Haul ke-19 KH. Hasani Nawawie
Nov07

Haul ke-19 KH. Hasani Nawawie

Haul Hadratusyaikh KH. Hasani bin Nawawie ke-19 akan dilaksanakan pada hari Sabtu (malam Ahad), 13 Rabiul Awal 1439 H/09 November 2019 M, di Pondok Pesantren...

Selengkapnya
Cinta Nabi ﷺ Sebagai Tolak Ukur Keimanan
Nov15

Cinta Nabi ﷺ Sebagai Tolak Ukur Keimanan

Ribuan santri Pondok Pesantren Sidogiri mengikuti perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ di Lapangan Baru, Jumat (08/03). Dihadiri oleh Pengurus Harian dan Dewan Guru. Acara yang diamanahkan kepada PK. ISS Sumenep dan Malang tersebut mengundang Habib Abdurrahman Ba’Alawi dari Probolinggo, sebagai penceramah. Dalan sambutan Pengurus Harian yang disampaikan oleh Ust. Saifullah Muhyiddin, pengurus mengingatkan para santri agar senantiasa meramaikan masjid dan mushalla di kampung masing-masing ketika sudah liburan. Para santri juga diharapkan mematikan HP saat adzan Maghrib tiba hingga Isya. Hal ini disampaikan agar para santri benar-benar memaksimalkan waktu baik tersebut dengan mengaji. “Setelah itu, jika memang ada maslahah bagi kita, monggo (gunakan HP-nya).” Terang beliau yang menjabat sebagai Ketua II Pondok Pesantren Sidogiri tersebut. Beliau menambahkan agar para santri tetap muthala’ah di rumahnya. Sementara itu, Habib Abdurrahman Ba’Alawi dalam ceramahnya banyak mengisahkan kehidupan Rasulullah ﷺ sebagai suriteladan bagi santri. Beliau berharap, dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ menjadikan rasa cinta kita pada Nabi ﷺ kian bertambah. “Kadar iman kita kepada Allah diukur sejauhmana kecintaan kita kepada Nabi Muhammad ﷺ.” Terang beliau. === Penulis: M Afifurrohman Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya
Kursus Al-Miftah Ramadan
Mei07

Kursus Al-Miftah Ramadan

      Pelajar Putra ▪Rp. 550.000 tanpa makan ▪Rp. 750.000 include buka dan sahur Pengajar Putra ▪Rp. 350.000 tanpa makan ▪Rp. 450.000 Include makan buka dan sahur Pelajar Putri ▪Rp.650.000 include makan buka sahur Note: 1. Putri tidak ada kelas pengajar_ 2. Peserta purti wajib dekos karena aturannya putri tidak boleh keluar dari lokasi. Isi kolom pendaftaran formulir di bawah ini: Form...

Selengkapnya
Taujihat Majelis Keluarga: Santri Mencintai Ulama Indonesia dan Timur Tengah
Apr30

Taujihat Majelis Keluarga: Santri Mencintai Ulama Indonesia dan Timur Tengah

Senin (14/08) #MiladSidogiri281 resmi dibuka di Lapangan Utama. Pembukaan ditandai dengan pembacaan Alfatihah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. A. Nawawi Abd. Djalil dan pemukulan bedug oleh Mas H. Ahmad Sa’dulloh Abdul Alim. Dihadiri oleh Majelis Keluarga, para habaib, dewan guru dan santri Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah rangkaian seremoni selesai, acara dilanjutkan dengan Taujihat Majelis Keluarga Sidogiri yang dibacakan oleh Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sadoellah. Dalam Taujihat tersebut, Mas Dwy menyampaikan banyak hal, termasuk tentang santri-pesantren dan perjuangannya dalam menegakkan dan membela agama, bangsa dan negara. Milad Sidogiri 281 dengan tema #BeragamaBerbangsaBernegara, menurut beliau merupakan momen istimewa, sebab Pondok Pesantren Sidogiri sedang berupaya menyampaikan pesan pada bangsa Indonesia, atau bahkan dunia, bahwa pandangan hidup pesantren merupakan falsafah terbaik untuk mengatasi berbagai problem sosial masyarakat saat ini atau hingga kapan pun. “Nilai-nilai utama kaum pesantren seperti spiritualitas, keteguhan prinsip, kebersahajaan, kejujuran, ketulusan, kebeningan hati merupakan kunci dari segala ketenteraman hidup ini.” Tegas beliau. Munculnya kejahatan dan lain sebagainya, bagi beliau, ialah karena kosongnya hal-hal tersebut. Baca juga berita lainnya: UAS: Urus Urusanmu, Biarkan Allah Urus Urusan Dia Lebih lanjut, Mas Dwy juga menyinggung tokoh-tokoh panutan pesantren. Mereka adalah sosok ‘alim ‘allamah dan berbudi luhur, “Kita tidak mengikuti tokoh-tokoh instan yang sudah berlagak menjadi mujtahid meskipun belum menguasai tajwid,” dawuhnya. Beliau menambahkan bahwa Sidogiri juga tidak mengikuti tokoh-tokoh yang membenci Sahabat Nabi serta ulama, dan suka mengafirkan dan mensyirikkan hanya karena perbedaan furu’iyah. Selanjutnya, Mas Dwy menjelaskan tentang santri dan kecintaan pada NKRI. Dalam sejarah maupun faktanya, tak perlu lagi meragukan kecintaan santri pada negeri. “Karena kami cinta NKRI dan tidak berpikir untuk mengkhianati.” Dalam berbangsa, menurut Mas Dwy, santri menghargai segala tradisi dan budaya lokal masyarakat bangsa ini. Namun hal itu dengan catatan selagi tidak bertentangan dengan ajaran agama. Santri juga menghargai cara berpakaian bangsa Indonesia selama menutup aurat. Namun demikian, beliau mengimbau agar tidak menjadikan budaya berpakaian tersebut sebagai alat untuk mengolok-olok ciri khas pakaian umat Islam, khususnya di Timur Tengah. “Jangan sampai karena kecintaan terhadap batik lalu hal itu membuat kita mengolok-olok jubah, gamis dan surban,” terang beliau, “Jika ada orang yang mengolok-olok jubah, gamis dan surban, jangan salahkan kami jika membelanya. Sebab kami tahu bahwa Nabi kami, para Sahabat beliau dan para ulama yang mengarang kitab-kitab yang kami aji, mereka semua memakai jubah, gamis dan surban.” Tambahnya. Mas Dwy juga menyinggung orang yang tidak suka jenggot dan cadar. Menurut beliau, silakan saja orang tidak mau berjenggot atau bercadar, namun jika mengolok-olok maka permasalahannya menjadi lain. Dengan lugas Mas Dwy juga menuturkan kecintaan santri terhadap para ulama Indonesia. “Mereka para dai dan penyebar Islam yang luar biasa. Namun demikian, jangan sampai hal itu justru menyebabkan kita mengolok-olok...

