BMW Akhir Tahun Jadi Ajang Silaturahmi Alumni
Mei14

BMW Akhir Tahun Jadi Ajang Silaturahmi Alumni

Untuk menambah kemeriahan Milad Sidogiri 280 dan meneguhkan ukhwah, Panitia Milad menggelar acara rutinan Bahtsul Masail Wustha (BMW) khusus alumni Sidogiri dari segala penjuru Nusantara, Senin (14/05). Acara yang berlangsung di depan panggung utama ini berjalan dengan santai dan penuh keakraban. Selain sebagai forum diskusi, acara BMW juga menjadi ajang silaturahmi dengan teman lama. Ada 50 lebih alumni yang diundang untuk mengikuti acara tersebut. Berada di bawah instruksi langsung Pengurus Pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PP IASS), Pengurus Wilayah IASS mengutus beberapa alumninya yang mumpuni dalam hal musyawarah dari kota masing-masing. Musyaffak Bisri dan Ustad Sholeh Romli hadir bertindak sebagai mushahhih, didampangi oleh KH. Fakhri Suyuthi (Sumenep) dan Ustadz Baihaqi Juri sebagai notulen. Masalah yang dibahas hanya ada dua pertanyaan; meliputi akidah dan fiqhiyah. Awal mula penciptaan alam semesta (akidah) menjadi topik yang cukup unik dan menarik. Teman-teman alumni membahas masa’il ini dengan lucu. “Awalnya kami anggap ini pertanyaan main-main. Tapi karena yang nanya (sail) Ustadz Baihaqi Juri, ini perlu untuk di-tashawwuri,” ungkap salah satu alumni dari Jember yang mengikuti acara musyawarah itu. Ustadz Baihaqi Juri sebagai sail kemudian menjelaskan bahwa dia sempat bercerita kepada Ustad Shofi (Wakil II Kuliah Syariah) yang membawahi masalah musyawarah. “Saya dulu bertanya kepada Kiai Nawawi (Pengasuh PPS), tentang kapan diciptakannya alam semesta ini,” aku Pak Baihaqi, sapaan akrab Ustdaz Baihaqi Juri, kepada para alumni. Kiai, lanjut beliau, menjawab bahwa ini pertanyaan anak-anak Ibtidaiyah, bukan Aliyah (kiai tidak memperkongkret jawaban). “Ternyata sama Pak Shofi diangkat jadi pertanyaan forum,” lanjut Pak Baihaqi diiringi tawa para alumni. Usul agar pertanyaan ini dimauqufkan datang dari beberapa alumni dan bahkan dari Pak Baihaqi sendiri. “Kalau memang mau dimauqufkan, ya dimauqufkan aja. Tapi sebelumnya saya ingin tahu, apa jawaban dari KH. Musyaffak Bisri,” lanjutnya. Musyaffak kemudian mengatakan, “Kalau saya diminta untuk menjawab, maka akan saya wakilkan kepada Ustadz Sholeh Romli saja,” Kata beliau diiringi tawa musyawirin. Ustadz Sholeh ternyata juga sama. “Saya gak bisa jawab, karena yang bertanya ini senior saya…” ungkapnya, lagi-lagi membuat musyawirin tertawa. Namun, beliau kemudian menjelaskan bahwa pertanyaan ini perlu dikerucutkan lagi. “Alam yang mana yang dimaksud (Alam Dunia, Malakut, Jabarut, dll). Kalau sudah ditentukan mungkin nanti lebih mudah, karena sail (Pak Baihaqi) meminta dalil yang ‘aqliah (logis), bukan ta’biriyah.” Ungkapknya kemudian.[] ==== Penulis : Ali Imron Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Dua Perwakilan MMU Tingkat Tsanawiyah Sabet Juara Lomba Baris
Mei13

