli dan menampakkan yang palsu. Mereka melakukan taqiyah agar mereka bisa beradaptasi dengan kaum mayoritas, sehingga dengan perlahan-lahan, mereka menyusupkan paham-paham mereka.
Doktrin taqiyah kaum Syiah ini tak ubahnya perilaku orang-orang munafik pada masa Rasulullah dan para sahabat. Demikian ini tidak mengherankan, karena paham Syiah adalah hasil provokasi Abdullah bin saba, seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam.
Untuk itu, pembacaan dan pemahaman terhasap jati Syiah ini sangat diperlukan. Sebab, membentengi akidah bukan hanya dengan memahami akidah yang kita anut, namun juga memahami paham-paham lain yang melenceng, agar tidak terjerumus ke dalamnya. Mengetahui kejelekan bukan untuk dilakukan, tapi agar kita tidak ikut-ikutan melakukannya.
Di sinilah buku karya Tim Penulis Pustaka Sidaogiri mencoba memberikan pemahaman jati diri ajaran Syiah dengan objektif. Membaca buku ini, kita akan mengetahui hakikat Syiah dan sekaligus dapat mengokohkan kembali akidah kita. Buku ini merupakan kajian yang serius, sehingga memerlukan kesiapan khusus untuk dapat mencernanya dengan baik. Buku ini penting untuk dibaca terutama bagi para ulama, cendikiawan, dan tokoh masyarakat. Karena siapa lagi yang akan membentengi akidah umat, kalau bukan mereka.