Sidogiri Penerbit Gelar Bedah Buku, “Dinamika Kajian Kitab Kuning di Pesantren”
Seakan menjadi agenda rutin bagi Sidogiri Penerbit (nama baru Pustaka Sidogiri) menggelar launching dan bedah buku setiap menerbitkan buku baru. Untuk tahun ini sudah ada empat buku yang sudah berhasil diterbitkan oleh Sidogiri Penerbit diantaranya buku Dinamika Kajian Kitab Kuning di Pesantren karya Ustadz M. Masyhuri Mochtar. Pada malam Jumat (20/06) kemarin, buku yang dicetak pada Rabiuts Tsani 1436 H ini, telah dibedah dan dilaunchingkan dengan menghadirkan penulisnya dan Ustadz Moh. Achyat Ahmad, penulis buku Sejarah Hitam Sekte Syiah sebagai pembanding. Sementara ustadz Alil Wafa, Pemimpin Redaksi Majalah Sidogiri Media, bertindak sebagai moderator dalam acara yang dilaksanakan di Aula Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Ustadz Alil sebagai moderator sedikit menyinggung masalah kesalafan kitab kuning. “Salaf itu tidak selalu identik dengan hal-hal yang kuno, tapi salaf adalah suatu yang selalu baru (aktual) karena yang salaf itulah yang masih otentik,” tutur pria yang juga menjabat sebagai guru sejarah islam tersebut. Pada acara inti, Ustadz M. Masyhuri Mochtar menyampaikan materi terkait dengan karyanya yang baru diterbitkan itu. Beliau menjelaskan secara detail mengenai bukunya, hingga terkait pemilihan judul buku ‘Dinamika Kajian Kitab Kuning di Pesantren’. “Karena dinamika berarti sebuah kekuatan besar yang dapat mengubah nilai,” jelas lelaki yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Sidogiri itu. “Buku ini saya tulis sedikit untuk menjawab tuduhan bahwa kitab kuning itu kolot, padahal tidak. Seperti yang dipaparkan Ustadz Alil tadi,”...
Hadis Qudsi: Buah Kolaborasi Firman Allah dan Hadis Nabi Muhammad saw.
Dari Abu Hurairah beliau berkata: “Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat: Di manakah orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku? Hari ini kunaungi mereka di bawah naungan-Ku di mana hari tiada naungan kecuali naungan-Ku” Esensi Hadis Qudsi Secara terminologi pengertian Hadis Qudsi adalah: ragam khusus dari Hadis-Hadis yang diriwayatkan dari Nabi r, yang beliau sandarkan kepada Allah. Dengan sebab penyandaran tersebut, Hadis-Hadis ragam ini memperoleh kekudusan (kesucian), dan karena itu pulalah terkadang Hadis Qudsi ini di disebut al Hadis al-Ilahiyah dan al-Hadis al-Rabbaniyah. Penjelasan tentang Hadis Qudsi ini, banyak ditemukan diberbagai definisi dan pendapat para ulama terdahulu dan masa kini yang pantas untuk dikemukakan. Adapun salah satu dari definisi tertua mengenai Hadis Qudsi adalah apa yang dikemukakan oleh As-Syarif al-Jurjani[1] (w.816 H) dalam bukunya at-ta’rifat, yaitu: Hadis Qudsi, dari segi makna bersumber dari Allah, dan dari segi redaksi bersumber dari Rasulullah. Hadis Qudsi merupakan sesuatu yang diberitakan Allah kepada Rasul-Nya melalui ilham, atau mimpi, kemudian Rasulullah menyampaikannya kepada umat manusia dengan memakai redaksi yang beliau susun sendiri (seiring qudrah dan iradah-Nya). Karena itu al-Qur’an lebih mulia dari pada Hadis Qudsi, sebab lafaz al-Qur’an termasuk yang diturunkan-Nya. Sejalan dengan definisi di atas juga dipaparkan oleh al-Mulla bin Muhammad al-Qari, pakar hukum Islam bermadzhab Hanafi (w. 1016 H), dalam mukaddimah karyanya al-Hadis al-Qudsiyyah al-Arba’iniyyah.[2] Bersamaan dengan definisi di atas, masih ada pendapat-pendapat lain yang hampir tidak keluar dari kandungan apa yang telah disebut di atas. Misalnya definisi Muhammad bin Yusuf al-Kirmani yang mengomentari kandungan kitab as-Shahih al-Bukhari (w. 743 H), Ibnu Hajar al-Atsqalani, yang mengomentari kitab al-Arba’in an-Nawawiyyah (w. 974 H), Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi’i, yang mengomentari kitab ar-Riyadh as-Shalihin ( w. 1057 H).[3] Adapun keinginan para ulama terkait dengan Hadis Qudsi adalah berupaya untuk menjelaskan esensi Hadis Qudsi menyangkut beberapa hal: Perbedaan Antara Hadis Qudsi Dengan Hadis Nabi Secara kesimpulan, Hadis Nabi, sanadnya berakhir pada Rasulullah. Sedang Hadis Qudsi sanadnya berlanjut hingga kepada Allah. Dengan demikian ia adalah firman Allah, seperti pada Hadis yang mengharamkan penganiayaan, yakni: ”wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan penganiayaan atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya di antara kamu pun haram, karena itu, janganlah saling menganiaya, Namun penting untuk diketahui bahwa hal ini tidak menafikan bahwa Hadis Nabi secara umum adalah wahyu dari Allah, berdasarkan firman-Nya: ”Sesungguhnya dia ( Muhammad ) tidak berucap dari hawa nafsu,” (QS. An-Najm : 53). Cara Kehadiran Hadis Qudsi Dari Segi Redaksi Dan Esensinya Dalam pembahasan ini, ada dua pendapat ulama. 1) Sebagian berpendapat bahwa lafaz dan maknanya sama-sama dari Allah dengan alasan bahwa Hadis Qudsi secara tegas dinisbatkan kepada Allah, dan penamaannya sebagai Qudsi, Ilahi, dan Rabbany, demikian juga dengan redaksinya yang menggunakan kata pada persona pertama (Allah). 2) sebagian...
Kunjungan PP. Riyadul Ulum wad-Da’wah: Kagumi Sistem Pendidikan Pesantren Salaf
Malam Kamis (16/04) kemarin, lima bus rombongan pengurus dan santri PP. Riyadul Ulum wad Da’wah Codong Setianegara Cibeureum Tasikmalaya Jawa Barat, melakukan studi banding ke Pondok Pesantren Sidogiri. Sebanyak 250 tamu itu diterima oleh Sekum PPS, Ust. A. Saifullah Naji di Aula Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Menurut penjelasan KH. Diding Darul Falah, pengasuh PP. Riyadul Ulum, tujuan kunjungan tersebut adalah silaturrahmi dan studi banding mengenai pengelolaan, peningkatan kualitas dan motivasi kinerja. Ust. A. Saifullah menerangkan dengan rinci visi-misi Pondok Pesanten Sidogiri sekaligus memberi suntikan motivasi pengelolaan pesantren. Menurutnya, semua model pesantren, salafiyah maupun modern (‘asriyah), sama-sama penting. “Karena lahan dakwahnya beda,” kata beliau memberi alasan. Sementara itu, setelah melakukan cek and ricek di situs sidogiri.net, pengurus PP. Riyadul Ulum memilih Pondok Pesantren Sidogiri sebagai tujuan studi banding. Irfan Riswandi, pengurus bagian ICT (Information, Communication and Technologhy), menerangkan bahwa, sebelumnya PP. Riyadul Ulum hanya melakukan studi banding ke pesantren modern seperti PP. Gontor dan As-Salam Solo. Baru setelah tahu di Jatim ada pesantren salaf, pihaknya langsung tertarik untuk melakukan studi banding. “Takjub juga, ya. Karena ini baru pertama (berkunjung ke pesantren model salaf, red),” kata Riswandi kagum sambil menyunggingkan senyum. Sebelum acara diakhiri, ditampilkan demonstrasi baca kitab dua murid cilik Idadiyah. Para tamu dibuat takjub ketika mendapati bacaan dua murid itu lancar, cepat, dan tepat.[] Dua Murid Idadiyah Mendadak Jadi Artis Kunjungan PP. Riyadul ulum wad da’wah, malam Kamis (16/04) kemarin, rupanya menyisakan kesan mendalam sekaligus mendapat suntikan motivasi mengenai mudahnya membaca kitab kuning. Hal ini terlihat setelah santriwan-santriwati asal Jawa Barat itu dibuat takjub oleh pertunjukan baca kitab dua murid cilik Idadiyah. Dua santri cilik itu adalah Moh. Hafiz, santri asal Bawean, dan Ahmad Fairuz, santri asal Bali. 250 tamu yang melakukan studi banding ke PPS dibuat terpukau dan berdecak kagum, karena semua pertanyaan yang diajukan dilahap habis dan dijawab dengan cepat dan benar. Suasana riuh sudah terasa sejak awal demonstrasi. Keriuhan semakin menjadi-jadi tatkala para tamu dipersilakan menanyakan langsung kepada dua murid Idadiyah tersebut dan semua pertanyaan yang diajukan dijawab habis. Bahkan, salah satu penanya dibuat mati kutu. “Siapa tahu anak saya nanti bisa belajar di sini, yak,” kata seorang santriwati penanya dengan logat Sundanya yang masih kental. Acara diakhiri dengan penyerahan cinderamata dan foto bersama. Para santriwan PP. Riyadul Ulum masih menyempatkan meminta foto bersama dua murid Idadiyah. Bahkan, banyak juga yang meminta bubuhan tanda tangan. Moh Hafiz sampai kewalahan membubuhi tandatangannya. Dua santri itu mendadak menjadi artis yang diidolakan.[] ...
Ternyata Imam Syiah, Mengakui Keadilan Shahabat!
Hanya orang-orang Syi’ah yang sangat parah memberi penilaian negatif kepada para shahabat. Hanya karena alasan tidak melantik Sayyidina Ali t sebagai Khalifah pasca wafatnya Nabi e , orang-orang Syiah memurtadkan semua shahabat yang berjumlah sekitar 1240.000 orang, kecuali tiga orang saja. Yaitu Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. Sungguh ekstrim.[1] Berbeda dengan Syiah, adalah Ahlusunah Waljamaah (untuk selanjutnya disebut dengan sunni). Menurut orang sunni, para shahabat adalah orang yang memiliki derajat yang mulia dan agung, bahkan mereka adalah manusia terbaik setelah Rasulullah e. Dalam faham sunni, tidak ada klasifikasi golongan shahabat sebagaimana klarifikasi Syiah, apalagi sampai memasukkan shahabat dalam deretan orang munafik. Antara shahabat dan munafik jelas tidak bisa disamakan, sebab keduanya sama-sama memiliki definisi dan karakter yang berbeda. Shahabat tidak mungkin terdiri dari orang munafik, demikian juga orang munafik tidak mungkin ada yang terdiri dari shahabat. Setidaknya ada enam poin permasalahan apabila orang munafik dimasukkan dalam kategori shahabat. Pertama, orang Syiah tidak mempunyai standar baku tentang definisi shahabat, bisa jadi setiap orang yang berjumpa dengan Nabi disebut shahabat, baik Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir. Padahal, dalam pandangan sunni shahabat adalah orang yang mukmin dan mati dalam keadaan iman, sedangkan orang munafik bukan termasuk golongan orang beriman. Kedua, apabila orang syiah beranggapan bahwa golongan shahabat yang munafik lebih banyak dari pada shahabat yang tidak munafik, lantas buat apa mereka berpura-pura iman di depan Nabi e, dan harus bersembunyi di balik kekufuran? Dan kenapa mereka tidak memporak-porandakan kekuatan Islam, padahal dalam faham Syiah, mereka dikatakan sebagai kelompok terbesar pada saat itu? Dan kenapa pula dalam fakta sejarah orang-orang yang beriman justru telah berhasil menyebarkan Islam dan meruntuhkan bendera kekufuran?. Ketiga, adalah merupakan hal yang sudah disepakati bersama bahwa Rasululullah e telah mengajarkan kepada shahabatnya untuk menghindari perbuatan munafik, beliau juga telah meridlai shahabatnya. Dalam beberapa Hadits telah banyak kita temukan tentang kemulian para shahabat dan larangan mencacinya. Diantaranya Hadis: “Janganlah kalian mencaci shahabat-shahabatku, demi Dzat Yang Menguasai diriku, seandainya kalian bersedekah emas sebesar gunung uhud maka tidak akan pernah sebanding dengan satu mud juga bukan separuhnya daripada keutamaan shahabat” (HR. Bukhari dan Muslim) “Barang siapa mencaci shahabat-shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah I , malaikat, dan seluruh manusia” (HR. Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas) Hadits di atas dengan jelas menegaskan sifat keadilan para shahabat dan ketidakmungkinan (impossible) mereka tergolong orang munafik. Allah I telah menjanjikan neraka bagi orang-orang munafik selama-lamanya (QS:An-Nisa’:145). Sementara para shahabat tidak mungkin kekal dalam neraka sesuai dengan Hadis Nabi e: “Tidak satupun diantara shahabatku yang meninggal, melainkan akan diutus kepada mereka seorang pengawal (ke surga) kelak di hari kiamat” (HR. at-Tirmidzi) Keempat, Apabila orang Syiah berkeyakinan bahwa mayoritas shahabat adalah...
LPSI Bahas Isu “ISIS” Lewat Acara NGOPI
Lembaga Penelitian dan Studi Islam (LPSI) Kuliyah Syariah Pondok Pesantren Sidogiri kembali sukses menggelar acara Ngobrol Pintar (Ngopi) bareng LPSI untuk yang kedua kalinya, dengan topik utama ISIS (Islamic State of Iran and Syuriah) pada Kamis (03/04). Acara yang diletakkan di depan Kantor Kuliyah Syariah ini menghadirkan empat narasumber dari Forum Kajian LPSI. Keempat narasumber itu adalah Nur Hasan (FK. Sejarah), Faruq (FK. Kaidah Fikih), M. Washil (FK. Hadis), dan Abd. Hamid (FK. Akidah). Dari masing-masing narasumber tersebut memberikan komentar mereka sesuai perspektif kajian mereka di LPSI. Setelah setiap delegasi memaparkan argument mereka, para undangan baik dari instansi lain maupun delegasi dari kelas, melontarkan pertanyaan mengenai apa yang disampaikan oleh narasumber. Abdul Hamid, narasumber dari FK. Akidah menyatakan, bahwa kesesatan ISIS ini mempunyai latar belakang yang sama dengan Khawarij sebagaimana dijelaskan dalam beberapa Hadis. “ISIS menganggap Abu Bakar al-Baghdady sebagai khalifah yang harus ditaati dan wajib ikut membaiat. Barang siapa yang menolak maka dianggap kafir,” terang laki-laki asal Pulau Garam Madura ini. “Ajaran takfir seperti itu adalah warisan dari sekte Khawarij yang menganggap kafir semua orang yang tidak satu paham dengan mereka” tambah pria berkulit hitam manis tersebut. (SEF)...