Dua Perwakilan MMU Tingkat Tsanawiyah Sabet Juara Lomba Baris

Lomba baris-berbaris yang dilaksanakan pada Sabtu pagi (13/05) kemarin, menuai sambutan meriah dari para penonton. Lomba baris ini diikuti oleh enam tim perwakilan dari Madrasah Miftahul Ulum (MMU) tingkat Tsanawiyah, Ibtidaiyah, dan Idadiyah Takhassus. Para peserta lomba mulai berbaris dari depan pentas utama, kemudian belok kearah barat dan berakhir di lapangan baru sebelah barat bazar kuliner. Panitia memilih lapangan baru sebagai lokasi sebagai tempat atraksi formasi barisan karena lapangan sebelah barat MMU as-Suyuthi dipenuhi oleh terop yang sedang dalam proses pemasangan. Adalah Ust. Abd. Qodir Ghufron, Kepala Madrasah Aliyah dan Ust. Zaini Syarbini, Wali Kelas III Tsanawiyah yang bertindak menjadi juri dalam perhelatan lomba ini. Tiga urutan pertama yang dipersilakan untuk unjuk kebolehan adalah kelas Takhassus E, kemudian disusul Takhassus O, dan kelas 3-A Tsanawiyah. Takhassus E tampil dengan ikat kepala dari pita merah putih, sedangkan Takhassus O tampil dengan memakai sepatu seragam berwarna hitam merah dan hitam biru. Adapun kelas III-A tampil dengan memamerkan formasi berbentuk logo milad 280. Sedangkan peserta yang terakhir kali tampil dalam acara lomba baris ini adalah kelas III-I, salah satu perwakilan dari Madrasah Tsanawiyah. Berdasarkan hasil pengumuman, juara baris-berbaris ini berhasil diraih oleh dua utusan dari Madrasah Tsanawiyah, yaitu kelas III-A dan kelas III-I. Pengumuman kejuaraan ini dilaksanakan pada malam pembagian hadiah, malam Ahad (14/05). Saat ditanya tentang persiapan secara intensif, baik kelas III-A maupun kelas III-I mengaku hanya memiliki sedikit waktu. “Latihan kami hanya seminggu, tapi Alhamdulillah bisa memberikan hasil yang memuaskan.” Kata Miftahussurur, danton kelas III-A. “Kami juga sudah sowan ke Kiai Fuad, Beliau berpesan agar tetap menjaga konsentrasi dan kekompakan. Yang jelas, beliau sangat mendukung tentang final lomba baris-berbaris ini.” tambah Ali Murtadlo, wakil danton III-A. Sementara salah satu murid kelas III-I, ia ingin kemenangan ini bisa membahagiakan wali kelas masing-masing dan mempererat persaudaraan antara III-I dan III-A. Pernyataan senada juga di ungkapkan oleh Mas Kamil Mustofa, ketua kelas III-A. “Tujuan kami ingin membahagiakan Kiai.” Pungkas beliau.[] === Penulis : Sabiqun Niam Editor  : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Wisuda 5 Idadiyah: Hanya 969 Wisudawan, Kualitas Lebih Memuaskan
Mei12

Wisuda 5 Idadiyah: Hanya 969 Wisudawan, Kualitas Lebih Memuaskan

Dengan mengusung konsep meyakinkan wali santri, para masyayikh dan audien, bahwa program unggulan Tarbiyah Idadiyah Al-Miftah Lil Ulum telah melahirkan banyak teman-teman santri yang berkualitas dalam membaca, memaknai, dan memahami kitab. Acara Prosesi Wisudawan Idadiyah yang ke-5 ini sukses digelar dengan cukup meriah di lapangan barat Mabna as-Suyuthi, Jumat malam Sabtu (12/05). Ada 969 murid Tarbiyah Ida-diyah yang berhasil lulus di-wisuda pada tahun ini. Jumlah ini lebih sedikit dari tahun ke-marin yang berjumlah 1190 orang. Meskipun lebih sedikit, kualitas yang ada jauh lebih mumpuni dari tahun-tahun se-belumnya. “Di sini kami terus mencoba untuk meningkatkan kualitas murid Idadiyah yang ada. In-syaallah, wisudawan tahun ini lebih unggul dan memuaskan. Walau banyak gak lulus itu karena banyaknya anak didik yang sakit,” Ungkap HM. Aminullah Bq, Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri dalam sambutannya. Acara yang biasa dilaksanakan di siang hari ini menjadi sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karena untuk tahun ini dilaksanakan di malam hari. Alasan yang paling kuat adalah karena ada instruksi langsung dari Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas d. Nawawy Sadoellah. Sebelum acara dimulai, para wisudawan diarak dengan tabuhan Ishari dari Kantor Idadiyah, melewati jalur Balai Tamu ke selatan, dan muncul dari gerbang selatan lapangan. Lantas, acara dimeriahkan dengan lagu mars Idadiyah yang diwarnai dengan pelepasan balon. Setelah tampilan ini, lantunan ayat suci al-Quran mengalir merdu. Kemudian, HM. Aminulloh Bq. Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri dengan didampingi Uts. H. Hudhori Abdul Karim, Kepala Batartama dan Ust. Qusairi Ismail, Koordinator Idadiyah, meresmikan prosesi acara wisuda yang sangat ditunggu-tunggu oleh wali santri ini yang hadari dalam acara tersebut, terutama bagi mereka yang kebetulan putranya akan diwisuda. Sesi demonstrasi massal kemudian berjalan dengan seru. Tampilan demonstarasi massal yang dibagi menjadi 8 sesi ini semakin memperlihatkan betapa lugas dan tanggapnya murid-murid Tarbiyah Idadiyah yang diwisuda dalam menjawab berbagai pertanyaan seputar kitab, nahwu-sharfiyah dan yang lain. Semua ini memberikan kesimpulan bahwa harapan dewan guru dan panitia acara terlaksana dengan baik dan memuaskan. Selain puasnya melihat penampilan ini, wali santri dan semua audien kemudian dibuat terharu dengan penampilan Senandung Wisuda, yang mengalun begitu merdu dan sendu. Dua penampilan ini disetting sedemikian seru dan hebat, karena dua penampilan ini memang dijadikan ruh yang diharapkan bisa menghidupkan dejavu audien yang hadir dalam Prosesi Wisudawan Id-adiyah ke-5 ini. “Yang penting itu acara Demonstrasi Massal. Tapi yang paling penting adalah senandung Wisudawan,” aku Ustadz Ridwan saat ditemui sela acara.[] Penulis : Ali Imrom Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Lomba Debat Fikih Berjalan Panas dan Seru
Jun03

