Siapa Pencetus Maulid Nabi?
Nov05

Siapa Pencetus Maulid Nabi?

Maulid Nabi adalah perkumpulan yang didalamnya bertujuan untuk mengungkapkan dan menampakkan rasa syukur dan nikmat atas Nabi Muhammad SAW dengan pembacaan maulid dan sebagian ayat al-Quran. Dan perbuatan semacam ini secara signifikan atau khusus belum pernah diadakan di masa Nabi Muhammad SAW bahkan di masa Sahabat dan Tabiin juga belum ada. Lalu siapakah yang mencetuskan kegiatan Maulidan ini. Berikut daftar nama-nama yang kami cuplik dari majalah Sidogiri Media Edisi 154.\ Baca juga: Merayakan Maulid Nabi dengan Rebana Khaizuran binti Atha’ Merupakan ibunda Khalifah Harun ar-Rasyid dan Istri Khalifah Muhammad al-Mahdi, Penguasa Dinasti Abbasiyah. Diceritakan, pada bulan Ramadhan tahun 171 H, Umi Khaizuran berangkat menunaikan ibadah haji. Menurut catatan Nuruddin Ali as-Samhudi (w. 911 H) dalam Wafa’ul-wafa bi-Akhbari Daril-Mushthafa, saat itu Umi  Khaizuran mempelopori perayaan maulid Nabi pertama yang diadakan di Masjid Nabawi. Kemudian di Makkah, beliau membeli rumah tempat kelahiran Rasulullah SAW dan mengajak masyarakat merayakan maulid Nabi di rumah masing-masing. Sekembalinya ke Irak, pusat Pemerintahan Abbasiyah, perayaan maulid pun diadakan. Konon, perayaan maulid juga dimaksudkan untuk menyaingi perayaan Nairuz dan Mahrjan yang masih sakral bagi bangsa Persia. Bunda Ratu Khaizuran wafat pada tahun 173 H.   Al-Malla’ Umar bin Muhammad al-Maushili Beliau merupakan penulis buku Sirah Wasilatul-Mubtadiin fi Sirati Sayyidil-Mursalin. Menurut sejarawan Abu Syamah Abdurrahman bin Ismail ad-Dimsyqi (w. 665 H) al-Malla adalah orang pertama yang mengadakan perayaan maulid Nabi. Beliau mengadakannya setiap tahun di Zawiyahnya bersama para Ulama dan Bangsawan. (Zawiyah adalah tempat bertafakur bagi para Sufi atau bisa juga sebuah tempat pojok). Beliau wafat pada tahun 570 H. Baca juga: Hukum Bersalawat Diiringi Rebana Al-Malik Muzhaffaruddin Abu Said Gokbori bin Zainuddin (549-630 H) Beliau yang paling masyhur sebagai pencetus diadakannya Maulid Nabi. Beliau merupakan Gubernur Irbil pada masa Pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, sekaligus merupakan adik ipar Khalifah Salahuddin al-Ayyubi yang menikahi Rabi’ah Khatun. Menurut Imam as-Suyuthi (w. 911 H), al-Malik Muzhaffar adalah orang pertama yang mengadakan perayaan Maulid secara teratur, mewah,  dan besar-besaran. Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi Dalam Wafayatul-A’yan, Ibnu Khallikan mencatat: “ al-Hafizh Abul Khaththab bin Dihyah, seorang ulama besar dan tokoh masyhur, datang dari Maghrib ke Syam dan Irak. Pada tahun 604, beliau melewati kota Irbil dan mendapati penguasa tersebut merayakan Maulid Nabi. Abul Khaththab lantas menulis at-Tanwir fi malidil-Basyir an-Nadzir dan membacakannya di hadapan al-Malik Muzhaffar. Sang gubernur menghadiahinya 1000 dinar”. Baca Juga: Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Musafal H/ dicuplik dari Sidogiri Media Edisi 154 dengan sedikit perubahan. Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...

Selengkapnya
Jawaban Imam As-Suyuthi Tentang Maulid atau Haul?
Nov05

Jawaban Imam As-Suyuthi Tentang Maulid atau Haul?

