Mengenang KH. Abd. ‘Alim bin Abd. Djalil

share to

KH. Abd. ‘Alim bin Abd. Djalil adalah cucu dari Sayyid Abu Bakar Syatho al-Dimyati, pengarang kitab I’anatuth-Tholibin.

Assalamualaikum, hari ini peringatan haul ke-13 KH. Abd. ‘Alim bin Abd. Djalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ke-11. Allahu yunawwiru dharihah. Mari luangkan waktu untuk membaca sirah beliau. Semoga kita bisa meneladani dan memetik hikmah. Amin.

Kiai Abd Alim atau yang akrab disapa Kiai Lim, adalah putra pasangan KH. Abd Djalil bin Fadhil dan Nyai Hanifah binti Nawawie. Dari jalur ayah, nasab Kiai Lim bersambung dengan Raden Rahmat, Sunan Ampel. Sedangkan dari jalur ibu, nasab Kiai Lim sampai ke Sayyid Abu Bakar Syatho al-Dimyati, pengarang kitab I’anatuth-Tholibin.

Nyai Hanifah, ibunda Kiai Lim adalah puteri sulung Kiai Nawawie bin Noerhasan yang tak lain salah satu pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU. Ayah Kiai Lim syahid ditembak tentara Belanda saat Kiai Lim berusia 7 tahun. Sejak saat itu Kiai Lim diasuh Kiai Cholil, adik kandung ibunya.

Sejak kecil Kiai Lim gemar tirakat dan tirakat yang biasa dijalani adalah sedikit makan dan menahan diri dari banyak bicara. Pernah, Kiai Lim berjalan sampai terbungkuk-bungkuk karena menahan sakit di perutnya. Tak ada keluh kesah terlontar bahkan kepada ibunya sendiri.

Di usia muda, Kiai Lim jarang bergaul dan bermain. Beliau lebih sering menghabiskan waktu untuk ibadah. Dini hari Kiai Lim bangun salat malam. Kiai Lim terbiasa salat berjamaah sejak usia 7 tahun. Sering Kiai Lim kecil rebutan dengan santri untuk menata terompah Kiai Adzim, sang Imam.

Shalat Duha juga tak pernah lepas dari rutinitasnya. Dan ketika mendengar ayat sajadah, Kiai Lim langsung melakukan sujud tilawah. Kebiasaan ini berlanjut hingga akhir hayatnya. Keseharian Kiai Lim penuh dengan nuansa spiritual keagamaan yang sempurna.

Dikenal sebagai pemuda yang haus ilmu dan serius saat belajar. Rihlah ilmiah Kiai Lim dimulai dengan mengaji pada Kiai Cholil dan Kiai Hasani, pamannya. Beliau melanjutkan studi di Madrasah Miftahul Ulum Sidogiri hingga tamat Ibtidaiyah. Di sini Kiai Lim belajar pada Kiai Kholili, iparnya.

Merasa tidak puas, Kiai Lim melanjutkan pendidikan ke Ponpes Sarang Rembang Jateng. Beliau berguru pada Kiai Zubair, ayah Kiai Maimoen Zubair. Saat hendak mondok ke Sarang, Kiai Lim berangkat dengan membawa sekarung beras. Konon sampai beliau boyong (berhenti mondok) beras tersebut masih tersisa.

Setelah dari Sarang, beliau pindah ke Lasem, menimba ilmu pada Kiai Maksum Lasem. Tiap hari waktu beliau digunakan untuk belajar dan mengaji. Sepulang dari Sarang, Kiai Lim mendalami tauhid dan tasawuf. Beliau berguru pada Kiai Abu Fadhlin Jember.

Di usia 31 tahun Kiai Lim menikah. Beliau dikaruniai 7 putera-puteri. Kepada istrinya beliau tidak pernah menyuruh mengerjakan sesuatu apapun. Jika ada yang kurang berkenan dari sikap putera-puteranya, Kiai Lim tidak langsung menegur, melainkan beliau memanggil istrinya bahwa beliau tidak setuju.