Selengkapnya
Lesatkan Daya Kreatif Anak Melalui Cerita
Apr27

Lesatkan Daya Kreatif Anak Melalui Cerita

Drs. H. Muhammad Jailani, staf pengajar MMU Aliyah, hadir sebagai narasumber pada acara pembekalan calon Guru Tugas dengan tema “Metodologi Pembelajaran Kreatif”, bertempat di Aula Sekretariat, Ahad (06/08). Beliau menyampaikan, jika nanti santri menjadi guru agar menjadi guru yang kreatif, sehingga mudah mengajarkan ilmu. “Salah satu sarana untuk mengembangkan kreatifitas anak adalah melalui media oka oki yang dikemas dalam lagu, cerita, kisah dan dongeng,” ungkap beliau menggebu-gebu. Beliau yakin, seandainya guru menerangkan dengan sebuah media, maka murid ataupun siswa tersebut akan menjadi murid yang cerdas. “Tidak ada murid yang tidak bisa dididik, yang ada hanyalah guru yang tidak bisa mendidik murid,” ungkap beliau mengutip perkataan Prof. Dr. Ibrahim Bafadlal. Sementara itu, lanjutnya, agar pembelajaran dapat efektif, seorang guru harus melakukan beberapa langkah jitu. Di antaranya guru harus menjadi pelatih, bukan pengajar, menguasai materi pelajaran agar bisa membuat pola pembelajaran baru yang inovatif, serta mampu mengubah materi yang sulit menjadi mudah agar lebih disukai oleh murid. Menurut beliau, dalam suatu penelitian jika ada oknum guru yang tidak disukai oleh murid, maka mata pelajaran yang ia ampu tidak akan disenangi pula. Di samping itu, seorang guru harus mengomunikasikan semua kendala atau kesulitan yang dialami oleh murid. “Kalau dia sakit kepala jangan langsung dikasih Bodrex, tanyakan dulu, khawatir sakit karena lapar, maka harus dikasih soto, atau karena pacarnya dilamar orang lain, maka harus ditawari perempuan lain, atau karena kehujanan, baru dikasih Bodrex,” jelas beliau diiringi tepuk tangan santri. _______ Penulis: Al-Ghazali Editor: N. Shalihin...

Selengkapnya
Guru Tugas Dituntut Tahu Ilmu Haid
Apr24

Guru Tugas Dituntut Tahu Ilmu Haid

“Semua guru tugas wajib tahu tentang ilmu haid,” ujar Ustadz Qusyairi Ismail, dalam acara pembekalan guru tugas yang dilaksanakan MMU Tsanawiyah, di depan calon guru tugas angkatan 1439 H, Kamis (19/04), di Aula Kantor Sekretariat Lt III. Menurutnya, ilmu haid harus diketahui karena merupakan ilmu paling ‘laris’ di masyarakat. Sejatinya ada tiga pilar yang harus dipahami betul oleh guru tugas; masa maksimal haid, minimal haid, serta paling sedikitnya suci. Dengan tiga hal tersebut guru tugas bisa dengan mudah menjelaskan haid kepada anak didik atau masyarakat. “Paham tiga ini sudah paham ilmu haid,” lanjut Pak Qusyairi, panggilan akrab beliau. Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa menjadi guru tugas harus menjelaskan dengan gamblang serta cepat dimengerti oleh pendengar. Menurut beliau, ilmu haid sangatlah mudah. Beliau kemudian mengatakan, darah yang keluar dalam waktu lima belas hari atau kurang, baik sambung atau terputus-putus, semuanya darah haid, baik warna hitam atau merah. “Jangan repot-repot, baru kalau keluar darah 20 hari, maka itulah yang harus dipermasalahkan,” jelas Koordinator MMU Idadiyah tersebut. “Kalian jangan menjelaskan banyaknya warna haid, bisa bingung nanti audiensnya,” lanjutnya. Menurut penggagas metode al-Miftah tersebut, yang harus dijelaskan berulang-ulang hanya tentang shalat saat haid. “Ini kebanyakan orang tidak mengerti, seperti bersih ketika waktu ashar tinggal satu menit, maka harus mengqadhai (mengganti) Asar dan Dhuhur, karena bersih di waktu yang bisa untuk melaksanakan takbiratul ihram, dan shalat Asar bisa dijamak dengan Dhuhur,” ungkap beliau. ==== Penulis: Imam Ghazali Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya