Datangkan Dua Habaib Kondang di Pembukaan Milad PPS yang ke-278
Mei31

Datangkan Dua Habaib Kondang di Pembukaan Milad PPS yang ke-278

Nanti malam, Senin (01/06), panitia Milad PPS ke-278 dan Ikhtibar ke-79 MMU akan meresmikan pembukaan acara tahunan di PPS. Di acara pembukaan itu rencananya panitia akan mendatangkan dua muballigh kondang tanah air, Habib Jamal bin Thoha Ba Agil dari Batu Malang dan Habib Jakfar al-Muhdor dari Probolinggo. Panitia sudah mempersiapkan jauh-jauh hari mengenai muballigh yang akan memberikan ceramah di acara Milad kali ini. “Kami sudah menghubungi para muballigh yang insya Allah semua sudah siap,” tutur ketua panitia Milad PPS ke-278, ust. Musleh MH pada Kabar Ikhtibar, Sabtu (12/08) kemarin. Lebih lanjut, pria kalem asal Pasuruan ini menuturkan, bahwa ada salah satu muballigh yang dihubungi sampai tiga kali. Hal ini tak begitu mengherankan, mengingat jam terbang para muballigh yang begitu padat. Beliau berharap semoga semua muballigh yang telah diundang bisa menghadiri acara pembukaan Milad PPS ke-278 ini. [z-adn/Kabar...

Selengkapnya
Wartawan Surya Tertarik Beritakan Koran Kabar Ikhtibar
Mei31

Wartawan Surya Tertarik Beritakan Koran Kabar Ikhtibar

Kantor redaksi koran Kabar Ikhtibar kedatangan wartawan koran harian Surya, Sabtu (30/05) kemarin. Irwan Syairwan, nama wartawan tersebut, diterima langsung oleh Pemimpin Redaksi Kabar Ikhtibar, Muhammad Muhsin Bahri. Selain bertanya mengenai Kabar Ikhtibar, lelaki jangkung asal Jakarta tersebut juga bertanya mengenai media PPS dan perkembangannya. Ia juga menyaksikan secara langsung kesibukan redaksi dan direksi kerabat khidmah Kabar Ikhtibar. “Jadi ini terbit harian?” Tanyanya penuh kagum. Ia bertanya tentang jadwal penerbitan, pengalaman-pengalaman redaksi selama meliput berita dan harapan para redaksi. Irwan tampak antusias mendengar penjelasan Pemred Kabar Ikhtibar. “Rencannya nanti akan saya jadikan feature,” terangnya menjelaskan jenis berita yang akan digarap. Namun lelaki yang sudah 6 tahun berada di koran harian Surya tersebut mengaku terserah keputusan redakturnya, apakah berita menarik mengenai wartawan pesantren ini layak diterbitkan di Surya atau tidak. Sebab bagaimanapun, keputusan penerbitan ada di tangan redaktur. Sebenarnya, kedatangan Irwan tidak semata berkunjung ke Kantor Kabar Ikhtibar. Ia bersama beberapa rekan wartawan dari berbagai media datang ke PPS untuk mewancacarai KH. Hasyim Muzadi, yang diundang Omim untuk mengisi Kuliah Umum. Namun ia mengaku lebih tertarik dengan aktifitas media di PPS. “Di sini aja dulu, kayaknya lebih menarik,” akunya ketika mengetahui kedatangan KH. Hasyim Muzadi. [bin/Kabar...

Selengkapnya
KH. Hasyim Muzadi: Dakwah Wali Songo Ditinjau dari Kebutuhan Mukhatab
Mei31