  Menjadi sebuah pertanyaan ditengah-tengah masyarakat bahkan dikalangan santri yang belum tahu, tentang masalah, mengapa untuk mengenang Nabi Muhammad SAW, kita rayakan hari kelahirannya bukan hari wafatnya seperti halnya yang terjadi dalam kalangan pesantren, dimana kiyai atau keluarga kiyai biasanya untuk mengenang beliau dengan diadakan haul atau hari wafatnya. Baca juga: Merayakan Maulid Nabi dengan Rebana Bahkan mungkin di benak seseorang akan terlintas pikiran mengapa hanya merayakan maulidnya saja, kenapa tidak sekalian dengan haulnya. Nah, untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini cukuplah jawaban dari Syekh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi sebagai pelega dahaga tersebut. Pakar Tafsir dan nyaris dinobatkan sebagai Mujtahid ini menjawab pertanyaan di atas dalam kitab beliau al-Hawi lil-Fatawa, seperti berikut ini: Baca juga: Hukum Bersalawat Diiringi Rebana إِنَّ وِلَادَتَهُ صلى الله عليه وسلّم أَعْظَمُ النِّعَمِ عَلَيْنَا , وَوَفَاتَهُ أَعْظَمُ الْمَصَائِبِ لَنَا ، وَالشَّرِيْعَةُ حَثَّتْ عَلَى إِظْهَارِ شُكْرِ النِّعَمِ وَالصَّبِرِ وَالسُّكُوْنِ وَالْكَتْمِ عِنْدَ المَصَائِبِ ، وَقَدْ أَمَرَ الشَّرْعُ بِالعَقِيْقَةِ عِنْدَ الوِلَادَةِ وَهِيَ إِظْهَارُ شُكْرٍ وَفَرَحٍ بِالمَوْلُوْدِ وَلَمْ يَأْمُرْ عِنْدَ المَوْتِ بِذَبْحٍ وَلَا بِغَيْرِهِ بَلْ نَهِى عَنِ النِّيَاحَةِ وَإِظْهَارِ الجَزَعِ ، فَدَلَّتْ قَوَاعِدُ الشَّرِيْعَةِ عَلَى أَنَّهُ يَحْسُنُ فِي هَذَا الشَّهْرِ إِظْهَارُ الفَرَحِ بِوِلَادَتِهِ صلى الله عليه وسلّم دُوْنَ إِظْهَارِ الحُزْنِ فِيْهِ بِوَفَاتِهِ ، وَقَدْ قَالَ ابْنُ رَجَبٍ فِي كِتَابِ الَّلطَائِفِ فِي ذَمِّ الرَّافِضَةِ حَيْثُ اتَّخَذُوا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ مَأْتَمًا لِأَجْلِ قَتْلِ الْحُسَيْنِ لَمْ يَأْمُرِ اللهُ وَلَا رَسُولُهُ بِاتِّخَاذِ أَيَّامِ مَصَائِبِ الأَنْبِيَاءِ وَمَوْتِهِمْ مَأْتَمًا فَكَيْفَ مِمَنْ هُوَ دُوْنَهُمْ ؟ Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah kenikmatan terbesar untuk kita, sementara wafatnya beliau adalah musibah terbesar terhadap kita. Dan syariat memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar serta diam dan merahasiakan atas cobaan yang  menimpa. Terbukti agama memerintahkan untuk menyembelih kambing sebagai aqiqah pada saat kelahiran anak, sementara hal itu termasuk bagian dari menampakkan rasa syukur dan kebahagiaan atas kelahiran. Dan syariat tidak memerintahkan menyembelih hewan disaat ada kematian, bahkan melarang adanya ratapan dan menampakkan kesedihan. Jadi, kaidah syariat menunjukkan bahwasannya yang baik dalam bulan maulid adalah menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan menampakkan kesusahan atas musibah wafatnya beliau di bulan tersebut. Dan sungguh Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya, al-Latho’if, bab tentang “Pencelaan terhadap kaum Syiah Rafidhah”, dimana mereka telah menjadikan Asyuro sebagai hari perayaan terbunuhnya Sayyidina al-Husain, beliau berkata: Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkan agar menjadikan hari tertimpanya musibah dan wafatnya para nabi sebagai hari peratapan. Lalu bagaimana dengan orang yang derajatnya di bawah mereka?. Baca Juga: Renungan Bagi Pembenci Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Musafal H/Sidogiri.net Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...

Selengkapnya
Merayakan Maulid Nabi dengan Rebana
Nov03

Merayakan Maulid Nabi dengan Rebana

Bukanlah hal yang tabu, bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia mulia yang dihadirkan Allah di muka bumi ini. Bagaimana tidak, Allah sebagai Khaliq dari makhluq yang ada di dunia ini pun menyampaikan salawat kepadanya. Umat Islam di Indonesia, khususnya pulau jawa, biasa merayakan kelahiran sang revolusioner dengan perayaan Maulid Nabi yang umumnya berisi pembacaan riwayat dan salawat Nabi, disertai kegiatan-kegiatan kultural yang khas dan menarik. Dalam konteks ini, elemen-elemen agama dan budaya bersanding dan berdialektika dengan akrab. Realita ini sangat tampak dalam komunitas dan masyarakat di berbagai daerah di Nusantara hingga saat ini. Perayaan Maulid Nabi sejatinya bukanlah ibadah baru, melainkan hanya satu ekspresi budaya yang dibalut nilai-nilai agama seperti pembacaan riwayat dan salawat Nabi. Namun terkadang dalam praktiknya mengandung unsur-unsur hiburan seperti nasyid yang diiringi rebana. Sehingga ada sebagian orang yang mengkritik peringatan Maulid Nabi dengan perayaan yang sedimikian. Bagaimanakah Ulama memandang fenomena ini? Baca juga: Hukum Bersalawat Diiringi Rebana Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan: وأما ما يعمل فيه : فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم به الشكر لله تعالى ، من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة ، وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة .وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك : فينبغي أن يقال: ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم : لا بأس بإلحاقه به، وما كان حراما أو مكروها فيمنع، وكذا ما كان خلاف الأولى “Adapun apa yang dipraktekkan dalam peringatan Maulid maka seyogyanya terbatas pada apa yang menunjukkan rasa syukur kepada Allah, semisal apa yang telah disebutkan sebelumnya berupa membaca al-Quran, memberi makan orang miskin, sedekah dan mendendangkan suatu puji-pujian untuk Nabi dan pujian yang mengajak pada kezuhudan yang menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal akhirat. Adapun hal yang mengiringinya yang berupa mendengarkan nyanyian atau adanya senda gurau dan semacamnya maka seyogyanya dikatakan bahwa apa yang tergolong mubah yang sekiranya menunjukkan kebahagiaan di hari itu, maka tak mengapa disertakan dengan perayaan Maulid. Adapun sesuatu yang haram atau makruh, maka terlarang disertakan, demikian juga yang khilâfal-awla (berlawanan dengan cara yang disunnahkan).” (as-Suyuthi, al-Hâwî lil-Fatâwâ, juz I, halaman 229). Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi Dari keterangan Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani di atas, dapat kita pahami bahwa perayaan Maulid seyogianya hanya memuat konten yang jelas-jelas dianjurkan oleh syariat. Namun tak mengapa bila Maulid Nabi dihiasi dengan acara-acara yang mubah selagi tak mengotori keagungan peringatan maulid itu sendiri. Baca juga: Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, ulama besar pakar hadits yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU) menjelaskan praktik Maulid Nabi yang disarankan para ulama, dalam kitabnya at-Tanbîhât al-Wâjibât liman Yashna’ul- Maulid bil-Munkarât , yaitu: أن المولد...

Selengkapnya
Hukum Bersalawat Diiringi Rebana
Nov03

Hukum Bersalawat Diiringi Rebana

Secara istilah, rebana (Jawa, terbang) adalah sejenis alat kesenian tradisional yang terbuat dari kayu, dibuat dalam bentuk lingkaran dan di tengah-tengahnya dilubangi. Kemudian di tempat yang dilubangi itu ditempeli kulit binatang, biasanya kulit kambing atau sapi yang telah dibersihkan bulu-bulunya. Dewasa ini rebana sering digunakan oleh kelompok vokal seperti halnya grup nasyid. Rebana digunakan untuk mengiringi mereka dalam menyanyikan syair-syair Arab. Ada beberapa orang yang menganggap memainkan rebana hukumnya haram, karena mereka berpendapat haram memainkan segala jenis alat musik, termasuk rebana. Lantas bagaimana hukum membaca shalawat dengan diiringi rebana? Baca juga: Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi Hukum membaca shalawat dengan diiringi rebana adalah boleh alias mubah. Imam Bukhari meriwayatkan Hadits sahih dari Rubai’ binti Muawwadz: قالت الربيع بنت معوذ بن عفراء جاء النبي صلى الله عليه وسلم فدخل حين بني علي فجلس على فراشي كمجلسك مني فجعلت جويريات لنا يضربن بالدف ويندبن من قتل من آبائي يوم بدر إذ قالت إحداهن وفينا نبي يعلم ما في غد فقال دعي هذه وقولي بالذي كنت تقولين Telah berkata ar-Rubayi’ binti Mu’awwidz bin ’Afra’ : “Nabi datang ketika acara pernikahanku. Maka beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya engkau (yaitu Khalid bin Dzakwaan – orang yang diajak bicara Ar-Rubayi’) dariku. Lalu beberapa anak perempuan memainkan/memukul duf (rebana) sambil menyebut kebaikan-kebaikan orang-orang yang terbunuh dari orang-orang tuaku pada waktu Perang Badar. Salah seorang dari mereka berkata : “Di antara kami terdapat seorang Nabi yang mengetahui apa yang terjadi esok hari”. Maka Nabi berkata : “Tinggalkan perkataan ini dan ucapkanlah perkataan yang engkau katakan sebelumnya.” Sangat jelas Nabi tidak mempermasalahkan para anak perempuan yang memainkan rebana. Seandainya memainkan rebana termasuk kemunkaran tentu Nabi pasti akan melarangnya. Tapi relita yang ada justru sebaliknya, Nabi malah memerintahkan mereka untuk meneruskan nyanyian mereka. Senada dengan Hadis tesebut, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan: ( باب ضرب الدف في النكاح والوليمة ) يجوز في الدف ضم الدال وفتحها ، وقوله : ( والوليمة ) معطوف على النكاح أي ضرب الدف في الوليمة ، وهو من العام بعد الخاص ويحتمل أن يريد وليمة النكاح خاصة ، وأن ضرب الدف يشرع في النكاح عند العقد وعند الدخول مثلا وعند الوليمة كذلك . “(Bab perihal memukul rebana di pernikahan dan walimah)… Boleh memukul rebana di saat walimah. Ini termasuk bolehnya perkara umum setelah khusus. Dan ada kemungkinan khusus walimah nikah saja. Bahwa memukul rebana itu disyariatkan saat nikah, ketika akad nikah, dan ketika masuk dan saat resepsi.” Baca juga: Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid Dalam Hadis lain disebutkan: اعلنوا هذا النكاح واجعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدفوف “Umumkanlah pernikahan, dan lakukanlah di masjid serta (ramaikanlah) dengan memukul duf (rebana)” (Sunan Tirmidzi, no 1089) Mengenai hadis tersebut, Imam Ibnu Hajar...

