KH. Hasani Nawawie (Bagian II)

share to

Mendidik Masyarakat dengan Uswah  

Tidak ada Kiai Hasani, Sidogiri seperti kehilangan urat nadi. “Kiai Hasani wafat, siapa lagi yang punya perhatian penuh pada salat?” Kalimat itu kerap terdengar dari santri Sidogiri pasca wafatnya Hadratussyekh.  

Memang, pada dasawarsa terakhir, Sidogiri memiliki komitmen pendidikan salat yang luar biasa. Upaya pendidikan salat bagi santri digalakkan sedemikian rupa. Hal ini juga direspon oleh pihak madrasah, semenjak dua tahun yang terakhir, lembaga ini menetapkan lulus ujian salat sebagai syarat kenaikan kelas. 

Komitmen yang luar biasa hebatnya ini merupakan buah perhatian ekstra Kiai Hasani terhadap salat santri. Dalam dawuhnya, beliau menyatakan bahwa salat merupakan standar keberhasilan pendidikan di Pondok Pesantren Sidogiri. Jika salat santri baik, berarti pendidikan berhasil; salat santri jelek, berarti pendidikan gagal total. 

Kiai Hasani memang lebih sering memerankan sebagai sosok yang mengerem langkah Pondok Pesantren Sidogiri agar tidak bergeser dari visi semula: ingin mencetak ‘ibadillâh ashshâlihîn. Beliau adalah supervisor, penyelia segenap komponen pesantren yang sedang berproses. 

Tugas ini beliau akui sebagai beban yang maha berat, soalnya menyangkut tanggung jawab di hadapan Allah swt. Tugas mahaberat ini sejalan dengan pandangan beliau bahwa pesantren merupakan lembaga yang ussisa ‘ala at-taqwa, dibangun dan berdiri atas dasar takwa kepada Allah swt. Jadi, bagaimanapun dan kemanapun pesantren ini melangkah, takwa tetap harus menjadi oreintasi dasar.  

Hal tersebut betul-betul membuat Kiai Hasani tidak bisa tenang, terutama ketika menyaksikan ibadah santri. Di dalem, Kiai kadang berdiri sampai berlama-Iama menghadap ke arah masjid. Beliau memperhatikan dengan seksama santri yang sedang melakukan salat. Kiai memang mempunyai keprihatinan yang mendalam melihat salat santri belakangan ini. 

Beliau menjalankan kontrol penuh terhadap masjid. Sampai sekarang pun, setelah mangkatnya, dalemnya yang terletak bersebelahan dengan masjid itu seperti menjadi pengawas bisu bagi santri yang masuk ke masjid. Mereka terlihat amat hati-hati berada di masjid ini, terutama ketika Hadratussyekh masih hidup. 

Menyaksikan masjid Sidogiri akan terlihat aktivitas ibadah yang berlangsung tertib. Masjid selalu ramai dengan lalu-lalang santri yang hendak, usai, atau sedang melaksanakan ibadah. Bangunan tua itu memang padat dengan aktivitas dalam 24 jam. Tapi, semuanya berjalan tenang dan tertib. lni semua buah kontrol ketat Kiai Hasani terhadap tempat ibadah itu. Kontrol penuh Kiai Hasani atas masjid itu memang terbukti efektif bagi pembangunan semangat ibadah bagi santri Sidogiri. 

Kiai Hasani sangat tidak suka jika tempat ibadah itu dicampuri dengan hal-hal yang bisa merusak makna ketertundukan terhadap sang Maha Pencipta. Setiap kali ada halhal yang mengurangi kesopanan terhadap tempat suci ini, Hadratussyekh mesti memberi respon kontrolnya, minimal dalam bentuk teguran kepada orang yang dipasrahi untuk menjaga ketertiban ibadah di masjid. 

Beliau sering memberi teguran jika terjadi keramaian yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Peringatan yang sering beliau sampaikan kepada santri menjadi kontrol efektif bagi mereka untuk tidak berlaku urakan dan keterlaluan dalam bergurau dan mengekspresikan sesuatu. Kontrol itu sampai sekarang sangat melekat dalam jiwa masing-masing santri. Saking lekatnya kontrol dari Hadratussyekh ini, setiap terjadi keramaian, satu kata “dalem” saja. betul-betul ampuh untuk membuat mereka seketika, diam dan tenang kembali, kendati sebelum itu sangat ramai. 

Dalam segala hal, Kiai Hasani menekankan pentingnya keseriusan. Pada aspek apapun Kiai berpegang pada prinsip falyadl-haku qalilan wal-yabku katsiran, perbanyaklah menangis dibanding tertawa. Prinsip tersebut merupakan prinsip dasar yang diajarkan al-Qur’an sebagai pandangan hidup bagi setiap Muslim. 

Sebagai pemangku utama Pondok Pesantren Sidogiri, peran Kiai Hasani dalam menjaga keseimbangan arus pesantren agar tidak bergeser dari prinsip al-Salaf al Shalihin betul-betul vital. Beliau menitikkan perhatiannya pada pembentukan haliyah, perilaku dan moral santri. Ini adalah bagian dari pandangan dan komitmen beliau yang luar biasa. bahwa santri merupakan tanggung jawab mahaberat dun’ya wa ukhra.  

Uswah sebagai Strategi Dakwah 

Beliau adalah sosok sufi, zuhud, dan tidak menyukai kehidupan materialistik. Sebagai sosok dengan komitmen relegius yang kental, tak bisa dibayangkan betapa kecewa beliau melihat ‘zaman’ ini. Ya, kekecewaan itu memang sering diungkapkan beliau. Bahkan, berbagai manuskrip, maqalah dan pandangan-pandangannya acapkali menumpahkan kekecewaan yang mendalam itu. 

Anehnya, kekecewaan itu tidak membuat beliau lebih suka berada di menara gading dan menghabiskan hari-harinya dengan menikmati munajat kepada Allah  di hamparan malam yang sunyi. Pandangan hidupnya yang zuhud tidak membawa beliau untuk menyepi, menjauh dari khalayak. 

Kiai Hasani suka berbaur dengan masyarakat sekitar. Kerap kali berkumpul ditengah-tengah mereka untuk sekadar berbincang-bincang, kadang juga di warung-warung. “Kalau kiainya warung dan kiainya kucing, tanyakan saya,” gurau beliau suatu ketika. Detik-detik persentuhan dengan masyarakat itulah yang kerap digunakan Hadratussyekh untuk menaburkan ajaran Islam dari pikiran ke pikiran, jiwa ke jiwa. 

Kedekatannya dengan masyarakat ‘akar rumput’ membuat mereka merasa amat kehilangan atas kemangkatan Kiai Hasani. “Kiai Hasani wafat, siapa lagi yang akan dekat dengan masyarakat?” ujar salah seorang penduduk desa. Kiai Hasani selalu hadir jika mendapat undangan dari masyarakat, baik untuk walimah atau acara-acara selamatan lain. Bahkan beliau selalu hadir tepat waktu, meskipun tamu undangan lain masih belum datang. “Jika diundang pukul tujuh, beliau datangnya pas pukul . Kadang tuan rumahnya pun waktu itu masih belum persiapan,” cerita salah satu sumber tentang ketepatan waktu Kiai. 

Dalam dakwahnya kepada masyarakat luas, Kiai Hasani lebih mengutamakan aksi dibanding retorika. Selama hidupnya, Hadratussyekh hampir tidak pernah tampil memberi ceramah maupun pengajian di depan publik. Beliau berdakwah dari pintu ke pintu, dari orang ke orang. Naluri dakwah semacam inilah yang membuat masyarakat merasa bahwa Kiai Hasani begitu dekat dengan mereka. “Mereka tidak salah. Yang salah itu kamu dan aku. Mereka tidak mengerti, tidak mendengar dakwah Islam,” papar Kiai kepada Mas Abdullah Syaukat, keponakannya. 

Kiai Hasani memang sosok ulama yang mempunyai kepedulian sosial amat tinggi. Kiai memposisikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat bawah, sekaligus merasakan penderitaan mereka. Hal ini misalnya tercermin dari sikap tenggang rasa yang beliau tampakkan untuk kalangan bawah itu. Naik becak dari lapangan Sidogiri ke dalemnya saja (sekitar 200 meter), Kiai memberi ongkos dari Rp. 20 ribu sampai Rp. 50 ribu. 

Suatu ketika salah satu keponakannya yang menyaksikan hal tersebut bertanya, “Apa tidak terlalu banyak, Kiai?”, Bagaimana jawaban Kiai? “Kalau aku disuruh nyetir becak itu dari lapangan ke sini saja, diberi uang segitu pun aku tidak mau.” Dawuh semacam itu timbul dari kepedulian dan tenggang rasa yang mendalam terhadap penderitaan kalangan bawah. 

Kiai begitu memahami keadaan masyarakat, apalagi yang dari kalangan bawah. Dalam membimbing mereka menuju kebenaran, beliau lebih mengutamakan langkah memberi teladan. Segala segi dari para hidup yang beliau jalani merupakan bagian dari bimbingan melalui haliyah itu. “Sebetulnya, sekarang pun aku mampu membeli Mercedes keluaran terbaru. Tapi, aku takut masyarakat mempunyai pemahaman keliru bahwa menjadi kiai itu enak. Lalu mereka memondokkan anaknya ke pesantren biar jadi kiai sehingga hidupnya enak,” jelas beliau mengungkapkan visi dakwahnya kepada salah seorang guru di Sidogiri. 

Kiai Hasani juga terkenal sebagai sosok ulama yang selalu menjaga kemanunggalan kata dan sikap. Semua yang beliau katakan, selalu dilaksanakan. Dalam berdakwah, beliau mesti memulai dari diri sendiri. Dalam bahasa KH. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU), Kiai Hasani adalah ulama yang alim amaliyah dan amil ilmiyah. Hal tersebut diungkapkan KH. Hasyim saat memberi sambutan dalam selamatan 40 hari wafatnya Hadratussyekh.  

“Saat ini, kita amat terpukul dengan kepergian Kiai Hasani. Tapi hal itu tidak cukup. Yang terpenting bagi kita setelah ini adalah meneladani kehidupan yang telah dicontohkan beliau, ungkap salah satu ulama dalam kalimat belasungkawanya di hadapan kaum Muslimin ketika akan melaksanakan salat jenazah yang ke-8 untuk al-Maghfurlah. 

Kiai Hasani adalah sosok yang netral. Dalam berdakwah, beliau tidak pernah membeda-bedakan orang. Siapapun orangnya, kalau ia memiliki visi dakwah yang sama, maka akan beliau dekati. Kiai Hasani tidak pernah mempermasalahkan dari kelompok mana ia. Dalam aksi dakwah dan pemberdayaan umat, baju sektarianisme mesti harus disingkirkan. Yang terpenting bagi Kiai Hasani, orang itu adalah Muslim yang taat beragama. 

Dalam hidupnya, selain dikenal dekat dengan sejumlah ulama dari kalangan NU, Kiai Hasani juga dekat dengan ulama-ulama yang terkenal seperti Habib Husein Al Habsyi (Malang) bahkan tokoh Syiah sekalipun seperti Habib Husein Al-Habsyi (YAPI Bangil) beliau tak akan segan berteman. Karena kedua tokoh tersebut memang dikenal sebagai ulama yang amat concern dengan dakwah Islam dan pemberdayaan umat. 

Tidak ada kamus fanatik terhadap figur tertentu bagi Kiai Hasani. Standar tunggalnya adalah visi dan ketaatannya dalam beragama. Pernah suatu ketika ada acara Peringatan Tahun Baru Islam yang diselenggarakan GP. Ansor di lapangan desa Sidogiri. Penceramah dalam acara tersebut adalah Habib Muhsin Al-Aththas. Sehabis acara, Muhsin Al-Aththas berniat sowan kepada al-Maghfurlah Kiai Hasani. Ia minta tolong kepada Sudirman (kawan dekat Mas Fuad Noerhasan, keponakan Kiai Hasani) untuk menyampaikan maksudnya kepada beliau. 

Kiai Hasani menolak bertemu dengan habib tersebut, karena dikiranya adalah Habib Husein Al-Habsyi Malang. Seperti telah menjadi berita hangat di berbagai media, saat itu Habib Husein terlibat dalam percaturan politik yang memanas. Ia memberi statemen akan menghadang Banser dengan pasukan Ikhwanul Muslimin. Statemen ini nyaris mengakibatkan perpecahan antara sesama umat Islam. Habib ini juga sering berkomentar tentang Gus Dur (Presiden RI saat itu) dengan nada cacian, Kiai Hasani tidak suka dengan sikap Habib Husein itu kendati sebelumnya beliau cukup dekat. Kiai menolak untuk bertemu dengannya. Ketika dijelaskan bahwa yang akan sowan bukan Habib Husein, tapi Habib Muhsin, Kiai Hasani bersedia menerimanya. 

Kiai Hasani memang tidak suka dunia politik. Selama hidupnya, beliau tidak pernah mendukung partai politik apapun di Indonesia. Tapi jika perseteruan politik mengakibatkan pecahnya umat, maka Kiai akan sangat peduli untuk mempersatukan kembali. 

Ketika suasana Pasuruan sedang keruh karena demonstrasi massa mendesak Bupati Dade Angga mundur dari jabatannya, Hadratussyekh malah berkunjung ke Pendapa Kabupaten Pasuruan. Sejatinya kunjungan Kiai itu sebagai silaturrahim biasa, karena sebelumnya, Bupati bersilaturrahim ke dalemnya, kemudian ganti beliau bersilaturrahim ke Bupati. 

Silaturrahim Kiai ke Bupati itu ternyata mendapat perhatian luas dari masyarakat. Media massa utama Jawa Timur, Jawa Pos melalui Radar Bromonya dan Harian SURYA sempat mengeksposnya. Dan, silaturrahim itu membawa dampak positif bagi perkembangan Pasuruan. Kota Untung Surapati ini berangsur-angsur tenang kembali. 

