Beginilah Tatakrama Sufi kepada Gurunya

share to

Seorang sâlik (penempuh jalan akhirat) tidak diperkenankan menempuh jalan spiritualnya sendiri alias tanpa bimbingan guru. Demikian ini telah menjadi doktrin tetap dalam undang-undang tasawuf. Perjalanan yang ditempuh sangat panjang dan penuh dengan rintangan, maka jika tidak dibimbing seorang guru, dikhawatirkan dia tidak sampai pada tujuan yang dicita-citakannya, dan malah tersesat. Karena itu orang-orang sufi mengatakan, “Barang siapa yang belajar tanpa guru maka gurunya adalah setan.”

Menempuh jalan spiritual juga tidak cukup dengan bekal segudang ilmu, tanpa bimbingan guru. Hal ini seperti yang disampaikan Syekh Abu Ali ast-Tsaqafi (w. 328 H), “Andaikan seseorang menguasai semua ilmu dan berguru kepada beberapa guru, dia tidak akan mencapai kedudukan para wali sehingga dia melakukan riyâdhah (tirakat) di bawah bimbingan guru, imam atau pembimbing yang memberinya nasehat.”

Begitu juga, seseorang yang tidak berguru dalam proses perjalanan spiritualnya akan berakibat negatif pada orang lain yang mengikutinya (baca: murid-muridnya). Syekh Abu Madyan (w. 195 H) berkata, “Barang siapa tidak mengambil adab dari para pembimbing, maka akan berdampak negatif pada orang yang mengikutinya.”

Dan yang paling urgen dari semua itu adalah keberadaan guru dalam menempuh jalan sufistik tidak lain karena dialah yang menunjukkan kepada muridnya jalan yang benar, membersihkan dan memperbaiki jiwanya yang kotor, dan membimbingnya untuk mencapai kebahagiaan hakiki, kebahagiaan di mana tidak ada lagi kebahagiaan di atasnya, kebahagiaan sampainya hati pada makrifat kepada Allah.

Seorang guru yang dimaksud di sini— sebagaimana yang ditulis al-Habib Abdullah al-Haddad (w. 1132 H) dalam Risâlatu آdâbi Sulûkil-Murîd— adalah guru yang saleh, senang memberi nasehat, paham terhadap syariat, telah menempuh tharîqah, telah merasakan manisnya hakikat, akalnya sempurna, hatinya lapang, bijaksana dalam menghadapi berbagai tipe manusia dan mampu membedakan tabiat dan keadaan mereka.

Seorang murid dianjurkan tidak mudah begitu saja berguru kepada seorang guru sehingga dia mengetahui betul ’keahliannya’ dalam membimbing murid-muridnya dan hatinya terpaut dengannya. Begitu juga seorang guru tidak mudah begitu saja menerima seseorang menjadi muridnya sebelum menguji keseriusannya dalam menempuh sulûk.

 

Adab Murid pada Gurunya

Ketika calon murid menemukan guru dengan syarat-syarat di atas, dia harus memasrahkan jiwa raga kepada gurunya itu dan menjaga tata kramanya. Banyak sekali literatur tasawuf yang menjelaskan tentang adab murid kepada gurunya. Gambaran gamblangnya, seorang murid di hadapan gurunya– seperti yang disampaikan orang-orang sufi—ibarat jenazah di hadapan orang yang memandikannya.

Ketentuan adab ini (murid ibarat jenazah) berlaku bagi murid yang berguru kepada mursyid dengan tujuan mendapatkan bimbingannya secara total dalam proses sulûk. Guru atau musryid ini diistilahkan dengan syaikhut-tahkîm menurut al-Habib Abdullah al-Haddad dalam Risâlah-nya atau shuhbah irâdah menurut Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi dalam Syarhul-Hikam.

Ada juga murid yang berguru kepada seorang mursyid dengan tujuan ngalap berkah (tabarruk). Yang baik dilakukan murid dengan tujuan ngalap berkah ini adalah sering-sering sowan kepada gurunya itu, agar ia mendapat banyak berkah darinya.

Sedangkan bagi murid dengan tujuan mendapatkan bimbingan secara total dari gurunya, harus memperhatikan adab-adab berikut ini. Adab- adab ini penulis simpulkan dari kitab Risâlatu آdâbi Sulûkil-Murîd, Tanwîrul-Qulûb, dan خqâzhul-Himam.

