INFORMASI BUKU
BUAH yang baik berawal dari akar yang sehat, pohon yang kuat, dan daun-daunnya yang lebat meneduhkan, ditambah dengan tingkat kesuburan tanah dengan kualitas berkelas. Kelak, biji dalam buah-buah unggul semacam ini, akan tumbuh menjadi bibit-bibit unggul, yang dapat menyembulkan buah-buah terbaik.
Demikianlah halnya dengan proses alamiah dari perwujudan sebuah pesantren—atau apapun yang searti dengannya. Jika ikhtiyar yang dilakukan para penanam awal (mu’assis) telah sampai pada capaian yang klop dengan idealismenya: niat yang tulus, lahan yang tepat, dan bibit berkualitas, maka pertumbuhan selanjutnya akan mengalir deras dalam kejernihan, terus dan terus.
Setidaknya itulah gambaran awal yang menyeruak dari lembar-lembar buku kumpulan biografi 9 masyayikh Sidogiri, yang terbingkai dalam judul Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri ini. Ia memberikan kesan kuat, betapa eksistensi Pondok Pesantren Sidogiri yang tak beranjak dari titik salafnya, mampu terus bertahan, bahkan bisa berkembang, justru dalam usia yang hampir tiga abad; justru pada saat modernisme dan modernisasi dipatok sebagai harga mati.
Menyelami danau-danau hikmah biografi masyayikh Sidogiri, angan kita seakan dibawa terbang jauh, melintasi batas-batas alam materi yang profan, menuju suatu masa di mana para sufi ber-khulwah dalam kesendirian; para mujahidin berjibaku menumpas kemunkaran; para pencari ilmu larut dalam kejian-kajian; para dai membentangkan tangan, menyibak kabut yang merintangi jalan-jalan lurus menuju Tuhan. Dan rupanya, karakter-karekter ideal seperti itulah yang melekat kuat dalam pribadi para masyayikh Sidogiri, dalam ucapan dan perbuatan.
Maka, tidak ada alasan bagi generasi penerus mereka untuk lepas bebas dari rambu-rambu ini, sebagaimana tidak ada alasan bagi mereka, untuk tidak membaca, merenungi, dan meneladani buku ini, dengan hati dan ketulusan sejati. Kendati tidak secara utuh, buku ini tampak menjadi representasi dari perjalanan panjang Sidogiri, melewati lorong-lorong terjal berduri.