INFORMASI BUKU
Pesantren memiliki sekian banyak keunikan yang hamper menjadi misteri. Sulit dirumuskan menjadi teori. Menyimpan sekian banyak rahasia yang membuatnya menjadi satu-satunya pola pendidikan agama yang berhasil melahirkan ulama-ulama hebat di sepanjang sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Pendidikan pesantren dikelola tanpa standar teknis dan manajemen yang baku. Jika ada seratus pesantren, berarti juga ada seratus bentuk, seratus kurikulum dan seratus-seratus lainnya. Namun dari keragaman yang sangat kaya itu, pesantren memiliki prinsip yang sama dalam menghelat pendidikan keagamaan. Semua pesantren memegang tiga prinsip pokok, yaitu ilmu, amal dan ikhlas. Tiga pokok lainnya; iman, islam dan ihsan, atau dalam bahasa lain: akidah, syariah dan akhlak.
Buku dengan judul yang cukup unik ini berupaya menjabarkan hakikat dari prinsip-prinsip pendidikan keagamaan yang mesti dipegang pengajar maupun pelajar. Prinsip-prinsip itulah yang sudah sejak lama dipegang oleh pesantren, dan jauh sebelum itu telah melahirkan asy-Syafii, al-Bukhari, al-Ghazali, as-Suyuthi, dan ratusan ribu ulama lain yang agaknya tak bisa ditandingi oleh generasi-generasi pemikir di era modern ini.
Karenanya, maka harus benar-benar dipahami, bahwa belajar agama jelas tidak bisa disamakan dengan belajar fisika atau matematika. Sebab agama bukan sekadar ilmu pengetahuan, atau informasi-informasi yang bisa didapat dengan cara yang instan dan otodidak. Belajar agama membutuhkan keyakinan yang kuat, riyadhah dan kebersihan hati, tata krama yang luhur, dls. Jika tidak, maka yang didapat bisa saja hanyalah sesuatu yang palsu.
Untuk memberikan pemahaman yang lengkap tentang hal ini, buku ini melakukan kajian secara holistik, mulai dari pemaparan tentang arti dan tujuan dari hidup dan kehidupan. Selanjutnya, pemaparan mengenai agama Islam, yang diturunkan oleh Allah subhanahu wata'ala sebagai perangkat bagi manusia untuk menjembatani kehidupan. Untuk bisa memahami ajaran-ajaran Islam yang sangat kompleks itu diperlukan ilmu. Dan, ilmu di sini bukan sembarang ilmu, namun ilmu yang sesuai dengan nilai-nilai pokok ajaran Islam, yang berakar pada wahyu.
Nah, ketika lembaga-lembaga pendidikan non-pesantren telah banyak menyelewengkan ilmu-ilmu Islam, maka pesantren menjadi alternatif utama dalam mempelajari Islam secara kâffah, sesuai tuntunan wahyu.