Persaudaraan Laksana Pohon
Jan23

Persaudaraan Laksana Pohon

al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Persaudaraan di jalan Allah laksana sebuah pohon yang harus disiram dengan air (Saling Berziarah) “Perumpaan persaudaraan di jalan Allah diibaratkan sebuah pohon yang harus disiram dengan air ( dengan saling berziarah) dan nantinya akan membuahkan rasa saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, apabila tidak disiram maka pohon itu akan kering, dan apabila tidak berbuah maka akan dipotong.” Demikian penyampaian isi dari Kitab Hikam karya al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang dibacakan dan diterjemahkan oleh al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf, pada pengajian Malam Jumat kemarin (17/01) di Masjid Jami’ Sidogiri. Baca juga :Al-Habib Taufiq Bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya Ukhuwah fillah itu penting dan ukhuwah itulah disebut mukmin, karena ukhuwah fillah menjadi lambang kekuatan iman. Ukhuwah ini ditandai dengan cinta dan benci karena Allah. Walau bersaudara, apabila ditemukan kekeliruan dan kesalahan maka saudara yang baik akan membencinya karena Allah. Seperti dicontohkan seorang mukmin yang bersaudara dengan seseorang yang baik, dan dia mencintainya karena Allah. Dan suatu waktu ternyata orang yang awalnya baik itu melakukan penghinaan terhadap nabi, maka sebagai mukmin adalah membencinya karena Allah bukan malah membelanya tetapi harus diluruskan dan dibenarkan. Apabila sudah menemukan sosok yang memiliki jiwa ukhuwah fillah maka harus dirawat dengan cara saling berziarah (silaturahim). Ibarat pohon yang harus disirami agar terus hidup, maka seperti itulah menjaga ukuwah dengan berkunjung. Allah telah menginformasikan dalam al-Quran bahwa yang akan mendapat mahabbah Allah adalah yang saling cinta karena Allah, saling duduk karena Allah, saling membantu karena Allah, dan saling berziarah karena Allah.  Bahkan dalam hadits dijelaskan bahwa mereka yang mengunjungi saudaranya karena Allah akan diiringi malaikat sebanyak 70.000. Baca juga: Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Shadaqah Lebih Baik dari Menyimpan Harta Diceritakan dalam hadits Nabi, ada orang yang berziarah kepada saudaranya di suatu daerah. Allah mengirimkan satu malaikat yang menjelma manusia. Ketika malaikat itu bertemu dengan orang tersebut, malaikat itupun menanyakan alasan kenapa mengunjungi saudaranya itu. Orang itu menjawab karena orang itu cinta kepada Allah. Malaikat yang menjelma manusia tadi akhirnya mengakui sebenarnya ia diutus Allah untuk memberi kabar bahwa Allah cinta kepada orang tersebut karena orang tadi cinta kepada saudaranya. al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Ziarahlah waqtu ba’da waqtin Habib Taufiq juga menyarankan agar tidak terlalu sering berkunjung atau berziarah ke saudaranya. Karena ibarat pohon jangan terlalu banyak disiram, siramlah secukupnya. Selain itu, beliau juga tidak menginginkan terlalu jarang mengunjungi saudaranya nanti jadi menjauh. “Ziarahlah waqtu ba’da waqtin, jangan terlalu sedikit berkunjung nanti menjauh, dan berhentilah ziarah tiap hari nanti bisa bosen”, pesan Habib Taufiq yang merupakan cucu Habib Jakfar Syaikhon Pasuruan ini. Musyafal...

Selengkapnya
Al-Habib Taufiq Bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya
Jan03

Al-Habib Taufiq Bin Abdul Qadir as-Seggaf: Perumpaan Orang yang Berbuat Dosa Untuk Taubat Setelahnya

