Jangan Bingung, Wali Santri Tetap Bisa Mengirim Putranya
Sebagai kelanjutan dari kebijakan sebelumnya, pada malam Selasa (17/03) pengurus Pondok Pesantren sidogiri mengumumkan kepada segenap wali santri yang hendak mengirim uang kepada putranya bisa melalui transfer ke rekening yang telah ditentukan oleh pengurus. Hal ini merupakan salah satu upaya pengurus Pondok Pesantren Sidogiri dalam mencegah penyebaran Covid-19. “Wali santri yang akan mengirim uang kepada putranya, bisa melalui transfer ke rekening berikut: Emaal: 9881 2302 1745 1745 a.n. Pondok Pesantren sidogiri BMT Maslahah: 104.11.01.0996.01 a.n. Abdulloh Karim qq. PPS BNI Syariah : 1745 0115 87 a.n. Moch Hudan Dardiri Konfirmasi transfer dengan mengirim SMS/WA ke nomor 0853-1158-1745 dengan menyertakan bukti transfer, nama, kamar, dan alamat santri.” demikian pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Surat yang dikeluarkan oleh Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri _ Kanzul...
Antisipasi Virus Corona, Sidogiri Cegah Tamu Kunjungi Santri
Memasuki tahun 2020 dunia dihebohkan dengan munculnya virus COVID-19 atau virus Corona. Virus Corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Sebagai pesantren yang memiliki 10 ribu santri lebih, Sidogiri juga mengantisipasi penyebaran virus ini ke area pesantren. Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri melarang tamu untuk mengunjungi santri mulai Senin (16/03) sampai pembukaan ikhtibar nanti. Pernyataan ini pertama kali dikeluarkan langsung oleh Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren Sidogiri, Mas Dwy Nawawy Sadoelah melalui akun Facebook nya, Dwy Sadoellah, pada hari Ahad (15/03). Beliau menyampaikan; “2 hari ke depan, InsyaAllah Santri Sidogiri tidak boleh dikunjungi. Tamu dilarang, hingga pembukaan ikhtibar. Mengantisipasi penyebaran virus Covid-19. Untuk kebaikan kita semua. Thanks pengertian dan perhatiannya…..” tulis beliau di akun Facebook nya. Pernyataan Mas Dwy Nawawy Sadoellah melalui akun Facebook nya Pernyataan tersebut diresmikan oleh pengurus Pondok Pesantren Sidogiri pada Senin (16/03). “Sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19, semua tamu dan wali santri mulai hari Senin (21 Rajab 1441 H/16 Maret 2020 M) s.d hari Rabu (14 Sya’ban 1441 H/08 April 2020 M) tidak diperkenankan berkunjung ke Pondok Pesantren Sidogiri,” demikian bunyi surat pernyataan yang dikeluarkan oleh Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. Surat pernyatan resmi pengurus pondok pesantren sidogiri – Kanzul...
Ingin Mencapai Ajang Nasional, PP-ISS Undang Juri Tahsin Tingkat Provinsi
logo ISS Juma’t pagi (17/7), Pengurus PP-ISS (Pimpinan Pusat Ikatan Santri Sidogiri) menyelenggarakan acara seminar dan penutupan kursus tahsinul khat bagi seluruh peserta jamiyah tahsinul khat. Sebagai narasumber seminar kali ini, panitia memilih Ust. Lukman Hakim asal Pasuruan. Beliau pernah menjuarai lomba tahsin tingkat nasional dan sekarang menjabat sebagai juri lomba tahsin se-Jawa Timur. Narasumber menerangkan secara detail seputar penulisan tahsin. Selain itu, beliau juga memberi motivasi bagi seluruh peserta jamiyah tahsinul khat, agar mereka lebih giat dan semangat mengikuti setiap kursus tahsin hingga nantinya bisa berajang di tingkat nasional. Di akhir acara, beliau berpesan “Sering-seringlah melihat buku seputar penulisan tahsin. Dengan begitu, segala materi tahsin akan menancap dalam hati dan memori. Ingat, kita harus mampu menyiarkan al-Quran dengan karya seni kaligrafi.” Terang pria yang juga sering menjadi motivator tingkat nasional tersebut. Kontributor: Agus|Redaksi...
