KH. Aminullah Penerus Perjuangan Sayid Sulaiman (Bagian I)

share to

Pembabat Sidogiri setelah Sayid Sulaiman

Mengorek sejarah tokoh yang hidup ratusan tahun yang lalu tidaklah mudah, tak ubahnya mencari mutiara dalam lumpur di dasar samudera. Selain masa hidup yang terpaut cukup jauh, narasumber dan saksi sejarah yang sanggup memberikan informasi valid tentang sang tokoh, juga sulit didapatkan. Tapi bagaimanapun, usaha mengumpulkan serpihan-serpihan data sejarah itu penting dilakukan. Karena dengan mengetahui sejarah, orang akan mengetahui jati dirinya, bisa mengambil hikmah darinya, dan bisa lebih menghargai jasa-jasa para pendahulu. Karena itulah diusahakan sekuat tenaga untuk mengumpulkan serpihan-serpihan data sejarah tentang KH Aminullah dari Bawean, salah satu pembabat Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, meski terdapat banyak versi tentang sejarah beliau.

Perjuangan Sayid Sulaiman yang Belum Selesai

Suatu hari, Sayid Sulaiman menerima tamu seorang utusan Raja Mataram, Paku Buwono III (memerintah sejak 1749). Utusan itu bermaksud mengundang beliau menemui raja. Raja Mataram belakangan mendengar bahwa ada seorang ulama di daerah Pasuruan yang dikenal alim dan bijaksana. Dan rupanya raja tertarik untuk bertemu dengan ulama yang bernama Sayid Sulaiman itu. Raja menjanjikan akan memberikan hadiah dan akan mengangkatnya menjadi hakim pemerintah. Sejak hari itu Sayid Sulaiman sering terlihat murung dan gelisah. Karena beliau dihadapkan pada pilihan yang sama-sama sulit. Di satu sisi, kalau ia terima tawaran menjadi hakim itu, beliau khawatir tidak bisa berbuat adil. Di sisi lain, beliau tidak bisa menolak keinginan sang raja.

Setelah berembuk dengan keluarga dan masyarakat, akhirnya dengan berat hati Sayid Sulaiman berangkat ke Surakarta dengan ditemani dua orang santrinya, yaitu Mbah Jailani dan Ahmad Surahim bin Untung Surapati, serta putranya, Sayid Hazam. Belum sampai ke tempat tujuan, beliau jatuh sakit di tengah perjalanan, tepatnya di desa Batek, Mojoagung, Jombang.

Selama sakit, beliau dirawat oleh Kiai Alif. Ketika sakit, beliau sering berdoa kalau sekiranya menemui raja adalah pilihan terbaik, maka ia memohon agar segera disembuhkan; tapi kalau itu bukan pilihan yang tepat, ia mohon segera diwafatkan di tempat itu. Tak selang beberapa lama, beliau wafat dan dimakamkan di desa itu.

Di masa hidupnya, Sayid Sulaiman banyak menorehkan sejarah gemilang di bumi Pasuruan, semisal pada waktu diminta tolong Raja Pasuruan yang kehilangan Putri Kedaton (putri raja) beserta kereta dan kusirnya karena disembunyikan jin. Dengan hanya melempar sesuatu dari dalam sakunya, tibatiba muncul sang Putri Kedaton dengan kereta dan kusirnya. Sayid Sulaiman pernah juga menjadi penasehat Adipati Untung Surapati yang wafat tahun 1706.

Sayid Sulaiman juga berperan besar dalam penyelamatan jenazah Untung Surapati dari perlakuan jahat Belanda. Konon Belanda mengumumkan sayembara: barangsiapa yang menemukan jenazah Untung Surapati dan menyerahkannya, maka akan diberi hadiah uang. Akhirnya mayat Untung Surapati ditemukan dan diserahkan ke Belanda. Karena kebencian Belanda, mayat ini akan dijadikan sasaran perlombaan menembak. Penjajah sadis itu menggugah Sayid Sulaiman untuk menyelamatkan jenazah Untung Surapati. Jenazah itu diambilnya tanpa sepengetahuan Belanda. Bahkan konon jenazah itu hilang dalam hitungan ketiga ketika hendak dieksekusi dengan tembakan. Kemudian jenazah itu dimakamkan di suatu tempat yang hingga kini tidak diketahui letaknya.

