Ribuan Alumni Hadiri Haul Almaghfurlah KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil
Selasa (23/09) di Pondok Pesantren Sidogiri kembali dilaksanakan haul almaghfurlah KH. Abdul Alim bin Abd. Jalil (Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-12). Di acara haul yang hingga tahun ini sudah yang ke-10 ini diisi dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil, yang sebelumnya diiringi dengan lantunan salawat Burdah al-Bushiri yang dipandu oleh Ust. Yasin dan Ust. Hamim Asy’ari. Sementara dalam pembacaan doa dipimpin oleh Ust. Hasan as-Suaibi, salah satu alumni PPS asal desa Rukem Kraton Pasuruan. Acara pembacaan Surat Yasin dan tahlil yang diletakkan di surau daerah H ini diikuti oleh semua santri dan dihadiri oleh alumni Pondok Pesantren Sidogiri dari berbagai daerah dan masyarakat sekitar. Tampak para tamu berjubel sampai ke bagian luar gerbang utama Pondok Pesantren Sidogiri. Bahkan area parkir yang disediakan panitia di Lapangan barat MMU as-Suyuthi tidak muat menampung kendaraan para tamu, sehingga area parkirpun meluber sampai ke Lapangan Utara Gedung Kantor Sekretariat. Menurut penuturan Ust. A. Nasihin Khozin, Panitia bagian Konsumsi, ada sekitar 22 ribu karton nasi yang disediakan oleh panitia. Dengan rincian 15 ribu disiapkan untuk para tamu dari luar, sedangkan yang 7 ribu untuk santri PPS. “Sekitaran 13 ribu lebih tamu yang datang dari luar, dilihat dari sisa karton yang tesisa hanya sekitar 1500 an,” jelasnya saat dikorfirmasi setelah selesainya acara. ____ Penulis : Muh. Kurdi Arifin Editor : Zainuddin Rusdy...
Politik Islam atau Islam Politik!?
Oleh: Abdurrohim Arief * Kita mengenal Islam sebagai agama yang universal. Islam merupakan fenomena yang sangat kaya sekaligus kompleks. Tidak ada satu tindakkan-pun yang terlepas dari sorotan kacamata Islam. Spektrum Syariat Islam sangatlah luas. Ia memiliki kandungan dimensi yang meliputi segala aspek kehidupan. Islam hadir sebagai way of life (aturan main) yang mengatur setiap hubungan manusia, mulai dari yang bersifat vertical-horizontal hingga horizontal-exprensial sebagai sistem sosial antar makhluk. Termasuk dalam kategori kedua adalah, bagaimana Islam menangani urusan negara demi terciptanya kondisi yang stabil dan harmonis. Islam sangatlah memperhatikan sistem politik ketatanegaraan. Negara merupakan elemen yang sangat urgen (penting) ditinjau dari posisinya sebagai penopang tegaknya sendi-sendi syariat. Tanpa kekuasaan negara yang bersifat memaksa, agama akan berada dalam garis kritis. Namun bila negara berjalan sendiri tanpa wahyu pasti akan menjadi sebuah organisasi yang tiranik. Untuk itu, agama dan negara merupakan dua hal yang benar-benar berkelindan dan tidak dapat dipisahkan. Agama adalah dasar, sedangkan penguasaan negara hadir sebagai penjaga. Segala yang tidak memiliki dasar akan hancur dan segala yang tidak memiliki penjaga akan sia-sia. Keterikatan dua elemen ini (agama dan negara) dalam prospektif Islam dikenal sebagai simbiosis-mutualistik. Dalam simbiosis-mutualistik agama dan negara merupakan dua institusi yang saling berhubungan dan membutuhkan. Terbentuknya masyarakat religius hanya bisa raih jika ada lembaga yang disebut negara, sedangkan negara tidak diperbolehkan berjalan tanpa adanya kontrol dari agama. Sebab bila hal itu dibiarkan, akan terjadi banyak tindak amoral dan kekacauan. Maka, subtansi pemerintahan atau negara dalam konsep perpolitikan Islam adalah sebagai pengganti fungsi Shohibus Syar’i (Nabi Muhammad r) untuk menjaga agama dan mengatur dunia. Negara sangat berperan penting sebagai mobilisator seluruh elemen masyarakat agar berperilaku sesuai dengan tuntutan syariat dalam kemaslahatan ukhrawi mereka, sekaligus kemaslahatan duniawi yang bertolak pada ukhrawi. Di sini seorang pemimpin dan rakyat tidak berhak untuk membuat aturan sendiri, karena semuanya harus diadopsi dari Kitâbullâh dan Sunnatu-Rasûlillâh. Bentuk Negara Islam Paradigma di atas dalam Islam kita kenal dengan istilah Khilafah, Imamah, Daulah Islamiyah dan lain sebagainya. Nama-nama tersebut pada dasarnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengatur sistem pemerintahan. Islam tidak terikat oleh simbol-simbol tertentu dalam perpolitikkannya. Asalkan substansi negara telah sesuai dengan prinsip di atas, maka seperti apapun bentuknya, posisinya tetap sebagai Negara Islam yang diridai. Sistem pemeritahan Islam memiliki karakteristik khusus dan mudah untuk dikenali. Secara general sistem pemerintahan Islam merupakan sebuah sistem yang betul-betul berbeda dengan bentuk pemeritahan apapun yang telah ada. Perbedaan ini dipengaruhi oleh prinsip-prinsip pokok yang dijadikan dasar setiap negara dalam menata pemerintahaanya. Dalam pemerintahan Islam, al-Qur’an dan Hadis merupakan sumber utama undang-undang kebijakan pemerintah. Karenanya, Negara bisa disebut dengan Negara Islam apabila konstitusinya mengunakan konsep Islam dan ideologinya juga berlandaskan ideologi Islam. Apabila suatu Negara dapat konsis dengan...
Sidogiri Gelar Kursus Tajhizul Mayit di Lumajang
Sidogiri kembali menampakkan pengabdiannya kepada masyarakat melalui peran para santri dan alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Jumat (12/09) siang kemarin, Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) wilayah Lumajang menggandeng LAZ SIDOGIRI & L-Kaf SIDOGIRI Cabang Lumajang mengadakan kursus tajhîzul-mayit (tata cara merawat mayit) di Desa Dawuhan Lor Kecamatan Sukodono, Lumajang. Kursus yang berlangsung di Masjid Jamik Al-Mukarromah ini diikuti oleh 50-an masyarakat desa setempat dengan menghadirkan Ust. A. Qusyairi Ismail (staf pengajar MMU Aliyah PPS) sebagai pemateri. Panitia pelaksana Ust. Ibnu Hajar mengatakan kursur tajhîzul-mayit ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat seputar tata cara merawat jenazah yang sesuai ajaran Islam. “Agar masyarakat tau tentang tata cara merawat jenazah dan tidak bergantung pada Modin atau tokoh,” ujarnya saat usainya kursus, Jumat (12/09) siang. Pasalnya, kata Ibnu melanjutkan, di Desa Dawuhan Lor ini hanya ada beberapa orang yang bisa men-tajhiz mayit. Sementara, tidak jarang ada orang meninggal dunia yang bersamaan. “Untuk itu, diharapkan setelah diadakannya kursus ini masyarakat tidak bergantung kepada modin atau kiai yang bisa merawat jenazah secara benar,” imbuhnya. Dalam kursus ini, selain menjelaskan tata cara memandikan, mengafani, menyalati dan mengubur mayit, pemateri juga menyampaikan etika dan fadilah menjenguk orang sakit dan tata cara menalkin orang yang sakaratul maut. Selain kepada masyarakat Dawuhan Lor, kursus tajhîzul-mayit juga diadakan di Pondok Pesantren Al-Maliki Dawuhan Lor Sukodono. Peserta kursus kali ini terdiri dari 60-an siswa-siswi kelas 3 SMK Al-Maliki. == M. Husni Mubarok Editor: Zainuddin Rusdy ...
Danrem 083 Malang Ajak Kerja Sama Hadapi Ancaman Global
Rabu 8 Dzul Qadah 1435 Pondok Pesantren Sidogiri kedatangan rombongan tamu dari jajaran Komando Resort Militer (Korem) 083 Baladhika Jaya/BDJ Malang. Romobongan tiba di Pondok Pesantren Sidogiri sekitar pukul 11.00 Wis dan disambut oleh Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, KH. Fuad Nurhasan dan KH. Abdullah Syaukat Siradj, Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri, A. Saifulloh Naji, Pengurus Harian dan Pengurus Pelaksana. Turut ikut di rombongan ini Komando Korem (Danrem) 083 Baladhika Jaya/BDJ Malang, Kolonel Totok Imam Santoso, Kapolsek Kec. Kraton, Muspika Kec. Kraton, Kodim, Korem, Koramil, dan Kepala Desa Sidogiri. Di Pondok Pesantren Sidogiri tamu rombongan dan Pengurus langsung menuju Kantor Sekretariat Lt. III. Di rungan ini sudah menunggu jajaran asatidz Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah dan Aliyah, Kepala Kamar, dan beberapa pengurus yang lain. Maksud kedatangan tamu rombongan dari Korem 083 Baladhika Jaya/BDJ Malang ini adalah murni silaturrahim dengan Majelis Keluarga, Pengurus, dan dewan asatidz. Di kesempatan silaturrahim ini Danrem Kolonel Totok Imam Santoso menyampaikan penjelasan tentang wawasan kebangsaan dan kondisi terkini kemanan Nasional. Tidak lupa beliau juga menyinggung isu ISIS (Islamic State of Irak & Syria), yang belakangan ini menjadi sorotan di dalam dan luar negeri. “Alhamdulillah, semua elemen bangsa di negeri ini sudah sepakat bahwa ISIS tidak boleh ada di Indonesia,” jelasnya. Beliau juga menjelaskan bahwa warga Negara Indonesia yang terbukti mengikuti ISIS akan dicabut status kewarganegaraannya. Lebih lanjut beliau memaparkan penjelasan kontribusi organisasi masyarakat terbesar, Nahdltaul Ulama dan ulama-ulama pesantren di dalam memperjuangkan kemerdekaan. “Tidak dapat dipungkiri kalau NU dan para ulama memiliki peran penting di dalam merebut kedaulatan NKRI dari para penjajah. Mereka telah berjasa besar di dalam mempertahankan NKRI ini,” jelas Danrem asal Magetan yang diangkat sebagai Danrem sejak Mei 2014 ini. Pria alumni Akabri 1989 ini juga mengajak kerja sama dengan berbagai pihak untuk sama-sama menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI dari berbagai ancaman global. Acara silaturrahim ditutup dengan pemberian cinderamata dan doa oleh KH. Fuad Nurhasan. — Editor: Zainuddin...
Jalan Keluar Bebas Konflik
Orang-orang sosialis yang tidak memahami agama umumnya pasti geram manakala terjadi konflik antar-umat beragama, atau antar-sekte yang berbeda dalam suatu agama, semisal antara kelompok Ahlu Sunah wal Jamaah versus Syiah dalam agama Islam. Biasanya pula, menyaksikan pergesekan yang kerap kali terjadi, mereka cenderung berpikir, atau setidaknya mengandaikan, bagaimana sekiranya keyakinan-keyakinan yang bertolak belakang itu tak perlu ada, sehingga tercipta harmoni antar-umat manusia. Tak lagi ada sekat batas yang memisahkan setiap anak Adam untuk saling menghargai. Dan akhirnya, seperti kata filsuf Barat, agama dan objek-objek keimanan semacamnya adalah candu, yang seharusnya tak perlu ada, agar tercapai ketenteraman hidup umat manusia. Upaya menghapuskan, atau setidaknya mengebiri, peran agama dalam kehidupan umat manusia adalah cara yang ditempuh oleh umat anti-agama, dan bahkan anti-tuhan, yakni orang-orang ateis, untuk menciptakan perdamaian. Karena mereka melihat, bahwa pertikaian antar-umat manusia cenderung dipicu oleh agama-agama dan keyakinan-keyakinan yang berbeda. Kita, orang beragama, yang memiliki iman dan keyakinan, tentu menilai ini adalah solusi yang tak masuk akal. Solusi yang ditawarkan oleh orang tak beragama itu adalah ngawur dan emosional. Akankah kita menanggalkan agama kita untuk mencapai harmoni kehidupan sosial, sementara agama Islam diturunkan justru sebagai rahmat untuk sekalian alam? Dan, adakah dengan ditanggalkannya agama pertikaian antar-umat manusia bisa nihil, clean sheet? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab pemicu konflik kadang soal gengsi kesukuan, arogansi kelompok, keserakahan akan kekayaan duniawi, dan lain sebagainya. Hal lain adalah, mungkinkah seseorang akan lepas sama sekali dari suatu keyakinan yang dipeluknya sejak awal dengan erat? Tentu juga tidak mungkin. Bahkan orang yang tak beragama sekalipun, sebetulnya mereka memiliki keyakinan, bahwa bagi mereka tak ada satupun agama yang benar di dunia ini. Mereka memeluk pemahaman bahwa agama adalah sumber konflik, dan seterusnya. Mereka tetap memiliki keyakinan, yang tentu saja berbeda dengan keyakinan orang-orang beragama. Ada cara lain yang dilemparkan sebagai solusi untuk mengatasi konflik antar-agama atau antar-sekte dalam agama. Solusi ini dikemukakan oleh kelompok pluralisme agama. Yakni dengan cara meyakini sepenuhnya, bahwa semua agama itu pada hakikatnya sama. Tak ada yang lebih baik yang mengunggulkan antara satu dengan yang lainnya. Semunya sama-sama baik, dan sama-sama merupakan jalan menuju tuhan yang sama. Demikian pula halnya dengan sekte-sekte dalam agama. Semua juga sama derajatnya. Tidak ada yang lebih benar, karena semuanya bisa benar, atau memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk benar, sehingga tak perlu saling menyalahkan. Sekte-sekte yang ada adalah laksana jalan menuju tuhan yang sama dengan bentuk trek yang berbeda. Tak ada masalah dengan perbedaan sekte dalam agama, dan tak seharusnya mempermasalahkan itu sehingga memantik konflik. Sementara orang mungkin melihat solusi yang ini tampak elegan dan tulus menginginkan perdamaian. Padahal, pada hakikatnya, ada kekejaman yang menjijikkan di balik tawaran ini. Bahwa dengan memaksa setiap orang meyakini agama-agama pada dasarnya...