Pertama, murid/salik harus takzim dan mengagungkan gurunya. Dia harus meyakini bahwa ia bisa wushûl dengan bimbingan gurunya. Dia tidak boleh menoleh kepada guru lain, karena hal ini akan menyebabkan ia terhalang mendapatkan pancaran nur dari gurunya.

Kedua, murid harus memasrahkan segalanya urusannya- terutama yang terkait dengan sulûk– kepada gurunya.

Ketiga, murid harus siap berkhidmah kepada gurunya, baik dengan raga maupun harta.  

Keempat, mentaati segala perintah dan ketentuannya, baik ketika di hadapannya maupun tidak.

Kelima, murid dilarang menginterupsi apa-apa yang dilakukan gurunya. Kata ’kenapa’ harus dibuang jauh-jauh, sebab jika murid mengatakan “Kenapa guruku demikian?” dia tidak akan bahagia selamanya. Apabila ada bisikan yang bukan-bukan di hati berusahalah untuk menghilangkannya, bila masih tetap sampaikan saja kepada guru, barangkali sang guru mengobati dan menghilangkan bisikan itu.

Keenam, murid diharuskan selalu berbaik sangka kepada gurunya.

Ketujuh, murid tidak perlu sungkan-sungkan menyampaikan kendala yang dialaminya terkait dengan masalah sulûk, seperti penyakit hati yang menimpa murid. Demikian ini jika memang guru memberi izin untuk bertanya.

Kedelapan, segera melaksakan perintah guru, tanpa banyak pertimbangan dan alasan.

Kesembilan, murid tidak diperkenankan berguru kepada guru lain, kecuali mendapat izin dari gurunya yang pertama.

Kesepuluh, bila guru melarang melakukan sesuatu, jangan sampai murid berburuk sangka. Murid harus yakin bahwa apa yang diperbuat guru adalah yang lebih bermanfaat baginya.

Kesebelas, murid tidak boleh menuntut atau mengharap agar gurunya menampakkan karamah-karamahnya atau keistimewaan yang lain. Sebab, pantang bagi seorang wali menampakkan karamahnya dan rahasia-rahasia ilahi.

***

Adab-adab yang disebutkan ini hanya sebagian saja, masih banyak adab-adab lain. Apabila diklasifikasikan, adab itu ada yang adab zahir dan ada yang adab batin. Adab zahir terkait dengan tata krama murid kepada guru dari segi zahir, seperti taat pada perintahnya, menghadap guru dengan anteng, tidak bicara di depan guru, dan lain-lain. Sedangkan adab batin terkait dengan tata krama murid dari segi batin, seperti berbaik sangka, meyakini kesempurnaan guru, mengagungkannya, memupuk cinta di dalam hati kepadanya, dan seterusnya.

Adab-adab ini sangat penting, dan orang-orang sufi sangat memperhatikan adab ini. Bagi sufi, inti ajaran mereka (tasawuf) adalah adab. Tidaklah seseorang meninggalkan adab zahir melainkan ia akan mendapatkan balasan zahir juga, dan tidaklah meninggalkan adab batin melainkan ia akan mendapatkan balasan batin juga. Begitulah kata orang-orang sufi.

Apalagi adab kepada guru, mereka lebih menjaga dan memperhatikannya lagi. Bagi mereka, guru adalah wasilah yang menyampaikan cita-cita mereka yang luhur, yaitu wushûl kepada Allah. Mereka sangat takut, jika guru tidak rida terhadap diri mereka. Mereka berusaha sekuat mungkin mentaati, mengagungkan dan menjaga perasaan gurunya. Bahkan jika ada bisikan-bisikan yang bukan-bukan, mereka tepis jauh-jauh bisikan itu. Mereka betul-betul pasrah, seperti pasrahnya jenazah di hadapan orang yang memandikan.

Mereka sangat takut melanggar perintah atau ketentuan gurunya. Mereka punya prinsip ’menyakiti perasaan guru tidak ada pintu taubat’. Guru Imam al-Qusyairi, Syekh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Penyebab semua perpisahan adalah perbedaan.” yakni seseorang yang melanggar (berbeda) ketentuan gurunya, dia tidak lagi menetap di atas tharîqah-nya, hubungan keduanya terputus sekalipun berkumpul dalam satu tempat. Barang siapa berguru kepada seorang guru, lalu ada unek-unek di hatinya, maka dia telah merusak ikrar kemuridannya! 

Semoga saja kita bisa mengikuti lelampah mereka.

Penulis: Ach. Muzakki Kholil

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net