Pengasuh Lantik Kembali Koordinator Perwakilan Urusan TMTB dan Dai
Pengurus Urusan Tugas Mengajar Tugas Belajar (TM-TB) dan Dai kembali menggelar acara rutinan di dalem pengasuh, Sanin (01/06). Agenda acara ini guna untuk melantik semua Koordinator guru tugas (GT) dan penanggung jawab guru tugas (PJGT) di seluruh nusantara yang mengambil guru tugas dari Sidogiri. Semua berkumpul untuk memenuhi undangan rapat pengangkatan koordinator. Setelah mendapat konfirmasi dari pengurus TM-TB. Masa jabatan koordinator selama dua tahun. Rapat penting ini guna melaporklan dan mengevaluasi kinerja koordinator. Pelantikan ini sebagai pengukuhan jabatan penting itu. “Pelantikan jabatan koordinator ini bentuk pengakuhan, bukan penggantian orang baru,” jelas ust. Ja’far Hadi. Jumlah semua peserta koordinator yang hadir berjumlah 30 orang. Didampingi pangurus TM-TB 8 orang, keluarga dan majelis kelurga. Selain pelantikan pengasuh berpesan agar semua koordinator ikhlas mengerjakan tugas yang diamanahkan oleh pesantren. Khidmah agar hidup lebih berkah. “Sari inti dawuh pengasuh tadi itu agar semua koordinator membenah keikhlasan hati,” imbuh beliau. Rapat koordinator dilaksanakan dua kali dalam setahun. Paruh tahun pertama tempat rapat secara insidentil dan rapat pada akhir tahun di Sidogiri. Pada tahun ini rapat paruh tahun pertama bulan Rabiul Awal berlokasi di Malang. Sedangkan pengangkatan koordinator istiqamah berlangsung di ndalem pengasuh setiap dua tahun sekali. Terlihat lebih sakral dan merupakan amanah besar dari pesantren. Pelantikan ini berlangsung mulai dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 02.00 istiwa’ siang...
Habib Jakfar al-Muhdor: Penuntut Ilmu Harus Ikut Lampah Ulama Salaf
Ahad malam (01/06), setelah prosesi peresmian pembukaan Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan MMU yang ke-79 di lapangan olahraga Sidogiri, acara dilanjutkan dengan tausyiah dari Habib Jakfar al-Muhdor, Teres, Probolinggo. Habib yang mengaku alumni Sidogiri ini banyak menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan menjaga etentitas keilmuan seorang santri salaf. Menurutnya, penuntut ilmu hendaknya mengamalkan perkataan imam Malik yang mengharuskan bagi penuntut ilmu bersikap tenang, punya rasa takut kepada Allah, serta mengikuti lampah ulama salaf. “Imam Abu Hanifah dalam urusan makan tidak lebih dari cara burung makan makanan. Selain itu, beliau selama 40 tahun shalat Subuh menggunakan wudhu shalat Isya,” ungkap Habib yang menjadi pengasuh pesantren Darul Musthofa, Probolinggo ini. Selanjutnya Habib Jakfar juga menerangkan akhlak seorang yang menimba ilmu agama. Habib memberikan contoh riil imam Malik yang hendak membaca satu Hadis. Menurutnya, ketika membaca Hadis imam Malik bersesuci dari Hadas kecil maupun besar kemudian menyiapkan tikar, karena mengagungkan Hadis Rasulullah. “Insya Allah jika kita ikut lampahnya ulama salaf semuanya akan terasa mudah dalam menggapai cita-cita,” tandasnya. Habib Jakfar mengutip perkataannya Fudhail bin Iyadl, ia mengatakan bahwa kita bila berada di mana saja maka hendaknya menjadi ekor dan tidak menjadi kepala. Ulama Nahwu sampai-sampai mengaplikasan perkataan Fudhail bin Iyadl ini dengan contoh ‘akaltu samakata hatta ra’saha’. Ra’ (baca; kepala) akan rusak karena dimakan sampai habis. Sedangkan ekor tidak demikian. “Kun dzanaban haitsuma kunta wala takun ra’san fa innahu yahlik, wa dzanab yanju. (Jadilah ekor di manapun kau berada dan jangan jadi kepala, karena kepala akan rusak sedangkan ekor selamat),” papar Habib Jakfar dengan bahasa Arabnya. “Hal ini mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap tawadhu. Sekalipun berada di depan jangan sampai sombong,” pungkas Habib jakfar al-Muhdor ini. Acara pembukaan Milad PPS yang ke-278 dan Haflatul Imtihan MMU yang ke-79 ini ditutup dengan doa yang langsung dipimpin oleh Habib Jakfar al-Muhdor....