Penutupan ACS dalam Bingkai Seminar Ilmiah
Sabtu (19/07) Annajah Center Sidogiri menggelar acara seminar ilmiah bertema ‘Kupas Tuntas Qadha Qadar’. Acara tersebut sekaligus sebagai penutup kajian Annajah Center Sidogiri periode 1440-1441 H. KH. Qoimuddin, dewan pakar Annajah Center Sidogiri dihadirkan sebagai narasumber. Sebagai pemantik semangat kepada para anggota ACS yang lain, pada acara tersebut pengurus juga memilih anggota ACS terbaik dari berbagai semester. Sebanyak 4 orang terpilih dari kajian kontra Wahabi, Liberal dan Penelitian & Pengembangan. Sebelum seminar dimulai, Ust. Achyat Ahmad, direktur Annajah Center sidogiri, memberikan sambutan mewakili pengurus lainnya. Dalam sambutannya beliau menjelaskan bahwa penutupan ACS ini hanya secara formal. Secara non-formal anggota ACS tetap harus belajar dan memperdalam ilmu akidah setelah ACS menutup kegiatannya. “Penutupan ACS ini hanya bersifat formal, sedangkan secara non-formal anggota ACS harus tetap belajar,” ungkap beliau. Seminar bertema “Kupas Tuntas Qadha’ Qadar” ini dimulai pukul 09 : 30 WIS. Dalam menyampaikan tema yang sejatinya tidak akan bisa diselesaikan secara tuntas tersebut, perlu ditegaskan kembali bahwa mempercayai Qadha dan qadar merupakan tanda keimanan seseorang, karena termasuk dalam salah satu rukun iman. Akan tetapi, jika hanya percaya pada qadha tanpa memercayai qadar maka sama saja dengan orang-orang Qadariyah. Hal tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Qoimuddin. Berdasarkan isi materi yang disusun langsung oleh narasumber, bahwa manusia tidak akan berkehendak kecuali dikehendaki oleh Allah SWT. berdasarkan firman-Nya dalam QS. at-Takwir [81]: 29) وَمَا تَشٓاءُوْنَ إِلَّٓا أَنْ يَشٓاءَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, tuhan semesta alam” Selain itu, KH. Qoimuddin juga menyampaikan bahwa takdir tidak menuntut seseorang untuk mengerjakan sesuatu, dalam artian manusia memiliki ikhtiyar untuk mengerjakan sesuatu, tidak semuanya dituntut oleh takdir. Hanya saja setiap sesuatu yang dikerjakan oleh manusia itu pasti sesuai dengan takdir Allah. “Takdir Allah itu tidak menuntut kita untuk mengerjakan sesuatu, tapi setiap apa yang kita kerjakan pasti sesuai dengan takdir Allah” jelas salah satu staf pengajar Aliyah ini dalam seminarnya. Kanzul...
Harus Tahu, Sejarah Tahsin al-Khot Sidogiri!
Suasana belajar tahsin al-khot Sidogiri Jam’iyah Tahsin al-Khot merupakan salah satu kegiatan ekstrakulikuler di bawah naungan Pengurus Pusat Ikatan Santri Sidogiri (PP-ISS) untuk mewadahi semangat menulis kaligrafi arab dengan baik dan indah. Mungkin banyak yang belum tahu tentang awal kegiatan rutin setiap Jumat pagi di gedung al-Ghazali ini, untuk itu simaklah uraian hasil wawancara Ahmad Zaini Sekretaris Jamiiyah Tahsin al-Khot dengan Ust. Iskandar dan Ust. Usman Asror berikut ini. **** Para guru besar Tahsin al-khot Sidogiri Adalah pada tahun 1967 Masehi, KH. Muhammad Usman Anis ketika duduk di bangku Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri memiliki inisiatif memperbaiki tulisan santri bersama teman-teman satu kelas beliau. KH. Muhammad Anis merupakan desainer lambang santri Sidogiri atas ide KH. Sa’doelloh bin Nawawie. Perkumpulan Ust. Anis dengan teman-teman kelas dilakukan pada pukul 02.00 malam setelah pulang sekolah dan gerak batin rutinan. Pada waktu itu, Kegiatan belajar Mengajar (KBM) Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah adalah setelah Isya hingga jam 12 malam waktu Istiwa. Sehingga pemilihan waktu dini hari ini dirasakan lebih tepat karena selain kondisinya yang tenang, juga belum adanya peraturan tidur di atas jam 12 malam pada waktu itu. Baca juga: Kaligrafi Islam Warisan Seni Paling Dihargai Sepanjang Zaman Tahun 1967 buku merupakan salah satu komoditi yang mahal, sehingga untuk kalangan santri perlu alternatif lain untuk menanggulangi sulitnya membeli buku. Maka, Ust Anis dan kawan-kawan menggunakan sabak, yakni semacam papan tulis hitam hanya saja ukurannya sama dengan kertas A3. Untuk media penulisannya, menggunakan kapur putih yang mudah dihapus. Perkumpulan Ust. Anis dan kawan-kawan memiliki daya tarik yang kuat. Dalam kurun waktu yang tidak lama, beberapa santri mulai ikut bergabung hingga memenuhi satu ruangan. Hal ini terus berlanjut hingga pada tahun 1969. Baca juga: Tak Gentar Meski Melawan Seniman Pada tahun 1969, Majelis Panca Warga Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Sa’doellah bin Nawawi akhirnya meresmikan kegiatan ini dan diberi nama CUSENI (Kursus Seni Tulis Indah). Acara peresmian diisi dengan selametan dan doa bersama. Namun, nama CUSENI tidak berlangsung lama. CUSENI diganti dengan Jam’iyah Tahsin al-Khot yang pada saat itu, telah berdiri Jam’iyah Qurra’ wa Tahfidz al-Quran dan Jam’iyah Mubalighin. logo ISS Jika saat ini, Jam’iyah Tahsin al-Khot berada di bawah naungan PP-ISS, maka pada waktu itu Jam’iyah ini ditangani oleh bagian Ma’hadiyah. Perlu diketahui, Sidogiri tahun itu belum terbentuk instansi-instansi seperti sekarang ini, dulu hanya ada bagian Ma’hadiyah dan Madrasiyah. Jamiyah Tahsin al-Khot mengalami perkembangan yang sangat pesat, terbukti dengan melebarkan sayapnya untuk mengadakan kursus pendalaman seni Tahsin seperti menganyam janur dan seni dekorasi. “Hampir seluruh santri Sidogiri mengikuti kegiatan ini dengan sangat antusias terutama dari kalangan putera-putera kiyai dari berbagai wilayah Nusantara yang mondok di Sidogiri, dengan maksud akan menelurkan kursus tahsin di pondoknya kelak”, kata Ust....
Perpus Bincang Indah Arudl dan Qawafy
Ust. Hidayatullah ketika menjelaskan Arudl Jumat (06/03), Perpustakaan Pondok Pesantren Sidogiri kembali adakan konsultan non regular. Bertempat di lantai I Perpustakaan dengan tema tentang syair, Menelaah Keindahan Ilmu Arudl dan Qawafy, Pengurus Perpustakaan hadirkan Ust. Hidayatullah sebagai narasumber. Ust. Hidayatullah dengan nama lengkap Ahmad Hidayatullah Yasin beralamatkan di Desa Rombo Kulon, Rembang, Pasuruan merupakan alumni Pesantren Sidogiri yang boyong tahun 2000. Beliau selama di Sidogiri telah memimpin Majalah dinding Himmah serta menjadi Ketua LPSI Kuliyah Syariah untuk pertama kalinya. Beliau merupakan pengarang syair Sidogiri Mahjari. Menurut beliau, keindahan itu diukur dengan perasaan. Syair itu sendiri dalah kalam berwazan, berqafiyah dan dengan maksud bersyair. “Adanya qayid qasdan dalam pengertian syiir adalah menunjukkan bahwa membuat syiir berarti harus ada maksud kalau itu dibuat untuk menjadi syiir. Sehingga kalau menemukan ayat al-Quran yang memiliki ciri-ciri syair seperti surat Alam nasyrah itu bukanlah syiir, karena sudah ditegaskan oleh Allah bahwa al-Quran bukan syiir”. Beliau juga mengajak para santri yang hadir seminar untuk mengetahui sejarah arudl. Arudl itu tersusun oleh Imam Kholil bin Ahmad al-Azdi al-Farahidi karena melihat banyaknya orang yang telah membuat-buat syiir tidak sesuai dengan ketentuan terdahulu. Menurut beliau, Ust. Hidayatullah, letak keindahan arudl itu dikarenakan ia merupakan alat untuk menjaga keindahan syiir dan untuk menciptakan keindahan syiir itu sendiri. Musafal...