TMTB Adakan Rapat Koordinasi Online Untuk Wilayah Kalbar
Khidmah: Para guru tugas mendengarkan dengan saksama penjelasan pengurus TMTB pusat. Masa pandemi yang belum usai membuat pengurus Urusan TMTB dan Dai mengambil keputusan untuk melaksanakan rapat koordinasi daring (online) via aplikasi Zoom untuk wilayah P-1 (Kalimantan Barat). Acara yang terlaksana pada Sabtu, 15 Shafar 1442/03 Oktober 2020 ini bertempat di Pondok Pesantren Babussalam Al-Hasyimi, Jl. Peniraman 07/04, Sui Pinyuh, Mempawah, serta dihadiri 41 guru tugas dari total 44 guru tugas di Provinsi Kalimantan Barat. “Tujuh hari sebelumnya kami telah melakukan koordinasi dengan pihak Madrasah Babussalam Al-Hasyimi, Peniraman, yang akan ditempati acara rapat tersebut. Kami siapkan 3 proyektor, karena walaupun rapat secara online acaranya tetap seperti tatap muka langsung,” jelas Ustaz Ahmad Husen, Wakil Koordinator Kalbar saat ditanya perihal persiapan rapat tersebut. Tegas: Ust H Umar Qiyam dan Ust Ahmad Husen memimpin jalannya rapat online ini dengan penuh semangat. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur ini mengakui bahwa banyak ilmu dan wawasan yang ia dapat dari rapat daring tersebut. “Ini rapat perdana yang diadakan secara online dan alhamdulillah kami mendapat banyak ilmu dari semua ini.” Baca Juga: Pertemuan Pengurus dan Wali Santri Wilayah Kalbar Sementara itu, diwawancarai di waktu dan tempat terpisah, Ustaz Abdullah Yafi, TU Urusan TMTB dan Dai mengatakan, “Terkait keputusan pengurus TMTB mengambil kebijakan melaksanakannya (rapat koordinasi) secara online sebab menganggap tidak memungkinkan untuk hadir ke sana. Jadi, (keputusan) ini meninjau beberapa hal dan menurut pengurus TMTB memang adalah rapat online inilah solusi terbaik.” Santri yang juga pecinta IT ini menambahkan bahwa rapat koordinasi online hanya untuk wilayah Kalbar, sebab untuk wilayah lain masih memungkinkan untuk hadir ke lokasi rapat. “Rapat koordinasi ini dilaksanakan di wilayah yang ada koordinatornya saja. Untuk yang tidak ada koordinatornya langsung dikunjungi satu persatu. Biasanya 4 tahun sekali sesuai giliran, “tambahnya. Penulis: Muhammad Ilyas Editor: Saeful Bahri bin...
Demi Santri Baru, Sigi Gym Dipindah
Siap: suasana di dalam gedung Sigi-gym setelah semua alat kebugarannya dipindah ke kantor Sidogiri.Corp. Masih tentang penambahan hunian santri, selain surau K, O dan J 02, tempat selanjutnya yang diproyeksikan menjadi hunian baru adalah Gedung Sigi-Gym. Gedung yang terletak di sebelah barat Kantor Sekretariat ini juga akan menjadi kamar santri dalam waktu dekat. Gedung pusat kebugaran yang didirikan pada tahun ajaran 1431-1432 ini ditaksir bisa menampung sampai 200 orang. Namun, sebelum ditempati bangunan akan direnovasi terlebih dahulu. Adapun perenovasiannya meliputi pelebaran akses keluar masuk, pelepasan cermin-cermin di dinding, penambahan ventilasi udara, pemugaran lantai dan pembaruan karpet. Diperluas: tangga akses masuk menuju gedung Sigi-gym Ustaz M Hanafi Basri, Kepala Pengadaan, Perawatan dan Perbaikan Sarana (P3S), menjelaskan, “(Perenovasian) Kami targetkan secepatnya. Sabtu (03/10), kami mulai perenovasian,” jelasnya saat dihubungi via telepon. Baca Juga: Gerakan Waspada Narkoba Sesuai arahan Pengurus Harian, pusat kebugaran ini nantinya akan dijadikan kamar tambahan bagi Daerah M. “Kamar baru ini akan menjadi asrama M 17 dan yang akan menempatinya adalah santri baru yang mendaftar tahun ajaran ini,” jelas Ustaz Masruhen (26), Kepala Daerah M saat ditemui di kantor Daerah M. Menurut santri kelahiran Sangkapura, Gresik, ini warga Daerah M kini mencapai 1163 anak dari kapasitas asal 1300-an penghuni. Angka ini lebih sedikit bila dibanding tahun ajaran kemarin yang melebihi kapasitas asal. Masih menurut penjelesan Kapdar M, penambahan kamar ini tidak akan mengganggu pada kegiatan warga daerahnya. “Penambahan kamar baru ini tidak akan mengganggu kegiatan dan konsentrasi belajar warga Daerah M, sebab yang akan menempatinya adalah santri baru yang mendaftar setelah selesainya perenovasian.” Baca Juga: Selamat Tinggal Surau K dan O Penulis: Muhammad Ilyas Editor: Saeful Bahri bin...