Ngaji Jendela Hati: Potret Semarak Belajar Santri yang Semakin Bergairah
Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) mengapresiasi tema Milad ke-278 PPS yang mengusung motto Ngaji Jendela Hati. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Mas Ahmad Sa’dullah bin Abd. Alim, Bendahara Umum PPS. Pada acara pembukaan Milad ke 278 PPS, Ahad malam (31/05) kemarin. “Tema Milad kali ini sangat pas untuk menggambarkan visi dan misi Pondok Pesantren Sidogiri serta proses dan hasil pendidikan yang dilangsungkan pada periode 1435-1436 ini, yang tampak mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya,” ungkapnya dalam sambutannya. Menurutnya, peningkatan ini tampak berbanding lurus dengan semangat wali santri untuk memondokkan anaknya ke PPS. Terbukti pada tahun ini ada 1900 santri baru, meningkat dua ratus lebih banyak dari tahun sebelumnya. Guna mengimbangi kepercayaan masyarakat, pengurus membentuk Tarbiyah Idadiyah yang dikhususkan untuk santri baru. “Alhamdulillah Madrasah Idadiyah dengan metode al-Miftah Lil Ulum telah berhasil mewisuda ratusan santri baru yang sudah dianggap bisa membaca kitab, memaknai, menerjemahkan dan dapat memahami kitab kuning dengan baik dan benar. Bahkan sebagian dari lulusan Madrasah Idadiyah sudah ada yang menghafal Matan Taqrib di luar kepala,” tuturnya dengan bangga di hadapan para hadirin. Pada perayaan tahunan kali ini, Tarbiyah Idaidiyah akan mewisuda delapan ratus delapan puluh lima anak. Bahkan, beberapa hari yang lalu, salah satu murid Idadiyah berhasil menjuarai lomba baca kitab se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Jombang. “Diharapakan Tarbiyah Idadiyah ini bisa memberikan pengaruh yang baik kepada santri yang bukan Idadiyah. Demikian pula sebaliknya. Santri-santri yang bukan Idadiyah mestinya bisa menjadikan semangat santri Idadiyah sebagai inspirasi untuk semangat belajar dalam dirinya.” Harapnya. Beliau juga berharap bagi santri Idadiyah yang sudah mahir baca kitab agar tetap berakhlak yang baik pada santri lain. Karena kepandaian baca kitab harus dilengkapi dengan pengalaman dan akhlak yang baik. “Sebab visi dan misi Pondok Pesantren Sidogiri adalah mencetak santri menjadi ibadilllah as-shalihin. Yakni santri yang bertakwa kepada Allah. Berjalan di atas rel syariat, berpegang teguh pada tauhid dan berhias dengan akhlakul karimah,” tandasnya. Menurutnya, hal yang patut diapresiasi dan kita syukuri adalah sausana belajar dan suasana ilmiyah di lingkungan PPS yang saat ini semakin hidup dan semarak. Terbukti pengunjung perpustakan selalu sesak. Bahkan setiap malamnya pengajian kitab yang dikoordinir oleh Taklim wa tahfidz al-Quran (TTQ) ada 75 qori’ yang membina pengajian kitab baik secara bandongan atau sorongan. “Dari setiap qori’, ada yang menghatamkan 3 kitab, juga ada yang mengkhatam lima kitab dalam satu majelis. Berarti jika dikalkulasi, jika masing-masing qori’ bisa menghatapkan 3 kitab saja, berarti sudah ada 225 judul kitab yang dikhatamkan dalam tahun ini,” terangnya. Hebatnya, tahun ini TTQ sedang menggarap penerbitan Mushaf Qiratus Sab’ah Sidogiri dan Mushaf Usmani Sidogiri, yang memuat tiga disiplin ilmu sekaligus. Memuat kajian khusus seputar ayat yang berhubungan fikih, tauhid dan tajwid serta ayat mutasyabihat....
