Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#1
Mei01

Mas d. Nawawy Sadoellah; Santri Tidak Pernah Mengkhianati NKRI Part#1

  Alhamdulillah, segenap puja dan puji untuk Allah, yang telah memberikan anugerah tak terhitung kepada kita semua. Alhamdulillah, hingga saat ini, hingga tiga abad berlalu, Allah senantiasa menjaga pesantren kita ini dari berbagai godaan tipu daya. Semoga Allah berkenan untuk terus mengokohkannya sebagai benteng Ahlusunah wal-Jamaah hingga akhir sejarah nanti. Shalawat dan salam untuk Rasulullah Muhammad shallalahu alaihi wasallam, Nabi Agung yang telah mendedikasikan segalanya untuk keselamatan umat yang sangat beliau cintai. Semoga kita semua bisa berteduh di bawah bendera syafaat beliau dan melepas dahaga dari telaga bening beliau dalam kehidupan abadi kita nanti. Amin ya Rabbal Alamin. Saudara-saudara santri yang dirahmati Allah, Milad ke-281 Pondok Pesantren Sidogiri ini merupakan momen yang sangat istimewa bagi kita semua, karena kita sedang berupaya menyampaikan pesan kepada seluruh bangsa Indonesia atau bahkan dunia, bahwa pandangan hidup pesantren merupakan falsafah terbaik untuk mengatasi berbagai problem sosial-kemasyakatan kita saat ini dan sampai kapanpun. Nilai-nilai utama kaum pesantren seperti spiritualitas, keteguhan prinsip, kebersahajaan, kejujuran, ketulusan dan kebeningan hati merupakan kunci dari segala ketenteraman dalam hidup ini. Munculnya angkara murka, kebejatan, kejahatan, kedurjanaan dan kezaliman merupakan akibat dari hampanya nilai-nilai tersebut dalam diri umat manusia. Dalam momen Milad ke-281 ini, kita hendak menegaskan kembali tiga hal pokok tentang nilai kehidupan orang-orang pesantren dalam mencapai kebahagiaan dunia-akhirat. Yaitu, tentang bagaimana kita dalam beragama, bagaimana kita dalam berbangsa, dan bagaimana pula kita dalam bernegara. Agama adalah asas dan pedoman final kita yang tidak bisa digantikan atau diubah oleh landasan dan dasar apapun. Dalam beragama kita memegang teguh kehati-hatian dalam berbagai hal. Segala urusan, baik yang bersifat ritual maupun sosial, kita kembalikan kepada al-Quran dan Hadis, berdasarkan penafsiran dan rumusan yang dibuat oleh para ulama yang kompeten, baik dalam masalah-masalah akidah, syariat, maupun akhlak dan tasawuf. Kita mengikuti rumusan ulama-ulama mu’tabar yang mewakili pandangan mayoritas umat Islam, bukan tokoh-tokoh sempalan yang fanatik terhadap satu dalil seraya menendang ribuan dalil yang lain. Kita mengikuti ulama-ulama yang warak, zuhud dan ahli mujahadah, bukan tokoh-tokoh yang hanya lihai berargumentasi dan bersilat lidah. Kita mengikuti ulama-ulama yang luar biasa mumpuni, menguasai puluhan disiplin ilmu sebelum menyimpulkan satu hukum. Menghafal dan menyeleksi ribuan Hadis sebelum  menetapkan dalil. Berkelana dari satu guru ke guru yang lain sebelum berijtihad. Kita tidak mengikuti tokoh-tokoh instan yang sudah berlagak menjadi mujtahid, meskipun belum menguasai ilmu tajwid. Kita menghormati seluruh sahabat Nabi sebagai generasi terbaik umat ini, orang-orang yang paling berjasa dalam perjuangan Islam. Kita tidak seperti orang-orang Syiah yang memuja satu-dua sahabat, seraya memaki ribuan sahabat yang lain. Kita menghormati seluruh ulama, dan menganggap perbedaan pendapat mereka adalah buah dari hasil ijtihad yang harus sama-sama kita hormati. Kita tidak seperti aliran-aliran sempalan yang fanatik terhadap satu-dua ulama, lalu...

Selengkapnya
Taujihat Majelis Keluarga: Santri Mencintai Ulama Indonesia dan Timur Tengah
Apr30

Taujihat Majelis Keluarga: Santri Mencintai Ulama Indonesia dan Timur Tengah

Senin (14/08) #MiladSidogiri281 resmi dibuka di Lapangan Utama. Pembukaan ditandai dengan pembacaan Alfatihah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. A. Nawawi Abd. Djalil dan pemukulan bedug oleh Mas H. Ahmad Sa’dulloh Abdul Alim. Dihadiri oleh Majelis Keluarga, para habaib, dewan guru dan santri Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah rangkaian seremoni selesai, acara dilanjutkan dengan Taujihat Majelis Keluarga Sidogiri yang dibacakan oleh Katib Majelis Keluarga, Mas d. Nawawy Sadoellah. Dalam Taujihat tersebut, Mas Dwy menyampaikan banyak hal, termasuk tentang santri-pesantren dan perjuangannya dalam menegakkan dan membela agama, bangsa dan negara. Milad Sidogiri 281 dengan tema #BeragamaBerbangsaBernegara, menurut beliau merupakan momen istimewa, sebab Pondok Pesantren Sidogiri sedang berupaya menyampaikan pesan pada bangsa Indonesia, atau bahkan dunia, bahwa pandangan hidup pesantren merupakan falsafah terbaik untuk mengatasi berbagai problem sosial masyarakat saat ini atau hingga kapan pun. “Nilai-nilai utama kaum pesantren seperti spiritualitas, keteguhan prinsip, kebersahajaan, kejujuran, ketulusan, kebeningan hati merupakan kunci dari segala ketenteraman hidup ini.” Tegas beliau. Munculnya kejahatan dan lain sebagainya, bagi beliau, ialah karena kosongnya hal-hal tersebut. Baca juga berita lainnya: UAS: Urus Urusanmu, Biarkan Allah Urus Urusan Dia Lebih lanjut, Mas Dwy juga menyinggung tokoh-tokoh panutan pesantren. Mereka adalah sosok ‘alim ‘allamah dan berbudi luhur, “Kita tidak mengikuti tokoh-tokoh instan yang sudah berlagak menjadi mujtahid meskipun belum menguasai tajwid,” dawuhnya. Beliau menambahkan bahwa Sidogiri juga tidak mengikuti tokoh-tokoh yang membenci Sahabat Nabi serta ulama, dan suka mengafirkan dan mensyirikkan hanya karena perbedaan furu’iyah. Selanjutnya, Mas Dwy menjelaskan tentang santri dan kecintaan pada NKRI. Dalam sejarah maupun faktanya, tak perlu lagi meragukan kecintaan santri pada negeri. “Karena kami cinta NKRI dan tidak berpikir untuk mengkhianati.” Dalam berbangsa, menurut Mas Dwy, santri menghargai segala tradisi dan budaya lokal masyarakat bangsa ini. Namun hal itu dengan catatan selagi tidak bertentangan dengan ajaran agama. Santri juga menghargai cara berpakaian bangsa Indonesia selama menutup aurat. Namun demikian, beliau mengimbau agar tidak menjadikan budaya berpakaian tersebut sebagai alat untuk mengolok-olok ciri khas pakaian umat Islam, khususnya di Timur Tengah. “Jangan sampai karena kecintaan terhadap batik lalu hal itu membuat kita mengolok-olok jubah, gamis dan surban,” terang beliau, “Jika ada orang yang mengolok-olok jubah, gamis dan surban, jangan salahkan kami jika membelanya. Sebab kami tahu bahwa Nabi kami, para Sahabat beliau dan para ulama yang mengarang kitab-kitab yang kami aji, mereka semua memakai jubah, gamis dan surban.” Tambahnya. Mas Dwy juga menyinggung orang yang tidak suka jenggot dan cadar. Menurut beliau, silakan saja orang tidak mau berjenggot atau bercadar, namun jika mengolok-olok maka permasalahannya menjadi lain. Dengan lugas Mas Dwy juga menuturkan kecintaan santri terhadap para ulama Indonesia. “Mereka para dai dan penyebar Islam yang luar biasa. Namun demikian, jangan sampai hal itu justru menyebabkan kita mengolok-olok...

Selengkapnya
UAS: Urus Urusanmu, Biarkan Allah Urus Urusan Dia.
Apr29

UAS: Urus Urusanmu, Biarkan Allah Urus Urusan Dia.

Ustad Abdul Somad, Lc. MA. (UAS) memberikan ceramah di hadapan ribuan santri Pondok Pesantren Sidogiri, malam Ahad (13/08) di Lapangan Utama #MiladSidogiri281. Sebelum hadir di hadapan santri, UAS bersilaturrahim dengan FMKM (Forum Musyawarah Keluarga Muda) Sidogiri. Berikut rangkuman isi ceramah UAS: 1) UAS memuji kemandirian Pondok Pesantren Sidogiri. Menurutnya, banyak yang cerdas, pintar dll namun tidak mandiri. “Dalam kemandirian datanglah barakah,” terangnya. 2) UAS kemudian menyinggung masalah agama yang hanya dijadikan komoditi oleh sebagian oknum. Agama seakan hanya sebagai pendorong mobil mogok. Ketika mobil tersebut telah menyala dan bisa jalan, maka agama ditinggalkan, ‘good bye’. 3) Santri, menurut UAS, tidak harus menjadi kiai dan penceramah semua. UAS kemudian mencontohkan seorang santri yang pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, namun baca kitabnya bagus. “Terserah kalian mau jadi apa, asal bisa baca kitab,” tegasnya. 4) UAS juga menghimbau agar dalam berdakwah santri tidak memikirkan banyak-sedikitnya audien. Bagi UAS yang penting adalah mengajar, buka pengajian. Masalah masyarakat yang datang sedikit atau banyak, itu urusan Allah. Beliau kemudian menggambarkan seorang yang pemancing yang telah berusaha namun belum mendapatkan ikan. Asal sudah berbuat dan berusaha, masalah hasilnya pasrahkan pada Allah. “Urus urusanmu, biarkan Allah urus urusan Dia.” 5) UAS juga menghimbau agar para santri mengajar jika kelak sudah terjun ke masyarakat. “Silakan berbisnis, tetapi luangkan sedikit waktu untuk mengajar,” harapnya. Hal tersebut senada dengan pesan Masyayikh Sidogiri yang juga menekankan agar para alumni sebisa mungkin mengajar di lingkungannya. 6) Selain itu, UAS mengajak para santri agar istikamah dan yakin dalam bersikap. Berakar ke bawah dan berpucuk ke atas. 7) Ada 3 hal yang tidak ada dalam tradisi kita; 1. I’rab, 2. Nasab, 3. Sanad 8) Islam tidak pernah membunuh seni. Islam datang tidak mengubah kita menjadi Arab. 9) Benteng terakhir kesatuan NKRI adalah pesantren 10) Umat Islam tak perlu phobia pada nasionalisme, demikian pula umat lain tak perlu phobia pada Islam. 11) Islam mengajarkan rahmatan lil alamin. Islam memperhatikan segala hal, bahkan urusan larangan kencing di lubang dan menebang pohon. “Sedang pohon saja tidak kami tebang, apalagi kepalamu.” 12) Pemimpin harus mengerti bahasa umat 13) Kalian yang ada di sini (santri) menjadi penopang dalam urusan beragama, berbangsa dan bernegara. 14) Jangan lupa meminta barakah pada ulama dan menjaga sanad keilmuan. 15) Jangan sampai kehadiran kita (di masyarakat) membuat masalah. ==== Penulis: N. Shalihin Damiri Editor  : Isom...

Selengkapnya
Sidogiri Expo 2018; Kepuasan Pemesan dan Pembeli Menjadi Prioritas Utama
Apr27

Sidogiri Expo 2018; Kepuasan Pemesan dan Pembeli Menjadi Prioritas Utama

                      Demi kepentingan bersama, dalam berorganisasi harus rela mengorbankan banyak hal. Itulah yang di lakukan Roisurrohman Cs, untuk membuat pihak pembeli dan pemesan puas terhadap hasil kreatifitas mereka. Malam Rabu (09/10) adalah malam pertama santri libur jam belajar. Lalu lalang santri memadati setiap sudut area pondok pesantren, membuat pupil mata lelah bergerak kesana-kemari oleh sebab melihat santri berdesakan. Sementara itu, Roisurrohman, Ketua Produksi Sidogiri Expo, sedang menulis salah satu kaligrafi, pesanan santri Daerah O di Kantor ISS, Ainul Yaqin partnernya, juga terlihat serius mengukir tulisannya pada sepotong kaca. Dua kreator Sidogiri Expo itu terlihat semakin giat menyiapkan produk yang akan ditawarkan di Sidogiri Expo. Lukisan kaligrafi yang terbuat dari cermin, kaca, gabus, miniatur rumah, minatur sepeda motor vespa, dan berbagai macam pameran yang lain ikut dipersiapkan. Kaligrafi beserta kreatifitas lain yang sudah dibuat maupun belum selesai, masih berserakan di Kantor ISS, tempat tim produksi, memproduksi buah karyanya. Mereka juga harus rela meluangkan waktu tidurnya demi kepuasan pihak pembeli dan para pemesan lukisan kaligrafi mereka. Tim produksi Sidogiri Expo sebenarnya berjumlah enam orang. namun empat diantaranya tidak terlihat pada malam itu, “Mereka belum datang, nanti agak malam mungkin datang, sekarang tugas mereka sudah hampir selesai, jadi sekarang lagi istirahat,” ujar pria yang akrab dipanggil Rois tersebut dalam bahasa Madura. “Kadang saya membuat lukisan ini sampai jam empat pagi, setelah itu tidur, salat subuh. Bangun siang, baru kemudian dikerjakan lagi. Kalo partner saya yang itu, biasanya tidak tidur semalaman membuat kaligrafi itu,” ceritanya sambil menunjuk Ainul Yaqin. Berada di sidogiri Expo, menjadi tantangan tersendiri bagi Rois dan kawan-kawan untuk belajar lebih giat guna mengembangkan bakat mereka dalam dunia kaligrafi maupun kreatifitas lain. Bahkan salah seorang di antaranya rela bolak-balik bertanya, dan akhirnya mendapat cara melukis kaligrafi yang bagus setelah mendapatkan jawaban dari tim dekorasi banat. Keesokan harinya, pameran Sidogiri Expo mulai di bawa ke Mabna al-Ghazali untuk persiapan pembukaan Sidogiri Expo yang berlangsung pada malam Kamis (10/10). Ruang yang diperuntukkan Sidogiri Expo antaralain; ruang 10 gudang, ruang 09 tempat pameran, sedangkan ruang 01 ruang desain. Tidak hanya produk lokal, buatan tim produksi saja. Sidogiri Expo kali ini juga memamerkan kreatifitas karya santri Sidogiri. Terhitung ada tiga santri yang menitipkan buah karyanya pada even kali ini. “Kami sudah memberi tahu ke masing-masing daerah. Kalo ada yang mau menitipkan hasil kreatifitasnya ke Sidogiri Expo dipersilahkan. Tapi sampai saat ini masih ada tiga orang yang menyetorkan. Ini salahsatunya,” lanjutnya sembari memperlihatkan songkok emas di tangannya. Selain itu, karena mengaca pada tahun sebelumnya, yang sebagian besar dari pameran tidak laku, pameran pada tahun ini akan dibandrol dengan sangat murah dan pas dengan isi saku santri....

Selengkapnya
#KilasBalik Milad Sidogiri 280: Dihadiri Dua Tokoh Nasional
Apr18

#KilasBalik Milad Sidogiri 280: Dihadiri Dua Tokoh Nasional

  KH. Ma’ruf Amin, Ketua MUI sekaligus Rais Aam PBNU dan TGB Zainul Majdi MA, Gubernur NTB, hadir dalam malam puncak #MiladSidogiri280 yang mengusung tema #SatuLangkahSatuBarisan, Ahad malam Senin (14/05/2017 atau 17/08/1438) di Lapangan Olahraga Sidogiri. Di hadapan ribuan hadirin, TGB Zainul Majdi memuji eksistensi Pondok Pesantren Sidogiri, “Bersentuhan dengan pondok ini, kita bisa belajar banyak hal yang mulia, pertama soal keikhlasan. Tidak ada rahasia yang menjaga hampir tiga abad kecuali ilmu ikhlas.” TGB juga mengajak umat Islam agar bersabar dalam proses perjuangan. “Suasana akhir-akhir ini, banyak hal-hal Islam dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik. Tapi tidak apa, itulah suatu tahapan perjuangan, selama Islam di Indonesia punya pondok-podok seperti Sidogiri, maka tantangan apapun pasti akan dapat kita lewati, Wallahualam bissaawaf.” Sementara itu, KH. Ma’ruf Amin banyak menyinggung masalah kebangsaan dan pesantren, “Agama jadi sumber inspirasi dan kaidah penuntun bagi bangsa,” terang beliau. KH Ma’ruf Amin menambahkan, ulama perlu senantiasa kita siapkan supaya tidak terjadi kekosongan karena banyak ulama sepuh dipanggil Allah Swt. “Kalau sampai tidak ada seorang alim pun, orang akan mengangkat pemimpin yang bodoh-bodoh yang tidak paham agama. Kalau ditanya soal ilmu (agama) mereka sesat dan menyesatkan. Karena itu, ulama harus terus dicetak.” KH Ma’ruf Amin juga memuji capaian Pondok Pesantren Sidogiri yang masih bertahan dan tetap istikamah hingga saat ini dalam mencetak generasi Islam yang berkualitas. “Saya berharap (Pondok Pesantren Sidogiri) tetap eksis,” harap KH Ma’ruf Amin. _______ Penulis: N. Shalihin Damiri Editor: Isom...

Selengkapnya
1000 Bendera Siap Meriahkan Milad Sidogiri ke 281
Apr15

1000 Bendera Siap Meriahkan Milad Sidogiri ke 281

Ustadz Rozeq Mutrofin, Ketua Tim Kreatif merencanakan pemasangan 1000 bendera merah putih mengelilingi lapangan utama perayaan Milad Sidogiri 281 dan Ihktibar Madrasah Miftahul Ulum 82. Hal ini berarti menumbuhkan rasa nasionalisme sekaligus menyesuaikan dengan tema besar Milad, ‘Beragama, Berbangsa dan Bernegara’. “Ini hanya rencana dari Tim Kreatif saja. Untuk jumlahnya kurang tahu yang jelas banyak. Tapi ini hanya rencana, bisa saja tidak disetujui nanti,” ungkap santri kelahiran Lumajang ini. Ustadz Rozeq kemudian menuturkan, andai rencana tersebut disetujui, bendera tersebut akan dipasang mengelilingi lapangan. Sementara itu, di lapangan akan ada pagar yang terbuat dari bambu sepanjang 80 M dengan lebar 30 M yang berdiri mengelilingi lapangan. “Nanti, tempat yang digunakan untuk perayaan akan dikelilingi pagar bambu sepanjang 80 M dan lebar 30 M. Sedangkan rencana dari Tim Kreatif pemasangan bendera merah putih mengikuti pagar bambu tersebut,” ujarnya, saat ditemui reporter Sidogiri.Net beberapa waktu yang lalu. Tim yang beranggotakan delapan orang ini, sudah melakukan berbagai persiapan untuk menyukseskan rencana tersebut. Beberapa persiapan yang sudah dilakukan oleh pihaknya terkait pemasangan 1000 bendera adalah mengatur tata letak bendera, ukuran bendera serta berbagai atribut untuk membuat lokasi acara tampak semarak. “Saya tegaskan kembali ini hanya rencana. Tim Kreatif bertugas menyusun konsep. Bagaimana sekiranya tema besar Milad benar-benar bisa dirasakan ketika acara. Bernegara dilambangkan dengan bendera, berbangsa kita tonjolkan di panggung utama, sedangkan beragama di tampilannya,” Tegas Ustadz Rozeq, Wakil II Perpustakaan periode 1437-1438 H ==== Penulis: M Afifurrohman Editor  : N. Shalihin...

Selengkapnya