Aneka Ragam Musyawarah di Sidogiri
Taklimiyah Wa Tahfidzul al-Quran (TTQ) adalah instansi yang bertugas menangani kegiatan ma’hadiyah, yang berada di bawah naungan ketua III Pondok Pesantren Sidogiri, meliputi pendidikan al-Quran, kitab kuning dan juga kegiatan musyawarah, selain musyawarah yang diwajibkan oleh pihak madrasah setiap malam. Musyawarah merupakan kegiatan wajib bagi seluruh santri Pondok Pesantren Sidogiri tanpa terkecuali, baik dari tingkat I’dadiyah hingga tingkat Aliyah, hanya saja, meninjau dari tingkatan kelas masing-masing. Kegiatan musyawarah ini terlaksana dengan pembagian sebagai berikut: Musyawarah Usbuiyah Musyawarah ini dilaksanakan tiap Selasa pagi bagi tingkat tsanawiyah dengan materi kitab Tuhfatut-Thullâb. Sedangkan untuk kelas 5 & 6 Ibtidaiyah dan 5 – 7 tingkat Idadiyah reguler serta takhossus, dilaksanakan tiap Jum’at pagi dengan materi kitab Fathul-Qorîb. Khusus bagi santri kuliah syariah dilaksanakan pada setiap malam Selasa dengan materi kitab Fathul-Muîn. Musyawarah Gabungan antar Daerah Biasanya kegiatan musyawarah ini tertentu pada malam Jum’at yang terdapat di masing-masing daerah secara bergantian, dan tiap daerah diwajibkan mengutus tiga orang perwakilan, untuk menjadi deleglasi dalam kegiatan musyawarah ini. Dauroh Musyawarah Tingkat Tsanawiyah (DMTS) Forum musyawarah ini, diikuti oleh delegasi-delegasi dari beberapa pesantren se-Jawa Timur. Kegiatan ini hanya diselenggarakan satu kali dalam satu tahun. _______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
Tingkatkan Pemahaman Muamalah, TTQ Hadirkan Ust. Alil Wafa Sebagai Qori’
Salah satu kegiatan yang ditangani oleh Taklimiyah Wa Tahfidz al-Quran (TTQ) Pondok pesantren Sidogiri adalah pengajian kitab, salah satunya adalah pengajian kitab Taqrirotus-Sadidah fi Masail Mufidah, karangan Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaff. Pengajian yang bersifat umum ini bertempat di surau daerah K yang diasuh langsung oleh Ust. Alil Wafa, pemimpin redaksi (Pemred) Sidogiri Media, sekaligus staf pengajar Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri, yang dilaksanakan setiap malam Senin dan Kamis, pada jam 10:00 wis setelah kegiatan jam belajar wajib. Tujuan diadakannya pengajian pasca jam belajar ini selain untuk mengisi kekosongan teman-teman aliyah, juga ingin menarik minat ngaji kitab kawan-kawan ibtida’ dan i’dad reguler yang tidak punya kesibukan, selama teman-teman tsanawiyah melangsungkan musyawarah di madrasah. “Sebenarnya pengajian ini sudah berjalan dari tahun kemarin dan pada tahun sekarang ini sebagai lanjutannya yakni juz 2 bab muamalah dan jual beli , tujuan dari Taklimiyah Wa Tahfidz Al-Qur’an mengadakan pengajian ini adalah untuk menanggulangi kurangnya pemahaman kawan-kawan santri tentang Muamalah, karena ketika musyawaroh usbu’iyah, teman-teman itu masih belum menguasai betul tentang muamalah dan jual beli tersebut, dan juga pengajian ini tidak tertentu pada kuliah syariah saja , jika seandainya kawan-kawan santri yang Ibtida’ yang tidak memiliki kegiatan maka boleh untuk mengikutinya.” Ujar Ust. Abd. Bahar, pengurus TTQ yang menangani kegiatan pengajian kitab makhadiyah sekaligus Taklim daerah O. ________ Penulis: Wahid* Editor: Saeful Bahri bin Ripit *Redaksi Majalah dinding (Mading)...
