Friday Forum
Jan27

Friday Forum

informasi selengkapnya: klik di...

Selengkapnya
Surah al-Kafirun
Jan27

Surah al-Kafirun

selengkapnya: klik di...

Selengkapnya
Kenangan Habib Baharun
Jan27

Kenangan Habib Baharun

Informasi lebih lanjut: klik di...

Selengkapnya

Mohon Maaf!

Masih dalam proses upload, mohon silahkan coba kembali dalam beberapa saat lagi. Kembali membaca beritadi...

Selengkapnya
Begini Toleransi Menurut Litbang ACS
Jan27

Begini Toleransi Menurut Litbang ACS

Penonton berdesakan hanya untuk menyaksikan Friday Forum di mabna al-Ghazali, malam Jumat (23/01). Friday Forum yang diadakan Annajah Center Sidogiri (ACS) dengan tema, “Toleransi Kebablasan” mengandung kesan tersendiri. Mengingat, acara ini melibatkan delegasi dari pesantren lain dan beberapa utusan dari kelas ACS. Termasuk dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ACS. Laporan: Muhammad ibnu Romli Sebelum hari H, panitia memberikan kebijakan untuk mengumpulkan artikel terkait tema. Perwakilan Litbang mengirimkan satu artikel dengan judul Kronologi Toleransi Kebablasan. Perkiraan sepuluh ribu karakter tanpa spasi. Kalau diprin dengan format ukuran font 12, menggunakan kertas folio bisa mencapai lima lembar. Anda bisa membaca artikelnyadi sini Gelar wicara ini di mulai dengan presentasi satu-persatu. Perwakilan Litbang mendapat giliran kedua, setelah dari perwakilan semester II bicara. Dimulai dengan mengutip keterangan yang ada di Tafsir ar-Razi mengenai hubungan seorang muslim dengan non-muslim. “Imam ar-Razi membagi tiga, terkait hukum intraksi antar umat beragama. Diperbolehkan, bila sebatas intraksi baik (mu’asyarah jamilah). Bisa kafir bila sampai meyakini dan rela kekafirannya. Yang ketiga, diantara keduanya; tidak sampai kafir, hanya saja dilarang (manhiyyun ‘anhu). Hukum ketiga ini apabila dalam hubungan keduanya sampai ada kecondongan hati atau rasa cinta kepada mereka,” terang pria dengan nama pena Miromly Attakrinya, saat mempertanggungjawabkan artikelnya di Friday Forum, malam Jumat (23/01). Infografis Hukum Toleransi Lalu, pria kelahiran Bangkalan ini memberikan batasan tertentu dalam bertoleransi, seraya mengklaim bahwa semua toleransi sebenarnya baik. Namun, bila melewati batas, itu namanya sudah bukan toleransi. “Ancap kali saya jumpai kata tasamuh dan semacamnya, tiap membaca bab mu’amalah dalam kitab-kitab fikih. Dalam Islam, tidak ada pensyaratan harus beragama Islam dalam masalah transaksi. Yang ada hanya dalam kasus penjualan mushaf. Kenapa dibatasi? Lantaran mushaf itu bukan buku sembarangan yang bisa dipegang sembarang orang. Jangankan membeli memegangnya saja harus suci. La yamassuhu illal-mutahharun, tidak boleh menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci. Baik dari hadas, mau pun besar. Tentunya, orang Islam. Mana mungkin orang non-muslim bisa suci dari keduanya. Nah, dari sanalah, menjual mushaf dan sesamanya kepada orang orang non-muslim sudah dinilai ihanah dan kelewatan batas, lantaran menerjang hukum-hukum agama yang sudah baku,” terangnya dengan jelas. Miromly Attakriny sedang mempresentasikan artikelnya tentang toleransi antar umat beragama. Pria yang tidak lain merupakan Pemimpin Redaksi sidogiri.net ini juga menjelaskan bahwa ada pengkaburan makna toleransi. Menurutnya, banyak ideologi pluralisme agama dianggap toleransi. “Itu salah besar,” tegas pria yang berasal dari Pulau Garam ini. “Seringkali kaum pluralis membawa-bawa ayat lakum dinukum waliya din sebagai “pelindung buatan” mereka. Ayat itu dianggap sebagai legalitas dari agama untuk pandangan mereka: tidak ada kebenaran yang mutlak, alias tergantung penganutnya,” ungkap pria yang juga menjadi penulis lepas di annajahsidogiri.id ini. Sambil menikmati beberapa camilan, pria kelahiran 2002 M ini menambahkan, “Dugaan kau pluralis itu tidak benar....

Selengkapnya