INFORMASI BUKU
Tidak mudah menangkap ‘sesuatu yang maya’ dalam ‘sesuatu yang kasat’. Kalau tidak peka-peka betul, kita tidak akan dapat melihat sesuatu yang maya itu. Malah sesuatu yang kita lihat kita anggap biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa.
Buku ini sepertinya menggugah kepekaan kita. Betapa tidak, Anda akan menjumpai kisah-kisah penuh hikmah dan pelajaran berharga, dan uniknya lagi kisah-kisah dalam buku ini adalah kisah interaksi dua makhluk yang berlainan: manusia dan binatang. Dua makhluk hidup ini sepertinya tidak mungkin untuk berinteraksi, tapi kenyataannya manusia banyak memperoleh ilmu dari kehidupan binatang. Maskipun tak memiliki nurani, binatang—dengan segala keunikannya—terkadang membuat manusia harus menutup wajah rapat-rapat karena malu. Tidak jarang, tingkah laku manusia dikalahkan oleh tingkah laku binatang. Manusia seringkali lupa akan nuraninya sehingga ia menjadi bintang yang berbaju manusia, atau malah lebih parah lagi.
Menangkap pelajaran berharga dari kehidupan binatang memang tidak mudah, karena kita memang bukan Nabi Sulaiman. Akan tetapi orang-orang yang memiliki kepekaan yang tajam dapat menangkap pelajaran berharga itu.
Maka tak heran, jika Anda menjumpai cuplikan kisah binatang dalam buku ini ‘aktor-aktornya’ kebanyakan kaum sufi. Ya, banyak sekali kisah-kisah interaksi kaum sufi dengan binatang dalam buku ini.
Lalu, kenapa mesti kaum sufi? Karena merekalah yang memiliki kepekaan yang terasah, merekalah yang hatinya bersih, merekalah yang keimanannya tertancap kokoh, sehingga mereka mampu membaca sesuatu yang berharga dari sesuatu yang dianggap tidak berharga. Mereka sudah terbiasa dengan hal-hal abstrak.
Sikap seperti inilah cermin mukmin hakiki. Orang mukmin dalam melihat ciptaan Allah, mulai dari sesuatu yang dianggap besar sampai dengan yang dianggap remeh, meyakini bahwa sesuatu itu adalah haqq, tidak diciptakan sia-sia. Sebaliknya orang kafir ketika melihat sesuatu yang dianggap remeh mereka nyengkal dan mengatakan, “Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Demikian sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Baqarah ayat 26.