Pimpinan Pusat IASS Gelar Nikah Masal untuk Muallaf dan Mustad’afin
Nov05

Pimpinan Pusat IASS Gelar Nikah Masal untuk Muallaf dan Mustad’afin

Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PP-IASS) kembali menggelar nikah massal untuk para muallaf dan mustad’afin. Sebanyak 32 pasang suami istri dinikahkan untuk mendapatkan pengakuan dari Negara secara sah di KUA Kecamatan Tutur dan Tosari, Pasuruan, Selasa (28/10). Menurut Ketua PP-IASS, HM. Sholeh Abd. Haq, kegiatan ini terlaksana atas kerjasama IASS dan Sidogiri Network Forum (SNF) dengan Dinas Kementrian Agama Kota Pasuruan. “Ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Semarak Muharam 1436 H yang dimaksudkan sebagai wujud kepedulian para alumni Pondok Pesantren Sidogiri terhadap muallaf dan mustad’afin yang memerlukan legalitas hukum pernikahan dari pemerintah,” jelas HM. Sholeh dalam sambutan pada acara nikah gratis di Balai Desa Kayukebek, Tutur, Pasuruan, Selasa (28/10). Kegiatan ini berlangsung meriah dan mengundang perhatian masyarakat. Pasalnya, setelah prosesi akad nikah, diadakan arak-arakan bagi 32 pasangan peserta nikah massal di sepanjang kelurahan Kayukebek, Tutur, Pasuruan. Tampak saat acara arak-arakan berlangsung, masing-masing pasangan terlihat sangat bahagia. Tak ada perasaan malu saat melintas di depan masyarakat yang menyaksikannya. “Saya sangat senang, karena dapat memiliki surat nikah yang diakui pemerintah,” terang Bapak Lusono (64) didampingi Tremini (59), istrinya. ________ Penulis             : Muh. Kurdi Arifin Editor              : Zainuddin...

Selengkapnya
LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI layani Pengobatan Gratis dan Santunan Sembako
Nov05

LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI layani Pengobatan Gratis dan Santunan Sembako

Setelah sukses menyelenggarakan aksi donor darah di halaman Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri, LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI keesokan harinya, Ahad (26/10) menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis di Desa Oro-Oro Bulu, Rembang Pasuruan. Pengobatan gratis ini diikuti oleh 250 warga dhuafa. Acara dimulai sekitar pukul 08.30 sampai 14.30 WIS. Selain untuk menyambut datangnya momen tahun baru Islam 1436 H, kegiatan bakti sosial yang berupa pengobatan gratis ini merupakan wujud kepedulian LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI terhadap kesehatan masyarakat yang kurang mampu. Untuk mensukseskan kegiatan tersebut, LAZ SIDOGIRI bersama Sidogiri Network Forum (SNF) menggandeng Klinik Sidogiri dan Klinik Al-Aziz Pasuruan dalam memberikan pelayanan kesehatan gratis. Selain mendapatkan layanan pengobatan gratis, dari 250 dhuafa tersebut juga mendapat santunan berupa sembako. Masing-masing dari mereka mendapat beras 3 kg dan minyak goreng 1 kg. ______ Penulis: Muh. Kurdi Arifin Editor: Zainuddin...

Selengkapnya
LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI Gelar Aksi Donor Darah
Nov05

LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI Gelar Aksi Donor Darah

Dalam rangka menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1436 H, Sabtu (25/10) LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI menggelar aksi donor darah bekerja sama dengan Klinik Sidogiri dan PMI (Palang Merah Indonesia) Mojokerto. Sekretaris LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI HM. Masykuri Abdurrohman mengatakan acara ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Semarak Muharam 1436 H. “Setiap awal tahun baru Islam, LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI menyambutnya dengan beragam kegiatan-kegiatan positif,” ujarnya. “Ini sebagai tandingan kepada masyarakat yang merayakan datangnya tahun baru Masehi dengan kegiatan-kegiatan yang meriah, pesta, dan bermacam hiburan yang kurang bermanfaat,” tambahnya dalam sambutannya.  Aksi donor darah yang diikuti oleh santri Pondok Pesantren Sidogiri, alumni dan masyarakat umum ini berlangsung di depan Kantor Seketariat Pondok Pesantren Sidogiri. Ditangani oleh 6 tim medis dari PMI Mokokerto dengan dibantu petugas Klinik Sidogiri.  “Peserta donor darah kali ini lebih banyak dari akhir tahun kemarin. Namun, donor darah kali ini masih belum mencapai target, karena kantong darah yang disiapkan sebangak 250 kantong, sedangkan peserta yang memenuhi persyaratan sebagai pendonor hanya sekitar 125 orang,” ungkap Ust. Ach. Ahyan Fadli, Kepala Klinik Sidogiri saat dikonfirmasi di lokasi.  “Selain itu masih banyak puluhan santri yang mendaftar. Namun, kami tolak karena tidak memenuhi kriteria. Di antaranya karena tensi darahnya tinggi, berat badan, dan umur yang tidak sampai batas minimum,” imbuhnya. _________ Penulis             : Muh. Kurdi Arifin  Editor              : Zainuddin Rusdi...

Selengkapnya
Islam vs HAM; Upaya Pembenturan yang Tidak Perlu
Nov01

Islam vs HAM; Upaya Pembenturan yang Tidak Perlu

Demokrasi Barat membuka pintu kebebasan sebebas-bebasnya, hingga nyaris tanpa batas. Dan, Islam, jelas merupakan agama kebebasan, tapi dalam makna yang benar. Islam memberikan batas-batas yang luhur untuk mendidik kebebasan. Inilah yang ditentang dengan keras oleh para penyeru demokrasi. Kalimat di atas ditulis oleh Abdul Akhir Hammad al-Ghunaimi, seorang cendekiawan Muslim Mesir, dalam makalahnya yang berjudul Qadhiyatul-Hurriyât. Kalimat ini, setidaknya, mewakili secara umum mengenai pandangan Islam dan pandangan Barat mengenai hak paling asasi dari manusia, yaitu kebebasan. Pernyataan al-Ghunaimi itu merupakan pernyataan yang proporsional dalam memandang Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM). Al-Ghunaimi menjaga diri untuk tidak membenturkan, tapi juga sangat tidak ingin menyamakan. Selain al-Ghunaimi, entah berapa banyak orang—dari kalangan pemikir sampai seniman, dari kalangan aktivis sampai pekerja hiburan, dari kalangan Muslim atau non Muslim—yang berbicara mengenai ajaran Islam vis a vis Hak Asasi Manusia (HAM); antara yang berupaya mengkompromikan dan yang gigih membentur-benturkan. Dua kecenderungan ini sama-sama bertolak dari kepentingan untuk menggiring opini: yang satu ingin bertarung dan yang satu ingin bersahabat. Dua kecenderungan ini, jelasnya, sama-sama merupakan tantangan berat. Kecenderungan untuk membenturkan Islam dan HAM, sedikit banyak, akan melahirkan pencitraan yang kurang bersahabat terhadap Islam. Kalimat “Islam melanggar HAM” merupakan kata-kata pencitraan yang tidak adil dan sangat tidak sedap untuk didengar. Dikatakan tidak adil karena tidak pernah terdengar orang yang menyatakan bahwa “HAM melanggar Islam.”, padahal ajaran Islam lahir terlebih dahulu daripada HAM. Islam juga menerapkan ajaran kepada pemeluknya yang sudah mengucapkan janji setia kepada Islam ketika ia mengucapkan Kalimat Syahadat. Jika ada pemeluknya yang melanggar komitmen tersebut, maka Islam jelas berhak menjatuhkan hukuman kepadanya sebagai konsekwensi atas komitmennya itu. Ini merupakan sesuatu yang sangat rasional dan sangat lazim diterapkan dalam komunitas apapun, tapi anehnya, dalam konteks syariat Islam selalu saja dipersoalkan. Sementara itu, kecenderungan untuk mengompromikan Islam dan HAM, sedikit banyak, telah dan akan melahirkan pikiran-pikiran yang cenderung liberal dalam memandang ajaran-ajaran agama. Ini tidak kalah berbahaya. Akan sangat banyak ajaran agama yang harus dipangkas gara-gara keinginan untuk menyesuaikannya dengan opini HAM dunia. Padahal, bagaimanapun, ajaran agama dan rumusan HAM lahir dari latar belakang yang berbeda dan memiliki tujuan akhir yang juga berbeda, maka produknya juga jelas memiliki perbedaan, meski dalam banyak hal memiliki kesamaan. Ad-Dharûriyât al-Khams atau lima pedoman pokok yang menjadi landasan dari syariat Islam merupakan konsep yang seringkali didengungkan sebagai pintu masuk penyetaraan Syariat Islam dengan HAM. Lima landasan itu adalah: (1) menjaga keyakinan beragama; (2) menjaga keselamatan jiwa; (3) menjaga keselamatan akal pikiran; (4) menjaga kekayaan materi; (5) menjaga kelangsungan berketurunan. Ada yang menyebutkan enam dengan tambahan poin: menjaga nama baik dan kehormatan. Secara harfiah, lima atau enam landasan ini merupakan pintu lebar untuk mengompromikan Islam dan HAM. Namun, jika ditelusuri lebih detail, maka...

Selengkapnya
Habib Al-Idrus: Tahun Baru Islam Momentum Untuk Berhijrah
Nov01

Habib Al-Idrus: Tahun Baru Islam Momentum Untuk Berhijrah

Dalam rangka memperingati datangnya tahun baru Islam 1436 hijriah, Pondok Pesantren Sidogiri menggelar pengajian umum pada malam Sabtu (25/10).  Acara yang bertempat di Lapangan MMU as-Syuyuti ini dimotori oleh Ikatan Santri Sidogiri (ISS) Konsulat Lumajang dan Probolinggo. Habib Idrus bin Muhammad Al-Idrus  dari Surabaya, hadir sebagai pembicara. Acara rutinan ini dihadiri oleh Pengurus Harian, Pengurus Pleno, asatidz, semua santri, dan undangan. Menurutnya awal tahun baru Islam adalah momen untuk berintropeksi diri dan mewujudkan diri kita untuk selalu menjadi yang lebih baik lagi. “Maka dari itu sucikan selalu niat kita dan carilah ruh dari amaliah kita. Agar ibadah kita tidak sekadar menjadi ritual keseharian belaka. Coba kita piker, kenapa para salafus shaleh mampu melakukan ibadah berjam-jam. Bahkan tidak lekang dengan hitungan tahun. Mereka itu telah merasakan manisnya ibadah dari saking ikhlasnya,” ungkapnya. Sementara itu, menurutnya, sudahkah kita mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh selama ini? “Aku yakin dari kalian sudah banyak sekali yang mendengar Hadis fadilah shalat sunnah rawatib sebelum Dhuhur. Namun berapa dari kalian yang istikamah mengerjakannya?” tanyanya. Beliau juga banyak menceritakan para ulama salafus shaleh yang patut untuk dijadikan ibroh dalam pengamalan ilmun dan ikhlasnya. “Wali Songo yang hanya sembilan orang mampu menjadikan Indonesia sebagai Negara terbesar umat Islamnya di dunia. Itu semua karena murninya niat mereka,” terannya. Beliau melanjutkan, “Seandainya tidak ada niat suci dari muassis (Pendiri-red) Pondok Pesantren Sidogiri tidak akan besar seperti saat ini,” jelasnya. Di akhir tausiyahnya beliau berharap dengan adanya pergantian tahun ini, semoga menjadi awal baru untuk hijrah dari kejelekan menuju kebaikan, dari kemalasan  menuju kesemangatan. __________ Penulis             : Muh. Kurdi Arifin Editor              : Zainuddin Rusdi...

Selengkapnya