Jam Takrar Silang Tahfidzul-Quran Berubah
Salah satu kegiatan yang ada di Daerah A adalah kegiatan takrar silang pada hari Selasa dan Jum’at. Tahun ini jam takrar silang di Daerah A asalnya pada jam 08:00 pagi diubah pada 09:30 pagi agar lebih efesien dan efektif. Terlebih bagi warga daerah A yang duduk di bangku Aliyah yang pada saat itu sedang melakukan aktivitas masing-masing. Baca juga: Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha “Kami mengubah jam kegiatan takrar silang dikarenakan pada saat jam 8 pagi banyak santri Aliyah yang melakukan aktivitas masing-masing, baik itu di luar atau sedang melakukan kegiatan yang lain. Dan pada saat kegiatan takrar silang berjalan, kebanyakan dari mereka telat. Demi memperbaiki kekurangan tersebut, kami mengubah jam takrar, karena kami memandang pada saat itu mereka semua telah selesai melakukan aktivitasnya masing-masing, dengan begitu mereka semua bisa mengikuti kegiatan takrar silang yang ada” jelas Ust.Zainul Alim selaku Wakil 2 Bagian Tahfizhul-Quran. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Sedangkan pekembangan santri yang pindah ke daerah A tahun ini diperkirakan sekitar 40 santri dan jumlah keseluruhan sekitar 340 orang yang rata-rata duduk di bangku Aliyah. “Bagi yang masih sulit dalam menghafal al-Quran tetaplah giat dalam menghafal al-Quran.” Pesan Ust.Zainul Alim kepada warga daerah A tahun ini. Baca juga: Mushaf al-Miftah; Gebrakan Baru Idadiyah ________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
Daerah J Tambah Cabang, Daerah N Digusur
Volume santri yang tiap tahunnya selalu membeludak menyebabkan beberapa kantor instansi menjadi sasaran untuk dijadikan Daerah, sehingga Pengurus Harian mengeluarkan mandat untuk menambah kamar baru dengan menjadikan kantor instansi sebagai sasarannya. Daerah baru tersebut dijadikan kamar karena kebutuhan yang sangat mendesak. Baca juga: Peringatan Maulid Nabi Muhammad 1441 H Terkait status kamar baru tersebut Pengurus Harian menetapkan bahwa bekas kantor instansi yang terletak di bawah Daerah O digunakan untuk Daerah N, sedangkan Daerah N dan bekas kantor yang terletak di bawah Daerah tersebut akan dijadikan Daerah J-02, sebagai cabang dari Daerah J yang bersebelahan dengan koperasi, sebab jumlah kamar di Daerah J yang kurang memadai. Baca juga: Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha “Semua keputusan sudah final. Insya Allah, sosialisasi tentang pemerataan dan teknis pelaksanaan pemindahan Daerah akan dilaksanakan,” tutur Ust. Sofwan Qusyairi, selaku anggota Panitia Pemindahan Instansi dan Pemerataan Daerah yang mengurusi bagian data santri dan kedaerahan. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Harapannya, dengan adanya pemerataan ini, teman-teman santri, baik yang baru maupun lama dapat segera mengaji dan belajar dengan kondusif dan penuh konsentrasi. Karena itulah harapan yang diembankan kepada Pengurus, untuk selalu melayani dan membimbing teman-teman santri. Baca juga: Mushaf al-Miftah; Gebrakan Baru Idadiyah _________ Penulis: Kang * Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...
Peringatan Maulid Nabi Muhammad 1441 H
Sudah menjadi agenda rutin bahwa setiap tahunnya Pondok Pesantren Sidogiri pasti memperingati hari besar Islam, Maulid Nabi Muhammad. Tahun ini perayaan ditetapkan pada malam Jumat (31/10). Sama seperti tahun sebelumnya, acara yang dihadiri oleh seluruh santri ini bertempat di lapangan baru Pondok Pesantren Sidogiri dan di amanahkan pada dua konsulat yakni Sampang dan Bali. Baca juga: Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha Habib Hadi bin Abdul Qadil Alydrus dari Pasuruan diundang untuk memberikan ceramah kepada seluruh santri yang hadir, dalam ceramahnya beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah makhluk termulia. “Tidak ada perselisihan secara mutlak bahwa Nabi Muhammad adalah paling mulianya makhluk.” Terang beliau. Allah menciptakan alam semesta karena nur Nabi Muhammad. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bergembira dan bersukacita atas kelahiran sang Nabi akhir zaman. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Dalam acara tersebut juga diselingi penganugerahan media terbaik Pondok Pesantren Sidogiri, meliputi majalah dinding dan majalah cetak, semester pertama tahun ajaran 1440-1441 H. acara berlangsung khidmat sampai selesai tanpa ada halangan sedikitpun. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? _______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
🔴 LIVE Peringatan Hari Besar Islam Maulid Nabi Muhammad SAW
Lihat juga artikel lain tentang maulid di sini! Oh, ya, jangan lupa disebar link-nya, ya!
Kuliyah Syariah Gelar Kajian Tafsir Bersama Gus Baha
Malam Kamis (30/09) Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri menggelar kajian tafsir bersama KH. Bahauddin Nursalim. Bertempat di ruang Auditorium Sekretariat lantai II, acara yang menjadi agenda rutin Kuliah Syariah ini dihadiri oleh beberapa keluarga sidogiri dan beberapa santri Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam acara dimaksud, Gus Baha menjelaskan mengenai ‘ibarat “al-Ibrah bi-Umumil-Lafdzi la bi-Khususis-Sabab” yang ada di berbagai kitab tafsir. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri Ulama asal rembang ini menjelaskan bahwa al-Quran itu merupakan ‘Khithabun lil-am’ (siapa saja terkena khitabnya al-Quran). Namun juga ada problem, jika khususis-sabab tidak dimasukkan pada disiplin ilmu tafsir maka juga berpotensi berbahaya. Semisal ayat: وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Jika kita menggunakan ‘bi-Umumil-Lafdzi’ maka kita boleh salat menghadap ke arah mana pun meninjau keumuman lafadz ayat tersebut, sehingga ulama berdebat, apakah mengkaji sebab itu mengikat atau tidak. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Menyikapi hal itu kita perlu mengetahui, benarkah suatu kejadian menjadi sebab turunnya ayat. “Hal ini juga berpotensi tidak benar karena al-Quran jauh lebih dulu ada (qadim), sedangkan kejadian yang menjadi penyebab turunnya ayat itu baru. Mana mungkin sesuatu yang baru menyebabkan adanya sesuatu yang qadim.” Ungkap putera KH. Nursalim ini. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Kesimpulan dari keterangan beliau, kalamullah itu ada terlebih dahulu, kemudian sebagian kejadian yang baru itu masuk pada bagian keumuman lafadz, bukan menyebabkan turunnya ayat. Tidak mungkin sesuatu yang baru menyebabkan adanya sesuatu yang qadim. “Karena kalamullah itu qadim dan ilmu Allah itu tidak menunggu terhadap terjadinya sesuatu maka kita mengambil Umumil-Lafdzi bukan Khususis-Sabab, karena hakikat sebab ini hanya juzun min ajzai mutakallam bih (juz dari bagian yang dibicarakan), bukan penyebab.” Jelas beliau panjang lebar. Oleh karenanya Allah sering menggunakan lafadz umum. Seperti ayat: إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ Menurut keterangan Gus Baha, khitab ayat ini adalah kepada Abu Jahal, karena sebab turunnya ayat ini adalah perilaku Abu Jahal. Tapi apakah sifat demikian tertentu pada Abu Jahal saja. Tentu siapapun yang merasa tidak butuh pada orang lain pasti dengan sendirinya akan Thagha (kewalahan). Jadi bukan hanya Abu Jahal yang memiliki watak seperti itu dengan meninjau keumuman lafadz ayat tersebut. Karena jika meninjau kekhususan ayat tersebut, yakni pada Abu Jahal, tentu tidak akan ada orang selain Abu Jahal yang bersifat demikian. Baca juga: Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! Acara ini merupakan kali kedua beliau datang ke Sidogiri dan akan berlangsung setiap bulannya dengan kajian yang berbeda. _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
Semarak Materi Baru
Demi mengembangkan kadar bacaan al-Qur’an santri pondok pesantren sidogiri. Madrasah Ta’limul Qur’an (MTQ) melakukan pembaruan materi. Dengan merujuk kepada kitab-kitab yang menjelaskan tentang tajwid, Materi pengajiaan MTQ pada tahun ini mengalami pembaruan yang lebih mempermudah para santri untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan bacaan Al-Quran, seperti lafadz-lafadz ghorib (yang jarang diketahui), dengan mentashih kembali materi pengajian MTQ yang dulu menjadi materi baru seperti yang kita pelajari saat ini. Baca juga: Beberapa Proyek Pondok Pesantren Sidogiri “Dengan merujuk pada kitab-kitab yang menjelaskan tentang ilmu tajwid, kami melakukan pembaruan pada materi MTQ dengan mentashih kembali materi MTQ yang dulu. Karna materi yang dulu masih ada yang kurang”. Terang Ust. Nurul Huda selaku pengurus bagian MTQ. Baca juga: Launching Mushaf al-Miftah Bukan hanya itu, pengurus MTQ juga melakukan perubahan pada pembayaran ujian marhalah MTQ, pembayaran MTQ pada saat ini lebih murah dari sebelumnya, karna pembayaran saat ini untuk dua kali ujian yaitu di ujian yang pertama dan kedua. Dengan begitu para santri tidak perlu membayar ujian lagi di ujian yang kedua, karena sudah melunasi pembayaran di ujian yang pertama. Sedangkan tujuan pengurus MTQ mengumpulkan pembayaran ujian semester pertama dan kedua, agar lebih mempermudah pengurus MTQ dalam mendata para santri yang ikut ujian dan lebih menghemat uang yang digunakan ketika ujian. Baca juga: Evaluasi; Sidogiri.Net Perlukah Perubahan? Baca juga: Bahas Film The Santri, Ust. Nahdlor Tsana’i: Santri Tidak Seperti Itu! __________ Penulis: Wahab* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Mading...