KH. Hasyim Muzadi: Dakwah Wali Songo Ditinjau dari Kebutuhan Mukhatab

Saat ini dakwah yang diterapkan di tengah masyarakat oleh sebagian ormas (organisasi masyarakat) menggunakan cara efektif untuk menumpas kemungkaran. Diantaranya; konflik fisik, konflik pikiran, dan lain sebainya. Untuk menyikapi hal ini, pengurus OMIM (Organisais Murid Intra Madrasah) bersama pengurus Kuliah Syariah menghelat Kuliah Umum II dengan mengangkat tema utama, Sabtu (30/05) di mabna ar-Rofi’i Lt. II. Kuliah umum yang ke-II ini mengundangkan KH. Hasyim Muzadi sebagai narasumber utama. Dalam awal pidatonya, Kiai yang menjadi pengasuh di salah satu pesantren di kota Malang ini menerangkan bahwa metode yang digunakan oleh Wali Songo dalam berdakwah tidak menggunakan atas nama agama, namun menanyakan kebutuhan mukhatab. “Kalau ada desa yang kekeringan maka tidak segan-segan Wali Songo mendoakan sesuai kebutuhan si mukhatab,” ungkap Kiai Hasyim Muzadi yang menjadi penasehat Presiden ini di tengah-tengah peserta yang dihadiri asatidz Aliyah dan murid Aliyah ini. Beliau juga mewanti-wanti kepada semua ormas NU Nahdliyin untuk tidak terpecah belah dan menyatukan satu aspirasi dalam membangun bangsa. “Bersatulah kaum Nahdliyin. Jangan sampai terpecah belah! Mereka menyerang Islam dengan mengatasnamakan HAM,” ungkap Kiai Hasyim yang mengaku pernah diundang ke Swis gara-gara ketidak setujuannya terhadap HAM Internasional yang disamakan dengan HAM di Indonesia. Lebih lanjut Kiai Hasyim menjelaskan, jika umat Islam sibuk bertikai dengan sekte yang menyimpang dari Aswaja, maka konsekuensinya musuh yang sesungguhnya akan ikut campur dalam permasalahan kita. “Jangan sampai terjadi konflik fisik dengan Syiah, Wahabai, dan Hizbut Tahrir, karena jika kita bertikai secara fisik maka musuhnya yang sesungguhnya akan mengobrak-abrik eksistensi umat Islam,” tandasnya. Acara kuliah umum yang dimulai pukul 02.30 Wis siang ini juga dihadiri Ketua Umum PPS, KH. Abdurrahman Syakur, dan para dewan asatidz MMU Aliyah. (SEF)        ...

Selengkapnya
Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu
Mei30

Ngaji Maring KH. Abdullah Syaukat Siradi: Menjaga Niat dalam Menuntut Ilmu

KALAU menurut Almarhum Kiai Hasani, sekarang susah cari ilmu. Karena kebanyakan gurunya tidak karena Allah dan yang ngaji juga tidak karena Allah. Jadi bertemunya murid dan guru yang ikhlas, ini yang bisa menciptakan ilmu manfaat. Almarhum KH. Abdul Adhim, kalau ngaji kitab, lampunya dibawa sendiri dari dalem-nya. Kata Kiai Hasani, “Saking wedine gak ikhlas, Kang Adhim ghowo lampu teko umahe, gowo dewe.” Setelah ngaji, ketika lampunya mau dibawakan, beliau tidak mau. Mau tidak manfaat bagaimana ilmunya? Kita ingin sekali punya santri yang betul-betul manfaat. Kita tidak henti-henti mendoakan santri. Sehabis Subuh mintakan santri semoga ilmunya manfaat. Ini tak ada putusnya, saking kepingine. Tapi ya tergantung santrinya juga. Kalau santri memang betul-betul, insyaAllah berhasil. Dawuh Kiai Hasani, dari pada berdoa, lebih baik mengubah tingkah. Kita berdoa minta selamat, tapi berjalan di tengah jalan, ya, mungkin susah untuk selamat. Kamu tidak usah berdoa. Kamu jalan minggir saja, hati-hati. Karena tingkah itu adalah doa. Orang tua juga penting. Sementara orang tua sekarang cuma sibuk nyambut gawe tok, sibuk kerja. Anaknya pulang malam tidak diurus. Sekarang malah lebih mahal ayam daripada anak. Ayam tidak pulang sore saja dicari ke tetangga-tetangga. Anaknya tidak pulang semalaman tidak dihiraukan. Kalau nakal ditaruh di pondok. Masya Allah, ya, ini bingung. “Sik muruk sik dungakno”. Sedangkan anaknya tidak ada kemauan sama sekali. Makanya banyak yang gagal. Jadi tergantung anaknya, niatnya apa di situ. Insya Allah, kalau kiainya Lillâhi Taâlâ, santrinya juga karena Allah, maka ilmunya akan manfaat. Wali murid itu kadang salah faham. Anaknya pulang dari pondok malah diberi kebebasan. Setahun ditahan, mumpung pulang, diberi kebebasan. Dari awal tahun diberi pengertian baik-baik, akhir tahun, kok, malah dihapus. Dawuh Kiai Hasani, apa-apa kalau punya niat tapi belum berhasil, tandanya niatnya masih setengah-setengah. Kalau punya niat 100%, pasti berhasil. Beliau pernah memberi ujian pada saya. Kata beliau, “Sekarang banyak amar makruf nahi mungkar, kok batilnya lebih banyak? Padahal dawuhnya Allah tidak begitu. Kalau ada haq, pasti bathil sirna (Idzâ jâal-haqqu wa zahaqal-bâthil). Ini kok malah banyak haq, tapi bathilnya lebih banyak? Yang salah itu al-Quran apa siapa?” Saya jawab, ya, orangnya. Ya, betul. Sebab Allah sudah berfirman di al-Quran. Kok masih tidak cocok? Berarti haq-nya ini tidak 100%. Masih bercampur hawa nafsu. Makanya para guru dan pengajar harus menjaga haq agar tidak bercampur hawa nafsu, dengan demikian amblas bathilnya. Ya, pakai latihan dulu. Guru juga begitu, latihan ikhlas. Orang yang mau berlatih pasti berhasil. Kamu lihat angkat besi di TV. Tidak langsung 100 kg. Semua sama, ototnya sama. Kenapa dia bisa mengangkat 100 kg? Semua itu karena latihan. Santri juga begitu, harus latihan. Dawuh Kiai Hasani, mari kita biasakan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sebagai murid, harus benar-benar latihan....

Selengkapnya
Seminar Ilmiah Milad ke-278 PPS : Pentingnya Sanad Talaqqi dalam Keilmuan Islam
Mei29

Seminar Ilmiah Milad ke-278 PPS : Pentingnya Sanad Talaqqi dalam Keilmuan Islam

Panitia Milad ke-278 PPS dan Ikhtibar ke-79 MMU Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) menggelar seminar ilmiah Kamis sore (09/08) di ruang auditorium kantor Sekretariat. Dalam seminar yang berlangsung sekitar tiga jam ini, panitia mendatangkan Syaikh Muhammad Husni Ginting al-Besitani dari Medan sebagai narasumber dan Ust. A. Dairobi sebagai moderator. Acara ini diikuti oleh  Keluarga Muda Sidogiri, beberapa staf pengajar MMU dan undangan dari beberapa pesantren di Jawa Timur dan Madura. Tema yang diangkat dalam seminar tersebut adalah ‘Memahami Pentingnya Sanad Talaqqi di dalam Keilmuan Islam’. Di awal pemaparan makalah, Syaikh Muhammd Husni sempat menyinggung kekhususan umat Muhammad daripada umat-umat yang lain. “Sambungnya sanad sampai ke Nabi adalah kekhususan yang hanya dimiliki oleh umat Muhammad,” jelas Ulama muda yang mendapat gelar Musnid Asia Tenggara itu. Beliau menghimbau agar kita kaum santri untuk berhati-hati dan selektif dalam memilih seorang guru, karena sudah banyak orang yang salah memilih guru, akhirnya mereka menjadi sesat. “Ilmu itu adalah agama, maka dari itu kenali dari siapa kamu mengambil agamamu,” kata belilau mengutip dauh imam Muhammad bin Sirin. “Sekarang ada sekelompok Salafi-Wahabi yang mengadakan pembacaan kitab Shohih Bukhori yang tidak ketemu kepada siapa mereka membaca kitab tersebut. Kalau cuma membaca sendiri kita pun bisa. Lucunya mereka baca Bukhori terjemahan bahasa Indonesia. Oleh karena itu kita perlu mendapatkan ilmu langsung dari seorang guru, bukan baca-baca sendiri,” tambahnya dengan logat bahasa Melayu. Menurutnya, yang perlu dipertanyakan dalam kasus ini adalah pemahamannya. “Hadits yang disampaikan itu shohih semua tapi perlu dipertanyakan apakah benar pemahaman mereka sudah shohih. Karena dalam berbagai kasus mereka sering mencatut hadits shohih namun diartikan sekehendaknya sendiri,” ungkap pria kelahiran Besitang Langkat Sumatera Utara. Beliau juga menjelaskan teori cara mendapatkan sanad dari seorang guru. Ada empat metode untuk mendapatkan sanad. Diantaranya adalah ijazah dari seorang guru dengan lafad haddatsana, sama’an, qiro’atan, ijazatan dan lain-lain. Ust. Dayrobi, menyimpulkan pemaparan yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Husni, bahwa keshahihan sanad itu hal yang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah keshahihan pamahaman. “Dulu banyak orang yang menciptakan hadits maudu’, sedangkan sekarang banyak orang yang memaudu’kan hadits dho’if. Padahal di kalangan kita orang-orang Ahlus Sunnah wal Jamaah mengamalkan hadits maudhu’ tidak masalah asalkan dalam masalah fadho’ilul ibadah,” terang Redaktur Senior Sidogiri media itu. Di penghujung acara Syaikh Muhammad Husni memberikan ijazah ammah semua kitab beliau dan ditutup dengan...

Selengkapnya