Selamat Tinggal Surau K dan O
“Untuk dua kamar baru ini bisa menampung maksimal 60 orang perkamar.” Tiap tahun, jumlah santri di Pondok Pesantren Sidogiri makin bertambah. Tentunya, bertambah pula kebutuhan terkait hunian santri yang memadai. Begitupun dengan tahun ajaran ini, overload santri membuat Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri berinisiatif untuk menjadikan surau yang ada di Daerah K, O, L dan J2 sebagai kamar baru. “Berangkat dari daerah pemukiman lain yang overload, tentunya ini perlu berpikir cara membangun daerah baru. Dan, ini (membangun daerah baru) untuk sekarang masih belum memungkinkan. Sehingga solusi sementara dari pengurus adalah menyekat surau K, O, L dan J2,” jelas Ustaz Abdul Basith (26), Kepala Daerah K saat ditemui di depan kantor MMU Tsanawiyah beberapa waktu lalu. Menurutnya, keputusan ini diputuskan pada rapat dengan Pengurus Harian pada bulan Muharam kemarin. Selanjutnya, surau yang sudah disekat akan dijadikan kamar tambahan bagi daerah-daerah tersebut. Masih menurut keterangan Ustaz Abdul Basith, nantinya kegiatan yang ada di surau, seperti halnya shalat berjemaah, burdah, dibaiyah, munjiyat, kegiatan kebahasaan, dll akan dialihkan ke kamar-kamar. “Jadi memfungsikan kamar sebagai tempat hunian sekaligus tempat kegiatan,” tambah santri asal Rembang, Jawa Tengah ini. Terkait penghuni dua kamar baru di daerahnya, Ustaz Basith menyatakan bahwa pihaknya akan menambah 90 anggota baru dari daerah lain plus 30 anggota lama dari Daerah K untuk menjadi penghuni kamar baru tersebut. “Untuk 90 orang itu diambil dari hasil tes LPBAA akhir tahun kemarin. Sejatinya, 90 orang itu lulus tes masuk daerah Arab, tetapi karena terbatas kuota akhirnya meskipun lulus tes mereka tidak diambil. Jadi, nanti kami dari LPBAA akan mengedarkan surat persetujuan dari daerah asal sehingga nanti setelah fix akan dipindah, di samping persetujuan pribadi dari santri yang akan dipindah.” Berbeda dengan Kepala Daerah K, Ustaz Abd. Ghani (26), Kepala Daerah O mengatakan, “Untuk dua kamar baru ini bisa menampung maksimal 60 orang perkamar. Jadi, total ada 120 santri. Kami akan mengambil penghuninya dari kamar lain alias melakukan pemerataan kamar,” jelas sosok asal Sampang, Jawa Timur ini. Sementara itu terkait kepala kamar, dua Kepala Daerah ini kompak menyatakan bahwa sudah ada nama-nama yang dicalonkan. Penulis: Muhammad Ilyas Editor: Saeful Bahri bin...