Visi Kebangsaan: Dukungan Penuh atas Pancasila 

Jika teliti, Anda akan menangkap sebuah pemandangan aneh di pintu gerbang Pondok Pesantren Sidogiri. Di pintu masuk timur tepat di sebelah barat jalan, Anda akan disambut ukiran Burung Garuda. Lambang Republik Indonesia tersebut diukir di tembok sebelah kiri gerbang, Di bawahnya, tertera butir-butir Pancasila. Tak ada gambar dari tulisan lain selain itu, termasuk petunjuk bahwa gerbang itu adalah pintu masuk ke Pondok Pesantren Sidogiri, tak ada nihil. 

Ada apa gerangan dengan gerbang Sidogiri? Konon, ukiran Burung Garuda dan butir-butir Pancasila itu dibuat atas instruksi dari Hadratussyekh Kiai Hasani. Tidak diketahui pasti semenjak kapan. Namun dari wajah gambar, tampak bahwa ukiran tersebut sudah berusia puluhan tahun. 

Tak heran, Hadratussyekh menginstruksikan membuat gambar itu di pintu gerbang. Jika Anda membaca manuskrip Kiai yang disebar anggota keluarga Sidogiri beberapa puluh hari setelah wafatnya, Anda pasti bisa meraba-raba apa maksud beliau dengan gambar itu. 

Kiai Hasani, seperti yang banyak beliau tulis dalam manuskripnya, merupakan tokoh yang memiliki kekaguman luar biasa dengan butir demi butir Pancasila. Butir-butir itu sejalan dengan pemikiran beliau, tapi dalam penafsiran yang berbeda dengan yang dimiliki orang pada lazimnya. Perbedaan penafsiran itu terletak pada sila Ketuhanan yang Maha Esa. 

Dengan tegas Kiai Hasani menyatakan bahwa sila pertama ini hanya sesuai dengan akidah Islam, tidak dengan agama-agama lain. Logikanya, dengan sila ini semua agama tidak berhak untuk hidup di Indonesia karena tidak sesuai dengan dasar negara. 

Apa yang beliau ungkapkan tentang tafsir sila ini tidak hanya sekadar apologia. Kiai Hasani membangun sebuah argumentasi teologis yang mapan. Beliau mengurut arti kata “esa” dari langgam teologi: bahwa pada titik makna dasarnya, keesaan itu hanya sesuai dengan akidah Islam. 

Argumentasi yang beliau bangun tentang kemanunggalan sila pertama dengan akidah Islam berujung pada kesimpulan bahwa sila tersebut mengandung dua unsur pokok. Pertama, kepercayaan akan eksistensi Tuhan (i’tirafal-uluhiyah). Kedua, kepercayaan akan keesaan Tuhan (i’tiraf al-wahdaniyah).  

Dengan unsur pertama, dasar negara tersebut menolak komunisme-atheisme; sedang unsur kedua menolak akidah agama selain Islam. 

Konsekwensi dari sila tersebut adalah bahwa Republik Indonesia harus menyesuaikan segala haluan, kebijakan dan undang-undangnya dengan ajaran-Islam, karena ideologi negaranya hanya sesuai dengan akidah Islam, tidak agama lain. 

Itulah yang ada dalam pandangan Kiai. Sebagai dasar negara, tentu hal tersebut harus betul-betul ditegakkan di Indonesia. Kiai 

Hasani menyerukan agar kaum Muslimin betul-betul memperjuangkan Pancasila, dalam arti bahwa “al-Hukm bimâ anzalallâh (memutuskan sesuatu harus dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah )” harus berlaku di Bumi Pertiwi ini.  

Dalam pandangan Kiai Hasani, kemanunggalan ajaran Islam dengan Pancasila juga terbentuk melalui sila kedua (Keadilan Sosial). Jika sila pertama mempresentasikan ajaran Islam terkait hubungan vertikal dengan Allah , maka sila kedua mempresentasikan ajaran Islam terkait hubungan horizontal antara hamba dan hamba.  Visi umum ajaran Islam hanya ada dua: al-qiyam bi haqq alHaqq dan al-qiyam bi haqq al-khalq. Pertama, melaksanakan kewajiban terkait dengan Sang Pencipta; kedua, melaksanakan tanggungjawab terkait dengan makhluk. Kedua visi itu dipresentasikan seluruhnya oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa dan Keadilan Sosial. 

KH. Hasani Nawawie (Bagian III)

Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1

Pesan Buku

share to

Redaksi : Kami menerima kiriman tulisan dari pembaca. Kirim tulisan Anda ke email: redaksi@sidogiri.net. Pemasangan iklan silakan hubungi kami di email: iklan@sidogiri.net

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *