Derajat Istimewa, Merasa Hina dalam Takwa
Des06

Derajat Istimewa, Merasa Hina dalam Takwa

ما الشأن في شهود التقصير في التقصير. انما الشأن شهود التقصير في التشمير “Bukanlah sesuatu yang istimewa jika seseorang merasa bersalah sedangkan dia memang dalam posisi salah. Yang istimewa adalah seseorang yang merasa dirinya keliru padahal dia adalah sosok yang memiliki semangat tinggi dalam kebajikan.” Seorang hamba yang bermaksiat, kemudian sadar, beristigfar, menangis dan bersujud kepada Allah dalah sesuatu yang wajar. Karena memang hal yang sedemikian itu yang harus dilakukan. mereka yang melakukan kesalahan, lalu merasa paling rendah ketika berbaur dengan yang lain bukanlah sesuatu yang istimewa. Karena yang luar biasa adalah merasa hina padahal dirinya berada dalam derajat yang tinggi. Salah satu contoh sosok yang hebat adalah Rasulullah. Sekalipun Allah telah memastikan kesuciannya dari segala dosa, Rasulullah tidak pernah lupa untuk memohon ampun pada Zat yang Maha Pengampun. Bayangkan saja. Sekelas Rasulullah yang sudah mendapat jaminan surga dari Allah, dalam hadits yang diceritakan sahabat Abi Hurairah menyebutkan bahwa istighfar yang dibaca setiap harinya tidak kurang dari 70 kali. عن ابي هريرة رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول والله اني لاستغفرالله واتوب اليه في اليوم أكثر من سبعين مرة روا البخاري “Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali”(HR. Bukhari) Bahkan dalam riwayat sahabat Aghar bin Yasar al-Muzanni megakatan istighfar yang dibaca Rasulullah tidak kurang dari 100 kali setiap hari. وعن الاغر بن يسار المزني رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا ايها الناس توبوا الى الله واستغفروه فاني اتوب في اليوم اليه مائة مرة  رواه مسلم “Wahai manusia! Bertaubat dan beristighfarlah  kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari tidak kurang 100 kali” (HR. Muslim) Melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sangat tidak pantas jika kita selalu merasa benar sendiri dan tidak mau menyibukkan hati dan lidah kita untuk beristighfar kepada Allah. Masjid Jamik Sidogiri: Habib Taufiq Bin Abdul Qodir As-Segaf menjelaskan tentang derajat yang istimewa di sisi Allah SWT. terlepas dari pembahasan di atas. Ada satu model manusia yang tidak memiliki nilai kebaikan sama sekali, yaitu mereka yang berkamuflase. Banyak melakukan dosa tapi berpenampilan seperti orang yang khusyuk dan memakai pakaian orang-orang saleh untuk mengabarkan pada khalayak umum bahwa dia adalah orang saleh. Orang semacam ini tidak jauh beda dengan penipu. Rasulullah bersabda: من تشبع بما لم يعط كلابس زور “Merasa puas dengan apa yang tidak ada dalam dirinya adalah bentuk dari penipuan.” Bedakan antara orang yang meniru penampilan orang yang saleh dengan tujuan berkamuflase dengan mereka yang berjuan untuk menunjukkan rasa cintanya pada orang-orang saleh. Dari apa yang sudah dibahas, ada tiga golongan berbeda. Dan golongan terbaik adalah merasa hina padahal dirinya berada dalam derajat yang...

Selengkapnya
Jangan Keliru Memahami Arti Ahli Bait
Nov21

Jangan Keliru Memahami Arti Ahli Bait

Habib Taufiq Bin Abdul QOdir As-Segaf saat menyampaikan pengajian di depan santri. Kekeliruan memahami tentang siapa ahli bait bukan sesuatu yang baru. Salah satunya adalah kelompok yang menyatakan bahwa ahli bait hanya Sayyidina Ali, Sayyina Hasan, Sayyidina Husain dan Sayyidatina Fatimah. Kita sebagai umat Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah tidak harus memutar otak untuk mencari dalil bantahan terhadap argumen mereka. Sebab, hampir di setiap muqaddimah kitab ulama salaf terdapat keterangan yang begitu jelas, contohnya dalam kitab Fathul Mu’in: وعلى آله) اي أقاربه المؤمنين من بني هاشم والمطلب) “Ahlunnabi adalah kerabat nabi dari keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang beriman.” Dari satu sisi, ahli bait dibagi menjadi dua. Pertama, ahli bait sukna, yaitu para istri nabi. Kedua adalah ahli bait nasab, yakni para keturunan Rasulullah dari Sayyidina Hasan dan Husain. Dengan begitu, mengkhususkan ahli bait pada keempat sosok tadi dengan menafikan para keturunannya adalah pemikiran yang cacat. Mereka yang memiliki anggapan demikian sama halnya berujar bahwa pohon itu hanya akarnya saja, sementara batang, ranting dan daunnya tidak termasuk bagian dari pohon. Ini jelas keliru dan tidak perlu ragu mengatakan bahwa pernyataan mereka salah. Baca Juga: Santri Harus Sehat Lahir Batin Kemudian, ada juga yang berdalih bahwa pernyataan ahli bait hanya terdiri dari empat orang berasal dari perbedaan antara آل dan اهل , padahal kedua lafaz tersebut satu makna. Buktinya, ketika ditasghir, hasilnya sama yaitu اهيل . Bahkan, ulama sekelas Imam Syafii tidak membedakan kedua lafaz tersebut. Hal ini dapat kita lihat dari syairnya yang berbunyi: يا اهل بيت رسول الله حبكم # فرض من الله في القرأن أنزله يكفيكم من عظيم الفخر أنكم # من لم يصل عليكم لا صلاة له “Duhai keluarga Rasulullah! Mencintai kalian, Allah haruskan dalam al-Qur’an-Nya. Cukuplah menjadi bukti keagungan kalian. Bahwa siapapun yang tidak bershalawat pada kalian, maka shalatnya tidaklah diterima.” Dalam syair ini beliau mengungkapkan kewajiban shalawat pada ahli bait di tahyat akhir (qaul qadim) menggunakan lafaz اهل. Sementara  hadits yang dijadikan dasar penggalian hukum wajibnya menggunakan lafaz  آل. Jika masih ada yang bersikukuh bahwa ahli bait hanya tertentu pada empat sosok. Maka, dia adalah orang yang mengingkari para keturunan...

Selengkapnya
Persaudaraan Laksana Pohon
Jan23

Persaudaraan Laksana Pohon

al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Persaudaraan di jalan Allah laksana sebuah pohon yang harus disiram dengan air (Saling Berziarah) “Perumpaan persaudaraan di jalan Allah diibaratkan sebuah pohon yang harus disiram dengan air ( dengan saling berziarah) dan nantinya akan membuahkan rasa saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, apabila tidak disiram maka pohon itu akan kering, dan apabila tidak berbuah maka akan dipotong.” Demikian penyampaian isi dari Kitab Hikam karya al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang dibacakan dan diterjemahkan oleh al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf, pada pengajian Malam Jumat kemarin (17/01) di Masjid Jami’ Sidogiri. Baca juga :Al-Habib Taufiq Bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya Ukhuwah fillah itu penting dan ukhuwah itulah disebut mukmin, karena ukhuwah fillah menjadi lambang kekuatan iman. Ukhuwah ini ditandai dengan cinta dan benci karena Allah. Walau bersaudara, apabila ditemukan kekeliruan dan kesalahan maka saudara yang baik akan membencinya karena Allah. Seperti dicontohkan seorang mukmin yang bersaudara dengan seseorang yang baik, dan dia mencintainya karena Allah. Dan suatu waktu ternyata orang yang awalnya baik itu melakukan penghinaan terhadap nabi, maka sebagai mukmin adalah membencinya karena Allah bukan malah membelanya tetapi harus diluruskan dan dibenarkan. Apabila sudah menemukan sosok yang memiliki jiwa ukhuwah fillah maka harus dirawat dengan cara saling berziarah (silaturahim). Ibarat pohon yang harus disirami agar terus hidup, maka seperti itulah menjaga ukuwah dengan berkunjung. Allah telah menginformasikan dalam al-Quran bahwa yang akan mendapat mahabbah Allah adalah yang saling cinta karena Allah, saling duduk karena Allah, saling membantu karena Allah, dan saling berziarah karena Allah.  Bahkan dalam hadits dijelaskan bahwa mereka yang mengunjungi saudaranya karena Allah akan diiringi malaikat sebanyak 70.000. Baca juga: Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Shadaqah Lebih Baik dari Menyimpan Harta Diceritakan dalam hadits Nabi, ada orang yang berziarah kepada saudaranya di suatu daerah. Allah mengirimkan satu malaikat yang menjelma manusia. Ketika malaikat itu bertemu dengan orang tersebut, malaikat itupun menanyakan alasan kenapa mengunjungi saudaranya itu. Orang itu menjawab karena orang itu cinta kepada Allah. Malaikat yang menjelma manusia tadi akhirnya mengakui sebenarnya ia diutus Allah untuk memberi kabar bahwa Allah cinta kepada orang tersebut karena orang tadi cinta kepada saudaranya. al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Ziarahlah waqtu ba’da waqtin Habib Taufiq juga menyarankan agar tidak terlalu sering berkunjung atau berziarah ke saudaranya. Karena ibarat pohon jangan terlalu banyak disiram, siramlah secukupnya. Selain itu, beliau juga tidak menginginkan terlalu jarang mengunjungi saudaranya nanti jadi menjauh. “Ziarahlah waqtu ba’da waqtin, jangan terlalu sedikit berkunjung nanti menjauh, dan berhentilah ziarah tiap hari nanti bisa bosen”, pesan Habib Taufiq yang merupakan cucu Habib Jakfar Syaikhon Pasuruan ini. Musyafal...

Selengkapnya
Habib Taufiq as-Segaf: Perumpamaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya
Jan03

Habib Taufiq as-Segaf: Perumpamaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya

Malam Jumat (03/01) Pengajian Kitab Hikam karya al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang disampaikan oleh al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf sudah sampai pada pembahasan tentang perumpaan orang yang berbuat dosa untuk bertaubat setelahnya. Bertempat di lantai I Masjid Jami’ Sidogiri ini, pengajian beliau tidak pernah sepi. Untuk tadi malam saja walau hawa dingin sehabis hujan, santri Sidogiri yang tidak ada halangan menyempatkan hadir dan memenuhi lantai I masjid. Dalam pembahasan tentang ini, al-Habib Taufiq terlebih dahulu memaparkan maksud dari ibarat kitab Hikam Habib Abdullah ini. Perumpaan orang yang ingin berbuat dosa dengan niatan akan melakukan taubat setelahnya bagaikan orang yang mengotori badannya atau pakaiannya agar nanti bisa dibersihkan. Jadi, ada orang punya baju bersih, kemudian menumpahkan kotoran pada baju itu agar nanti dibersihkan. Hal seperti itu seharusnya tidak patut dilakukan. Seharusnya yang benar itu adalah menjaga diri semampunya agar tidak kotor. Baru nanti kalau tidak sengaja terkotori karena lupa, maka ada kewajiban untuk membersihkannya seketika itu. “Ada orang bersih bajunya, bersih badannya, lalu dia berkata ‘ayo mumpung bersih kita kotori saja, nanti kita bersihkan’. Ini orang gak waras, ini bukan perbuatan orang yang berakal tapi perbuatan orang yang gak waras”, terang beliau mencoba memberi pemahaman tentang perumpaan orang yang berbuat dosa dengan orang punya baju tapi sengaja dikotori agar nanti dibersihkan. Beliau, al-Habib Taufiq juga mengumpamakan dengan orang yang punya baju baru, lalu disobek dengan sengaja agar bisa dijahit. Hal itu menurut beliau sebagaimana yang tertulis dalam kitab Hikam bahwasannya hal semacam itu seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang berakal. Kalau nanti memang baju baru itu tidak sengaja sobek, maka perlu dijahit. Hal tersebut sama saja dengan ketika melakukan taubat. Orang taubat itu terjadi kalau ada orang sudah menjaga diri agar tidak maksiat, ternyata akhirnya terjerumus karena godaan Setan atau hawa nafsu, maka taubat di sini adalah harus dilakukan seketika. Bukan malah merencanakan maksiat dengan maksud akan melakukan taubat setelahnya. Beliau memperingatkan agar tidak meremehkan dosa, karena bisa saja dari sifat meremehkan itu mengakibatkan dosa jadi tidak terampuni. Karena itu menunda untuk taubat merupakan pasukan Iblis. “Jangan ikuti penundaan-penundaan perbuatan baik itu sampai menunggu esok hari, mungkin saja esok hari datang kita sudah di liang lahat”, kata beliau untuk mengingatkan tentang bahaya menunda-nunda amal baik. Langkah untuk sampai kepada Allah atau wushul ila Allah adalah berubah atau bertaubat dengan sebenar-benarnya kembali kepada Allah. Baru kemudian bisa memperbanyak amal-amal baik. Hal ini yang telah dicontohkan oleh Syaikhu Thariqah dalam pengajarannya. Demikian itu dijelaskan oleh Habib Taufiq dengan tegas agar para hadirin yang mayoritas santri aktif itu agar mendahulukan taubat sebelum meningkatkan amal bagus. _______________________ Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting
Sep15

Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting

Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri pada tanggal 26 Muharram 1433/21 Desember 2011 meresmikan badan penghimpun dana maslahah abadi yang diberi nama DIM (Dana Investasi Maslahah) Sidogiri. Badan ini bertugas untuk menghimpun dana dari para investor untuk digunakan pada kemaslahatan Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Dana yang terkumpul tersebut kemudian dikelola oleh pengurus pesantren dan hasilnya digunakan pada kemaslahatan di atas. Sehingga berapa pun nominal yang disumbambangkan, dana tersebut tetap abadi dan terus meningkat. Badan ini dibentuk sebagai bentuk konsistensi Sidogiri untuk terus mengembangakan sistem pendidikan dan melebarkan sayap dakwahnya ke berbagai tempat di nusantara. “Pondok Pesantren Sidogiri ini semakin lama ingin mengembangkan sayap dakwahnya dengan mengirimkan dai ke mana-mana. Dan dai itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi kita cari dana dari masyarakat agar dana yang sedikit itu bisa  menjadi besar dengan sendirinya. Jadi minta sekali, tapi bisa berhasil berkali-kali. Dengan artian, dana itu akan dibuat usaha sekiranya tidak minta setiap tahun,” tutur Mas d. Nawawy Sadoellah, Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, ketika ditanyakan latar belakang dibentuknya DIM Sidogiri. Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya objek dakwah yang saat ini masih belum tersentuh. “Kita kan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak penting,” ungkapnya. Beliau juga menjelaskan bahwa alasan dari minimnya guru-guru atau tenaga dai yang mau menggarap objek dakwah tersebut adalah sebab minimnya kemampuan finansial. Jadi dengan adanya DIM Sidogiri ini pengurus nantinya mengupayakan untuk membiayai kebutuhan hidup guru-guru atau dai yang dikirim. Sebab dari tahun ke tahun permintaan guru tugas kian meningkat. Dan secara otomatis pula biayanya juga semakin besar. Beliau juga menggugah alumni Sidogiri untuk meneruskan perjuangan dakwah tersebut. “Karena intinya Sidogiri itu ya di perjuangan. Keberhasilan santri menurut dawuhnya KH. Cholil Nawawie itu adalah yang mempunyai kemauan untuk mengajar. Jadi, santri sukses itu bukan hanya yang kaya,” tutur beliau. Beliau juga berpesan kepada santri menjelang kelulusan ini, “Semangat belajarnya harus tetap tinggi. Dan yang penting kejujurannya. Santri sekarang itu masih senang lulus daripada jujur. Padahal kesuksesan yang benar itu menurut saya adalah santri yang jujur meskipun akibatnya dia tidak lulus. Dan lulus-tidak lulus itu cuma efek atau bonus. Yang paling gagal adalah yang senang lulus biar pun curang, itu santri yang gagal,” ungkapnya...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”
Sep04

Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”

Rasulullah pernah bersabda, “Bukanlah bagian dari kami, mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak menghormati yang lebih tua. Begitu juga mereka yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” Dari sini dapat dipahami betapa pentingnya akhlaqul karimah. Bagaimana cara berinteraksi dengan yang lebih tua mau pun yang lebih muda. Harus mengerti posisi. Bila berhadapan dengan yang lebih muda, maka harus menampakkan rasa kasih sayang. Bila berhadapan dengan yang lebih tua maka harus menghormati. Lebih-lebih jika mereka adalah seorang guru, meskipun hanya guru fan. Sebagai penuntut ilmu, kita harus tetap teguh menjaga akhlaqul karimah. Sebab akhlaqul karimah adalah kunci utama pembuka pintu kesuksesan. Apalagi masih dihiasi dengan adanya ilmu yang memadai, pintu itu akan semakin terbuka memberikan berjuta harapan dan akan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu tanpa akhlaqul karimah akan terasa hambar. Tidak akan memberikan manfaat bagi pimiliknya dan orang-orang di sekitarnya. Bahkan bisa menimbulkan hal-hal yang membahayakan. Karakter Iblis bisa dijadikan sebuah contoh. Iblis adalah mahluk yang tercipta dengan segudang ilmu. Ilmu terbang mereka bisa. Ilmu menyelam mereka kuasai. Namun sayangnya mereka tidak memiliki akhlaqul karimah. Mereka selalu sombong, congkak, dan banyak membangkang terhadap perintah Allah. Sehingga tidak mungkin bisa dekat kepada Allah Swt. Dan akhir kehidupannya tidak akan membahagiakan. Beda halnya dengan malaikat. Meski ilmu mereka tidak banyak. Mereka lebih mengutamakan akhlaqul karimah. Tidak terlalu banyak bertanya pada apa yang Allah Swt perintahkan. Diperintah sujud, mereka langsung bersujud. Diperintah membaca tasbih, mereka langsung bertasbih. Sehingga mereka lebih dekat dengan-Nya, serta dijadikan mahluk yang suci dan mulia. Begitu juga para santri, khususnya santri Pondok Pesantren Sidogiri. Bila  mereka senantiasa menjaga akhlaqul karimah, maka akan sangat mudah untuk bertaqorrub pada Allah. Akan lebih mudah menggapai kesuksesan. Dan memang sejak dulu, yang diunggulkan dari santri Sidogiri adalah akhlaqnya. Selain itu, saya juga berpesan pada para santri Sidogiri, agar tidak lupa untuk selalu mengirimkan fatihah pada para masyayikh yang ada di belakang masjid. Jangan sampai santri itu lupa pada akarnya. Sebab bila sampai lupa pada akarnya, akan seperti pohon tanpa akar, dia akan mati. ===== Penulis: M_Sen Sumber: Kabar...

Selengkapnya