LPBAA: Tingkatkan Kemapuan Berbahasa  dengan Debat Terbuka
Des06

LPBAA: Tingkatkan Kemapuan Berbahasa dengan Debat Terbuka

Guna meningkatkan kualitas dan minat santri dalam belajar bahasa Inggris, Lembaga Pengembangan Bahasa Arab dan Asing (LPBAA) Pondok Pesantren Sidogiri menggelar “Talk Show” dengan format Debat terbuka berbahasa Inggris Jumat (14/11). Talk show kali ini mengangkat tema “Should We Tolerance About Religion Each Other ?” dengan diikuti delegasi dari Asrama berbahasa Arab dan Inggris (Daerah E, dan K ) sebanyak 8 peserta. Acara tersebut dibagi menjadi 2 sesi, yaitu debat dan diselingi dengan pemberian doorprize bagi teman teman santri yang bisa menjawab pertanyaan dari moderator. Hal ini suasa lebih menarik. Tampak para peserta dan penonton bersemangat dan antusias dalam mengikuti acara yang dilaksanakan di pelataran asrama K. Menurut pengakuan salah satu koordinator acara ini digelar evaluasi terhadap kemampuan bahasa Inggris santri. “di era globalisasi yang sarat dengan tantangan seperti ini, para santri harus bisa menguasai bahasa inggris, karena bahasa inggris merupakan bahasa internasional, dan kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita santri Sidogiri meskipun Pondok Pesantren Salaf tapi kita bisa bersaing dengan pendidikan formal dan pesantren modern,” akunya.[] === Penulis : Mu’tasim Billah Editor   : Muh Kurdi...

Selengkapnya
LPSI: Belajar Usul Fiqih Harus Mengerti Gramatikal Arab
Des05

LPSI: Belajar Usul Fiqih Harus Mengerti Gramatikal Arab

Ahad (30/11) Kuliyah Syariah melalui LPSI (lembaga penelitian studi islam) kembali mengadakan Diskusi Panel dengan tema “Membumikan Ushul Fiqih”. Acara yang bertempat di Aula Kantor Sekretariat ini diikuti oleh seluruh anggota Kuliyah Syariah dan delegasi dari beberapa murid di tingkat Tsanawiyah mendatangkan Gus Ahmad Badruttamam Hasan MH, Mutakhorrijin Al-ahqaf Yaman Hadramaut. Dalam penuturannya  Gus Badrut -panggilan akrab Gus Ahmad Badruttamam Hasan menjelaskan   Definisi ushul fiqih secara global, metodologi penggunaannya, dan syarat-syarat penggunanya. “Ilmu usul fiqih itu yang ada di bab al-Qur’an dan Hadis itu semuanya memakai kaidah bahasa arab karenanya tidak  mungkin untuk diperbarui dan dirubah jadi tidak perlu terpengaruhi seorang yang mengaku pemikir yang mengajak kita untuk memperbarui kaidah-kaidah usul fiqih karena dianggap sudah usang,” ungkap pria yang tinggal di Seladi Kejayan Pasuruan ini. Menurutnya usul tanpa bahasa Arab tidak bisa diamplikasin. “Hal itu tidak mungkin bisa dilakukan karena ilmu usul fiqih itu harus menggunakan kaidah bahasa Arab dan kaidah Bahasa Arab itu tidak bisa dirubah” ujar narasumber dalam penyampaiannya. Lanjutnya beliau menjelaskan bahwa beberapa manfaat ilmu ushul fiqh ini di antaranya adalah sebagai alat untuk ijtihad, menggali hukum secara langsung dari dalil-dalil al-Quran, hadis, ijma’ dan qiyas. Tanpa ushul fiqih seseorang tidak akan bisa menggali hukum dari al-Qur’an dan Hadist secara tepat. Namun menurutnya hal ini sulit diperaktek secara langsung. “Ya minimal kita sudah tahu bagaimana hukum diproses dengan dengan mengintip racikan yang sudah matang dari Ulama Salaf.” tuturnya.[] Penulis : Achmad Siddiq Editor   : Muhairil Yusuf    ...

