Tulisan Facebook yang Berbobot
Sep07

Tulisan Facebook yang Berbobot

  Aliran Wahabi serta ajaran-ajarannya patut kita waspadai, mengingat pemikiran-pemikiran mereka yang mulai merasuk masyarakat kita. Sedikit demi sedikit, lewat media massa seperti radio dan televisi, dan media sosial seperti Twitter dan Facebook, pola pikir mereka merasuki masyarakat . Berbagai vonis berat dengan mudah dilontarkan oleh dai-dai mereka seperti bidah, syirik bahkan kafir sekalipun. Hal tersebut akan membuat masyarakat kita meninggalkan amaliah-amaliah Ahlusunah wal-Jamaah yang telah mengakar kuat selama ini seperti tawasul, istighasah, doa bersama, Maulid Nabi dan semacamnya. Untuk itu, buku yang merupakan kumpulan tulisan atau catatan di Facebook milik Ust. Idrus Ramli ini hadir untuk membendung pergerakan dakwah Wahabi, terutama dakwah mereka lewat Facebook. Apalagi dilengkapi dalil-dalil ilmiah Ahlusunah, penjelasan mengenai ibadah yang dituding bidah, serta menguak skandal para ulama Wahabi mengenai pendapatnya sendiri. Hampir semua dialog sang pengarang direkam oleh buku ini. Dengan bahasa ringan seringan bahasa Facebook, kita akan dengan mudah memahami seluruh isi buku ini berupa suguhan sebuah kebenaran yang yang justru tidak mereka ketahui selama ini mengenai amaliah-amaliah yang tidak pernah diajarkan nabi, namun juga disunahkan bagi kita untuk dikerjakan. Sehingga amaliah seperti tawasul, istighasah, doa bersama, Maulid Nabi menjadi tradisi Ahlusunah yang sampai saat ini tidak bisa terhapus dari rutinitas masyarakat. Meski cuma beberapa tulisan dari Facebook, buku setebal 600 halaman ini tidak kalah berbobot dengan buku-buku ilmiah terbitan Sidogiri Penerbit yang lain. Buku ini akan menambah pengetahuan baru yang segar tentang Wahabi.[] ===== Judul: Wahabi Gagal Paham Penulis: Muhammad Idrus Ramli Penerbit: Sidogiri Penerbit Peresensi: Abrari...

Selengkapnya
Sidogiri Media Edisi 141
Sep01

Sidogiri Media Edisi 141

Hijrah … Umat Islam meraih kejayaan di masa lalu dengan nilai-nilai kebaikan yang Islami, bukan dengan tumpukan materi dan kekayaan duniawi; umat Islam meraih kejayaannya dengan zuhud dan wara terhadap dunia, bukan dengan cara menumpuk harta dan kekayaan, serta berjuang mengejar akhirat dan bukan mencita-citakan dunia. Maka, dalam hijrah ini, langkah paling awal yang mesti ditempuh sebelum yang lain adalah membersihkan diri, mencegah serta menghindarkan diri dari segala sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab di situlah makna hakiki dari #Hijrah, sebagaimana disabdakan Nabi dalam sebuah hadis, “Orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari). http://bit.ly/PemesananMajalah http://bit.ly/LanggananMajalah Sumber: Halaman Facbook Sidogiri...

Selengkapnya
Sudah Terbit Sidogiri Media Edisi 140
Agu18

Sudah Terbit Sidogiri Media Edisi 140

Islam Nusantara … Istilah Islam Nusantara pertama kali muncul sebagai tema Muktamar NU ke-33 di Jombang, 2015 lalu. Sejak saat itu pro-kontra mengenai istilah baru tersebut merebak. Kini Islam Nusantara kembali ramai diperbincangkan, terutama di jagat sosial media. Perang opini dan perdebatan sengit tak terelakkan. Berbagai macam penolakan dan dukungan datang silih berganti. Sumber: Halaman Sidogiri Media edisi 140 Link berlangganan dan pemesanan: http://bit.ly/PemesananMajalah...

Selengkapnya
Sidogiri Media 139
Jul24

Sidogiri Media 139

PERANG MELAWAN HOAX … Kita hidup pada era di mana hoax begitu mudah bertumbuh dengan suburnya, seperti jamur di musim hujan. Pada masa lalu, barangkali hoax hanya bisa memberikan dampak luar biasa jika ia direncanakan dengan matang dan diproduksi oleh pihak-pihak yang punya power, seperti media massa, para politikus dan penguasa. Namun saat ini, hoax bisa bergulir dengan liar, sebab setiap orang adalah pencipta berita dan opini. Maka, gelombang hoax akan ditangkis dengan tameng hoax, lalu terjadilah perang hoax. Bagaimanapun, jika perang melawan hoax tak segera dimulai, sudah pasti peperangan antar-hoax bisa mengakibatkan kerusakan yang tak...

Selengkapnya
Ketika agama Dihina
Jul04

Ketika agama Dihina

Ketika Agama Dihina ……. Iklim kehidupan keberagamaan kita di Indonesia yang majemuk ini saat ini sedang ada dalam ujian. Sebab belakangan ini penistaan terhadap agama kian marak dan seperti tak terkendalikan, meski aturan dan undangundangnya sudah jelas. Dari situ barangkali kita bertanya, bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan mungkin juga sebagian dari kita merasa heran, bagaimana penistaan terhadap agama menjadi begitu lumrah padahal kita adalah masyarakat yang beragama yang beradab, bukan masyarakat atheis atau komunis?! http://bit.ly/BerlanggananMajalah http://bit.ly/PesanWa Sumber Data: Halaman facbook Sidogiri...

Selengkapnya
Membangun bukan Memendam
Apr24

Membangun bukan Memendam

Judul: Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siroj Penulis: Tim Penulis Pondok Pesantren Sidogiri Halaman: 204 Penerbit: Sidogiri Penerbit Peresensi: Muhammad ibnu Romli Banyak masyarakat salah paham saat buku ini diterbitkan. Tepatnya, dua tahun silam, saat Sidogiri Penerbit menerbitkan buku bantahan kepada Ketua PBNU, KH. Said Aqil Siroj yang berjudul Sidogiri Menolak Pemikiran KH. Said Aqil Siroj. Bahkan, sebagian mereka, ada yang menyatakan bahwa Sidogiri sudah mufâraqah dari NU. Belum sampai setengah tahun, buku ini sudah dinobatkan sebagai salah-satu buku Sidogiri Penerbit yang menyandang best seller. Di dalamnya berisi sekitar enam koreksi atas pendapat KH. Said Aqil Siroj yang dianggap nyeleweng. Pertama, membantah pendapat beliau yang menyatakan hadirnya Islam sarat dengan muatan politis Nabi Muhammad SAW yang ingin menguasai Byzantium. Akhirnya, di akhir bab Motif Dakwah Nabi Tim Penulis Pondok Pesantren Sidogiri menutupnya dengan pernyataan sebagai berikut. “Menyimpulkan bahwa dakwah Rasulullah SAW bernuansa politik kekuasaan sebetulnya adalah pelecehan terhadap Rasulullah SAW, dengan menafsirkan sejarah beliu secara terpisah. Penafsiran materialistik seperti itu sebetulnya adalah ciri khas orientalis dan kaum kafir Quraisy. Sebab membaca sejarah perjalanan Rasulullah SAW tidak boleh dipisahkan dari al-Quran. Demikian puula sebaliknya, menafsirkan al-Quran tidak boleh dipisahkan dari kehidupan Nabi SAW yang membawanya. Pribadi beliau adalah pengejawantahan terhadap kandungan al-Quran yang hidup, sebagai mana kehidupan beliau adalah penjelasan atas kandungan al-Quran.” (hal. 33-34) Kedua, KH. Said Aqil Siroj memiliki pandangan lain kepada kelompok Jabariyah: 1) Percaya kepada qada’ dan qadar merupakan paham Jabariyah. 2) Sayyidina Mu’awiyah adalah sosok yang mengembangkan Jabariyah untuk melanggengkan kekuasaannya. 3) Hanyalah Jabariyah yang membuat orang Islam tenang alias tidak melakukan perlawanan kepada Sayyidina Mu’awiyah. Keempat bantahan—atas pandangan beliau di atas—besertakan dalilnya bisa langsung Anda lihat dalam buku ini. Ketiga, mengenai pernyataan beliau untuk menyukuri lahirnya kelompok Syiah. Hal ini ditolak dengan ‘ibârât yang termuat dalam berapa kitab karya KH. Hasyim Asy’ari. Keempat, pluralisme agama yang beliau dukung. Kelima, lanjutan pernyataan pluralisme agama yang mengingkari ukhuwah islamiyah. Terkhir, mengenai stereotype syariat Islam. Dan, semua itu dijawab dengan ilmiyah dengan buku ini. Intinya, semua koreksi di atas sekedar kritik yang membangun Nahdhatul Ulama. Bukan malah merobohkan. Kata Pengantar yang di tulis langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, KH. A. Nawawi Abd. Djalil membuktikan hal ini. “Yang terpenting bahwa adanya bukunya dilandasi niat yang ikhlas dan tulus untuk tawashau bil-haq. Bukan untuk menjatuhkan, apalagi untuk menimbulkan kebencian dan permusuhan. Kita sudah terbiasa berbeda pemikiran, tapi kita harus saling menghormati satu sama lain sebagai mana teladan yang dicontohkan oleh para ulama salaf terdahulu.” (hal.14)....

Selengkapnya
Chat WA dengan kami