Pembukaan Milad ke-278 PPS: Totalitas Show Performance yang Menawan
Pembukaan Milad ke-278 PPS dan Ikhtibar ke-79 MMU membuat decak kagum dan memukau ribuan mata yang memandang, Senin (14/08) kemarin malam. Ribuan santri yang hadir dibuat terpukau oleh rentetan penampilan yang disuguhkan dengan sangat apik dan menarik. Semua penampilan dipermak dengan cukup indah dan rapi, seperti Shalawat Nabi yang lagunya mampu membangunkan bulu kuduk. Pembacaan kalam-kalam Ilahi juga tak kalah mengalun indah. Ditambah sebuah drama mini yang mengilustrasikan tentang pengajian kitab kuning ala pesantren pada Pengasuh PPS. Pembukaan Milad menjadi semakin meriah karena ada parade bedug oleh Tim Bedug. Mas H. Bahruddin Thoyyib, di dampingi oleh Mas Aminullah Bq, didapuk untuk meresmikan pembukaan Milad. Pembukaan ditandai dengan tabuhan bedug oleh beliau lalu dilanjutkan dengan parade bedug. Setelah itu, pesta kembang api menghiasi langit venue (lapangan, red) utama Milad dan Ikhtibar 1436 H. “Lebur, cah. Engko’ toman nyungngu’ geladi kotor ê Sekretariat, seru. Ternyata pas acaranah lebih seru polê (Seneng, cah. Saya pernah nonton geladi kotor di Sekretariat, seru. Ternyata pas acaranya lebih seru lagi),” kata salahsatu santri asal Pamekasan yang tidak mau disebutkan namanya. Dia mengaku sudah berkali-kali menyaksikan geladi kotor di Kantor Sekretariat Lt. III. Ternyata untuk menghasilkan performa yang menawan seperti yang dilihatnya saat ini, tim shalawat, tilawatil quran dan lain-lainnya harus benar-benar total. Santri yang berdomisili di Daerah K tersebut mengaku takjub. “Saat geladi kotor itu, mereka (tim-tim penampilan, red) sering dimarahi kalau ada penampilannya yang salah atau kurang total,” tambahnya. Sementara itu, pemutara audio pengajian KH. A. Nawawi Abd. Djalil ketika penampilan mini drama terasa begitu menyentuh. Semua itu karena dukungan audio visual, lighting, tata rias panggung yang sempurna dan ditambah dengan kecanggihan tekhnologi LED membuat penampilan malam ini terasa begitu istimewa. Acara yang ditunggu-tunggu adalah ceramah kedua muballigh, yaitu Habib Jamal bin Thoha Ba Agil dari Batu Malang dan Habib Jakfar al-Muhdor dari Probolinggo. Namun sayang, yang bisa hadir hanya Habib Jakfar al-Muhdor, alumni Pondok Pesantren...
Perpisahan Seluruh Guru MMU Dilaksanakan di Kantor Sekretariat PPS
Perpisahan para guru MMU digelar di kantor Sekretariat lantai III, Sabtu siang (30/05). Acara tersebut dihadiri oleh Mas d. Nawawy Sadoellah, HM. Aminulloh Bq (Ketua I PPS), staf pengajar MMU di seluruh tingkatan, kepala sekolah semua tingkatan dari Idadiyah sampai Aliyah, Kepala Batartama, dan Kepala Labsoma. Dalam acara itu, semua kepala bawahan Ketua I diminta untuk memberikan sambutan, dari Kepala Madrasah hingga Kepala Labsoma dan Kepala Batartama. Ustadz Baihaqi Juri, Kepala Madrasah Ibtidaiyah sempat menyinggung tentang hasil IMNI (ujian akhir, red) tingkat Ibtidaiyah tahun ajaran 1435-1436 H. “Peserta IMNI tahun ini yang lulus murni 49%, namun alhamdulillah hanya ada 24 anak yang tidak lulus ketika ada pemberian syafaqah,” jelas pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Kopontren Sidogiri ini di sela-sela sambutannya. Setelah semua sambutan selesai, dilangsungkan pemberian penghargaan terhadap guru teladan di semua tingkatan. Penghargaan berupa sertifikat dan uang tunai 2 juta rupiah. Ustadz Mudzakkir sebagai guru teladan di tingkat Idadiyah, Ustadz Shohib Salim di tingkat Istidadiyah, Ustadz Arbain Wahid di tingkat Ibtidaiyah, Ustadz H. Abu Darrin Amar di tingkat Tsanawiyah dan Ustadz Khozin Anwari di tingkat Aliyah. Mas HM. Aminulloh Bq juga memberikan sambutan setelah sambutan dari para bawahannya. Beliau berharap agar uang tunai yang diberikan itu dibelikan kitab dan hal lain yang bisa meningkatan kapasitas keilmuan mereka. Beliau juga menyampaikan harapannya, semoga pengabdian yang telah dilakukan selama ini bisa menghasilkan generasi-generasi tangguh. “Semoga dedikasi yang telah kita tidak hanya menumbuhkan generasi tangguh, tapi juga bisa menjadikan mereka anak-anak yang saleh, yang mendapatkan ilmu manfaat dan barakah, sehingga menjadi amal jariyah bagi kita,” harapnya. [Dul/Kabar...