SAYEMBARA MENULIS ARTIKEL NASIONAL: Dalam Rangka Semarak Muharram 1436 H.
Dalam rangka menyambut datangnya tahun baru hijriah 1436 dan untuk membudayakan tradisi tulis-menulis, Sidogiri Network Forum (SNF) dan Buletin SIDOGIRI menggelar sayembara menulis artikel Nasional dengan total hadiah 25 Juta. KETENTUAN LOMBA 1. Sayembara menulis dibagi menjadi tiga kategori peserta: – Mahasiswa/i, – Pelajar/Santri setingkat SMA – Masyarakat umum. Kategori peserta dibuktikan dengan Kartu Tanda Pelajar/Santri, Kartu Tanda Mahasiswa (mahasiswa), dan Kartu Tanda Penduduk (Masyarakat Umum). 2. Tema Lomba: – Tantangan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah di Abad 21 – Peran Ekonomi Syariah Menyongsong MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2015 – Masa Depan Media Islam di Tengah Carut-Marut Dunia Informasi 3. Setiap peserta diperkenankan mengirim lebih dari satu artikel dengan pilihan tema yang berbeda. 4. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 5. Naskah harus karya asli, bukan jiplakan atau terjemahan/saduran dan belum pernah dipublikasikan. 6. Naskah tidak sedang dipublikasikan di media cetak, elektronik, dan online dan tidak sedang diikutsertakan sayembara lain. 7. Naskah yang dikirimkan menjadi hak milik panitia lomba. 8. Diketik dengan komputer, di atas kertas A4 dengan jarak 2 spasi, Font Arial ukuran 12, atau ditulis rapi 9. Panjang naskah 900-1500 kata 10. Naskah dikirim ke alamat panitia via pos atau via email buletinsidogiri@gmail.com dengan menyertakan foto kopi atau file scan kartu identitas & no telpon/hp yang bisa dihubungi, selambat-selambatnya tanggal 25 Oktober 2014 | 01 Muharram 1436 H. 11. Pada amplop kiri atas/ file kiri atas jika via email ditulis : Sayembara Menulis Artikel Nasional kategori Mahasiswa/Pelajar/Umum KRITERIA PENILAIAN DAN HADIAH 1. Setiap kategori peserta akan diseleksi dan dipilih 6 tulisan terbaik oleh dewan juri berdasarkan kualitas tulisan, kaidah bahasa, orsinilitas ide, dan kemampuan analisa penulis dan akan diumumkan pada tanggal 29 Oktober 2014 di Sidogiri.net, Fanpage Facebook Buletin Sidogiri di alamat facebook.com/page.buletinsidogiri dan Twitter @SidogiriMedia 2. Enam Peserta dengan tulisan terbaik di masing-masing kategori akan diundang ke Sidogiri untuk mempresentasikan tulisannya di depan juri. 3. Pemenang ditentukan oleh dewan juri yang telah dipilih oleh panitia 4. Panitia akan mengambil 3 pemenang di setiap kategori peserta (9 orang di semua kategori) 5. Hadiah Lomba untuk masing-masing kategori peserta: Juara I : Rp 2.500.000 + Sertifikat + Gratis Berlangganan Buletin SIDOGIRI 2 tahun. Juara II : Rp 2.000.000 + Sertifikat + Gratis Berlangganan Buletin SIDOGIRI 1 tahun. Juara III : Rp 1.500.000 + Sertifikat + Gratis Berlangganan Buletin SIDOGIRI 1 tahun. Harapan I, II, dan III : Sertifikat + Gratis berlangganan Buletin SIDOGIRI 1 tahun 6. Hadiah akan diberikan kepada peserta dalam acara seminar Nasional pada tanggal 09 Muharram 1436 H, di Sidogiri dan peserta diharuskan hadir dalam acara tersebut atau diwakilkan ketika tidak memungkinkan hadir. 7. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.[] PANITIA PELAKSANA Buletin SIDOGIRI,...
Bid’ah Hasanah dari Masa ke Masa
Definisi Bid’ah Imam Izzuddin bin Abdissalam, ulama syafi’iyah, mendefinisikan bid’ah dalam kitabnya, Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam (2/48) sebagai berikut, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah saw.” Definisi senada juga dikemukakan oleh Imam an-Nawawi. Beliau berkata, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang baru yang belum ada pada masa Rasulullah saw”. (Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat,3/22). Pembagian Bid’ah Moyoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah membagi bid’ah menjadi dua, yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah madzmûmah (bid’ah yang tercela). Dalam hal ini, Imam asy-Syafi’i –mujtahid besar dan pendiri mazhab syafi’iyah–, berkata, “Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, suatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua, sesuatu yang baru dalam kebaikan dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i,1/469). Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât (3/22) juga membagi bid’ah pada dua bagian. Berliau berkata, “Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah qabîhah (jelek)”. Lebih dari itu, pembagian bid’ah menjadi dua, juga dilegitimasi dan dibenarkan oleh Syekh Ibnu Taimiyah, rujukan paling otoritatif kalangan Wahabi. Beliau berujar, “Pandangan yang menyalahi nash adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Sedangkan pandangan yang tidak menyalahinya, terkadang tidak dinamakan bid’ah. Imam Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua. Pertama, bid’ah yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Atsar sebagian sahabat Rasulullah saw. Ini disebut bid’ah dhalalah. Kedua, bid’ah yang tidak menyalahi hal tersebut. Ini terkadang disebut bid’ah hasanah berdasarkan perkataan Umar ra, “Inilah sebaik-baik bid’ah”. (Syekh Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 20/163). Dari komentar tokoh-tokoh terkemuka di atas, dapat kita tarik benang lurus bahwa esensi bid’ah hasanah itu tidak dapat dipungkiri wujudnya. Tersebab, semua kalangan dan ulama-ulama terkemuka mengakui adanya. Bahkan, bid’ah hasanah sudah ada semenjak masa Rasulullah saw, masa shahabat dan terus berlanjut sampai pada generasi selanjutnya. Bid’ah Hasanah pada Masa Rasulullah saw 1. Hadis Shahabat Mua’dz bin Jabal Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Pada masa Rasulullah saw seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat jamaah bersama mereka. Pada suatau hari Mua’dz bin Jabal datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya jumlah rakaat shalat yang telah dilaksanakan, tetapi Mua’dz langsung masuk ke dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah saw selesai shalat, maka Mua’dz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah saw selesai shalat mereka melaporkan perbuatan Mua’dz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau menjawab, “Mua’dz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian.” (HR. Imam Ahmad dan Abi Dawud). Hadis ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau lainnya, senyampang sesuai dengan tuntunan...
Pengurus Ubudiyah Gelar Pembinaan Praktek Shalat untuk Santri Baru
Pengurus bagian Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri kembali menggelar pembinaan praktek shalat untuk santri tingkat Tarbiyah Idadiyah Sabtu (27/09) dan bertempat di Aula Kantor Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri ini. Pembinaan ini bertujuan untuk memberi pemahaman tatacara shalat yang benar terhadap santri baru dan meningkatkan kualitas shalat mereka. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Bagian (Kabag) Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri, Izzadur Rofiq, dalam sambutannya pada malam Sabtu (27/09). Menurutnya, kualitas shalatnya santri merupakan tolak ukur suksesnya progam Pengurus Pondok Pesantren Sidogiri. “Apabila shalat santri itu baik berarti pendidikan pesantren berhasil. Begitupun sebaliknya apabila shalat santri jelek, berarti proses pendidikannya gagal total,” jelasnya, menirukan dawuh Kiai Hasani bin Nawawi bin Noerhasan. Dalam pembinaan massal yang memang rutin digelar di tiap awal tahun ini, beliau mengharap kepada santri baru agar meningkatkan kekhusukannya dalam mengerjakan shalat dan menyeragamkan tatanan gerakannya seperti yang dijelaskan di kitab-kitab fiqih al-muktabarah. “Seperti inilah tatacara takbiratul ihrom yang lebih utama. Jadi nantinya antum-antum kalau takbir seperti ini kita seragamkan. Namun apabila antum menemukan tatanan yang berbeda di rumahnya, atau dimana saja, ya tidak usah ditegur, itu tidak salah, ini hanya cara yang paling utama menurut,” jelas pria asal Jember ini dihadapan ratusan santri baru. Di samping itu ia juga memaparkan cerita salafus shalih untuk menarik ghiroh santri baru yang notabennya masih di bawah umur 13 tahun, agar mereka termotivasi untuk melaksanakan shalat dengan khusuk. ___ Penulis : Muh. Kurdi Arifin Editor : Zainuddin...
Agenda Bulan Dzul Hijah
Agenda Kegiatan PPS Bulan Dzul Hijjah 1435 H. 08-09 : Puasa Arafah & Tarwiyah 10 : Hari Raya Idul Adha 15 : Pembinann Guru PPS 21 : Haul KH. Abd. Adhim bin oerip & Ny. Munawwarah binti Noerhasan bin Noerkhotim Jadwal Pengajian IASS Bulan Dzul Hijah 1435 H. 1 Malang Kota Ahad Kliwon 03/12/1435 H Siang Surabaya 28/09/2014 M Malam 082332619123; 085732323123 2 Lumajang Senin Pon 11/12/1435 H Siang 085234645625; 081559830075 Probolinggo Barat 06/10/2014 M Malam 08123293651 3 Sidoarjo Malam Rabu Kliwon 13/12/1435 H Malam 081330576699 07/10/2014 M 4 Pasuruan Barat Malam Jumat Pahing 15/12/1435 H Malam 085381816060 09/10/2014 M 5 Bangkalan Jumat Ketiga (H) 15/12/1435 H Siang 082330233555 10/10/2014 M 6 Pamekasan Sabtu Pon 16/12/1435 H Pagi 085231428999 Sumenep 11/10/2014 M Siang 7 Besuki Ahad Wage 17/12/1435 H Siang 085330236495 Probolinggo Timur 12/10/2014 M Malam 085233089974 8 Bondowoso Ahad Legi 24/12/1435 H Siang 085258071415 Situbondo 19/10/2014 M Sore 081358052780 9 Balikpapan Rabu Wage 27/12/1435 H Siang 22/10/2014 M 10 Pasuruan Timur Malam Jumat Legi 29/12/1435 H Malam 081332455541 23/10/2014...
Hadirkan Habib Taufiq Assegaf di Acara Pembukaan Annajah
Madrasah Miftahul Ulum tingkat Tsanawiyah Pondok Pesantren Sidogiri menggelar peresmian kursus Kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah atau biasa disingkat ANNAJAH pada malam Rabu (24/09). Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 2324 murid Madrasah Miftahul Ulum tingkat Tsanawiyah dan dewan guru. Di acara peresmian Kursus Annajah ini juga diisi dengan pengenalan staf atau pengurus Annajah baru masa khidmah 1435-1436 H. Di acara yang bertempat di lapangan sebelah barat Mabna as-Suyuthi juga diisi dengan muhadaroh ilmiyah perdana dengan menghadirkan Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf sebagai pembicara. Dalam paparannya, beliau menghimbau kepada semua murid Tsanawiyah agar selalu berpegang teguh pada akidah salafus shalih yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan al-Asyari. “Karena akidah yang terjamin 100% kemurniannya sampai sekarang adalah akidah Asy’ariyah, jadi kalau masih ada yang murni ngapain kita pilih yang tidak murni?,” jelas Pengasuh PP. Assunniyah Salafiyah Pasuruan ini. Lebih lanjut dai berpengaruh ini juga menambahkan bahwa sekarang sudah banyak orang yang mengaku ilmuwan tapi masih mau mengilmiahkan perkara yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya, padahal perkara itu sudah nyata-nyata ilmiah. “Bahkan masih ada saja sebagian mereka yang mau merasionalkan masalah qadla dan qadar Allah Swt. Sebenarnya masalahnya bukan pada bisa atau tidaknya qadla dan qadar dirasionalkan, tapi akal ente mampu tidak dimasuki qadla dan qadarnya Allah Swt?,” tegas beliau berapi-api. Karena menurutnya Dzat Tuhan diluar ranah pemikiran kita, namun ciptaan-Nyalah yang harus kita pikirkan. “Tafakkaru fii khalqillah wala tafakkaru fii dzatillah, karena orang berakal itu, selalu menginginkan mengenal Sang Pencipta karya dan mengagumi kehebatannya. Sementara orang bodoh hanya menikmati sebuah karya saja tanpa memikirkan proses penciptaannya,” imbuhnya. _________ Penulis : Muh. Kurdi Arifin Editor : Zainuddin...