Sayid Sulaiman wafat menyisakan pekerjaan rumah yang belum beliau rampungkan. Yakni perjuangan membabat hutan Sidogiri yang sudah beliau mulai sejak mendapat titah dari penguasa Giri, yaitu Pangeran Singanegara. Versi lain mengatakan titah itu datang dari Sunan Giri. Tapi data sejarah menyebutkan bahwa Sunan Giri yang bergelar Prabu Sasmata itu menjadi raja dan memerintah Kerajaan Giri pada tahun 1487-1511, sekitar 200 tahun sebelum masa hidup Sayid Sulaiman. Di Pasuruan, Sayid Sulaiman mendapat tugas membabat tiga tempat, yaitu Sidogiri, Kanigoro Gambirkuning, dan Keboncandi. Perjuangan membabat Sidogiri adalah tugas yang paling sukses beliau lakukan. Perjuangan tersebut selanjutnya diteruskan oleh santri sekaligus menantu beliau, Kiai Aminullah.

Masuknya Islam ke Indonesia

Dari buku-buku sejarah diketahui bahwa sebelum Islam datang ke Indonesia, bangsa Arab sudah dikenal sebagai bangsa pengembara. Tidak hanya di darat, mereka juga piawai mengembara di laut. Mereka sudah terbiasa berlayar hingga ke Laut Cina dan Samudera Indonesia. Sejak tahun 41 H, bangsa Arab Alawiyin (keluarga keturunan Nabi Muhammad SAW) berlayar ke beberapa negara. Mereka berdakwah dan berniaga ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Negara tujuan mereka antara lain India, Indonesia, Filipina, dan Cina.

Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 lewat pedagang-pedagang Muslim dari Arab, Hadramaut, Persia, dan Gujarat (India Barat). Saudagar-saudagar Muslim yang juga juru dakwah itu sudah melakukan kontak dengan masyarakat Indonesia melalui jalur perdagangan dan pernikahan. Tidak hanya itu, menurut Buku Sejarah Nasional Indonesia dan Umum jilid satu (I. Wayan Badrika 2000: 211-212), ada beberapa jalur penyebaran Islam di Indonesia, antara lain:

Pertama, melalui perdagangan. Sejak abad ketujuh, para pedagang Islam dari Arab, Persia, dan India telah ikut ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Hal ini menimbulkan jalinan hubungan perdagangan antara masyarakat Indonesia dengan para pedangan Islam. Sambil berdagang, para pedagang Islam dapat menyampaikan dan mengajarkan agama dan budaya Islam kepada orang lain, termasuk masyarakat Indonesia. Dengan cara tersebut, banyak pedagang Indonesia yang masuk menjadi pemeluk agama Islam dan mereka pun menyebarkan agama dan budaya yang baru dianutnya kepada orang lain.

Kedua, melalui perkawinan. Para pedagang Islam yang melakukan perdagangan dalam waktu yang cukup lama, memungkinkan di antara mereka banyak yang menetap cukup lama, sampai berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun pada suatu daerah. Keadaan ini dapat mempererat hubungan mereka dengan penduduk pribumi atau dengan kaum bangsawan pribumi. Jalinan hubungan yang baik ini terkadang diteruskan dengan jalinan perkawinan antara putri kaum pribumi dengan pedagang Islam. Dari perkawinan ini terlahir seorang Muslim. Lambat-laun terbentuklah masyarakat Muslim dengan adat Islam serta pada suatu saat terbentuklah sebuah kerajaan Islam. Misalnya, pernikahan Raden Rahmad dengan Nyai Manila, pernikahan Sunan Gunung jati dengan Putri Kawungaten, pernikahan antara Raja Brawijaya dengan Putri Campa yang beragama Islam, kemudian berputra Raden Fatah yang kelak menjadi raja pertama Demak. Ketiga, melalui politik. Pengaruh kekuasaan seorang raja sangat besar perannya dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya. Rakyat memiliki tingkat kepatuhan yang sangat tinggi, dan seorang raja menjadi panutan dan teladan bagi rakyat. Setelah Islam tersosialisasi, maka kepentingan politik dilaksanakan melalui perluasan wilayah kerajaan yang diikuti dengan penyebaran agama Islam. Contohnya Sultan Demak mengirim pasukannya untuk menduduki wilayah Jawa Barat dan memerintah untuk menyebarkan Islam. Pasukan itu dipimpin oleh Fatahillah.

Keempat, melalui pendidikan. Para ulama, guru-guru agama, atau kiai, juga memiliki peran yang sangat penting dalam menyebarkan agama dan budaya Islam. Mereka menyebarkan agama Islam dengan mendirikan pondok pesantren, yang merupakan pusat pendidikan para santri. Para santri mendapatkan pendidikan agama secara mendalam. Para pengelola pondok pesantren memiliki kewajiban untuk menyebarkan dan mengembangkan agama Islam kepada masyarakat. Bahkan setiap santri selalu berusaha untuk mendirikan tempat ibadah. Pesantren didirikan dengan tujuan untuk lebih mempermudah penyebaran agama Islam dan sebagai tempat mempelajari Islam dengan lebih mendalam. Pesantren-pesantren itu antara lain adalah pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta, Surabaya, dan pesanten yang didirikan oleh Sunan Giri di Giri. Para santri yang mengikuti pendidikan bukan hanya berasal dari daerah sekitar pondok pesantren saja, melainkan juga ada yang datang dari daerah-daerah yang sangat jauh, seperti Maluku, Makassar, untuk belajar di Jawa.