Pengurus Makin Tingkatkan Kualitas Shalat Santri
Masjid Jamik Sidogiri: Istikamah shalat berjemaah Kamis malam Jumat (04/09), Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri mengundang seluruh Kepala Kamar dalam acara “Pengarahan Pembinaan Shalat” dengan menghadirkan Ustaz Ahmad Faqih sebagai pemateri. Acara yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas shalat santri ini bertempat di Gedung an-Nawawi lantai IV. Materi untuk tahun ini dirancang khusus dalam satu buku yang diberi nama Shalatuna II. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dipetak dalam beberapa judul, kemudian diserahkan perjudul pada pembina setiap satu bulan. “Untuk tahun sebelumnya, bentuk materinya dibagi per-maudlu’ (judul) dan diserahkan setiap bulan ke Kepala Kamar,” tutur Ustaz Ach. Syaiful Furqon, Wakil I Ubudiyah PPS. Butuh Wawasan? klik di sini Tahap Koreksi: Materi baru program pembinaan shalat sabtu terakhir tiap bulan Penyampaian materi dari Ustaz Ahmad Faqih sebagai narasumber menjadi acara inti. Dalam penjelasannya, beliau lebih banyak mengingatkan serta mengajak semua kepala kamar untuk memperhatikan dan membina anggota kamarnya dalam masalah shalat. Selain itu beliau juga mengingatkan agar semua pembina menggunakan konsep taklim, bukan konsep dakwah ketika mendidik anak kamarnya, “Bukan konteks dakwah kalau di pondok, tapi konteks taklim,” ujarnya. Hal ini disampaikan agar semua santri terbiasa mengaplikasikan pendapat yang muktamad dalam mazhab Syafi’iyah. Sebelum acara diakhiri dengan doa, Ustaz Ahmad Faqih yang pernah menjabat sebagai Kabag Ubudiyah memberi saran pada Pengurus Ubudiyah untuk membuat jurnal serta mengadakan evaluasi terkait program Pembinaan Shalat bulanan ini. Selain itu, beliau juga menyampaikan pesan Pengurus Ubudiyah kepada audiensi untuk turut mengoreksi materi yang sudah ada di tangan mereka, “Mohon sambil dikoreksi, karena masih tahap koreksi. Kalau ada yang perlu diperbaiki, sampaikan pada Pengurus Ubudiyah Daerah agar nanti bisa ditindak lanjuti ke Pengurus Ubudiyah Pusat ketika rapat bulanan,” pungkasnya. Penulis: Muhammad Iksan Editor: Saiful Bahri bin...
Sidogiri Penerbit
Sidogiri Penerbit adalah badan penerbitan Pondok Pesantren Sidogiri. Sidogiri Penerbit hadir membawa misi melestarikan khazanah keilmuan Islam Ahlusunnah wal Jamaah, serta melawan arus pemikiran yang berseberangan dengan faham tersebut. Hal ini, selaras dengan moto yang diusung yaitu Benteng Ahlussunnah wal Jamaah. Visi Terwujudnya Sidogiri Penerbit sebagai penerbit pesantren yang profesional dengan menerbitkan bacaan yang berkualitas dan mampu bersejajar dengan penerbit-penerbit nasional yang ada saat ini. Misi Mewujudkan Sidogiri Penerbit sebagai pusat publikasi literasi santri dalam menciptakan khazanah keislaman yang selaras dengan paham Ahlusunah Wal Jamaah. Cikal Bakal Lahirnya tradisi mempublikasikan karya tulis-menulis di lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri sudah berjalan semenjak pertengahan tahun 1406 H/1986 M. Sebelum itu, belum ditemukan buku atau kitab yang diterbitkan oleh PPS secara resmi. Buku pertama yang terbit waktu itu adalah Murâjaatuth-Thalabah. Buku kumpulan hasil bahtsul masail ini diterbitkan oleh Kuliah Syariah yang waktu itu dipimpin oleh Ust. Yazid Busthami. Karena memang minimnya sarana waktu itu, Murâjaatuth-Thalabah terbit dengan cara ditulis manual dan difotokopi sebanyak 200 eks. Ternyata, buku terbitan perdana ini mendapat sambutan positif dan menuai banyak permintaan dari masyarakat hingga beberapa kali dicetak ulang. Setelah itu, seakan buku yang pertama ini menjadi candu penyemangat santri. Buku-buku yang lain pun mulai bermunculan. Puncaknya, terjadi pada tahun 1426 H, di tahun ini buku yang terbit mencapai 23 judul dari berbagai penulis dan lembaga internal yang berbeda. Demikian ini tidak lepas dari peraturan Pondok Pesantren Sidogiri yang waktu itu tidak begitu ketat mengeluarkan izin penerbitan. Namun, “era kebebasan” menerbitkan buku ini berakibat pada kian tidak terkontrolnya buku-buku yang terbit, hingga beberapa kali ditemukan kasus adanya buku yang terbit tapi tidak sesuai dengan prinsip agama dan PPS. Maka, pada tanggal 20 Rabiul Awal 1427 H/19 April 2006 dibentuklah badan penerbitan yang khusus bertugas mengontrol, menyeleksi, dan menerbitkan buku. Lembaga tersebut diberi nama Pustaka Sidogiri Assalafi dengan motto Benteng Ahlusunah Waljamaah. Sidogiri Penerbit Sejak awal berdirinya, badan penerbitan ini telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Pustaka Sidogiri as-Salafy. Dan sejak tahun ajaran 1435 H, intansi ini mengusung branding Sidogiri Penerbit dan Sidogiri Buku atas arahan Katib Majelis Keluarga, d. Nawawy Sadoellah. Sampai saat ini, Sidogiri Penerbit telah menerbitkan sekitar 160 judul buku berbahasa Arab maupun Indonesia. Sidogiri Penerbit bekerjasama dengan Batartama (Badan Tarbiyah wat-Taklim Madrasiy) menerbitkan buku-buku materi pelajaran dengan format baru yang memudahkan. Juga dengan instansi lainnya semisal Kuliah Syariah, Sidogiri Media, OMIM, ACS (Annajah Center Sidogiri) dan beberapa intansi lainnya. Sejak tahun 1430-1431, Pengurus PPS menetapkan target yang harus dicapai oleh Sidogiri Penerbit dalam satu tahun ajaran harus menerbitkan 20 judul terbitan dengan rincian; 10 dalam bentuk buku dan 10 dalam bentuk kitab. Sidogiri Buku Sidogiri Buku merupakan anak perusahaan yang berada...
Ibtidaiyah
Ibtidaiyah merupakan lembaga pendidikan klasikal pertama di Pondok Pesantren Sidogiri. Madrasah Miftahul Ulum Ibtidaiyah terdari dari enam dan ditempuh selama enam tahun. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Ibtidaiyah dilaksanakan pada pagi hari mulai pukul 07.30 s.d 12.10 Wis, terbagi menjadi tiga jam pelajaran dengan dua kali waktu istirahat. Mata pelajaran di Ibtidaiyah terdiri atas beberapa mata pelajaran agama dasar dan sedikit memasukkan pelajaran umum, seperti Bahasa Indonesia dan Matematika. Target pendidikan di tingkat ini adalah minimal murid Ibtidaiyah dapat membaca dan memahami kitab pelajarannya sendiri. Program dan Kegiatan Selain KBM yang rutin dilaksanakan setiap hari (selain Jumat) dari pukul 07:30 s.d 12 :10 WIS, Madrasah Miftahul Ulum Ibtidaiyah memiliki beberapa kegiatan penunjang, antara lain. Musyawarah Salah satu program dan kegiatan pendukung jenjang Ibtidaiyah adalah kegiatan musyawarah yang dilaksanakan pada sore hari mulai pukul 17: 00 s.d 17: 45 WIS. Kegiatan musyawarah ini difungsikan untuk mengasah bakat anak didik dalam mendalami materi yang sebelumnya dijelaskan oleh wali kelas. Olahraga Di tingkat Ibtidaiyah juga ada kegiatan ekstrakurikuler berupa olahraga yang dilaksanakan setiap satu pekan sekali. Olahraga yang dipilih adalah permainan bola kasti. Kegiatan ini berlangsung pada jam pelajaran pertama (07:30 s.d 08:30 WIS) dengan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan oleh Pimpinan MMU...