Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri dalam Pertemuan Wali Santri Pondok Pesantren Sidogiri
بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa bertemu dengan Bapak-Bapak, karena dalam keyakinan kami, kami sedang berkumpul dengan para orang tua yang memiliki kepedulian tinggi terhadap urusan akhlak dan agama putra-putrinya. Saat ini, rupanya sudah mulai jarang kami menemukan orang tua yang lebih memikirkan masa depan akhirat putranya daripada masa depan duniawi mereka. Dalam pertemuan ini, kita akan saling menggali informasi dan saling memberikan masukan untuk kebaikan anak-anak kita sekalian. Acara semacam ini kami maksudkan sebagai semacam pintu masuk untuk menjalin komunikasi antara kita. Kami berharap, komunikasi antara kita tidak hanya terjadi dalam kesempatan semacam ini, tapi bisa terjadi setiap waktu antara Bapak-Bapak dan kami di Sidogiri. Saat ini, komunikasi sudah bisa kita lakukan dengan sangat mudah, melalui telepon, SMS, dan semacamnya. Syukur-syukur kalau bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka dan saling menggali kesepahaman secara bersama-sama. Kami, Majelis Keluarga, Pengurus, dan para guru akan merasa sangat dihargai jika Bapak-Bapak sering berkomunikasi tentang keberadaan putranya, baik ketika sedang berada di Pondok atau ketika sudah berada di rumah. Yang terpenting dalam sebuah komunikasi adalah semangat kita masing-masing untuk mencari jalan keluar dari sebuah persoalan, serta menjauhi pikiran untuk mencari kambing hitam atas sebuah kejadian yang tidak kita inginkan. Ini memerlukan kesadaran bersama. Tidak jarang, ketika terjadi kasus pada seorang santri, wali santri justru membela putranya dan menyalahkan pengurus secara membabi buta, karena hanya mendengarkan informasi sepihak dari putranya. Sikap semacam ini jelas sangat tidak baik untuk perkembangan putra Bapak-Bapak sekalian ke depan. Jika terjadi apa-apa, andalkanlah komunikasi, dalamilah persoalannya, lalu sikapilah secara arif dan bijaksana. Masalah pasti ada dalam setiap sisi hidup kita ini. Yang paling menentukan adalah bagaimana cara kita menyikapi setiap persoalan itu. Bapak-Bapak Wali Santri dan Saudara-Saudara Alumni Sekalian… Dalam setiap pertemuan wali santri, hampir selalu saya sampaikan, bahwa posisi kita sebagai wali santri, tidaklah lebih mudah daripada posisi anak-anak kita sebagai santri. Bahkan, boleh jadi, posisi sebagai wali santri itu jauh lebih sulit daripada posisi sebagai santri. Sebab, kita sebagai wali santri tidak hanya berpikir dan melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri, tapi kita berpikir dan bertindak untuk anak-anak kita. Sementara itu, pikiran anak dan orang tua seringkali berbeda, sehingga apa yang diinginkan oleh orang tua belum tentu juga diinginkan oleh anak. Seperti yang telah kita rasakan, mengatur diri kita, jelas lebih mudah daripada mengatur anak-anak kita. Oleh karena itu, kita jangan pernah berpikir bahwa dengan memondokkan anak ke pesantren, berarti urusan kita sudah selesai. Lebih dari itu, kita harus terus berupaya tanpa henti, terutama dengan melakukan pengawasan ketika mereka sedang berada di rumah. Ketika liburan, tugas orangtualah untuk melanjutkan apa...
Nilai Ujian Kedua Tahun Ini Mengalami Peningkatan
Madrasah Miftahul Ulum Pondok Pesantren Sidogiri sukses menggelar acara pembagian hadiah untuk ujian (imtihan dauri/IMDA) kedua. Acara ini dihelat di lapangan olahraga Pondok Pesantren Sidogiri (barat gedung madrasah as-Suyuthi), pada malam Jumat (26/03/15). Di PPS acara pembagian hadiah semacam ini rutin dilaksanakan setiap ujian selesai. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan pengurus kepada murid-murid yang berprestasi di masing-masing tingkatan. Ketika memberikan sambutan, Ust. Abd. Rokib Zaky, Kepala Laboratoriam Soal-Soal Madrsah (Labsoma) menyampaikan bahwa, nilai ujian kedua pada tahun ini mengalami sedikit peningkatan, dibandingkan dengan nilai ujian kedua tahun kemaren. “Alhmadulillah, nilai ujian kedua tahun ini masih lebih baik daripada nilai ujian kedua tahun kemaren,” ucap Ust. Abd. Rokib Zaky, dalam sambutannya. Ust. Rokib juga menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ujian akhir (imtihan niha’i/IMNI) yang akan dihadapi oleh murid-murid yang duduk di kelas enam tingkat Ibtidaiyah dan yang duduk di kelas tiga tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Di antaranya adalah perihal materi pelajaran (fan) yang dapat mendukung nilai materi pokok (fan fikih, nahwu dan tauhid). “Di antara syarat lusus ujian akhir adalah nilai materi pokok minimal enam. Namun, jika nilai materi pokok tidak sampai enam, maka bisa dibantu dengan nilai selain meteri pokok. Seperti fan sejarah, balaghah, dan imla’,” tambah pria asal Bangkalan tersebut. Ujian akhir kelas tiga tingkat Tsanawiyah dan Aliyah akan laksanakan pada Sabtu (06/07/36) sampai Rabu (24/07/36). Untuk kelas enam tingkat Ibtidaiyah akan dilaksanakan pada Rabu (10/07/36) sampai Kamis (25/07/36)....
LFS Lakukan Rukyatul-Hilal di Tanjung Kodok, Lamongan
Sebanyak 65 anggota Lembaga Falakiyah Sidogiri (LFS) melakukan rukyatul-hilal untuk menentukan awal bulan Jumadas Tsani di Tanjung Kodok, Lamongan, pada Jumat (20/03). Kegiantan ini merupakan salah satu program LFS dalam menentukan awal bulan Hijriah. Seperti awal bulan Ramadan, Syawal, dan seterusnya. Setiap satu tahun dua kali, LFS memang rutin mengadakan kegiatan rukyat di beberapa tempat, diantaranya di Tanjung Kodok, Lamungan. Hal itu karena tempatnya dekat dan cukup strategis. “Karena tempatnya sangat strategis dan memungkinkan untuk melakukan praktek di tempat,” ujar M. Alwi, wakil ketua LFS. Dari hasil memantuan oleh anggota LFS tersebut diketahui bahwa tanggal satu Jumadas Tsani jatuh pada hari Ahad (22/03) dengan posisi hilal 11% dan keadaan hilal saat itu miring agak ke utara. “Insya Allah di akhir Sya’ban nanti kami akan melakukan rukyat lagi untuk menentukan awal bulan Ramadan,” lanjut pria asal Kabupaten Bangkalan ini. Rukyatul-hilal ini juga diikuti oleh Ust. Tholha Ma’ruf, pembina di Lembaga Falakiyah Sidogiri, Ust. Saiful Ulum (naib I Kuliyah Syariah), Ust. Safullah Muhibbin (naib II Kuliyah Syariah), Ust. Muslich (Kepala Kuliyah Syariah)....
TTQ Adakan Kursus Wakaf Gratis
Pengurus Taklimiyah wa Tahfizh al-Quran (TTQ), salah satu instansi yang khusus menangani kegiatan makhadiyah di Pondok Pesantren Sidogiri, mengadakan kursus wakaf untuk semua santri PPS di gedung An-Nawawi dan Ar-Rafi’i Jumat (14/03). Yang menjadi pemateri adalah KH. Muhib Aman Ali, pakar hukum fikih asal Besuk Pasuruan. Peserta kursus wakaf ini tidak dipungut biaya, karena kursus ini dimaksudkan agar santri bisa mengetahui lebih rinci permasalahan wakaf, baik berkaitan dengan masjid, madrasah, maupun pondok pesantren. Dalam kursus ini Gus Muhib (sapaan akrab KH Muhib Aman Ali) banyak menjelaskan tentang wakaf yang berkaitan dengan masjid, pondok pesantren, dan madrasah. “Apabila seseorang berkata,’aku wakafkan tempat ini untuk shalat’, maka kalimat ini jelas menunjukkan maksud wakaf untuk shalat dan mengisyaratkan arti masjid,” kata beliau di tengah-tengah 500-an santri Tsanawiyah dan Aliyah ini di gedung An-Nawawi dan Ar-Rafi’i. Beliau melanjutkan, “Sehingga apabila kalimat ‘tempat shalat’ dimaksudkan sebagai masjid, maka menjadi hukum masjid, yakni sah untuk dibuat ibadah i’tikaf, haram bagi yang berhadas besar berdiam di dalamnya, dan sunah shalat tahiyatul-masjid bagi yang memasukinya,” imbuh kiai yang menjadi staf pengajar di Madrasah Miftahul Ulum Aliyah ini. Kemudian Gus Muhib menerangkan fungsi dan etika dalam mendistribusikan dan memanfaatkan harta atau benda wakaf. “Harta yang dimiliki masjid harus disalurkan sesuai keperuntukkannya. Hal ini dibagi menjadi dua. Pertama, imârah. Yaitu, segala kebutuhan masjid yang berkaitan dengan fisik masjid, seperti pembangunan pagar, cat, dll. Kedua, mashâlih. Yaitu, segala kebutuhan yang berkaitan dengan kepentingan masjid, baik keperluan fisik masjid, dan lain-lain. Bagian ini sifatnya lebih umum dari bagian yang pertama,” terangnya....
UKPI Kembali Gelar Diskusi Panel
Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual (UKPI) kembali mengadakan diskusi panel dengan tema “Membincang Tafsir dan Tafsir Mawdlu’i” di Kantor Sekretariat Lt. III Pondok Pesantren Sidogiri, Sabtu (12/03). Adalah KH. Abdullah Syamsul Arifin, Jember yang diundang menjadi pemateri dan dimodiratori oleh Ust. Shonhaji, Lc. Menurut pemaparan Gus Aab (sapaan akrab KH. Abdullah), bahwa tafsir, menurut imam al-Zarkasyi dalam kitab al-Burhan fi Ulum al-Quran, adalah ilmu untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, menerangkan makna-maknanya, mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya. “Menurut imam Muhammad bin Lutfi al-Sabbagh, mengatakan, materi tafsir pada periode sahabat didasarkan pada hal-hal berikut; penafsiran al-Quran dengan al-Quran, penafsiran al-Quran berdasarkan apa yang telah dihafalkan sahabat dari penafsiran nabi, penafsiran al-Quran yang didasarkan pada istinbat sahabat terhadap ayat-ayat al-Quran dengan berpegang teguh kepada kekuatan pemahaman dan keluasan pengetuan mereka, khususnya yang berkaitan dengan bahasa, adat istiadat yang berlaku di jazirah Arab,” kata kiai yang akrab dipanggil Gus Aab ini kepada 300-an santri murid Aliyah. Gus Aab banyak menjelaskan sejarah kronologi tentang keberadaan tafsir mawdlu’i yang mulai ada sejak zaman Rasulullah. Ia menjelaskan, tafsir mawdlu’i salah satu metode untuk menghindari metode memahami al-Quran secara parsial (juz’iyah) sebagaimana metode tahlili (analitis). “Metode tafsir mawdlu’i sangat penting dalam upaya mensosialisasikan ajaran Islam. Urgensi metode ini banyak sekali. Di antaranya, maksud diturunkan al-Quran adalah sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia dalam mengatasi semua problem. Kajian tafsir ini akan memberikan buah pemikiran yang sempurna, dan menyingkap sisi baru kemukjizatan al-Quran,” terang Kiai yang menjadi dosen di IAIN Surabaya ini....