Kelima, melalui kesenian. Kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukan seni gamelan, seperti yang banyak dilakukan di Yogyakarta, Solo, Cirebon, dll. Seni gamelan ini dapat mengundang masyarakat untuk berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah-dakwah keagamaan. Di samping seni gamelan juga terdapat seni wayang yang sangat digemari masyarakat. Melalui cerita-cerita dalam lakon wayang itu, para ulama menyisipkan ajaran-ajaran agama Islam, sehingga masyarakat dengan mudah menangkap dan memahami ajaran Islam. Contoh: Sunan Kalijaga memanfaatkan seni wayang untuk dakwah. Selain itu, pengaruh Islam juga berkembang melalui sastra, seni rupa atau seni kaligrafi, dll.

Keenam, melalui tasawuf. Kaum sufi hidup dalam kesederhanaan. Mereka selalu berusaha untuk menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Mereka biasanya memiliki keahlian yang dapat membantu kehidupan masyarakat. Di antaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit. Mereka juga aktif menyebarkan agama Islam, seraya menyesuaikan dengan kondisi alam pikiran dan budaya masyarakat saat itu, sehingga ajaran-ajaran Islam dengan mudah diterima masyarakat. Ahli tasawuf yang memberikan ajaran agama Islam yang disesuaikan dengan alam pikiran masyarakat setempat, antara lain Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung di Jawa.

Dari sinilah Islam mulai menyebar membentuk kelompokkelompok. Komunitas Islam pertama kali muncul di daerah pesisir Gresik, Banten dan Demak. Hal ini dimaklumi karena para pedagan Islam datang ke Indonesia melalui jalur laut. Dakwah Walisongo dan murid-muridnya, serta berdirinya kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, menjadi tonggak keberhasilan penyebaran Islam di Jawa.

Pasuruan Tempo Dulu

Untuk lebih mengenal situasi saat perjuangan Kiai Aminullah di wilayah Pasuruan, adalah penting untuk menengok sejarah Pasuruan tempo dulu. Kota Pasuruan terletak di tepi pantai dan merupakan kota bandar kuno. Pada zaman Erlangga, kota ini disebut “Paravan”, sedang pada zaman sejarah Tiongkok disebut “Gembong”. Pasuruan mulai disebut “Pasuruan” karena suatu peristiwa menarik. Yaitu ketika terjadi banjir besar, ada orang sakti yang melemparkan daun suruh (sirih) ke laut yang menjadi hulu banjir itu, sehingga orang sakti itu disebut Mbah Suruh. Kemudian tempat terjadinya peristiwa itu dikenal dengan sebutan “Pasuruan”, artinya tempat Mbah Suruh.

Konon ada orang dari negeri Blambangan yang bernama Kiai Gedee Kapulungan yang memenangkan peperangan. Kejadian berikutnya, Kiai Gedee Kapulungan digantikan oleh orang Kiai Gedee Dermoyudo dari Kartosuro. Ketika menjalankan pemerintahannya, ia wafat dan digantikan oleh anaknya yang juga bernama Dermoyudo. Kemudian Kiai Gedee Dermoyudo lari ke Surabaya dan lolos dalam perang melawan Mas Pekik. Dalam pelariannya, ia wafat dan dimakamkan di pemakaman Bibis Wetan Kantor Pos Surabaya. Dengan demikian, Mas Pekik menjadi raja di Pasuruan, kemudian wafat dan digantikan oleh Onggojoyo (1671-1686) yang berasal dari keturunan Kiai Brondong. Onggojoyo mendapat perlawanan dari Untung Surapati, kemudian kalah, lalu melarikan diri ke Kota Surabaya.

Tahun 1686 hingga 1706, Pasuruan di bawah pemerintahan Djoko Untung Surapati dengan gelar Adipati Wironegoro. Untung Suropati berhasil mendirikan kerajaan di Pasuruan. Kurang lebih selama 20 tahun ia memerintah kerajaan Pasuruan yang kekuasaannya meliputi Pasuruan, Malang, dan sekitarnya. Untung Suropati berperang dengan VOC di Bangil dan menglami luka-luka hingga meninggal pada Jumat Legi, 1 Maret 1706. Sampai sekarang makamnya tidak diketahui, yang ada hanya petilasannya berupa gua tempat persembunyian di pedukuhan Mancilan Pohjentrek Pasuruan. Setahun kemudian, putra Djoko Untung Suropati yang bernama Rachmad, menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan perjuangan beliau sampai ke timur dan gugur dalam pertempuran.