Selengkapnya
Syaikh Samih Al-Kuhhali Al-Yamani: Santri Harus Mewarnai Masyarakat
Des04

Syaikh Samih Al-Kuhhali Al-Yamani: Santri Harus Mewarnai Masyarakat

Pondok Pesantren Sidogiri kedatangan seorang ulama dari negara Yaman. Beliau bernama syaikh Samih al-Kuhhali, Yaman, Ahad sore (29/11) di aula Kantor Sekretariat lantai III. Beliau merupakan murid dari syaikh Abu Bakar al-Adn al-Masyhur, Yaman. Acara yang dikemas dengan muhadarah ilmiah itu, dimulai sekitar pukul 13.30 Wis dengan dihadiri semua guru PPS yang tidak mempunyai jam aktif dan beberapa murid Tsanawiyah. Dalam penyampaiannya, syaikh Samih al-Kuhhali al-Yamani menekankan kepada santri akan pentingnya sebuah ilmu. Menurutnya, ada tiga poin yang berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Ketiga poin tersebut adalah tarbiyah, ta’lim, dan dakwah. Syaikh Samih al-Kuhhali al-Yamani menjelaskan bagaimana sekiranya tarbiyah itu menyangkut pada hal yang berkenaan dengan kehidupan. Bahkan tarbiyah itu haruslah diagungkan dengan cara-cara yang lembut dan sopan sehingga kita tidak akan mendapatkan kesulitan ketika mempelajari ajaran Nabi. Selanjutnya, beliau melanjutkan penyampaiannya kepada hadirin bagaimana cara mempelajari ilmu dan pengajarannya. Menurut beliau, pada masa sekarang banyak masyarakat yang membaca kitab atau buku hanya untuk kepentingan diri sendiri bukan karena Allah. Sehingga meski kelihatan umat Islam banyak namun esensinya sedikit karena mereka jauh dari Allah. Syaikh berkebangsaan Yaman ini juga menuturkan bagaimana kita berdakwah hanya kepada Allah. Hal ini tidak cukup dengan berdakwah di atas mimbar karena sesungguhnya dakwah itu kepada Allah. “Saya ingin kalian menjadi benda yang berwarna sehingga ketika kalian keluar dari pondok bisa mewarnai mereka bukan malah diwarnai oleh mereka,” harap syaikh Samih al-Kuhhali al-Yamani ini di aula Kantor Sekretariat. === Penulis: Musaif Ali Editor  : Muh. Kurdi Arifin...

Selengkapnya
Ust. Idrus Ramli: Liberalisme, Ngerogoti NU Melalui Berbagai Lini
Des03

Ust. Idrus Ramli: Liberalisme, Ngerogoti NU Melalui Berbagai Lini

Bercokolnya pemikiran liberalisme di tubuh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU), merupakan problem serius dan ancaman besar bagi akidah warga Nahdliyin. Untuk membendung kekhawatiran semakin meluasnya paham-paham sekuler-liberal di tubuh NU, Pondok Pesantren Sidogiri sebagai benteng Ahlusunah wal Jamaah (Annajah) terus berupaya menggenjot santri-santrinya melawan arus pemikiran ngawur itu. Kamis malam (25/11), Annajah Center Sidogiri (ACS) mengadakan seminar ilmiah dengan tema “Liberalisme di Tubuh NU, Sejarah Sepak terjang dan Infiltrasi Pemikirannya,” Ust. Muhammad Idrus Ramli, Dewan Pakar Aswaja Center Jatim membongkar kedok dan doktrin liberalisme dalam tubuh NU di depan ratusan aktivis ACS. Menurut analisisnya, ciri khas liberalisasi pemikiran yang becokol di tengah-tengah umat Islam dapat diidentifikasi dengan lima hal; 1) Penyebaran doktrin relativisme 2) Melakukan kritik al-Qur’an 3) Penyebaran paham pluralisme agama 4) Mendekonstruksi syariah 5) Penyebaran faham feminisme dan gender. “Parahnya lagi, liberalisme telah masuk ke dalam lingkungan NU melalui para pemikir NU yang cenderung liberal, media massa NU, kitab-kitab kuning mulai diliberalisasi, dan keputusan Bahtsul Masail NU rupanya menjadi sasaran liberalisasi guna mem-Barat-kan khasanah pesantren,” tukas alumnus PPS tersebut. Liberalisasi kitab kuning dilakukan para tokoh sekuler-liberal dengan pelbagai upaya, di antaranya; Tahqiq (pemeriksaan secara seksama dan detil), Ta’liq (komentar), Takhrij (autentifisikasi sumber hadits suatu kitab), Syarh (komentar luas) dan Dirasah (studi dan penelitian). Di antara kitab kuning yang berupaya diliberalisasi dengan cara tahqiq adalah kitab Ta’limul-Muta’allim karya Burhanuddin al-Zarnuji. Durrat al-Nashihin karya Syaikh Syakir al-Khaubari, dan ‘Uqud al-Lujain fi Bayan Huquq al-Zaujain karya Syaikh Nawawi Banten. “Pada November 2001, FK3 (Forum Kajian Kitab Kuning, Jakarta Selatan) menerbitkan buku ‘Wajah Baru Relasi Suami-Istri, Telaah Kitab ‘Uqud al-Lujjayn karya Syaikh Nawawi Banten.’ Buku yang diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta dengan tebal 210 halaman; 14.5 x 21 cm ini merupakan salah satu upaya liberalisasi melalui tahqiq. Kontan, nama Syaikh Nawawi Banten tercemar lewat buku ngawur tersebut,” ujar Idrus Ramli, Kiai muda yang getol membendung pemikiran sempalan di luar Ahlusunah wal Jamaah. === Penulis: Ilham Akbar Editor  : Muh Kurdi...

Selengkapnya
Tarbiyah Idadiyah: Melatih Mereka Sejak Dini dengan Musyawarah
Des02

Tarbiyah Idadiyah: Melatih Mereka Sejak Dini dengan Musyawarah

Sebagai tahap pemula dalam bidang baca kitab, pengurus Tarbiyah Idadiyah terus meningkatkan  intelektualitas semua murid-muridnya, khususnya kelas Takhassus. Oleh karena itu, untuk tahun ini Tarbiyah Idadiyah mengadakan Musyawarah Usbui’yah (mingguan) bagi murid Takhassus yang rutin diadakan di depan daerah M. Musyawarah yang digelar malam jumat (26/15) ini, diikuti oleh dua orang utusan dari setiap kelas, mulai abjad A sampai R. selain dua utusan tadi, panitia Musyawarah, Ust. Jakfar, sengaja mengundang dua murid Idadiyah non reguler sebagai utusan demi meramaikan kegiatan ini. Menurut Ust. Subhan selaku kepala Tarbiyah Idadiayah, musyawarah ini difungsikan agar murid lebih cakap dan berani tampil di khalayak orang banyak. Dan, di tingkat yang masih dini pun murid-murid tingkat Takhassus ditekankan untuk memahami kitab Fiqih yang mereka pelajari dengan baik. “paling tidak mereka bisa menjadi seorang Faqih junior.” Tutur beliau saat dikelarifikasi oleh redaksi. Lebih lanjut, Ust. Subhan menjelaskan bahwa musyawarah ini sangat penting bagi mereka, “yang paling penting bagi kemajuan tingkat ini adalah, melatih mereka sejak dini,” tutur beliau melanjutkan. Bahkan musyawarah ini bisa menjadi ajang pelatihan mental semua santri, karena di kelas lain yang setingkat belum bisa dan berani mengadakan musyawarah yang dihadapkan langsung kepada semua santri.[] === penulis: Muktafi Kafi Editor  : Muhairil...

Selengkapnya