Selengkapnya
Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi
Okt30

Memahami Hukum dan Sejarah Maulid Nabi

Maulid Nabi adalah suatu nama perayaan yang telah banyak dikenal oleh  masyarakat, utamanya umat Islam Indonesia. Acara ini digelar tepat pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu tanggal 12 Rabiul Awal. Tujuan utama akan perayaan ini hanyalah sebagai bentuk syukur atas terutusnya baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kita dari jalan kesesatan  menuju jalan yang benar, yaitu agama Islam. Adapun hukum merayakan hari kelahiran beliau adalah sunnah. Sebagaimana pendapat Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha ash-Shirât al-Mustaqîm: فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَإتِّخَاذُهُ مُوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنَ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم “Mengagungkan maulid dan menjadikannya tradisi, terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan ini termasuk pekerjaan yang besar pahalanya karena tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah SAW.” Bukan hanya Syaikh Ibnu Taimiyah yang mengatakan bahwa merayakan maulid nabi termasuk pekerjaan sunnah. Syaikh Abu Syamah, salah satu guru Imam Nawawi, juga berpendapat demikian. Beliau berkata dalam kitab Al-Bâ’its ‘ala Ingkâr al-Bida’ wal Hawâdits: “Termasuk bid’ah yang paling hasanah pada zaman ini adalah merayakan maulid Nabi SAW.” Adapun sejarah perayaan maulid secara seremonial (seperti yang dilakukan warga NU) ulama berbeda pendapat. Namun, setelah kami telaah dari berbagai pendapat, ternyata… baca selengkapnya di sini! Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...

Selengkapnya
Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid
Okt30

Lumpuh, Akibat Tidak Berdiri Saat Maulid

Ada sebuah kisah unik dari Sayyid Abbas al-Maliki. Cerita ini dikutip dari kitab al-Hadyut-Tâm fî Mawâridil-Maulidin-Nabawiy, karya Sayyid Muhamad Ali bin Husain al-Maliki. Kurang lebihnya begini: حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ Sayyid Alawi berkisah perihal ayahnya, Sayyid Abbas al-Maliki RA yang sedang menghadiri acara maulid di Baitul Maqdis, saat malam kelahiran nabi. تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ Saat itu, yang dibaca ialah Maulid Barzanji. Di sana, beliau menjumpai lelaki tua berdiri dengan sangat khidmat dari awal dibacakan maulid, sampai selesai. وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ Usai ditanya mengapa ia berdiri sedemikian rupa, padahal usianya sudah sepuh, ia menjawab bahwa ia pernah tidak mau berdiri saat maulid. Menurutnya, maulid itu bidah yang jelek. فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ Lalu, ia bermimpi dia bersama jemaah bersiap-siap untuk menjumpai Rasulullah. Saat beliau rawuh, jemaah tadi berdiri untuk menyambut nabi, sedangkan ia tidak mampu berdiri. وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ Rasulullah berujar kepadanya, “Kamu tidak akan bisa berdiri”. Saat terbangun dari tidurnya, dia hanya bisa duduk (tidak bisa berdiri). وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ نِهَايَتِهِ Penderitaan itu berlanjut sampai setahun lamanya. Dia nazar, “Bila Allah menyembuhkan penyakitku ini, saya akan berdiri dari awal maulid hingga selesai. فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Kemudian Allah menyembuhkannya. Ia pun menepati nazarnya dengan senantiasa berdiri saat maulid, sebagai penghormatan kepada Rasulullah SAW. Semoga bermanfaat! Muhammad ibnu Romli/Sidogiri.Net Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya,...

Selengkapnya