Dengan dikalahkannya Untung Suropati dan penerusnya, Pasuruan kembali menjadi kekuasaan Belanda. Sementara kerajaan Mataram yang sebelumnya gigih melawan penjajah Belanda, semakin lemah akibat kekalahan wilayah-wilayah kekuasaannya oleh Belanda, diperparah lagi oleh perpecahan yang melanda kerajaan itu.

Menurut catatan sejarah, setelah Untung Suropati gugur, berita sejarah Pasuruan hampir tidak terdengar, apalagi perjanjian-perjanjian antara Raja Mataram dan kompeni semakin menyengsarakan rakyat. Karena dalam perjanjianperjanjian itu Raja Mataram melepaskan daerah-daerah bagian timur dari pulau Jawa. Namun sebelum itu, diperkirakan pada tahun 1712, penguasa Giri (Gresik) memberi amanat kepada Sayid Sulaiman, seorang ulama terkenal sakti dan seorang wali, untuk membuka daerah baru, kalau sekarang tepatnya di wilayah Kecamatan Kraton, Pasuruan. Daerah baru yang menjadi sentral pendidikan agama Islam tersebut selanjutnya dikenal dengan nama “Pondok Pesantren Sidogiri”.

Raja di Giri (Gresik) yang dikenal dengan raja ulama— karena yang menjadi raja adalah keturunan Sunan Giri— kiranya sudah membaca situasi bahwa melawan penjajah harus dengan taktik lain. Untuk itu, pendirian pondok pesantren merupakan sarana yang efektif—di samping sarana pendidikan juga taktik melawan penjajah—merupakan salah satu alternatif strategis, sehingga strategi baru ini dapat dianggap suatu perjuangan bangsa melawan penjajah saat itu, di samping guna membumikan syariat agama Islam di masyarakat.

Kemudian ketika Sayid Sulaiman wafat sebelum merampungkan tugasnya untuk membuka daerah baru, maka menantunya, Kiai Aminullah, melanjutkan tugas dan perjuangan Sayid Sulaiman tersebut. Akhirnya daerah baru tersebut berhasil dibuka sampai rampung, dan terus menjadi sentral pendidikan agama Islam sampai sekarang.

Antara Hadramaut, Bawean, dan Sidogiri

Kiai Aminullah lahir di Hadramaut (?), sebuah daerah di negara Yaman yang terletak di bagian selatan Jazirah Arab. Alamnya terdiri dari pantari berpasir dengan pegunungan batu yang gersang. Penduduk Hadramaut memang gemar merantau dan umumnya menetap di berbagai negeri Islam. Nenek moyang mereka yang pertama kali melakukan perantauan adalah Sayid Ahmad bin Isa (w. 345 H/956 M) yang dijuluki al-Muhâjir (yang berhijrah). Silsilah Sayid Ahmad bersambung dengan Rasulullah  melalui jalur Sayid Ahmad bin Sayid Isa ar-Rumi bin Sayid Muhammad an-Naqib bin Sayid Ali alUraidhi bin Sayid Ja’far ash-Shadiq bin Sayid Muhammad alBaqir bin Sayid Ali Zainal Abidin bin Sayid Husain  bin Sayyidah Fathimah az-Zahra radhiyallâhu ‘anhâ binti Rasulillah Muhammad SAW.

Aminullah berasal dari keluarga yang taat beribadah. Ayahnya, yang konon bernama Mas’ud (Dalam biografi KH Mahalli, ayah KH Aminullah disebutkan bernama Maulana Umar Mas’ud, yang dikenal juga dengan sebutan Pangeran Perigi) adalah keturunan marga al-Haddar, salah satu marga besar yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Salah satu tokoh yang terkenal dari keluarga ini adalah Habib Ahmad bin Muhsin al-Haddar, yang menetap dan dimakamkan di Bangil, Pasuruan. Ada pula yang mengatakan bahwa Kiai Aminullah adalah keturunan Sunan Bonang.

Riwayat lain menyebutkan, beliau datang dari Hadramaut bersama Sayid Sulaiman. Keduanya sempat singgah di Banten. Setelah cukup lama tinggal di sana, akhirnya keduanya berkelana mencari lahan baru untuk berdakwah. Dan pilihan mereka tertuju pada daerah jawa bagian timur yang kala itu masih kental dengan budaya Hindu-Budha.

Bersambung ke bagian II…

Disadur dari buku ‘Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri’

Pesan buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *