Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting
Sep15

Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting

Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri pada tanggal 26 Muharram 1433/21 Desember 2011 meresmikan badan penghimpun dana maslahah abadi yang diberi nama DIM (Dana Investasi Maslahah) Sidogiri. Badan ini bertugas untuk menghimpun dana dari para investor untuk digunakan pada kemaslahatan Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Dana yang terkumpul tersebut kemudian dikelola oleh pengurus pesantren dan hasilnya digunakan pada kemaslahatan di atas. Sehingga berapa pun nominal yang disumbambangkan, dana tersebut tetap abadi dan terus meningkat. Badan ini dibentuk sebagai bentuk konsistensi Sidogiri untuk terus mengembangakan sistem pendidikan dan melebarkan sayap dakwahnya ke berbagai tempat di nusantara. “Pondok Pesantren Sidogiri ini semakin lama ingin mengembangkan sayap dakwahnya dengan mengirimkan dai ke mana-mana. Dan dai itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi kita cari dana dari masyarakat agar dana yang sedikit itu bisa  menjadi besar dengan sendirinya. Jadi minta sekali, tapi bisa berhasil berkali-kali. Dengan artian, dana itu akan dibuat usaha sekiranya tidak minta setiap tahun,” tutur Mas d. Nawawy Sadoellah, Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, ketika ditanyakan latar belakang dibentuknya DIM Sidogiri. Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya objek dakwah yang saat ini masih belum tersentuh. “Kita kan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak penting,” ungkapnya. Beliau juga menjelaskan bahwa alasan dari minimnya guru-guru atau tenaga dai yang mau menggarap objek dakwah tersebut adalah sebab minimnya kemampuan finansial. Jadi dengan adanya DIM Sidogiri ini pengurus nantinya mengupayakan untuk membiayai kebutuhan hidup guru-guru atau dai yang dikirim. Sebab dari tahun ke tahun permintaan guru tugas kian meningkat. Dan secara otomatis pula biayanya juga semakin besar. Beliau juga menggugah alumni Sidogiri untuk meneruskan perjuangan dakwah tersebut. “Karena intinya Sidogiri itu ya di perjuangan. Keberhasilan santri menurut dawuhnya KH. Cholil Nawawie itu adalah yang mempunyai kemauan untuk mengajar. Jadi, santri sukses itu bukan hanya yang kaya,” tutur beliau. Beliau juga berpesan kepada santri menjelang kelulusan ini, “Semangat belajarnya harus tetap tinggi. Dan yang penting kejujurannya. Santri sekarang itu masih senang lulus daripada jujur. Padahal kesuksesan yang benar itu menurut saya adalah santri yang jujur meskipun akibatnya dia tidak lulus. Dan lulus-tidak lulus itu cuma efek atau bonus. Yang paling gagal adalah yang senang lulus biar pun curang, itu santri yang gagal,” ungkapnya...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”
Sep04

Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”

Rasulullah pernah bersabda, “Bukanlah bagian dari kami, mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak menghormati yang lebih tua. Begitu juga mereka yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” Dari sini dapat dipahami betapa pentingnya akhlaqul karimah. Bagaimana cara berinteraksi dengan yang lebih tua mau pun yang lebih muda. Harus mengerti posisi. Bila berhadapan dengan yang lebih muda, maka harus menampakkan rasa kasih sayang. Bila berhadapan dengan yang lebih tua maka harus menghormati. Lebih-lebih jika mereka adalah seorang guru, meskipun hanya guru fan. Sebagai penuntut ilmu, kita harus tetap teguh menjaga akhlaqul karimah. Sebab akhlaqul karimah adalah kunci utama pembuka pintu kesuksesan. Apalagi masih dihiasi dengan adanya ilmu yang memadai, pintu itu akan semakin terbuka memberikan berjuta harapan dan akan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu tanpa akhlaqul karimah akan terasa hambar. Tidak akan memberikan manfaat bagi pimiliknya dan orang-orang di sekitarnya. Bahkan bisa menimbulkan hal-hal yang membahayakan. Karakter Iblis bisa dijadikan sebuah contoh. Iblis adalah mahluk yang tercipta dengan segudang ilmu. Ilmu terbang mereka bisa. Ilmu menyelam mereka kuasai. Namun sayangnya mereka tidak memiliki akhlaqul karimah. Mereka selalu sombong, congkak, dan banyak membangkang terhadap perintah Allah. Sehingga tidak mungkin bisa dekat kepada Allah Swt. Dan akhir kehidupannya tidak akan membahagiakan. Beda halnya dengan malaikat. Meski ilmu mereka tidak banyak. Mereka lebih mengutamakan akhlaqul karimah. Tidak terlalu banyak bertanya pada apa yang Allah Swt perintahkan. Diperintah sujud, mereka langsung bersujud. Diperintah membaca tasbih, mereka langsung bertasbih. Sehingga mereka lebih dekat dengan-Nya, serta dijadikan mahluk yang suci dan mulia. Begitu juga para santri, khususnya santri Pondok Pesantren Sidogiri. Bila  mereka senantiasa menjaga akhlaqul karimah, maka akan sangat mudah untuk bertaqorrub pada Allah. Akan lebih mudah menggapai kesuksesan. Dan memang sejak dulu, yang diunggulkan dari santri Sidogiri adalah akhlaqnya. Selain itu, saya juga berpesan pada para santri Sidogiri, agar tidak lupa untuk selalu mengirimkan fatihah pada para masyayikh yang ada di belakang masjid. Jangan sampai santri itu lupa pada akarnya. Sebab bila sampai lupa pada akarnya, akan seperti pohon tanpa akar, dia akan mati. ===== Penulis: M_Sen Sumber: Kabar...

Selengkapnya
#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq
Agu15

#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq

Tugasnya guru tugas itu untuk membantu madrasah di tempatnya bertugas. Bagaimana sekiranya dengan adanya guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri, kegiatan belajar mengajar bisa terlaksana dengan lancar. Tidak ada kelas yang kosong, kegiatan-kegiatan yang kosong. Dengan adanya pengiriman guru tugas inilah, kegiatan madrasah-madrasah bisa terlaksana dengan baik sesuai yang telah diprogramkan di madrasah tersebut.Kalau kegiatan madrasah sudah dilaksankan dengan baik, terus menerus secara rutin, maka nanti hasilnya akan baik. Jadi ini pada intinya. Di samping guru tugas itu harus menjadi uswah hasanah di dalam melaksanakan kegiatan dan pengamalan hukum-hukum keagamaan.  Karena itu memang tugas mereka. Mengajar, mengamalkan ilmu dan memberi contoh uswah hasanah. Baca Juga:  Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu Baca Juga: #Ngaji Maring KH. Foad Noer Hasan Kata Wakil Ketua Umum PPS, Mas d. Nawawy Sadoellah, guru tugas itu jendela Sidogiri. Untuk mengetahui keadaan di Sidogiri, cukup melihat pada guru tugas. Guru tugas itu jadi jendela bagi mereka untuk bisa melihat, bagaimana Sidogiri. Kalau guru tugas itu akhlaknya bagus, maka Sidogirinya sudah dianggap bagus. Karena guru tugas itu jadi jendela. Guru tugas yang mengamalkan semua kebaikan-kebaikan yang didapat di pesantren, seperti memberi uswah pada murid dan masyarakat, mengamalkan ilmu agama, semacam shalat dhuha dan tahajjud. Jadi kalau dari segi itu mereka sukses, maka mereka dianggap sukses dalam menjalankan tugasan. Kalau ternyata mereka menyalahi tata tertib, tidak memberi contoh uswah hasanah, maka bisa jadi mereka tidak lulus, otomatis tidak sukses. Ada tiga mashlahah yang ingin dicapai, yaitu mashlahah kepada guru tugas, kepada tempat tugas dan kepada PPS. Guru tugas yang bertugas dengan baik, mereka bisa mengerti bahwa mereka sedang berkhidmah, membaca kekurangan diri, mengembangkan ilmunya dan di samping dia juga bisa bertambah mendapat ilmu bermasyarakat. Sedangkan bagi tempat tugasnya, madrasah di sana bisa merasakan manfaat dengan kedatangan guru tugas, juga bisa mendapat tambahan tenaga. Sebab di madrasah-madrasah di luar sana sedikit sekali tenaga pengajarnya. Dengan adanya guru tugas, kemungkinan besar kegiatan madrasah bisaterlaksana dengan baik. Dengan adanya pengiriman guru tugas ini, pondok berarti telah melatih santrinya untuk terjun secara langsung ke masyarakat. Sangat diharapkan semua guru tugas itu bisa melaksanakan apa yang menjadi tujuan dari Sidogiri dalam pengiriman guru tugas. Almarhum KH. Sirajuddin Millah Waddin pernah dawuh, bahwa PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas, red) yang loyal pada Sidogiri, dalam artian mengikuti terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan pengurus, harus lebih didahulukan dalam pemberian guru tugas. Mengapa demikian, sebab jumlah guru tugas dan jumlah pemohon lebih banyak jumlah pemohon, untuk bisa memenuhi hal tersebut, maka pengurus perlu melihat, sing gati, gatê’no. Artinya, PJGT yang loyal kepada PPS, yang benar-benar taat peraturan dalam pengambilan guru tugas, harus lebih didahulukan. Begitulah yang dipesankan oleh...

Selengkapnya
Mas Bari Sampaikan Pesan-Pesan Kiai Hasani
Agu08

Mas Bari Sampaikan Pesan-Pesan Kiai Hasani

Bertempat di Ruang Auditorium Sekretariat, Pengurus Ubudiyah bersama stafnya melakukan koordinasi bulanan. Koordinasi ini dihadiri oleh salah satu keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Abdul Bari HS, Ahad (05/08). Dalam kesempatan tersebut, Mas Abdul Bari membacakan 10 wasiat dari Kiai Hasani bin Nawawie bin Noerhasan berkenaan dengan aktifitas yang ada di Masjid Jami’ Sidogiri. Berikut wasiat tersebut: “Lek kesusu melebu masjid, mending gak usah salat tahiyatal masjid, eman. Gak onok tumaknina’e.” (Kalau terburu-buru masuk masjid, lebih baik tidak usah salat tahiyatal masjid. Percuma, tidak ada tumakninahnya.)” Pernah suatu hari kiai melihat santri yang terburu-buru masuk masjid dan salat dengan cepat. Hal tersebut terlihat oleh Kiai Hasani. Beliau pun marah besar (duko, Jawa) melihat tingkah santri yang seperti itu. “Masjid itu baitullah, ojok sampek gawe turu.” (Masjid itu rumahnya Allah, jangan sampai dijadikan tempat tidur.)” Beliau juga sangat marah ketika ada santri atau siapa saja tidur dalam masjid. Walau pun masih ada ikhtilaf perihal hukumnya, beliau melarangnya. Jika ada santri atau tamu yang tidur di masjid, beliau langsung memukulnya. “Santri iku kok rame, onok opo dek masjid?” (Santri itu kenapa ramai, ada apa di masjid?)” Setiap dua pekan sekali di Masjid Jami’ Sidogiri ada kegiatan DKL (Dakwah Keliling). Ketika itu ceramah yang disampaikan berupa hal-hal yang lucu sehingga santri tertawa dan masjid menjadi ramai. Hal tersebut didengar oleh Kiai Hasani. Beliau menyuruh Mas Abdul Bari mengambil batu bata di sungai untuk kemudian dilemparkan ke masjid. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Mas Bari langsung menghubungi Kepala Bagian Ubudiyah agar menyuruh santri tidak ramai-ramai di masjid. “Lek kate lebu masjid disekno sekel kengen, lek metu sekel kacer.” (Kalau masuk masjid harud menggunakan kaki kanan, jika keluar menggunakan kaki kiri.)” “Lek wes gak dibutonno, pateni kipas karo lampu iku. Fasilitas masjid iku milik masyarakat umum,” (Setelah menggunakan kipas dan lampu harus dimatikan. Fasilitas masjid itu milik umum.)” “Lek dungo seng jelas, ojok karepe dewe,” (jika berdoa setelah salat yang jelas, jangan ambil seenaknya saja.)” Menurut ceritanya, lumrahnya usai melakukan salat pasti ada wirid yang dibaca. Begitu juga beliau (Kiai Hasani). Beliau sangat tidak suka ketika bacaan wirid usai salat dibaca terlalu cepat. “Gak onok faedahe (tidak ada faedahnya),” dawuh Kiai Hasani. “Beduk iku ditabuh lek wes jam 12.00 pas, ojok melok jam, melok bincret ae,” (Beduk ditabuh pada jam 12.00 dan usahakan agar melihat di bincret, jangan ikut jam.)” “Salat itu kudu duwe himmah, ojok pokok salat. Salat iku ngadep pengeran, mosok sek ate dipantau terus,” (salat itu harus memiliki himmah, jangan asal salat. Salat itu menghadap tuhan, jangan minta dipantau terus.)” “Khidmah seng temenan, niatono ngawulo nang kiai, saiki atau besok,” (Dalam berkhidmah yang benar, nitkan jadi hamba, sabiqon aw lahiqon.)” “Opo’o speaker dek...

Selengkapnya
#NgajiMaring KH. Fuad Noerhasan
Jul27

#NgajiMaring KH. Fuad Noerhasan

Santri dulu itu sebetulnya dalam mencari ilmu sangat sederhana. Hanya cukup ngaji langgaran (surau, red). Tidak seperti sekarang yang ada sekolah, jam belajar, musyawarah, gerak batin. Dulu itu, ya, ngaji di surau. Cuma, santri dulu itu kemauan mendapat barakah sangat besar. Saya masih nututi ketika Kiai Cholil mengimami di masjid. Ketika beliau mau masuk ke masjid, santri itu rebutan untuk membalik sandal Kiai Cholil. Kalau sekarang malah sebaliknya. Banyak sandal guru yang hilang, digasab. Kalau dulu, terhadap guru itu sangat takzim. Sampai-sampai dalam masalah nyapu, santri dulu itu selalu berebutan. Kalau sekarang, masih dijadwal, itu pun masih banyak yang tidak nyapu. Kalau dulu rebutan dalam menyapu, bahkan ada yang sampai menyembunyikan sapunya. Takut ada yang mendahului memakai sapu tersebut. Jadi menyapu halaman, itu dimaksudkan untuk mendapat barakah pondok. Kalau sekarang, sepertinya tidak terlalu mau pada barakah. Dulu tidak ada jadwal nyapu. Kalau sekarang, malah rebutan untuk tidak menyapu walau sudah dijadwal. Bahkan, ketika dulu mengambil air di sumur untuk mengisi bak jeding, mereka harus rela rebutan. Akhirnya mereka gantian menimba, agar sama-sama bisa mengisi air jeding. Sepuluh timba, sepuluh timba. Jadi walau pun sederhana, ngaji langgaran, tapi ketika pulang ke rumahnya bisa menjadi kiai besar. Yang banyak itu rebutan dapat barakahnya kiai. Kalau sekarang sepertinya tidak ada yang demikian. Seandainya santri sekarang seperti santri dulu, ditambah ada gerak batin dan sekolah, maka akan lebih hebat dari santri dulu. Kalahnya santri sekarang itu kurang tirakat, tidak terlalu merasakan barakah. Bahkan, santri dulu, kalau menanak nasi—dulu pancinya gantian—sisa nasi yang ada di panci itu dibersihkan sebersih-bersihnya. Jangan sampai ada sisa nasi teman termakan. “Jadi tidak hanya halal saja, tetapi halalan thayyiban…” Kalau dulu, syubhat saja tidak mau. Apalagi haram. Kalau sekarang, jangankan syubhat, haram saja dimakan. Jadi kalau dilihat dari itu, santri sekarang agaknya jauh untuk mendapat barakah. Kalau dulu masyaAllah. Walaupun ngajinya hanya Sullam Safinah di pondok, tapi ketika pulang bisa ngajar Fathul Wahhab, walau ketika di pondok tidak mengaji Fathul Wahhab. Ya, itulah namanya ilmu barakah. Bisa bertambah sendiri. Walau tidak pernah mengaji, tetapi bisa. ‘Allamallahu ‘ilma ma lam ya’lam (Allah mengajarkan ilmu yang tidak diketahui). Itu kalau ilmu barakah. Yang penting itu, ilmunya barakah. Ngaji sedikit, yang penting barakah. Ya, caranya dengan mengangungkan ilmu. Santri dulu itu sangat mengangungkan pada ilmu. Kalau muthalaah itu harus wudlu dulu, walau pun hanya megang kitab. Tapi santri dulu tidak  mau kalau ngaji tanpa punya wudlu Jadi barakah. Dulu, Ketika Sidogiri mau membuka madrasah, itu masih terjadi perdebatan. Kiai Abdul Adhim sangat tidak setuju dengan adanya madrasah. Apa yang ditakutkan oleh Kiai Abdul Adhim? Yang ditakuti kiai itu kalau ada madrasah, nanti kalau menulis lafad basmalah di papan tulis, lalu dihapus. Bagaimana sisa-sisa...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu
Mei30

Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

KALAU menurut Almarhum Kiai Hasani, sekarang susah cari ilmu. Karena kebanyakan gurunya tidak karena Allah dan yang ngaji juga tidak karena Allah. Jadi bertemunya murid dan guru yang ikhlas, ini yang bisa menciptakan ilmu manfaat. Almarhum KH. Abdul Adhim, kalau ngaji kitab, lampunya dibawa sendiri dari dalem-nya. Kata Kiai Hasani, “Saking wedine gak ikhlas, Kang Adhim ghowo lampu teko umahe, gowo dewe.” Setelah ngaji, ketika lampunya mau dibawakan, beliau tidak mau. Mau tidak manfaat bagaimana ilmunya? Kita ingin sekali punya santri yang betul-betul manfaat. Kita tidak henti-henti mendoakan santri. Sehabis Subuh mintakan santri semoga ilmunya manfaat. Ini tak ada putusnya, saking kepingine. Tapi ya tergantung santrinya juga. Kalau santri memang betul-betul, insyaAllah berhasil. Dawuh Kiai Hasani, dari pada berdoa, lebih baik mengubah tingkah. Kita berdoa minta selamat, tapi berjalan di tengah jalan, ya, mungkin susah untuk selamat. Kamu tidak usah berdoa. Kamu jalan minggir saja, hati-hati. Karena tingkah itu adalah doa. Orang tua juga penting. Sementara orang tua sekarang cuma sibuk nyambut gawe tok, sibuk kerja. Anaknya pulang malam tidak diurus. Sekarang malah lebih mahal ayam daripada anak. Ayam tidak pulang sore saja dicari ke tetangga-tetangga. Anaknya tidak pulang semalaman tidak dihiraukan. Kalau nakal ditaruh di pondok. Masya Allah, ya, ini bingung. “Sik muruk sik dungakno”. Sedangkan anaknya tidak ada kemauan sama sekali. Makanya banyak yang gagal. Jadi tergantung anaknya, niatnya apa di situ. Insya Allah, kalau kiainya Lillâhi Taâlâ, santrinya juga karena Allah, maka ilmunya akan manfaat. Wali murid itu kadang salah faham. Anaknya pulang dari pondok malah diberi kebebasan. Setahun ditahan, mumpung pulang, diberi kebebasan. Dari awal tahun diberi pengertian baik-baik, akhir tahun, kok, malah dihapus. Dawuh Kiai Hasani, apa-apa kalau punya niat tapi belum berhasil, tandanya niatnya masih setengah-setengah. Kalau punya niat 100%, pasti berhasil. Beliau pernah memberi ujian pada saya. Kata beliau, “Sekarang banyak amar makruf nahi mungkar, kok batilnya lebih banyak? Padahal dawuhnya Allah tidak begitu. Kalau ada haq, pasti bathil sirna (Idzâ jâal-haqqu wa zahaqal-bâthil). Ini kok malah banyak haq, tapi bathilnya lebih banyak? Yang salah itu al-Quran apa siapa?” Saya jawab, ya, orangnya. Ya, betul. Sebab Allah sudah berfirman di al-Quran. Kok masih tidak cocok? Berarti haq-nya ini tidak 100%. Masih bercampur hawa nafsu. Makanya para guru dan pengajar harus menjaga haq agar tidak bercampur hawa nafsu, dengan demikian amblas bathilnya. Ya, pakai latihan dulu. Guru juga begitu, latihan ikhlas. Orang yang mau berlatih pasti berhasil. Kamu lihat angkat besi di TV. Tidak langsung 100 kg. Semua sama, ototnya sama. Kenapa dia bisa mengangkat 100 kg? Semua itu karena latihan. Santri juga begitu, harus latihan. Dawuh Kiai Hasani, mari kita biasakan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sebagai murid, harus benar-benar latihan....

Selengkapnya