Semarak Kemerdekaan dengan Lomba Outbound
Agu18

Semarak Kemerdekaan dengan Lomba Outbound

Sabtu (17/08) Pondok Pesantren Sidogiri melalui Program Sekretaris Umum mengadakan lomba yang terbilang unik. Ada balap sarung, balap helm, sulur sarung, tarik sarung dan lomba cari koin dalam tepung. Balap Sarung diadakan di Halaman Gedung al-Ghazali. Lomba balap helm dan cari koin di Halaman Depan Asrama Daerah M, lomba sulur sarung di Halaman Tengah antara Gedung as-Suyuti dan an-Nawawi. Semua perlombaan diikuti oleh perwakilan semua daerah, kecuali untuk lomba balap helm dan cari koin dalam tepung yang khusus untuk murid Idadiyah dan Ibtidaiyah kelas 4 kebawah. Pada tahun ini yang ditunjuk sebagai Panitia Lomba Acara Kemerdekaan antara lain; Ketua adalah Ustadz Syukron. Wakil Ust. Kafi Abdul Karim, Sekretaris Ust. Malik, dan Bendahara Ust. M. Ilham Fazlurrahman. “Lomba ini berada dalam koordinasi Panitia Inti Acara Kemerdekaan Indonesia, dan seluruhnya berada di bawah garis Koordinasi Bapak Sekum. Dan ini merupakan bagian dari program Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri”,  jelas Bapak Kafi melaui akun Whattsapp. Perlombaan yang dimulai sejak selesainya pelaksanaan Upacara Bendera ini, banyak menarik perhatian santri maupun wali santri yang sedang mengirim puteranya hari itu. Beberapa di antaranya menjadi pendukung atau supporter dan lainnya hanya penonton. Acara yang terbilang unik ini juga memikat banyak santri untuk mengikutinya, walaupun baru mendaftar ketika itu, salah satu contoh adalah lomba Cari Koin dalam Tepung, perlombaan yang menyediakan hadiah ratusan ribu ini menarik minat warga asrama Daerah M untuk mendaftarkan diri. Semua perlombaan ini selesai pada sore hari. Sebagai juarawan pertama dalam perlombaan antara lain; Daerah G untuk lomba tarik sarung /tambang, Daerah P untuk lomba sulur sarung, Daerah H untuk lomba balap karung, Daerah M untuk lomba balap helm dan cari koin dalam tepung. ________ Penulis : Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
DAS dan DKS Surabaya Gelar Upacara Kemerdekaan Secara Terbuka
Agu17

DAS dan DKS Surabaya Gelar Upacara Kemerdekaan Secara Terbuka

Sabtu (17/08) Darul Aitam Sidogiri (DAS) dan Darul Khidmah Sidogiri (DKS) untuk pertama kalinya, mengadakan upacara di halaman Gedung DAS dan DKS. Upacara kemerdekaan ini, sudah di mulai sejak dua tahun lalu. Namun, untuk upacara di tempat terbuka, baru tahun sekarang. “Upacara kemerdekaan seperti ini, sudah dari dua tahun yang lalu. Bedanya, tahun lalu di tempat tertutup. Tahun sekarang, di tempat terbuka,” ujar Ust. Amin, selaku Pembina Upacara. Sengaja di tempat terbuka, agar masyarakat tahu, bahwa DAS dan DKS tidak hanya bersifat ma’hadiyah, tetapi juga madrasiyah.“Ini (meletakkan upacara di lokasi terbuka, red) untuk memberi tahu kepada masyarakat, bahwa DAS dan DKS tidak hanya berpendidikan ma’hadiyah, tetapi juga madrasiyah,” terang Ust. Muwafiq, Wakil Koordinator II DAS dan DKS Surabaya. Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dilatih oleh salah-satu putra alumni Sidogiri yang ada di Surabaya. Peserta upacara, terdiri dari anak didik DAS dan DKS sendiri. “Yang ikut upacara itu anak DAS dan DKS, tetapi tidak semua. Soalnya kan, ada yang masih beliau,” tambahnya. Jumat malam Sabtu (16/08) DAS dan DKS juga mengadakan gerak batin massal, untuk mengenang jasa para pejuang. Bacaan Yasin, tahlil, dan lain sebagainya ditujukan khusus kepada pahlawan. Petikan Taujuhat Ketua Madrasah Miftahul Ulum 08 Surabaya, Ust Amin selaku Pembina Upacara Selanjutnya, karena di sini juga hadir pengurus DAS, DKS, MMU 08, TPQ Sidogiri, LAZ Sidogiri Cabang Surabaya, PW IASS Surabaya dan Bansus 1455 Surabaya, marilah kita senantiasa tolong-menolong dalam kebaikan, peduli kepada sesama dalam rangka meniru serta mencontoh para pejuang. Bukan saja pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, tapi juga seluruh pejuang kebangkitan. Sebab, kebangkitan tidak pernah lahir kecuali dari tolong-menolong dan jiwa semangat yang membara. Posisikan diri kita pada posisi saudara-saudara kita semua. Bila kita terluka akibat hal yang tidak kita inginkan, maka seharusnya kita pun tidak menyukai hal itu terjadi pada saudara kita. Itu lah sifat seorang mukmin yang berjiwa besar dan semangat untuk menjadi lebih baik. Apabila kita menginginkan kesuksesan meraih cita-cita, maka sudah seharusnya kita juga mengininkan hal yang sama terjadi pada saudara kita. Karena itu, mari kita mulai sikap saling tegur; saling mengingatkan. Sebab, sejatinya cita-cita kita sama yaitu menjadi hamba yang diridai Tuhan. ____ Penulis: Muhammad ibnu Romli Editor: Saeful Bahri bin Ripit...

Selengkapnya
Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan Pembacaan Yasin dan Tahlil
Agu16

Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dengan Pembacaan Yasin dan Tahlil

Asri: Pemandangan Ketika Pengurus Harian Pondok pesantren Sidogiri dan seluruh santri berkumpul dilapangan dalam acara pembacaan tahlil dan yasin untuk pahlawan bangsa. Sebelum memperingati Hari Kemerdekaan yang ditandai dengan upacara pengibaran bendera pada 17 Agustus besok, Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) biasa menggelar pembacaan yasin dan tahlil yang dihadiahkan kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk memerdekakan Indonesia. Tahun ini, pembacaa yasin dan tahlil dilaksanakan pada malam Kamis (16/08), di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri; antaranya adalah Mas Aminulloh Bq, Ketua I, Ustaz Saifullah Muhyiddin, Ketua II, dan Ustaz Saifulloh Naji, Sekretars Umum; kepala madrasah dari berbagai jenjang beserta beberapa staf pengajar MMU (Madrsah Miftahul Ulum). “Kegiatan ini, merupakan ucapan terimaksih kita kepada para Syuhada, pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah mengorbankan segalnya; harta, nyawa, genangan darah, untuk mendapatkan Kemerdekaan Indonesia,” ujar Ustaz Saifulloh Naji dalam sambutannya. Kegiatan pembacaan tahlil ini, merupakan sebagian dari berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan untuk menyambut Kemerdekaan RI ke-73, sedangkan beberapa macam kegiatan yang lain, akan dilaksanakan keesokan harinya, seperti upacara pengibaran bendera merah putih juga berbagai macam lomba agustus-an. ===== Penulis : Ach Mustaghfiri Soffan Editor   : N. Shalihin...

Selengkapnya
Melanjutkan Tongkat Estafet Kemerdekaan
Feb01

Melanjutkan Tongkat Estafet Kemerdekaan

Sekitar 17 KM dari Karawang dan dibatasi sungai Citarum, pembacaan teks Proklamasi oleh Presiden Soekarno. Bertempat di jalan Pegangsaan Timur no.56 Rengasdengklok Jakarta, bendera merah putih pertama kali berkibar. Bendera berukuran satu setengah meter itu dikibarkan di markas PETA (pembela tanah air) di kantor kepresidenan menggantikan bendera Hinomaru (jepang), bahkan ada yang mengatakan Rengasdengklok adalah kota lahirnya Republik Indonesia. Sebelum itu, petani, pedagang, sopir, pegawai dan lainnya berbondong-bondong menuju Rengasdengklok, tepatnya setelah tersiar kabar bahwa Bung Karno akan mengumumkan kemerdekaan Indonesia membanjiri jalan Rengasdengklok guna melindungi Bung Karno. Selain itu, mereka juga siap menghadapi jepang andaikan datang menyerang. Dengan ringkas Bung Karno Membacakan teks Proklamasi. Selain itu, kalau melihat jauh ke belakang, banyak terjadi pertempuran antara Indonesia dengan kolonial Belanda seperti perang Puputan, perang Gerilya yang dikomandani panglima besar Jendral Sudirman, dan lain sebagainya. Itu semua merupakan perjuangan para pendahulu yang berjuang keras, rela mengorbankan jiwa hartanya, bahkan sampai tidak makan berhari-hari demi terlepas dari belenggu penjajah dan kata merdeka Republik Indonesia. Hasilnya Indonesia pun dapat merasakan angin segar menjadi NKRI. Untuk itu, kita sebagai generasi muda untuk selalu menanamkan ke lubuk hati akan cinta tanah air, dengan cara menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI agar tidak lagi terulang masa suram Indonesia. Sebab tidak ada gunanya merdeka apabila kita tidak sanggup mempertahankan nash-nash yang para ulama umara sematkan di dinding pancasila. Juga, memenuhi cita-cita rakyat indonesia, hidup bahagia dan makmur baik jasmani maupun rohani. Melihat sejarah yang terjadi, lebih dari 700 tahun Islam menguasai semenanjung daratan Spanyol. Islam menjadi negara merdeka, menjadi negara yang ditakuti oleh imperium-imperium negara lain dan menjadi negara yang banyak bermunculan ulama-ulama kharismatik seperti al-Qurtubi, pengarang kitab Tafsir al-Qurtubi, Imam Ibnu Malik pengarang Nazam al-Fiyah Ibnu Malik dan banyak karangan-karangan lain dalam berbagai bidang, seperti geografi, ekonomi, biologi, kedokteran, perbintangan, penulisan khat, dan banyak yang lainnya. Tetapi tidak disangka, setelah lebih dari 700 tahun menguasai, akhirnya runtuh juga dalam tragedi perang Salib. Banyak ulama-ulama dibunuh dan ditumpuk menggunung dalam satu tempat. Karya-karya ulama dibuang ke sungai hingga bisa diseberangi oleh kuda. Ulama yang masih hidup menangisi kejadian tersebut. Runtuhnya negara Islam disebabkan karena tidak mampu mempertahankan kemerdekaan, lalai dan meremehkan musuh. Kini umur kemerdekaan Indonesia adalah 72 tahun semenjak Soekarno membacakan teks Proklamasi yang isinya penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan. Tentu kita berharap Indonesia tidak seperti negara islam yang tiba-tiba runtuh dalam tragedi perang Salib. Kita berharap agar indonesia tidak lagi terjajah untuk kedua kalinya. Mewaspadai hal itu, kita semua, seluruh rakyat indonesia dan seluruh santri indonesia harus mempertahankan kemerdekaan yang telah dicapai para pahlawan. Karena sesungguhnya mempertahankan kemerdekaan akan lebih sulit daripada mengusir penjajah, sebagaimana kata hikmah...

Selengkapnya
Rayakan Kemerdekaan dengan Sejuta Doa untuk Pahlawan Bangsa
Agu16

Rayakan Kemerdekaan dengan Sejuta Doa untuk Pahlawan Bangsa

Menyambut peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-72 berbagai kegiatan serentak dilaksanakan di seluruh pelosok Negeri. Tak terkecuali Pondok Pesantren Sidogiri turut menyambut HUT RI dengan beragam kegiatan. Pada malam Selasa (16/08), PPS menyelenggarakan doa bersama yang dikemas dalam acara pembacaan “Yasin dan Tahlil Untuk Para Syuhada’ Pejuang Kemerdekaan Indonesia”. Doa bersama ini, dihadiri oleh Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pengurus Harian, Dewan Guru, Seluruh Santri, dan rombongan TNI yang diketuai Letkol Inf. Mulyadi, Komandan Kodim Pasuruan. Dalam sambutannya, Ust. Saifulloh Naji mengingatkan akan pentingnya santri mengenang jasa para pejuang kemerdekaan. Karena Masyayikh Sidogiri juga terlibat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan. “Acara ini sebagai bentuk syukur kecil kita atas kemerdekaan Indonesia. Walaupun acara kecil ini tidak bisa membalas perjuangan beliau,” sambut Ust. Saifulloh Naji, Sekertaris Umum. Beliau berharap agar santri terus berkomitmen dalam mencintai NKRI. Karena menurutnya, lahirnya NKRI merupakan atas dasar kecintaan para santri, ulama, orang-orang tua kita dan pejuang dan umat Islam terdahulu. “Seandainya dulu para santri, ulama’ dan orang-orang kita tidak memiliki cinta kepada NKRI, saya yakin Indonesia tidak akan merdeka,” jelasnya. Pembacaan Istighatsah ini berlangsung selama satu jam yang dipimpin oleh Ust. Hamim, Guru Senior Madrasah Miftahul Ulum dan ditutup dengan doa oleh Mas Sholeh Abd. Haq, Kepala Urusan TM-TB dan Dai. Acara serupa juga digelar oleh segenap jajaran Pengurus Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Pasuruan bertempat di Gedung IASS, Jl. Raya Sidogiri, Desa Sungiwetan Kec. Pohjentrek Pasuruan yang diketuai oleh H. Abdullah Faqih, Ketua IASS Pasuruan[] === Penulis : M. Afifur Rohman Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya