Ketika Jurnalis Bungkam, Sastrawan Enggan Diam!
Des20

Ketika Jurnalis Bungkam, Sastrawan Enggan Diam!

Kekuatan sastra—dibanding jenis tulisan lainnya—adalah jalur pemahaman dari “bawah tanah”. Kecepatan pencernaan, memang bisa dianggap kalah. Tapi, dari situlah keunggulan sebenarnya. Jurnalis, dari saking lugasnya, ancap kali dicampakkan, serta dilarang untuk menyuarakan kebenaran. Sehingga, hak-hak seringkali terkurung. Dari sanalah, jika jalur atas ditutup, maka—sebagaimana taktik militer—gunakanlah jalur bawah tanah. Dari halusnya penyampaian, dari sana pula pena sastrawan berjalan lancar. Entah itu penyair, cerpenis, esais, novelis atau sastrawan genre lainnya. Itulah juga, penyebab lahirnya Sanggar Iqra’, dari naungan Ihya’ Ulumiddin Community (IC). Sebab—sebagaimana judul di atas—ketika jurnalis bungkam, sastrawan enggan diam. Atau lebih jelasnya, ketika Buletin Bangkit (buletinnya IC) dikekang, maka Garis Kata (majalahnya Sanggar Iqra’) tak akan pernah diam. Sampai kapan pun, kebenaran haruslah diserukan. Dan, dari itu pula, kebenaran membutuhkan kita untuk tetap siaga membela perkara hak, dan membongkar perkara batil. Tak ada jurnalis, sastrawan pun jadi. Dengan begitu, jika seandainya media-media mulai mempersempit kemerdekaan pribadi (‘Idzatun-Nasyi’în juga menyebut kebebasan wacana), maka, kitalah sebagai sastrawan yang berhak maju, untuk menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Yang pastinya, maju melalui jalur bawah tanah. Sekian! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Nasionalisme dan Islamisme di Mata Ir. Soekarno
Nov26

Nasionalisme dan Islamisme di Mata Ir. Soekarno

Siapa yang tidak kenal Ir. Soekarno? Sosok pembawa kemerdekaan negeri pertiwi ini. Sampai tukang becak pun mengenal keperibadian beliau. Tapi sayang, gagasan beliau sedikit yang dibaca orang. Padahal, kemerdekaan tidak hanya diperoleh dengan “otot” belaka, melainkan yang paling berperan di sana adalah pemikiran dan gagasan. Buku Di Bawah Bendera Revolusi ditulis oleh sang revolusioner Indonesia, Ir. Soekarno pada saat pra kemerdekaan. Dalam hal ini beliau memaparkan berbagai langkah kemerdekaan, di antaranya—yang paling ditekankan—adalah: persatuan antara nasionalisme, islamisme. Sebab—menurut beliau—hanyalah persatuan yang menjadi “kapal” kemerdekaan. Orang yang memiliki jiwa nasionalis tidak dikatakan nasionalis jika tidak bersatu dengan Islamis. Begitupun Islamis, tidak dikatakan Islamis jika tidak berjiwa nasionalis. Pada cetakan kelima, buku ini disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang dibantu oleh penerbit Balai Pustaka. Tapi sayangnya, tidak keseluruhan, sehingga untuk memahami, pembaca perlu memiliki pembendaharaan kata kuno. Selain berisi tulisan beliau, buku ini mencantumkan foto Ir. Soekarno yang sukar ditemukan, juga beberapa foto asli manuskrip kemerdekaan, agar pembaca lebih merasakan nuansa kemerdekaan. Selamat membaca! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Istighasah Santri untuk Mengenang Jasa Pahlawan
Agu17

Istighasah Santri untuk Mengenang Jasa Pahlawan

Malam Sabtu (16/08), Pondok Pesantren Sidogiri mengadakan istighasah masal dalam rangka mengenang jasa para syuhada yang gugur membela Indonesia. Bertempat di Lapangan Pondok Pesantren Sidogiri, acara ini dihadiri oleh beberapa pengurus harian, guru dan seluruh santri Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam acara yang menjadi agenda Pondok Pesantren Sidogiri setiap tahun ini, Ust. Hamim Asy’ari, salah satu guru senior, ditunjuk untuk memimpin Yasin dan Tahlil. “Kita bisa menikmati (Kemerdekaan Indonesia. Red) karena perjuangan para Pahlawan, kami harap agar teman-teman santri khusyu’ dalam mengikuti pembacaan Yasin dan Tahlil pada malam ini.” Tutur beliau , sebelum pembacaan Istighasah dimulai. Dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ust. HM. Masykur Dahlan, Kepala Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Tsanawiyah. Kemudian diakhiri dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua II Pondok Pesantren Sidogiri, Ust. Saifulloh Muhyiddin.  Ribuan santri memadati lapangan selatan Pondok Pesantren Sidogiri guna mengikuti  istighasah “Kita sebagai santri, telah melaksanakan dan mematuhi apa yang telah diterapkan oleh pengurus. Ketaatan kita menentukan nasib kita.” Ungkap beliau mengawali sambutan. Beliau melanjutkan, “Tujuan Istighasah ini adalah untuk mengenang perjuangan tokoh-tokoh kita khususnya guru-guru kita, Masyayikh Sidogiri. Mereka telah membuktikan, bahwa dengan tekad yang besar, hanya dengan menggunakan bambu runcing kita bisa bebas dari penjajah.” ______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Bangkitkan Ghirah Santri Dengan Lomba Teater
Agu16

Bangkitkan Ghirah Santri Dengan Lomba Teater

Kemerdekaan Republik Indonesia telah menapaki usianya yang ke-74. Untuk menyambut peringatan kemerdekaan ini, berbagai kegiatan serentak dilaksanakan di seluruh pelosok Negeri. Tak terkecuali Pondok Pesantren Sidogiri turut menyambut HUT RI dengan beragam kegiatan. Salah satunya adalah lomba teater yang digelar selama dua malam, malam Jumat (15/08) dan malam Sabtu (16/08), di lapangan selatan Pondok Pesantren Sidogiri. Lomba teater pada tahun ini mengangkat tema tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. “Penampilan pertama, adalah penjajahan di masa kerajaan. Setelah itu penjajahan belanda, jepang, inggris, kemudian kemerdekaan, pemberontakan PKI dan peristiwa-peristiwa lainnya.“ jelas Ust. M. Kafi Abdul Karim, Wakil Ketua Panitia Lomba. Peserta teater adalah utusan dari setiap daerah Pondok Pesantren Sidogiri, yang saat ini berjumlah 17 daerah. Juri lomba kali ini adalah Ust. Ali Wafa, Staf Sekretaris II Pondok Pesantren Sidogiri dan Ust. N. Shalihin Damiri, salah satu radaksi Sidogiri Media. “Ustadz Ali Wafa ini sarjana psikolog, beliau fokus menilai bagian pemeranan, pemanggungan, dan penguasaan karakter. Sedangkan Bin Damiri (Sapaan akrab Ust. N. Shalihin Damiri) lebih condong pada tata bahasanya.” Ungkap pria berkacamata ini. Tujuan dari lomba teater ini adalah agar para santri bisa merasakan perjuangan para pahlawan “Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk membangkitkan ghirah santri, agar teman-teman santri bisa mengetahui apa yang dirasakan oleh para pejuang kita.” Pungkas staf Sekretaris IV ini ketika ditemui oleh redaksi Sidogiri.net, di lokasi lomba.   _______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Datangkan TNI AL Demi Optimalkan Kinerja
Agu03

Datangkan TNI AL Demi Optimalkan Kinerja

Upacara di momen peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, memang sudah jamak digelar. Pun demikian di peringatan ke-74 Agustus mendatang. Upacara pengibaran bendera merah-putih, diikuti seluruh siswa sekolah ataupun instansi dan lembaga pemerintah. Tak terkecuali santri Pondok Pesantren Sidogiri yang berjumlah sekitar sepuluh ribuan. Untuk mensukseskan acara yang menjadi rutinitas Pondok Pesantren Sidogiri ini, pengurus juga memilih santri-santri terbaik MMU Tsanawiyah untuk menjadi tim paskibraka. Demi mengoptimalkan kinerja mereka, salah Anggota TNI AL, didatangkan untuk melatih pasukan tersebut, pada malam Ahad (03/08). Latihan yang bertempat di barat MMU an-Nawawi tersebut dimulai jam 09: 00 Wis sampai jam 12: 00 Wis. Beliau dengan tegas melatih pasukan, untuk meluruskan barisan selurus mungkin, “Lihat pundak teman di depan kalian, luruskan sekiranya saya tidak melihat pundak kalian,” perintah beliau. Beliau juga meminta salah satu dari pasukan untuk memimpin barisan, “Saya cuma pingin tau gimana sikap kalian ketika memimpin pasukan. Gak papa kalian buat kesalahan, nanti saya perbaiki.” Tegas beliau, ketika melatih pasukan. _____ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya