Memahami Gus Dur; Sebuah Penadangan Obyektif
Nov27

Memahami Gus Dur; Sebuah Penadangan Obyektif

Mungkin bukan maqâm-nya saya menilai Gus Dur. Tapi apa salahnya jika pustakawan membela “sosok yang gemar mambaca”. Jika kita lihat sepintas—secara subyektif—keunggulan Gus Dur tidak terbantahkan. Sebab, beliau adalah cucu dari pendiri organisasi Islam Ahlussunnah Waljama’ah terbesar di dunia, KH. Hasyim Asy’ari. Juga, anak perrtama dari Menteri Agama Pertama, KH. Wahid Hasyim. Beliau darahnya “sangat biru”, dan, di dalam buku Gus Dur Garis Miring PKB (320.10/Bis/g/C.01), dikatakan paling gusnya gus. Sehingga dari jalur nasab, beliau tergolong mulia. Akan tetapi, kadang hati tidak sreg jika tidak meninjau secara obyektif pada beliau. Beliau adalah sosok yang sejak kecil dididik oleh lembaran buku, bukan sekolah. Sehingga tidak cocok jika dibandingkan dengan ulama yang—hanya—lulusan sekolahan. Sejak SR (Sekolah Rendah, kini: SD), beliau sudah biasa bolos sekolah, bahkan tidak naik kelas. Akan tetapi sudah bisa membaca novel yang berbahasa Inggris dan Belanda. Beliau dibesarkan di perpustakaan, serta sering membaca buku-buku berat. Kegemaran membaca, membuat pemikirannya peka dan menajamkan “pandangan”. Sehingga—terkadang—bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Karena itulah, Goenawan Mohamad (GSM) menulis di Catatan Pinggir-nya (808.84/Moh/c/C.01), “Gus Dur di sana-sini menulis risalah agama. Saya ingat deskripsinya yang akrab tentang para ulama terkenal dan tak terkenal di pelbagai pesantren. Tapi Gus Dur juga menulis komentar pintar tentang pertandingan sepak bola. Atau sebuah esai pendek tentang film”.   Karena itulah beliau dikatakan mutabahhir dalam segala bidang. Sehinnga Cak Nun (Emha Ainun Najib) dalam Surat Kepada Kanjeng Nabi (814/Nad/s/C.01) mengumpamakan beliau sebagai “bintang yang telah sampai pada posisi kekuatan dipahami”. Dengan artian, beliau tidak perlu repot-repot memahami kegamangan dan kebingungan kita atas prilakunya; melainkan kitalah yang perlu membuka kitab untuk memahami beliau. Mereka menganggap pendapat beliau kontroversial karena “keminiman pengetahuannya”. Mereka hanya bisa membedakan antara hitam dan putih, layaknya—kalau saya upamakan seperti—LED yang masih blck-white, sedangkan beliau adalah LED RGB. Sehingga, cukup kontras jika kita bandingkan keduanya. Memang kecerdasan beliau—sebagi mana kata Jakob Oetama di dalam buku Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman (808.04/Wah/G/C.01)—meski tidak memiliki gelar apapun, tapi siapa yang tidak mengakui kecerdasan beliau!? Selain kecerdasan, kebaikan Gus Dur sangatlah jelas. Sebab, baik tidaknya perilaku hanya bisa dilihat setelah kematiannya. Coba kita lihat, mulai dari wafatnya Gus Dur sampai Cakrawala ini ditulis, makam beliau tidak pernah sepi dari peziarah, layaknya makam Wali Songo. Dari itulah, banyak masyarakat menyelenggarakan tour travel dengan tujuan “Wali Sepuluh”, alias Wali Songo plus Gus Dur. Coba renungkan, yang menarik hati masyarakat untuk menziarahi Gus Dur hanyalah Tuhan. Tidak mungkin Tuhan menarik masyarakat kecuali untuk berziarah kepada kekasih-Nya. Maka tak heran jika KH. Hasani Nawawie berpesan, “Hati-hatilah (jaga sikap) kepada Gus Dur. Karena tanda kewaliannya sangat jelas. Kalau hanya zuhud-nya, saya bisa niru. Tapi sabarnya, saya tidak mampu”. Ingatlah, Gus Dur...

Selengkapnya
Pembinaan Selasa Pagi Peserta Muhafa
Nov26

Pembinaan Selasa Pagi Peserta Muhafa

Sebanyak 19 Majelis Musyawarah dan Halaqah Fuqaha (MUHAFA) ikuti Pembinaan Selasa Pagi, (26/11). Pembinaan yang berlokasi di asrama Daerah M ini melibatkan 19 Pembina Muhafa. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai pembelajaran untuk kegiatan Muhafa lebih baik sesuai target yang ada. Baca juga: Masa Depan AMDK Santri MUHAFA merupakan kegiatan pembinaan musyawarah dan halaqah fiqhiyah yang khusus bagi murid-murid Takhosus Idadiyah yang berdomisili di daerah M. Kegiatan Muhafa biasa dilaksanakan selama satu jam, mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 07.00 pagi waktu setempat. Baca juga: Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah Pembinaan fokus pada sistem halaqah, yakni sistemnya sekumpulan anak membahas ilmu dengan alur yang santai tanpa perdebatan dengan menunjuk moderator untuk memimpin kegiatan. Selain itu pembinaan juga fokus pada sistem presentasi dan musyawarah. “Tidak ada orang alim –bahkan pakar dalam suatu bidang keilmuan apapun- melainkan mereka telah mencicipi majelis-majelis halakah”, kata Ust. Muhammad Baihaqi selaku Koordinator Muhafa. Baca juga:  Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 _________ Penulis: Musafal Habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Nasionalisme dan Islamisme di Mata Ir. Soekarno
Nov26

Nasionalisme dan Islamisme di Mata Ir. Soekarno

Siapa yang tidak kenal Ir. Soekarno? Sosok pembawa kemerdekaan negeri pertiwi ini. Sampai tukang becak pun mengenal keperibadian beliau. Tapi sayang, gagasan beliau sedikit yang dibaca orang. Padahal, kemerdekaan tidak hanya diperoleh dengan “otot” belaka, melainkan yang paling berperan di sana adalah pemikiran dan gagasan. Buku Di Bawah Bendera Revolusi ditulis oleh sang revolusioner Indonesia, Ir. Soekarno pada saat pra kemerdekaan. Dalam hal ini beliau memaparkan berbagai langkah kemerdekaan, di antaranya—yang paling ditekankan—adalah: persatuan antara nasionalisme, islamisme. Sebab—menurut beliau—hanyalah persatuan yang menjadi “kapal” kemerdekaan. Orang yang memiliki jiwa nasionalis tidak dikatakan nasionalis jika tidak bersatu dengan Islamis. Begitupun Islamis, tidak dikatakan Islamis jika tidak berjiwa nasionalis. Pada cetakan kelima, buku ini disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang dibantu oleh penerbit Balai Pustaka. Tapi sayangnya, tidak keseluruhan, sehingga untuk memahami, pembaca perlu memiliki pembendaharaan kata kuno. Selain berisi tulisan beliau, buku ini mencantumkan foto Ir. Soekarno yang sukar ditemukan, juga beberapa foto asli manuskrip kemerdekaan, agar pembaca lebih merasakan nuansa kemerdekaan. Selamat membaca! Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Pelaksanaan Diklat Semester II, Tambah Majelis Baru; J-II
Nov25

Pelaksanaan Diklat Semester II, Tambah Majelis Baru; J-II

Malam Selasa (26/11) pelaksanaan Pendidikan Shalat (Diklat) untuk semester II dimulai. Majelis baru ditambahkan yang berlokasi di asrama daerah J-II. Kegiatan ini sebagai kelanjutan dari semester I kemarin, dengan ketentuan kelas 2 materinya shalat dan kelas 1 adalah wudhu. Baca juga: Masa Depan AMDK Santri Ada 11 majelis yang terdapat di daerah J-II. J-II sendiri merupakan asrama baru untuk santri-santri baru yang berada di tingkatan Idadiyah. Lokasinya merupakan bekas daerah N yang kini pindah ke sebelah selatannya. J-II terdiri atas 6 kamar yang terbagi dalam tiga lantai, dengan surau yang berada di lantai ke-II. Baca juga: Wisuda Istimewa ke-7, Ust Qusyairi Ismail Tekankan Akhlak Santri Idadiah Para pelaksana Diklat di J-II terbilang masih baru, untuk absensi saja masih datang terlambat. Namun, untuk peserta terbilang cukup antusias dalam mengikuti kegiatan ini semalam. Baca juga:  ACS Datangkan Ust. Ahmad Dairobi Naji dalam Seminar Ilmiah Bertema ‘Bias Tuduhan Radikal dan Liberal’ “Seperti halnya, suatu kegiatan dilakukan pertama kali, pasti ada saja yang masih perlu perbaikan di sana sini, dan itu yang akan dibahas dalam evaluasi kegiatan”, tutur Ust. Mustafid selaku Ketua Pendidikan Shalat ketika membuka rapat evaluasi tadi malam. Baca juga:  Pelantikan Panitia Milad Pondok Pesantren Sidogiri ke-283 Selanjutnya, untuk majelis daerah J-II akan dilakukan pemvalidan data dan melakukan survei lokasi kembali. Karena sebagaimana informasi yang dituturkan, ada dua kamar yang telah beralih menjadi kamar Daerah N. Selain itu, kerjasama dengan pengurus Ubudiyah J-II akan ditingkatkan. Baca juga:  Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha _________ Penulis: Musafal habib Editor   : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Cinta Negeri ala Santri
Nov25

Cinta Negeri ala Santri

Tidak cinta negeri, berarti bukan santri. hal itu tidak terlalu berlebihan. Mengingat, cinta tanah air adalah sebagian iman. Meski hadits itu—menurut Mulla Ali al-Qari dalam kitab Mirqatul Mafatih fi Syarh Misykatil Masahabih (2×2.29/Qar/m/C.01)—tergolong palsu, akan tetapi Imam az-Zarkasyi berpendapat bahwa hadits itu shahih dalam maknanya saja. Selain dalil itu, dalam Shahih Bakhari (2×2.21/Buk/s/C.07) diceritakan, Rasulullah SAW mempercepat laju kendaraannya saat mendekati kota Madinah, sebagai bukti kecintaan beliau pada negarannya. Hal itu sama persis dengan komentar Ibnu Hajar al-Asqallani dalam Fathul-Bari (2×2.21/Ibn/f/C.03). Tidak hanya kecintaan pada Madinah, Rasulullah SAW jauh mencintai Mekkah, selaku tanah kelahirannya. Dalam Sunan Tirmidzi (2×2.25/Tir/j/C.02) dikisahkan, saat Rasuullah SAW diusir (baca: hijrah) dari Mekkah, beliau sedih seraya bersabda “Sungguh aku diusir darimu (Mekkah), sungguh aku tahu bahwa dirimu negara yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah SWT, seandainya pendudukmu tidak mengusirku niscaya aku takkan meninggalkanmu”. Meninggalkan tanah air bukanlah hal yang remeh. Disebutkan dalam salah satu ayat al-Quran (2×1/Alq/q/C.01), “Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,” ternyata mereka tidak melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka” (QS: an-Nisa’ [4] 66). Pada jilid ke-15 Tafsir al-Kabir (2×1.32/Raz/t/C.01), Imam Ar-Razi berendapat, keluar dari kampung halaman (baca: tanah air) sama halnya dengan dibunuh. Mengingat, mencintai tanah air adalah suatu keniscayaan. Samahalnya dengan salah satu ayat pada surah al-Baqarah yang artinya “Dan bunuhlah mereka dimana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusirmu, dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan” (QS: al-Baqarah [2] 191). Mula al-Qarni berargumen—dalam kitabnya Mirqatu fi Syarh Misykati (2×2.29/Qar/m/C.01)—bahwa ”fitnah” disana adalah mengusir dari tanah air. Semua ayat dan hadis diatas, menuntut kita mencintai negara. Mengingat, santri adalah: orang yang berpegang teguh pada tali Allah, serta menapaktilasi Rasul-Nya. Muhammad ibnu...

Selengkapnya