Generasi Gagal Moral
Tak ada bencana yang lebih mengerikan yang menimpa suatu bangsa melebihi bencana gagalnya moral. Karena jika bencana ini menimpa suatu negeri, maka rutinitas para penghuni negeri itu tidak saja berbuat kerusakan, akan tetapi merusak setiap hal yang sudah baik sekaligus mencegah usaha-usaha perbaikan. Maka apa jadinya jika kita memiliki generasi yang gagal moral? Kalaupun mungkin mereka menjelma sebagai ilmuwan sekalipun, jika secara moral mereka gagal, maka ilmunya akan diarahkan pada hal-hal negatif yang jelas merusak. Itulah sebabnya ketika al-Imam asy-Syafii ditanya, “Bagaimana keinginan Anda terhadap adab”? Beliau menjawab, “Ketika aku mendengar satu huruf tentang adab, maka seluruh anggota tubuhku seakan ingin memiliki pendengaran, agar mereka bisa ikut merasakan kenikmatannya.” Beliau ditanya lagi, “Seperti apa semangat Anda dalam mencari adab itu?” Beliau menjawab, “Seperti orang perempuan yang mencari anak sematawayangnya yang hilang.” Semoga generasi kita mendapat pencerahan dalam persoalan yang sangat serius ini. #Generasi #Gagal #Moral #Santri #PondokPesantrenSidogiri #SidogiriMedia Sidogiri Media edisi 135...
Nasionalisme Nasi Bungkus
Diskursus seputar nasionalisme pada saat ini kembali menemukan momentumnya untuk mendapatkan perhatian yang lebih serius. Perkembangan mutakhir dan feneomena negeri yang telah sama-sama kita saksikan memang menunjukkan tanda-tanda serius, di mana telah ada banyak orang yang gagal paham tentang nasionalisme ini, atau menyelewengkan fungsinya pada yang tidak semestinya. Penulis melihat, persoalan nasionalisme ini perlu dibicarakan ulang setidaknya karena hal-hal berikut. Pertama, banyak kelompok yang hanya menjadikan isu nasionalisme sebatas sebagai komoditas politik belaka. Pada saat berkampanye, mereka mengaku sebagai kelompok yang paling nasionalis, dengan menghamburkan janji-janji yang senafas dengan semangat nasionalisme. Hingga pada saat mereka sudah menduduki puncak kekuasaan, mereka malah rajin menjual aset-aset negara, rajin membebani negara dengan utang-utang luar negeri, serta rajin membanjiri negeri dengan para pekerja impor, sedang pada waktu yang sama anak bangsa banyak yang tidak memiliki lapangan pekerjaan. Kedua, sebagian kelompok menjadikan isu nasionalisme sebagai senjata untuk menghantam lawan-lawan mereka – sekaligus menjilat pada penguasa. Mereka mempersekusi ulama karena dipandang tidak nasionalis, menyuruhnya untuk mencium bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memberikan pengajian, memaksa untuk menandatangani pernyataan tertentu, menuduh kelompok lain sebagai radikal dan berpotensi melakukan makar, hanya karena mereka rajin mengkritik kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak bijak. Memang secara de facto harus diakui bahwa yang paling banyak mengritik kebijakan-kebijakan penguasa yang dinilai merugikan rakyat itu adalah para ulama. Ketika para ulama bangkit, maka secara otomatis umat juga akan ikut bangkit. Tentu, ini akan sangat meresahkan bagi sebagian kalangan yang merasa khawatir dengan posisi dan kekuasaan mereka, dan karena itu isu makar dan nasionalisme akhirnya secara terpaksa dilemparkan untuk menyerang barisan orang-orang kritis ini. Namun, menuduh umat Islam, atau sebagian dari mereka, sebagai tidak nasionalis hanya karena kritis terhadap penguasa, atau karena memiliki haluan politik yang berbeda dengan penguasa, tentu tidak tepat sasaran dan salah penempatan, setidaknya karena beberapa faktor.Topik Utama – ISLAM DAN NASIONALISME Kajian – ALAWIYUN Editorial – ATAS NAMA NKRI Wawancara – HABIB LUTHFI BIN ALI BIN YAHYA “Santri nasionalis sejak sebelum kemerdekaan” Bahtsul Masail – HUKUM TRANSAKSI INTERNET MARKETING Sakinah – MENYIKAPI HOAX PADA KELUARGA Rihlah – TOKOH-TOKOH DIKTATOR DUNIA#sidogirimedia @sidogirimedia Segera! Sidogiri Media edisi 134...
Sidogiri Media edisi 133
Sidogiri Media edisi 133 telah terbit. Topik Utama: Mengembalikan Pamor NU Wawancara: KH. Maimun Zubair Kajian: Fenomena Talak Silaturahmi: Ponpes An-Nur Az-Zubaidi, Konawe Sultra Reuni: KHM. Fakhri Suyuthi
Sidogiri Media Edisi 132 Rabiul Awal 1439
Politik Santri Politik zaman now tengah melakukan manuver tingkat tinggi menyerang setiap hal yang ada hubungannya dengan agama, mulai dari organisasi-organisasi keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan agama, simbol-simbol keagamaan, hingga hukum-hukum negara. Faktanya, politik zaman now telah membuat organisasi keagmaan terbesar pun seperti kehilangan visi, gelar Bu Nyai mudah diduplikasi untuk mendukung calon pemimpin tertentu, bahkan gelar itu begitu mudahnya disematkan pada politikus kafir. Pesantren-pesantren pun tidak luput dari sasaran politisasi. Kita harus punya sikap yang jelas dalam membuat manuver-manuver politik...
Wahabi Gagal Paham 1
========================= Judul Buku : Wahabi Gagal Paham 1 Penyusun : Kiai Muhammad Idrus Ramli Editor : Moh Achyad Ahmad Tebal : 760 hlm. Harga : Rp 99.000 ========================= ISLAM, sebagai agama yang sempurna, komprehensif, universal, penuh rahmat dan hikmah, serta senantiasa sesuai untuk setiap ruang dan waktu (ṣāliḥ likulli zamānin wa makān) itu, maka kelazimannya adalah bahwa ajaran-ajaran agama ini tidaklah kaku dan keras, namun justri ia lentur dan lunak, tidak ekstrem dan bersifat menolak setiap hal-hal yang dianggap baru lagi asing, akan tetapi mudah menerima hal-hal baru dari tradisi-tradisi masyarakat, kapan dan di manapun, selama itu tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat itu sendiri. Sejak Islam hadir di Nusantara untuk pertama kalinya, watak Islam yang asli seperti itulah yang berlabuh di tanah air kita tercinta ini, sehingga sejarah telah menyaksikan bagaimana agama ini bisa diterima oleh masyarakat luas dan berbaur dengan tradisi-tradisi mereka. Ketika Islam hadir di Indonesia, para dai tidak serta-merta memberangus setiap hal yang menjadi tradisi masyarakat. Malah yang mereka lakukan adalah membimbing masyarakat untuk meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam secara perlahan-lahan, di samping para dai itu mengadaptasi tradisi-tradisi masyarakat lokal yang memang tidak bertentangan dengan Islam, atau masih bisa dicantolkan pada salah satu dalil-dalil dalam al-Quran, hadis, ijmak, qiyās, atau yang lainnya. Hingga kemudian pada masa-masa akhir ini datanglah orang-orang baru yang memiliki pemahaman keislaman yang berbeda, di mana mereka berpegangan pada dalil-dalil Islam secara tekstual, kaku, dan ekstrem, sehingga mudah menolak hal-hal yang dianggap tidak ada pada masa Islam periode awal, atau apa yang biasa disebut sebagai “salaf”, lalu menganggap pelakunya sebagai bidah, sesat, syirik dan kafir, kemudian mereka juga berusaha memberangus tradisi-tradisi yang telah tertanam kuat di bumi Nusantara ini dengan berbagai cara dan usaha. Padahal, tradisi-tradisi itu masih berada di bawah naungan dalil-dalil agama. Nah, hal inilah yang mendorong para ulama untuk melakukan perlawanan terhadap kelompok yang lebih dikenal dengan nama “Wahabi” ini, dengan menulis tumpukan kitab dan risalah, guna memberikan pemahaman terhadap masyarakat Islam akan bahaya pendatang baru ini. Para ulama tidak henti-hentinya menulis kitab-kitab dan risalah tentang bahya aliran Wahabi, sejak mereka lahir hingga saat ini, baik yang ada di Timur Tengah maupun para ulama Nusantara, sebut saja misalnya beberapa kitab yang ditulis oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratusy-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Bahkan salah satu faktor yang melatar-belakangi lahirnya NU itu tak lain karena gencarnya manuver Wahabi di tanah Hijaz, sebagaimana sudah sering kita baca dalam sejarah lahirnya NU. Karena itu, untuk memberikan pemahaman lebih mendalam dan menyeluruh tentang kekeliruan-kekeliruan pemikiran Wahabi, di samping memberikan jawaban yang mengena dari perspektif Ahlusunah...
Mengenal Tafsir dan Mufasir Era Klasik dan Kontemporer
Judul : Mengenal Tafsir dan Mufasir Era Klasik dan Kontemporer Penulis : Farum Kajian Tafsir LPSI angkatan 1435-1346H Ketua Tim : Ahmad Sudaisi Editor : Afifuddin Proofreader : Shonhaji Lc Tata Letak : Abd. Aziz Desain Cover & Ilustrasi : Imam Abd. Rosyid Pertama : Rabiuts Tsani 1438 H Tebal : 112 Halaman Harga : Rp 50.000 Buku ini, memberikan sedikit penjelasan dan pengenalan terhadap kitab tafsir. Sehingga, bagi para pengkaji al-Quran tidak gamang dan menemukan jalan pintas dalam memilah antara tarsir yang ada. Sebab, tidak sedikit para pengkaji tafsir yang merasa bingung; mana kitab yang bisa dijadikan pedoman dan mana yang tidak? Memang, buku ini belum bisa dikatakan penjelasan yang konfrehensip terkait dengan kitab yang sudah ditulis oleh para cendikiawan muslim. Sebab, banyak kitab tafsir yang tidak kami masukkan dalam buku ini. Namun setidaknya para pengkaji tafsir sudah mendapatkan rute yang jelas. Sehingga, target yang sudah dicanangkan sejak awal akan menemukan arah dan bisa dicapai sesuai dengan waktu yang telah...