Sufi dan Persahabatan, Sarana Pendekatan Kepada Allah swt

share to

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْهُمَا فِيْ الْغَارِإِذْ يَقُوُلُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا(سورة التوبة: 40

“… sedang dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata pada sahabatnya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah:40)

Persahabatan adalah suatu dimensi sosial manusia yang penting. Dengannya manusia bisa berinteraksi, bertukar pikiran, dan juga berbagi rasa kepedulian. Kata sahabat berasal dari bahasa Arab yaitu صُحْبَةً  dari kata kerja صَحِبَ-يَصْحَبُ  yang berarti berteman/bersahabat, dari arti leksikal tersebut terserap menjadi sahabat dan persahabatan. Imam Ghazali menggambarkan sebuah persahabatan dengan kerelaan tanpa batas sampai-sampai tidak dikatakan seorang sahabat sehingga dia rela apa yang dimilikinya terhadap saudaranyaHal itu menunjukkan bahwa persahabatan adalah suatu hal yang kompleks yang berhubungan dengan interaksi antar manusia yang telah menjadi perhatian ulama sejak dulu.

Dalam kaitannya dengan ayat di atas  Abul Qasim al-Junayd ra. berkata, “Ketika Allah swt. menetapkan kepada Abu Bakar as-Shidiq ra. sebagai sahabat, Allah swt. menjelaskan bahwa Nabi swt. menampakkan sifat kepedulian yang besar kepadanya, dalam firman-Nya, “Di waktu dia berkata pada sahabatnya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” Dari kenyataan di atas seorang ulama berkata, orang yang merdeka adalah senantiasa peduli atas orang yang menjadi sahabatnya.

Dalam kitabnya, ar-Risâlatu al-Qusyairiyah fî ‘Ilmi at-Tashawwufi, Abil Qasim Abdul Karim bin Hawazan al-Qusyairi an-Naisabury menyebutkan bahwa persahabatan ada tiga macam;pertama, bersahabat dengan orang yang lebih atas dari Anda. Persahabatan ini pada hakikatnya lebih sebagai rasa bakti. Kedua, bersahabat dengan orang yang ada di bawah Anda. Persahabatan ini menuntut agar Anda bersikap peduli dan kasih sayang. Sementara yang mengikuti Anda harus selalu serasi dan bersikap hormat. Ketiga, bersahabat dengan mereka yang memiliki kemampuan dan pandangan rohani, yaitu suatu persahabatan yang menuntut sikap memprioritaskan sepenuhnya kepada sahabatnya itu.

Dari pembagian di atas dapat ditarik benang merah bahwa rasa persahabatan tidak hanya bertumpu pada kepedulian dalam frame keakraban. Rasa persahabatan lebih menyentuh ke dalam dimensi spiritual manusia sehingga di dalamnya tidak terbesit sedikit pun niat yang melenceng dari tujuan asalnya yaitu taqarruban ila Allah (mendekatkan diri pada Allah swt.) Maka dari itu para sufi tidak memandang rasa persahabatan hanya dari lahiriahnya saja, lebih dari itu mereka melakukannya dengan nurani dengan keikhlasan hati sebagai barometernya.

Para sufi membina hubungan persahabatan antar manusia bukan semata-mata hanya suatu kepentingan keduniaan. Mereka membangun persahabatan dengan landasan iman dan hanya ingin mendekat pada Allah swt. melalui sahabatnya itu. Imam Qusyairi menambahkan, siapa yang bersahabat dengan seorang guru yang memiliki derajat lebih tinggi darinya, etikanya ia harus meninggalkan sifat penentangan kepadanya, bersikap ramah dan hormat kepadanya, dan mempertemukan diri dengan ihwal ruhaninya melalui iman.

Selain dengan landasan iman yang kuat, para sufi menambahkan cinta sebagai representasi dari syafaqah (kepedulian) kepada sahabatnya tersebut. Mereka mencinta karena Allah swt. dan semata-mata karena Allah swt. Mereka tidak rela melihat aib sahabatnya apalagi keburukannya. Konon ada seorang yang bersahabat dengan Ibrahim bin Adham. Ketika orang tersebut mau berpisah, dia berkata kepada Ibrahim, “Bila engkau melihat diriku ada cacat, maka ingatkanlah diriku.” Mendengar pernyataan sahabatnya, Ibrahim bin Adham berkata, “Aku tidak pernah melihat cacatmu, karena aku melihatmu dengan mata kecintaan, sehingga aku selalu memandangmu dengan mata pandangan kebaikan. Tanyakan saja pada selain diriku tentang cacatmu.”

Perihal kisah tersebut sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa apabila ingin bersahabat dengan Ibrahim bin Adham disyaratkan harus berbakti kepadanya; tangannya harus sama dengan tangan dia dalam seluruh rezeki yang telah dibuka oleh Allah swt. bagi mereka di dunia. Artinya tidak ada ketimpangan antara keduanya, harus ada keseimbangan. Mereka mensyukuri karunia dari Allah swt., apakah itu berupa kenikmatan maupun cobaan, secara bersama-sama.

Dalam suatu kesempatan Abu Bakar al-Thamastânî berkata:

اصحبوا مع الله تعالى, فإن لم تطيقوا فاصحبوا مع من يصحب مع الله تعالى, لتوصلكم بركات صحبتهم الى صحبت الله عزّوجلّ

Bersahabatlah kalian dengan Allah swt. Bila kalian tidak mampu, maka bersahabatlah dengan orang yang bersahabat dengan Allah swt., karena bersahabat dengannya bisa menghubungkan kalian dengan Allah swt., melalui berkat persahabatnnya dengan Allah swt.

Oleh: Isomuddin Rusydi

 

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net