Jadwal Turnamen Kasti Milad
Feb14

Jadwal Turnamen Kasti Milad

Jadwal Turnamen Kasti hari ini Turnamen Kasti Sidogiri, Road To Final “Dengan gaya baseball ala Sidogiri, Kasti merupakan favorit utama santri Sidogiri dalam berolahraga. Bahkan dalam perlombaan Milad Sidogiri, permainan ini selalu ditunggu kehadirannya. Mewakili nama besar masing-masing madrasah, Kasti menjadi hal wajib di Ikhtibar MMU Sidogiri. Dan jumat ini (14/02), sang juara dua tahun berturut-turut, CASPER, akan dipertemukan dengan Klub VOLKASUS, sedangkan di sisi lain lapangan, KOPPASUS siap bertanding dengan KING...

Selengkapnya
Orientasi Insan Pers BPP Datangkan Sastrawan Nasional dari Madura
Feb13

Orientasi Insan Pers BPP Datangkan Sastrawan Nasional dari Madura

Kiai M. Faizi, sastrawan Nasiolan dari pulau Madura, ketika menjelaskan teori kepenulisan esai Sudah menjadi agenda Badan Pers Pesantren (BPP) untuk mengadakan Orientasi Insan Pers di setiap semester. Pada semester pertama, BPP mendatangkan Mashuri M.A peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur dan apresiator cerpen majalah Ijtihad untuk membahas tentang cerpen. Pada semester kedua ini, BPP mengundang Kiai M. Faizi, sastrawan Nasiolan dari pulau Madura, untuk membahas mengenai esai, dengan tema “Teori Kepenulisan Esai”. Laporan: Moh. Kanzul Hikam Malam Kamis (12/02) ruang auditorium sekretariat lantai II dipadati oleh seluruh redaksi media Pondok Pesantren Sidogiri, guna mengikuti Orientasi Insan Pers yang diadakan oleh BPP. Pada acara yang membahas tentang esai tersebut, pengurus BPP mengundang Kiai M. Faizi, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, daerah Al-Furqaan Sabajarin, Guluk-guluk, Sumenep. Kiai kelahiran 27 Juli 1975 ini tiba di Pondok Pesantren Sidogiri pukul 08:30 WIS. Sebelum acara dimulai beliau sempat beristirahat di ruang lobi sekretariat. Pada acara dimaksud, beliau memberikan materi tentang teori kepenulisan esai, yang dibagikan secara gratis oleh BPP. Suasana ruang auditorium ketika acara berlangsung Acara dimulai sekitar pukul 09:20 WIS. Mengenai esai, beliau menyampaikan, bahwa dalam kepenulisan esai, ada dua poin yang harus diperhatikan. Pertama, segmen pembaca. Kedua, cara pengambilan sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya. “Jika orang lain biasa melihat sesuatu dari depan, maka kita harus mencari sudut pandang lain yang menarik, semisal dari atas,” papar beliau, memberikan contoh pengambilan sudut pandang yang berbeda. Beliau juga bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengikuti lomba tingkat nasional. “Saya pernah ikut lomba menulis cerita anak-anak tingkat nasional. Ketika itu karya saya mendapat juara pertama. Tapi sebelum itu, ada salah satu juri yang menyangsikan karya saya tersebut, karena dalam karya tersebut saya mencantumkan cerita mahasiswa yang sedang membuat skripsi. Jelas ini tidak bisa dipahami oleh anak-anak, karena mereka tidak tahu apa itu skripsi. Untungnya ada juri yang mmempertahankan karya saya tersebut sehingga bisa mendapat juara pertama,” cerita Kiai yang pernah menghadiri beberapa kegiatan sastra nasional dan internasional ini panjang lebar. Dari cerita beliau di atas, dapat dipahami bahwa kita harus memperhatikan segmen pembaca dari tulisan kita agar dapat dipahami, utamanya esai. Acara berakhir pukul 11:00 WIS. Sebelum acara ditutup, pengurus BPP memberikan cindera mata kepada beliau yang diwakili oleh Ust. Ahmad Rizqon, wakil I BPP dan di bantu oleh Ust. Nuris Shalihin Damiri, wakil II BPP. Baca juga: Mashuri; Seharusnya Santri Itu Bisa...

Selengkapnya
Inovasi Kabar Ikhtibar Tahun Ini
Feb12

Inovasi Kabar Ikhtibar Tahun Ini

Selasa pagi (11/2) rapat kedua segenap redaksional Kabar Ikhtibar, di kantor sekretariat lantai III. Hal ini diadakan untuk membahas seputar rubrikasi. Pembaruan pada tiap tahunnya memang selalu ada. Termasuk tahun ini. Dibandingkan dengan tahun lalu, Kabar Ikhtibar pada milad Sidogiri ke-283 terkesan lebih banyak konten, meski pin jumlah tetap delapan halaman. “Kami akan menambah konten, dan mengurangi space tulisannya. Akan tetapi, kami tetap akan memenuhi setiap tulisan dengan data,” ujar Abrari Ahmadi, Pemimpin Redaksi Kabar Ikhtibar. Rencananya, penambahan konten tahun ini antara lain rubrik Hoax atau Bukan?, Opini, Santri Milenial, dan masih banyak yang lain. “Jika ngin tahu lebih lengkapnya, Anda bisa langsung langganan saja. Maslah harga, itu sama, kok, dengan tahun lalu,” pungkas Miromly Attakriny, Sekretaris Redaksi Kabar Ikhtibar. Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Halakah Surau Siap Membantu LMF Membuat Buku
Feb11

Halakah Surau Siap Membantu LMF Membuat Buku

Pengurus Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri mengumpulkan semua anggota halakah surau di ruang istirahat guru mabna al-Ghazali, selasa pagi (11/2). Pertemuan semacam ini sudah menjadi agenda bulanan Kuliyah Syariah. Namun, ada yang berbeda pada pertemuan kali ini. Ust. Imam Hanfi, Ketua Lajnah Murajaah Fiqhiyah (LMF) meminta kerjasama dengan segenap anggota halakah untuk membantu pembuatan buku. Rencananya, LMF membuat buku antologi ibarat. Katua Halaqah Fathul-Wahhab mengimbau kepada segenap anggota untuk mencatat hasil halakahanya, baik taslim, mau pun tidak. “Khawatirnya, kalau yang dicatat hanya yang sudah taslim saja, ibarat yang masih mauquf, hilang begitu saja,” imbuhnya. Dari hasil kajian, nantinya akan dikumpulkan ke dalam buku antologi tersebut. Termasuk di dalamnya, anggota halakah akidah, yang menggunakan materi halakah Tuhfatul-Murid. Untuk akidah, selain halakah Tuhfatul-Murid yang dinaungi Annajah Center Sidogiri (ACS), juga ada halakah al-Ma’man minadh-Dhalalah yang diadakan setiap hari Rabu dan Kamis. Hal ini juga sangat berperan dalam melengkapi pembuatan buku dalam bidang akidah. Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Pelantikan Redaksi Tamasya
Feb10

Pelantikan Redaksi Tamasya

Malam Senin (9/2) Sekretaris I Pondok Pesantren Sidogiri, Ust. Syamsul Huda Mahfudz bersama stafnya, Ust. Albilaluddin Albanjari melantik sekian personel Jurnal Tamasya. Bertempat di mushala kantor sekretariat. Pada awalnya, Ust. Syamsul Huda mengusulkan kepada Ust. Saifulloh Naji, Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri agar melakukan digitalisasi jurnal, sehingga tidak perlu mencetak Tamasya versi klasik lagi. “Saya memang sudah mengusulkan, dan respon baik yang didapatkan, tetapi pesan beliau bisa jadi itu untuk Tamasya kedepannya. Untuk saat ini, menjadi media cetak saja,” terangnya. Namun, bukan berarti menggagalkan rencana semula untuk menerbitkan Tamasya via online, justru dengan tetap dicetak, tim Tamasya bisa menggabungkan Tamasya versi cetak dengan digital. Hal ini juga membuat Tamasya versi cetak lebih simpel dan tidak terlalu “gendut” dengan data yang tidak diperlukan. “Jadi, nanti ditamasya itu hanya pokok-pokonya saja. Untuk lebih lanjut bisa akses via website,” ujar salah-satu redaksi Tamasya. Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Saya Punya Kompetensi Menafsirkan Pancasila
Feb09

Saya Punya Kompetensi Menafsirkan Pancasila

Dalam seminar bertajuk, “Agama, Pancasila, dan Politik Kebangsaan Perspektif Pesantren” Muhammad ibnu Romli, Pemimpin Redaksi Sidogiri.Net sempat mewawancarai Prof. Dr. Mohammad Baharun SH. MA, Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di ruang tamu kantor sekretariat lantai I Pondok Pesantren Sidogiri. Berikut laporannya! Apakah seminar perihal pancasila penting diadakan di pesantren? Tema pancasila tetap penting disosialisasikan, sebab yang membangun pancasila ialah ulama. Panitia sembilan yang merintis pancasila semuanya ulama dan cendikiawan muslim. Hanya satu yang non-muslim. Jadi, yang paling berhak menafsirkan pancasila, ya, kita, bukan mereka. Ulama kita sudah susah payah meletakkan sila-sila pancasila, masa mau kita biarkan begitu saja. Mengenai tujuh kata yang dihapus dalam sila pertama, bagaimana pandangan jenengan? Itu tidak terlepas dengan piagam Jakarta. Kalau bahasanya kiai As’ad, dalam sila pertama mengandung ruh tauhid. Qulhuwallahu ahad. Begitu kata beliau. Jadi, sila pertama itu ketuhanan. Orang Islam, yang tidak salat, jangan ngaku-ngaku pancasila. Kalau non-muslim, yang tidak taat bergama, tidak toleran, jangan ngaku-ngaku pancasila. Ingat, sila pertama adalah ketuhanan. Negara kita ini, negara yang berketuhanan. Yang tidak taat agama, sudah jelas tidak pancasila. Ada yang mengatakan, sila pertama melakukan kebaikan mengharap pahala dari “langit” sedangkan sila kedua kebaikan dengan dasar humanisme sehingga dianggap bertentangan, apakah benar demikian? Oh, tidak bertentangan. Apanya yang bertentangan? Kalau bahasa saya, sila pertama itu hablun minallah, yakni huquq ilahiyah. Sila kedua sampai kelima itu huquq insaniyah, hablun minannas. Tidak bertentangan. Namun, kita tidak perlu risau akan penafsiran pancasila yang beragam. Jangankan pancasila, al-Quran saja penafsirannya banyak. Yang melenceng pun juga banyak. Seperti tafsir Syiah, sangat melenceng. Akan tetapi, penyeragaman tafsir itu perlu ada. Saya menjadi saksi sejarah saat Nahdhatul Ulama dengan berani menerima pancasila. Saat itu digelar di Bondowoso. Saya dulu, kan, wartawan Tempo. Jadi, saya selalu hadir meliput acara, dan mendengar langsung orasi Kiai As’ad kala itu. Jadi, sebenarnya siapa yang berhak menafsirkan pancasila? Saya punya kompentensi menafsirkan pancasila. Dulu saya mengambil tema pancasila sebagai tema taskap saya. Taskap itu semacam tesis, tugas akhir. Tulisan itu mencapai 120 halaman, dan kini sudah dibukukan. Yang menguji saya sampai tujuh jenderal. Tapi hasilnya memuaskan, dan terbaik perwakilan dari sipil. Jadi, saya punya kompetensi menafsirkan...

Selengkapnya