Malam Jumat (03/01) Pengajian Kitab Hikam karya al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang disampaikan oleh al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf sudah sampai pada pembahasan tentang perumpaan orang yang berbuat dosa untuk bertaubat setelahnya. Bertempat di lantai I Masjid Jami’ Sidogiri ini, pengajian beliau tidak pernah sepi. Untuk tadi malam saja walau hawa dingin sehabis hujan, santri Sidogiri yang tidak ada halangan menyempatkan hadir dan memenuhi lantai I masjid. Dalam pembahasan tentang ini, al-Habib Taufiq terlebih dahulu memaparkan maksud dari ibarat kitab Hikam Habib Abdullah ini. Perumpaan orang yang ingin berbuat dosa dengan niatan akan melakukan taubat setelahnya bagaikan orang yang mengotori badannya atau pakaiannya agar nanti bisa dibersihkan. Jadi, ada orang punya baju bersih, kemudian menumpahkan kotoran pada baju itu agar nanti dibersihkan. Hal seperti itu seharusnya tidak patut dilakukan. Seharusnya yang benar itu adalah menjaga diri semampunya agar tidak kotor. Baru nanti kalau tidak sengaja terkotori karena lupa, maka ada kewajiban untuk membersihkannya seketika itu. “Ada orang bersih bajunya, bersih badannya, lalu dia berkata ‘ayo mumpung bersih kita kotori saja, nanti kita bersihkan’. Ini orang gak waras, ini bukan perbuatan orang yang berakal tapi perbuatan orang yang gak waras”, terang beliau mencoba memberi pemahaman tentang perumpaan orang yang berbuat dosa dengan orang punya baju tapi sengaja dikotori agar nanti dibersihkan. Beliau, al-Habib Taufiq juga mengumpamakan dengan orang yang punya baju baru, lalu disobek dengan sengaja agar bisa dijahit. Hal itu menurut beliau sebagaimana yang tertulis dalam kitab Hikam bahwasannya hal semacam itu seharusnya tidak dilakukan oleh orang yang berakal. Kalau nanti memang baju baru itu tidak sengaja sobek, maka perlu dijahit. Hal tersebut sama saja dengan ketika melakukan taubat. Orang taubat itu terjadi kalau ada orang sudah menjaga diri agar tidak maksiat, ternyata akhirnya terjerumus karena godaan Setan atau hawa nafsu, maka taubat di sini adalah harus dilakukan seketika. Bukan malah merencanakan maksiat dengan maksud akan melakukan taubat setelahnya. Beliau memperingatkan agar tidak meremehkan dosa, karena bisa saja dari sifat meremehkan itu mengakibatkan dosa jadi tidak terampuni. Karena itu menunda untuk taubat merupakan pasukan Iblis. “Jangan ikuti penundaan-penundaan perbuatan baik itu sampai menunggu esok hari, mungkin saja esok hari datang kita sudah di liang lahat”, kata beliau untuk mengingatkan tentang bahaya menunda-nunda amal baik. Langkah untuk sampai kepada Allah atau wushul ila Allah adalah berubah atau bertaubat dengan sebenar-benarnya kembali kepada Allah. Baru kemudian bisa memperbanyak amal-amal baik. Hal ini yang telah dicontohkan oleh Syaikhu Thariqah dalam pengajarannya. Demikian itu dijelaskan oleh Habib Taufiq dengan tegas agar para hadirin yang mayoritas santri aktif itu agar mendahulukan taubat sebelum meningkatkan amal bagus. _______________________ Penulis : Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting
Sep15

Ngaji Maring Mas d. Nawawy Sadoellah; Kita Sibuk dengan Hal yang Tidak Penting

Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri pada tanggal 26 Muharram 1433/21 Desember 2011 meresmikan badan penghimpun dana maslahah abadi yang diberi nama DIM (Dana Investasi Maslahah) Sidogiri. Badan ini bertugas untuk menghimpun dana dari para investor untuk digunakan pada kemaslahatan Pondok Pesantren Sidogiri dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Dana yang terkumpul tersebut kemudian dikelola oleh pengurus pesantren dan hasilnya digunakan pada kemaslahatan di atas. Sehingga berapa pun nominal yang disumbambangkan, dana tersebut tetap abadi dan terus meningkat. Badan ini dibentuk sebagai bentuk konsistensi Sidogiri untuk terus mengembangakan sistem pendidikan dan melebarkan sayap dakwahnya ke berbagai tempat di nusantara. “Pondok Pesantren Sidogiri ini semakin lama ingin mengembangkan sayap dakwahnya dengan mengirimkan dai ke mana-mana. Dan dai itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jadi kita cari dana dari masyarakat agar dana yang sedikit itu bisa  menjadi besar dengan sendirinya. Jadi minta sekali, tapi bisa berhasil berkali-kali. Dengan artian, dana itu akan dibuat usaha sekiranya tidak minta setiap tahun,” tutur Mas d. Nawawy Sadoellah, Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, ketika ditanyakan latar belakang dibentuknya DIM Sidogiri. Beliau juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap banyaknya objek dakwah yang saat ini masih belum tersentuh. “Kita kan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak penting,” ungkapnya. Beliau juga menjelaskan bahwa alasan dari minimnya guru-guru atau tenaga dai yang mau menggarap objek dakwah tersebut adalah sebab minimnya kemampuan finansial. Jadi dengan adanya DIM Sidogiri ini pengurus nantinya mengupayakan untuk membiayai kebutuhan hidup guru-guru atau dai yang dikirim. Sebab dari tahun ke tahun permintaan guru tugas kian meningkat. Dan secara otomatis pula biayanya juga semakin besar. Beliau juga menggugah alumni Sidogiri untuk meneruskan perjuangan dakwah tersebut. “Karena intinya Sidogiri itu ya di perjuangan. Keberhasilan santri menurut dawuhnya KH. Cholil Nawawie itu adalah yang mempunyai kemauan untuk mengajar. Jadi, santri sukses itu bukan hanya yang kaya,” tutur beliau. Beliau juga berpesan kepada santri menjelang kelulusan ini, “Semangat belajarnya harus tetap tinggi. Dan yang penting kejujurannya. Santri sekarang itu masih senang lulus daripada jujur. Padahal kesuksesan yang benar itu menurut saya adalah santri yang jujur meskipun akibatnya dia tidak lulus. Dan lulus-tidak lulus itu cuma efek atau bonus. Yang paling gagal adalah yang senang lulus biar pun curang, itu santri yang gagal,” ungkapnya...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”
Sep04

Ngaji Maring KH. Hasbullah Mun’im; “Akhlaqul Karimah Sebagai Kuncinya”

Rasulullah pernah bersabda, “Bukanlah bagian dari kami, mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak menghormati yang lebih tua. Begitu juga mereka yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” Dari sini dapat dipahami betapa pentingnya akhlaqul karimah. Bagaimana cara berinteraksi dengan yang lebih tua mau pun yang lebih muda. Harus mengerti posisi. Bila berhadapan dengan yang lebih muda, maka harus menampakkan rasa kasih sayang. Bila berhadapan dengan yang lebih tua maka harus menghormati. Lebih-lebih jika mereka adalah seorang guru, meskipun hanya guru fan. Sebagai penuntut ilmu, kita harus tetap teguh menjaga akhlaqul karimah. Sebab akhlaqul karimah adalah kunci utama pembuka pintu kesuksesan. Apalagi masih dihiasi dengan adanya ilmu yang memadai, pintu itu akan semakin terbuka memberikan berjuta harapan dan akan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu tanpa akhlaqul karimah akan terasa hambar. Tidak akan memberikan manfaat bagi pimiliknya dan orang-orang di sekitarnya. Bahkan bisa menimbulkan hal-hal yang membahayakan. Karakter Iblis bisa dijadikan sebuah contoh. Iblis adalah mahluk yang tercipta dengan segudang ilmu. Ilmu terbang mereka bisa. Ilmu menyelam mereka kuasai. Namun sayangnya mereka tidak memiliki akhlaqul karimah. Mereka selalu sombong, congkak, dan banyak membangkang terhadap perintah Allah. Sehingga tidak mungkin bisa dekat kepada Allah Swt. Dan akhir kehidupannya tidak akan membahagiakan. Beda halnya dengan malaikat. Meski ilmu mereka tidak banyak. Mereka lebih mengutamakan akhlaqul karimah. Tidak terlalu banyak bertanya pada apa yang Allah Swt perintahkan. Diperintah sujud, mereka langsung bersujud. Diperintah membaca tasbih, mereka langsung bertasbih. Sehingga mereka lebih dekat dengan-Nya, serta dijadikan mahluk yang suci dan mulia. Begitu juga para santri, khususnya santri Pondok Pesantren Sidogiri. Bila  mereka senantiasa menjaga akhlaqul karimah, maka akan sangat mudah untuk bertaqorrub pada Allah. Akan lebih mudah menggapai kesuksesan. Dan memang sejak dulu, yang diunggulkan dari santri Sidogiri adalah akhlaqnya. Selain itu, saya juga berpesan pada para santri Sidogiri, agar tidak lupa untuk selalu mengirimkan fatihah pada para masyayikh yang ada di belakang masjid. Jangan sampai santri itu lupa pada akarnya. Sebab bila sampai lupa pada akarnya, akan seperti pohon tanpa akar, dia akan mati. ===== Penulis: M_Sen Sumber: Kabar...

Selengkapnya
#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq
Agu15

#NgajiMaring Mas. H. Sholeh Abdul Haq

Tugasnya guru tugas itu untuk membantu madrasah di tempatnya bertugas. Bagaimana sekiranya dengan adanya guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri, kegiatan belajar mengajar bisa terlaksana dengan lancar. Tidak ada kelas yang kosong, kegiatan-kegiatan yang kosong. Dengan adanya pengiriman guru tugas inilah, kegiatan madrasah-madrasah bisa terlaksana dengan baik sesuai yang telah diprogramkan di madrasah tersebut.Kalau kegiatan madrasah sudah dilaksankan dengan baik, terus menerus secara rutin, maka nanti hasilnya akan baik. Jadi ini pada intinya. Di samping guru tugas itu harus menjadi uswah hasanah di dalam melaksanakan kegiatan dan pengamalan hukum-hukum keagamaan.  Karena itu memang tugas mereka. Mengajar, mengamalkan ilmu dan memberi contoh uswah hasanah. Baca Juga:  Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu Baca Juga: #Ngaji Maring KH. Foad Noer Hasan Kata Wakil Ketua Umum PPS, Mas d. Nawawy Sadoellah, guru tugas itu jendela Sidogiri. Untuk mengetahui keadaan di Sidogiri, cukup melihat pada guru tugas. Guru tugas itu jadi jendela bagi mereka untuk bisa melihat, bagaimana Sidogiri. Kalau guru tugas itu akhlaknya bagus, maka Sidogirinya sudah dianggap bagus. Karena guru tugas itu jadi jendela. Guru tugas yang mengamalkan semua kebaikan-kebaikan yang didapat di pesantren, seperti memberi uswah pada murid dan masyarakat, mengamalkan ilmu agama, semacam shalat dhuha dan tahajjud. Jadi kalau dari segi itu mereka sukses, maka mereka dianggap sukses dalam menjalankan tugasan. Kalau ternyata mereka menyalahi tata tertib, tidak memberi contoh uswah hasanah, maka bisa jadi mereka tidak lulus, otomatis tidak sukses. Ada tiga mashlahah yang ingin dicapai, yaitu mashlahah kepada guru tugas, kepada tempat tugas dan kepada PPS. Guru tugas yang bertugas dengan baik, mereka bisa mengerti bahwa mereka sedang berkhidmah, membaca kekurangan diri, mengembangkan ilmunya dan di samping dia juga bisa bertambah mendapat ilmu bermasyarakat. Sedangkan bagi tempat tugasnya, madrasah di sana bisa merasakan manfaat dengan kedatangan guru tugas, juga bisa mendapat tambahan tenaga. Sebab di madrasah-madrasah di luar sana sedikit sekali tenaga pengajarnya. Dengan adanya guru tugas, kemungkinan besar kegiatan madrasah bisaterlaksana dengan baik. Dengan adanya pengiriman guru tugas ini, pondok berarti telah melatih santrinya untuk terjun secara langsung ke masyarakat. Sangat diharapkan semua guru tugas itu bisa melaksanakan apa yang menjadi tujuan dari Sidogiri dalam pengiriman guru tugas. Almarhum KH. Sirajuddin Millah Waddin pernah dawuh, bahwa PJGT (Penanggung Jawab Guru Tugas, red) yang loyal pada Sidogiri, dalam artian mengikuti terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan pengurus, harus lebih didahulukan dalam pemberian guru tugas. Mengapa demikian, sebab jumlah guru tugas dan jumlah pemohon lebih banyak jumlah pemohon, untuk bisa memenuhi hal tersebut, maka pengurus perlu melihat, sing gati, gatê’no. Artinya, PJGT yang loyal kepada PPS, yang benar-benar taat peraturan dalam pengambilan guru tugas, harus lebih didahulukan. Begitulah yang dipesankan oleh...

Selengkapnya
Mas Bari Sampaikan Pesan-Pesan Kiai Hasani
Agu08

Mas Bari Sampaikan Pesan-Pesan Kiai Hasani

Bertempat di Ruang Auditorium Sekretariat, Pengurus Ubudiyah bersama stafnya melakukan koordinasi bulanan. Koordinasi ini dihadiri oleh salah satu keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Abdul Bari HS, Ahad (05/08). Dalam kesempatan tersebut, Mas Abdul Bari membacakan 10 wasiat dari Kiai Hasani bin Nawawie bin Noerhasan berkenaan dengan aktifitas yang ada di Masjid Jami’ Sidogiri. Berikut wasiat tersebut: “Lek kesusu melebu masjid, mending gak usah salat tahiyatal masjid, eman. Gak onok tumaknina’e.” (Kalau terburu-buru masuk masjid, lebih baik tidak usah salat tahiyatal masjid. Percuma, tidak ada tumakninahnya.)” Pernah suatu hari kiai melihat santri yang terburu-buru masuk masjid dan salat dengan cepat. Hal tersebut terlihat oleh Kiai Hasani. Beliau pun marah besar (duko, Jawa) melihat tingkah santri yang seperti itu. “Masjid itu baitullah, ojok sampek gawe turu.” (Masjid itu rumahnya Allah, jangan sampai dijadikan tempat tidur.)” Beliau juga sangat marah ketika ada santri atau siapa saja tidur dalam masjid. Walau pun masih ada ikhtilaf perihal hukumnya, beliau melarangnya. Jika ada santri atau tamu yang tidur di masjid, beliau langsung memukulnya. “Santri iku kok rame, onok opo dek masjid?” (Santri itu kenapa ramai, ada apa di masjid?)” Setiap dua pekan sekali di Masjid Jami’ Sidogiri ada kegiatan DKL (Dakwah Keliling). Ketika itu ceramah yang disampaikan berupa hal-hal yang lucu sehingga santri tertawa dan masjid menjadi ramai. Hal tersebut didengar oleh Kiai Hasani. Beliau menyuruh Mas Abdul Bari mengambil batu bata di sungai untuk kemudian dilemparkan ke masjid. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Mas Bari langsung menghubungi Kepala Bagian Ubudiyah agar menyuruh santri tidak ramai-ramai di masjid. “Lek kate lebu masjid disekno sekel kengen, lek metu sekel kacer.” (Kalau masuk masjid harud menggunakan kaki kanan, jika keluar menggunakan kaki kiri.)” “Lek wes gak dibutonno, pateni kipas karo lampu iku. Fasilitas masjid iku milik masyarakat umum,” (Setelah menggunakan kipas dan lampu harus dimatikan. Fasilitas masjid itu milik umum.)” “Lek dungo seng jelas, ojok karepe dewe,” (jika berdoa setelah salat yang jelas, jangan ambil seenaknya saja.)” Menurut ceritanya, lumrahnya usai melakukan salat pasti ada wirid yang dibaca. Begitu juga beliau (Kiai Hasani). Beliau sangat tidak suka ketika bacaan wirid usai salat dibaca terlalu cepat. “Gak onok faedahe (tidak ada faedahnya),” dawuh Kiai Hasani. “Beduk iku ditabuh lek wes jam 12.00 pas, ojok melok jam, melok bincret ae,” (Beduk ditabuh pada jam 12.00 dan usahakan agar melihat di bincret, jangan ikut jam.)” “Salat itu kudu duwe himmah, ojok pokok salat. Salat iku ngadep pengeran, mosok sek ate dipantau terus,” (salat itu harus memiliki himmah, jangan asal salat. Salat itu menghadap tuhan, jangan minta dipantau terus.)” “Khidmah seng temenan, niatono ngawulo nang kiai, saiki atau besok,” (Dalam berkhidmah yang benar, nitkan jadi hamba, sabiqon aw lahiqon.)” “Opo’o speaker dek...

Selengkapnya