Tak Gentar Meski Melawan Seniman
Ahad 24 Dzul Hijjah 1440, Pondok Pesantren Sidogiri mengirimkan delegasi untuk mengikuti lomba kaligrafi modern se-Jawa Timur, yang bertempat di Pondok Pesantren An-Nur, Malang. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati harlah Pondok Pesantren An-Nur ke-40, dengan mengusung tema OSMANA (Olimpiade dan Seni Ma’had An-Nur 2). Acara tersebut bersifat umum, sehingga bukan hanya dari kalangan pesantren yang berpartisipasi dalam lomba tersebut, namun juga para seniman. Ahmad Zaini adalah satu-satunya delegasi yang mewakili Pondok Pesantren Sidogiri dalam lomba tersebut. Meskipun hanya dengan peralatan sekadarnya, dia dapat membuktikan bahwa dia mampu mengharumkan nama Sidogiri, dengan meraih juara pertama kategori kaligrafi modern tingkat Jawa Timur tersebut. “Awalnya saya sempat tidak percaya diri melihat para peserta yang hadir, sebab kebanyakan dari mereka bercelana dengan topi khas para seniman, dilengkapi peralatan yang memedai. Namun, kepercayaan diri saya mulai bangkit ketika melihat mereka mulai melukis, dan ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan kaligrafi buatan santri Sidogiri.” Ungkap pemuda kelahiran lumajang tersebut. Piala kemenangan dalam kompetisi kali ini, merupakan piala pertama bagi Ikatan Santri Sidogiri (ISS) setelah sekian lama tidak mendapatkan piala. Hal ini disampaikan oleh Ust. Azis selaku ketua ISS kepada Ahmad Zaini sebelum berangkat ke Malang. “Sebelum berangkat Ust. Azis berpesan kepada saya, agar saya bisa menang dalam kompetisi kali ini, sebab sudah lama ISS tidak mendapat piala.” Ungkapnya saat kami temui di ruang 02 gedung Al-ghozali. __________ Penulis: Alfin Nurdiansyah* Editor: Saeful Baahri bin Ripit *redaksi Majalah Dinding (Mading)...
Habib Muhammad Ali bin Taufiq Baroqbah: Kewajiban Menutup Aurat Merupakan Ibadah
Al-Habib Muhammad Ali bin Taufiq Baroqbah, musnid hadis dari Surabaya didatangkan untuk menjadi narasumber dalam acara dikusi panel yang mengangkat tema “Polemik Hijab antara Dogma dan Budaya”, pada malam senin (25/08). Sebagai muslim dan mukmin, ketundukan kepada aturan Allah merupakan suatu konsekuensi dan keniscayaan sebagai bukti kepercayaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Di antara kewajiban yang Allah firmankan adalah perintah menutup aurat. Tentu ketundukan ini termasuk ibadah. Namun di sisi lain perintah menutup aurat tidak lepas dari pakaian yang merupakan kebudayaan dan peradaban manusia yang dipengaruhi oleh faktor sosial budaya masyarakat. Di tengah-tengah semangat muslimah secara khusus untuk mengikuti perintah Allah tersebut, ada sebagian orang yang ingin menarik perintah tersebut ke sisi budaya secara murni, dan menafikan unsur ibadahnya. Sehingga menimbulkan pertanyaan bagi muslimah yang belum mendalam wawasannya tentang keislaman, apakah pakaian yang mereka pakai untuk menutup aurat, baik yang disebut jilbab, kerudung atau hijab, selama ini hanya produk budaya?. Menurut Habib Muhammad Ali bin Taufiq Baroqbah, fitrah manusialah yang membuat berbeda-bedanya mereka dalam menentukan batas berpakaian tersebut, antara dalil naqli, aqli dan hawa nafsu serta godaan setan. Sehingga latar belakang menutup aurat adalah ibadah Rabbaniyah yang bersinggungan dengan fitrah basyariyah, “Di antara wasilah setan dan bala tentaranya adalah memisahkan unsur ubudiyah menutup aurat dan menerapkannya sebagai adat agar mudah dipermainkan oleh hawa nafsu.” Terang Mudir Madrasah Diniyah Banin Al-Khairiyah, Surabaya ini. “Memang di sisi lain syariat memberi porsi pada adat, yang bisa kita dapati pembahasan dan ketentuan seberapa jauh adat itu digunakan dalam hukum syariat” lanjut beliau, yakni ketika membahas Kaidah ‘al-Adah Muhakkamah’. Sehingga merupakan segala sesuatu yang datang secara mutlak dalam syariat lalu tidak ada ketentuan syariatnya dan tidak juga dalam secara lughawi maka dikembalikan pada uruf atau adat. Namun dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Bukti bahwa hijab adalah dogma dalam syariat Islam, adalah ayat-ayat yang tercantum dalam al-Quran dan hadis. Dalam al-Quran dan hadis banyak ditemukan kata dan istilah yang bermacam-macam, di antara istilah-istilah tersebut adalah: Hijab, Khimar dan jilbab. Ayat yang menyangkut hijab dan perintah menutup aurat adalah dalam surah al-Ahzab, ayat59: Artinya, “Wahai Nabi! Katakanlah pada istri-istrimu, anak-anakmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaknya mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu agar lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Imam al-Qurtuby dan ath-Tobari sepakat bahwa makna ayat itu adalah perintah bagi istri-istri Nabi dan wanita mukminah yang merdeka untuk menutupi seluruh badan mereka dengan jilbab sebagai pakaian luar, agar dikenali bahwa mereka wanita merdeka sehingga tidak disangka hamba sahaya perempuan, sehingga mereka aman dari gangguan dari orang-orang munafik. Namun mereka sama-sama mengetengahkan perbedaan cara menutup tubuh dengan jilbab yaitu: Menyelimutkannya hingga menutupi wajah dan dada serta...
Diskusi Panel LPSI FK-Tafsir
Malam senin (25/08) Kuliah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri melalui Lembaga Penelitian Studi Islam-Forum Kajian (LPSI-FK) Tafsir, menggelar acara diskusi panel di aula gedung Sidogiri Excellent Corp (SEC). Pada acara yang dihadiri oleh seluruh murid Aliyah ini pengurus mengundang Habib Muhammad Ali bin Taufiq Baroqbah, Surabaya, untuk membahas topik “Polemik Hijab antara Dogma dan Budaya”. Ketua LPSI, Ust. Ach. Syaiful Furqon, memberi sambutan sebelum dimulainya acara. Dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa Diskusi Panel ini adalah kegiatan kajian LPSI yang dilakukan setiap bulan, sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan sesuai Forum Kajian (FK) masing-masing. Untuk Diskusi Panel pada bulan ini terjadwal untuk FK Tafsir. Beliau juga menjelaskan, bahwa materi yang telah disediakan diminta langsung kepada Narasumber, “Kami sengaja meminta materi pada Narasumber, agar kita bisa tahu bagaimana cara Narasumber menyampaikan penjelasannya.” Jelas beliau. Tujuan dari Diskusi Panel ini, secara khusus untuk mengasah mental peserta LPSI untuk tampil di khalayak umum, membekali peserta LPSI untuk menjadi panelis handal dan melatih peserta untuk mampu mengutarakan pendapat dan menjawab kemusykilan orang dalam suatu tema. Kegiatan tersebut berjalan lancar, mulai dari pembukaan hingga ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Habib Muhammad Ali bin Taufiq Barokbah, salah satu musnid hadis dari kota Surabaya. ______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...
Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf: Shadaqah Lebih Baik dari Menyimpan Harta
“Termasuk mementingkan urusan dunia adalah orang yang memegang sesuatu padahal dia memandang bahwa menshadaqahkan sesuatu tersebut lebih baik dari menyimpannya”, Dawuh Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Seggaf dalam pengajian kitab Al-Hikam karya al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad Yaman, Malam Jumat (23/08) di Masjid Jami’ Sidogiri lantai I. Pengajian dibuka secara umum bagi semua tingkatan. Pengajian yang dimulai pada pukul 10.00 malam waktu setempat ini membahas perilaku seseorang yang termasuk dalam mementingkan dunia. Telah diketahui bahwa banyak orang yang lebih mementingkan urusan dunia, padahal mereka tahu bahwa akhirat lebih kekal. Bahkan Habib Taufiq dalam pengajian tersebut menjelaskan bagaimana cara mengetahui orang itu termasuk yang mementingkan dunia atau akhirat adalah dengan melihat apa yang menjadi simpanannya. “Ukuran kamu mementingkan dunia atau akhirat adalah lihatlah apakah yang kamu simpan!”, dawuh Habib Taufiq. Dalam penjelasannya, Habib Taufiq juga menggambarkan perbedaan antara dunia dan akhirat, yang oleh beliau diibaratkan seperti arah Barat dan Timur. Apabila seseorang berjalan ke arah Barat, secara otomatis berarti dia telah meninggalkan arah Timur, begitu juga sebaliknya. Lebih jelasnya lagi beliau juga menyampaikan perihal Hubbu Allah (Cinta Allah) dan Hubbu duniya (Cinta dunia), yang diterangkan oleh beliau dengan gambaran api dan air dalam satu wadah. Air itu diibaratkan Hubbu Allah, sedangkan api diibiratkan dengan hubbu duniya. Keduanya tidak mungkin bisa bersatu dalam satu wadah. “Siapa yang cinta dunianya, pasti merugi dalam akhiratnya. Siapa yang cinta akhiratnya, merugilah dalam dunianya. Maka, kamu harus mementingkan mana yang kekal dari yang mana mudah binasa. Dan yang kekal adalah akhirat”, tegas beliau dalam pengajian malam Jumat tersebut. Habib Taufiq menjelaskan kaitannya ibarat dari kitab al-Hikam tersebut dengan perilaku mencari ilmu adalah bahwa setiap para thallabal-ilmi agar mencari ilmu itu untuk menggapai ridha Allah bukan agar mendapat dunia. Menurut al-Habib Taufiq dalam penjelasannya tersebut bahwa beliau mengingatkan banyak di antara kita yang menghela dalam hukum agama, sering kali lebih memilih mencari dalil untuk menghalalkan suatu perkara. Beliau menasehati kepada semua santri yang hadir dalam majelis pengajian al-Hikam tersebut bahwa dunia seharusnya dijadikan sebagai kebutuhan bukan tujuan. Lebih tegasnya, beliau sangat menekankan agar jangan mudah tertarik pada dunia. Dianggap orang yang bodoh adalah yang lebih memilih debu dari sebuah permata. Debu adalah dunia, sedangkan akhirat adalah permata. ____________ Penulis : Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...