Penyabar, tak pemarah dan tak suka main perintah, itu gambaran sikap Kiai Lim bagi keluarga. Keseharian Kiai Lim menjadi ajaran tersendiri. Jarang beliau berbicara kepada putera-puterinya. Sikap ini beliau ambil lantaran khawatir ada rasa su’u dzan (prasangka jelek) kepada mereka. Beliau mencontohkan bentuk prasangka jelek itu dengan ucapan, “Anakku kok koyo ngene, Yoopo gak iso ngaji anakku, anakku kok ndak jama’ah.” Bagi beliau prasangka jelek itu termasuk mendoakan jelek. “Lebih baik aku mendoakan dari dalam kamar, semoga jadi anak saleh.” Dawuhnya.

Sikap tak banyak bicara tidak lantas menghilangkan keakraban. Beliau melarang putera-puteranya boso (berbahasa) halus, justru biar lebih akrab.

Tanda-tanda Kiai Lim akan menjadi pengasuh adalah satu tahun sebelum wafat, Kiai Cholil pergi haji dan menggantikan pengajian kitab pada Kiai Lim. Uniknya, di Sidogiri setiap ada pergantian pengasuh selalu terjadi perebutan. Bukan berebut maju, malah berebut mengajukan yang lain, karena merasa tak pantas.

Versi lain, Kiai Lim menjadi pengasuh setelah Kiai Siradj. Kiai Siradj sebagai satu-satunya putera Kiai Nawawie yang masih hidup.

Saat bersama santri, beliau menggunakan bahasa halus (kromo inggil). Bahkan ngaji kitab di surau, penjelasannya juga menggunakan bahasa halus. Dalam kondisi kritis, beliau selalu memikirkan santri. Pernah, sekitar jam 2 dini hari, beliau bertanya: “Bagaimana ngajinya santri-santri?”

Kiai Lim memang dikenal sebagai sosok pendiam. Namun hal berbeda dijumpai santri saat beliau mengisi pengajian; keterangannya begitu detail. Menurut pengakuan Kiai Lim sendiri, tradisi ini beliau ambil dari Thariqah-Ghazaliyah: yakni taklim wat-ta’allum (mengajar sambil belajar).

Beliau mengasuh kitab Fathul-Wahhab, Iqna’, dan Fathul Mu’in di pagi hari. Sedang malam harinya membacakan kitab Uqudul-Juman kepada santri. Mengasuh Ihya-Ulumiddin, Shahih Bukhari, Shahih Muslim & Tafsir Jalalain. Cara mengajar beliau persis seperti gurunya, Kiai Zubair, Sarang.

Kiai Lim dikenal sebagai wari’ sejak kecil. Beliau perhatikan betul agar suapan makanan halal dan tak tercampur syubhat, apalagi haram. Saking wara’-nya, beliau memproduksi sendiri bahan yang biasa menjadi penyedap rasa. Seperti kecap, dll. Beliau tak berkenan makanan lain.

Suatu ketika Kiai Lim dihadiahi uang oleh seorang calon Gubernur. Hingga wafat ternyata uang tersebut masih utuh di lemari baju beliau. Beliau juga sering dihadiahi baju dan sarung oleh pejabat, namun tak pernah dipakai. Anehnya, beliau juga enggan memberikannya ke orang lain. Kenyataan ini diketahui setelah beliau wafat. Saat pihak keluarga ingin mengemasi barang peninggalannya, bingkisan dan amplop uang masih utuh.

Kiai Lim adalah figur yang sangat menjaga keistikamahan. Landasan atas keistikamahan itu beliau gambarkan dalam pesan pada para tamu: “Yo istikamah ae. Istikamah iku kan luzumut-tha’ah.” Maknanya: (pesan saya), istikamah saja. Kan arti istikamah itu memegang teguh ketaatan.

Di samping itu Kiai Lim terkenal sebagai sosok sabar dan dermawan. Beliau kaya tapi zuhud. Seorang ‘allamah yang tak mau tonjolkan kealimannya. Kesabaran beliau tampak ketika mulai sakit keras. “Aku ning kene dhudhu’ loro, tapi golek ganjaran (saya tidak sakit, cuma cari pahala).”

Kiai Lim mengalami gangguan liver dan ginjal. Setiap kali akan dirujuk ke rumah sakit, beliau menolak. Beliau beralasan masih kuat menahan sakit. Hingga pada Ahad 28 Dzul-Qadah 1426/09 Januari 2005, Kiai Lim menghembuskan nafas terakhir. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dan bisa meneladani kearifan beliau dalam menjalani kehidupan ini dan kita mendapat barakah beliau. Amin.

*Diolah dari Twitter @sidogiri

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Chat WA dengan kami