Lomba Debat Fikih Berjalan Panas dan Seru

Seru dan panas, itulah ungkapan yang disampaikan penonton ketika menyaksikan lomba debat fikih yang diselenggarakan oleh panitia Milad PPS, di depan asrama K pada Selasa malam (02/06) kemaren. Lomba yang cukup seru ini diikuti oleh murid Aliyah dari setiap delegasi asrama di Pondok Pesantren Sidogiri. Selain diikuti delegasi dari asrama, lomba ini juga diikuti oleh anggota Kaffah III dari murid Tsanawiyah. Asrama berhak mengirimkan dua peserta untuk diikutsertakan dalam lomba debat fikih. Ustad Rokib Saki bertingdak  sebagai juri tunggal dalam menilai debat ilmiyah ini. Walau lomba ini hanya diikuti oleh tujuh regu saja, tapi lomba ini tetap berlangsung seru dan panas karena pesertanya terbilang orang-orang pilihan dari setiap asrama yang memang mempunyai kredibilitas tinggi dalam memahami ibarat fikih yang terkandung dalam kitab turas. Tema yang dibuat debat diambilkan dari permasalahan fikih di buku Santri Salaf Menjawab II terbitan Pustaka Sidogiri. Pada sesi pertama, Idris Mubarak, selaku moderator lomba, menentukan pro dan kontra kepada peserta sebelum mereka berdua berdebat lebih lanjut. Sedangkan sesi kedua, peserta hanya meringkas apa yang mereka sampaikan dengan bahasa yang lugas dan tegas. Delegasi dari asrama E dan I berhasil maju pada babak final. Asrama E yang beranggotakan Thomi Hermanto dan Abdul Hamid ini berhasil membuat decak jantung peserta deg-degan. Pasalnya mereka merupakan salah satu anggota Lembaga Murajaah Fiqhiyah (FLM) Kuliah Syariah yang selalu diutus oleh PPS untuk bahtsul masail ke luar PPS. Sehingga dalam menyampaikan pendapatnya terlihat piawai dan lihai. Asrama I mengutus dua orang terbaiknya. Mereka berdua adalah Fatah Yasin dan Jakfar Shodiq. Tema yang dibuat debat pada babak final ini tidak diambil dari buku Santri Salaf Menjawab II. Namun panitia yang langsung menentukan tema tersebut. Temanya adalah Pembunuhan Pengedar Narkoba....

Selengkapnya
Koran Kabar Ikhtibar Semarakkan Milad PPS dengan Tampil Full Color
Jun03

Koran Kabar Ikhtibar Semarakkan Milad PPS dengan Tampil Full Color

Jumat siang (29/05), Badan Pers Pesantren (BPP) Pondok Pesantren Sidogiri menerbitkan koran Kabar Ikhtibar. Koran ini berafiliasi untuk memberitakan seputar kegiatan Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan MMU yang ke-78. Koran yang berukuran 594 x 420 mm ini terbit di edisi pertama dengan mengangkat berita utama seminar Milad PPS yang berjudul “Pentingnya Sanad Talaqqi dalam Keilmuan Islam.” Seminar yang dinarasumberi oleh Syekh Muhammad Husni Ginting al-Besitani asal Medan dilaksanakan di ruang Auditorium kantor Sekretariat PPS. Dengan bertujuan mengkader jurnalistik muda pesantren dan memberikan hal ihwal seputar Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan yang ke-77, koran Kabar Ikhtibar terbit setiap hari selama delapan hari, terhitung hari Jumat (29/05) s.d. Jumat mendatang (5/06). “Kami ingin mengkader para jurnalistik pesantren yang kompetitif,” terang M. Kurdi Kurniawan selaku pemimpin perusahaan Kabar Ikhtibar pada Jumat (29/05). Konten yang disajikan oleh koran Kabar Ikhtibar bermacam-macam. Ada konten khusus yang meliput proses Milad PPS. Misalnya lomba seleksi perdaerah, lomba bola, dll. Ada juga konten yang secara khusus meliput perkembangan pameran bazar milik kopontren Sidogiri yang bernama Pasar Santri. Selain itu, koran Kabar Ikhtibar juga memberikan doorprize kepada pelanggan koran yang beruntung dengan cara diundi di akhir edisi berupa laptop Toshiba dan Hp Zenfone. Tidak hanya itu, koran Kabar Ikhtibar juga memberikan banyak hadiah menarik untuk pelanggan koran. Koran yang beroplah 1500 exlemper dan 8 halaman full color ini cuma dipatok setiap exlemper Rp. 3000. (SEF)      ...

Selengkapnya
Habib Jakfar al-Muhdor: Penuntut Ilmu Harus Ikut Lampah Ulama Salaf
Jun01

Habib Jakfar al-Muhdor: Penuntut Ilmu Harus Ikut Lampah Ulama Salaf

Ahad malam (01/06), setelah prosesi peresmian pembukaan Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan MMU yang ke-79 di lapangan olahraga Sidogiri, acara dilanjutkan dengan tausyiah dari Habib Jakfar al-Muhdor, Teres, Probolinggo. Habib yang mengaku alumni Sidogiri ini banyak menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan menjaga etentitas keilmuan seorang santri salaf. Menurutnya, penuntut ilmu hendaknya mengamalkan perkataan imam Malik yang mengharuskan bagi penuntut ilmu bersikap tenang, punya rasa takut kepada Allah, serta mengikuti lampah ulama salaf. “Imam Abu Hanifah dalam urusan makan tidak lebih dari cara burung makan makanan. Selain itu, beliau selama 40 tahun shalat Subuh menggunakan wudhu shalat Isya,” ungkap Habib yang menjadi pengasuh pesantren Darul Musthofa, Probolinggo ini. Selanjutnya Habib Jakfar juga menerangkan akhlak seorang yang menimba ilmu agama. Habib memberikan contoh riil imam Malik yang hendak membaca satu Hadis. Menurutnya, ketika membaca Hadis imam Malik bersesuci dari Hadas kecil maupun besar kemudian menyiapkan tikar, karena mengagungkan Hadis Rasulullah. “Insya Allah jika kita ikut lampahnya ulama salaf semuanya akan terasa mudah dalam menggapai cita-cita,” tandasnya. Habib Jakfar mengutip perkataannya Fudhail bin Iyadl, ia mengatakan bahwa kita bila berada di mana saja maka hendaknya menjadi ekor dan tidak menjadi kepala. Ulama Nahwu sampai-sampai mengaplikasan perkataan Fudhail bin Iyadl ini dengan contoh ‘akaltu samakata hatta ra’saha’. Ra’ (baca; kepala) akan rusak karena dimakan sampai habis. Sedangkan ekor tidak demikian. “Kun dzanaban haitsuma kunta wala takun ra’san fa innahu yahlik, wa dzanab yanju. (Jadilah ekor di manapun kau berada dan jangan jadi kepala, karena kepala akan rusak sedangkan ekor selamat),” papar Habib Jakfar dengan bahasa Arabnya. “Hal ini mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap tawadhu. Sekalipun berada di depan jangan sampai sombong,” pungkas Habib jakfar al-Muhdor ini. Acara pembukaan Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan MMU yang ke-79 ini ditutup dengan doa yang langsung dipimpin oleh Habib Jakfar al-Muhdor....

Selengkapnya