Lulus Diklat Syarat Masuk Asrama Arab
Jan22

Lulus Diklat Syarat Masuk Asrama Arab

Syarat Lulus Diklat ditetapkan Mulai Tahun ini Lulus Pendidikan Shalat (Diklat) menjadi syarat mukim di Asrama Arab. Hal ini sebagaimana tertulis dalam surat pemberitahuan Pendaftaran Warga Arab, Ahad (20/01). Hal ini dibenarkan oleh Sekretaris Penerimaan Warga Baru Daerah Arab, Ust. Ali Akbar. Beliau bahkan telah bekerjasama dengan bagian Diklat untuk mengetahui database peserta Diklat yang lulus untuk mengurangi tindak kecurangan. “Kami telah menetapkan harus lulus Diklat. Ditetapkan mulai tahun ini dan berlaku seterusnya. Bagi yang belum lulus, bisa mengikuti ujian Diklat terlebih dahulu dan namanya belum bisa kami cantumkan sampai benar-benar jelas kelulusan Diklatnya”, terang pria yang juga merupakan TU LPBAA. Baca juga: LPBAA: Uji Bakat Dengan “Drama Arab” Baca juga: Nama Syekh Mari’ Ikut Menghiasi Daftar Tamu Istimewa LPBAA Selain harus lulus Diklat, Ust. Ali Akbar juga menyampaikan bahwa para calon warga Arab juga harus lulus pendidikan Qurani Sidogiri. Sementara itu, pendaftaran untuk masuk Asrama Arab telah dibuka sejak Ahad kemarin. Pendaftaran dilakukan di Ruang Pelayanan Kantor Sekretariat Lantai I pada pukul 08.00 Wis malam selain malam Jumat. Musyafalhabib |...

Selengkapnya
ACS Bersama Habib Mohammad Baharun
Jan20

ACS Bersama Habib Mohammad Baharun

Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA, konon, sewaktu berada di Malang, merupakan sosok di balik besarnya Annajah di Sidogiri, sekaligus salah-satu mentor partama Annajah di Siodgiri. Kini, beliau bersedia untuk mengisi kembali seminar ilmiah Annajah Center Sidogiri, besok Malam (21/01). Laporan: Muhammad ibnu Romli Pengurus Annajah Center Sidogiri (ACS) mendapat tawaran dari Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat untuk mengadakan seminar ilmiyah yang bertajuk, “Agama, Pancasila, dan Politik Kebangsaan Perspektif Pesantren.” Pada malam Rabu (21/01). Rencananya, acara ini bertempat di ruang auditorium, kantor sekretariat lantai II. “Acara ini sebenarnya tidak direncanakan. Namun, mumpung beliau di Malang, serta bersedia untuk mengadakan acara seminar yang temanya dari beliau sendiri, kami dengan sangat senang hati mengiyakan, serta langsung merembukkan dengan pengurus ACS yang lain,” ujar Ust. Habibulloh, Wakil II ACS. Kenangan ACS bersama Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA Peserta undangan terdiri dari anggota ACS semester II, semester IV, serta anggota Penelitian dan Pengembangan ACS (Litbang). Bagi ACS sendiri, acara bersama beliau bukan pertama kali. Tahun lalu ACS bekerja sama dengan Badan Pers Pesantren BPP mengadakan insan pers dengan menghadirkan beliau sebagai nara sumber. Begitu pun tiga tahun silam, ACS mengadakan seminar ilmiah yang bertemakan “Persatuan Umat Islam dalam Persepektif Aswaja” dengan pemateri yang sama. Di Sidogiri sendiri, beliau telah berkali-kali diundang. Salah satunya dalam acara yang bertajuk “Perang Pemikiran Media di Era Modern” yang diadakan BPP. Begitu pula dalam rangka hari santri tahun 2017 silam. Juga, seminar ilmiah dalam rangkaian acara Milad Sidogiri ke-277 dengan tema, “Strategi dan Psikologi Dakwah”. “Sebenarnya, acara ini tidak jauh beda dengan tahun lalu. Namun, kali ini tema sekaligus materinya memang langsung dari Habib Baharun sendiri,” terang Ulin Nuha, Sekretaris Bulletin Nasyit sekaligus ketua distributor Buletin Tuiyah, salah-satu media ACS yang murni dakwah, alias dibagikan secara gratis. Sekilas info, pembaca juga bisa mengakses Bulletin Tauiyah digital secara gratis di link di bawah ini:buletin tauiyah Prof. Dr. Habib Mohammad Baharun, SH, MA di...

Selengkapnya
Sisi Lain Musik
Jan19

Sisi Lain Musik

Berbicara (baca: menulis) tentang santri, berkaitan erat dengan keremajaan. Mengingat, 99% sntri aktif masih berstatus “remaja”. Manusia memiliki beberapa fase. Mulai dari balita, anak-anak, sampai—setelah mengalami masa pubertas—disebut remaja. Fase inilah manusia rentan terprofokasi, lantaran wataknya yang masih labil. Hal ini terbukti dengan munculnya ‘Idztun-Nasyi’in-nya Musthafa al-Ghalayayni, Ayyuhal-Walad-nya Imam Ghazali dan beberapa tumpukan kitab ulama mengenai keremajaan. Tujuan utama dari munculnya kitab tersebut adalah: membetuk karakter pemuda ke jalan yang lurus. Demi mengatasi virus yang tertular dari ke labilan mereka. Ke-plin-planan mereka disebabkan mod pada setiap kesenangan, tanpa menganalisa positif dan negatifnya. Musik termasuk dari kesenangan itu. Meskipun tidak hobi musik, tapi siapa yang berani menyangsikan keasyikan saat bermain musik?! Padahal fakta yang ada, musik dapat menurunkan kerakteritas seorang remaja. Dengan pengaruh musik, mereka lebih “liar” pada yang namanya fun. Keganasan mereka tak mempedulikan siapapun, wa bil-khusus jalan agama. Katerangan ini bukan bermaksud mengharamkan musik. Akan tetapi, memberikan intruksi “bahaya” pada pengguna musik. Lihatlah di Andalusia (baca: Spanyol), sebelum orang kafir ingin menumpahkan balas dendamnya dengan senjata, mereka terlebih dahulu dengan merusak karakter pemuda di sana. Mulai dari mengedarkan rokok dan bir, tersebarnya ulama su’ dan terselenggaranya konser musik di sana-sini. Sehingga serba-serbi Islam sudah hilang dari kepala mereka. Mulai dari dunia keilmuan menurun, kepedulian pada sesama Muslim hilang, para militer muslim sudah lengah, hingga puncaknya mereka diusir dari Andalusia. Dari itulah muncullah perkataan, “Dunia hanya bisa dikuasai dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan kekuatan militer dan kelengkapan senjata, sedang perpustakaan gerbang utama menguasai dunia.” Jika kita rentet dari awal, musik dapat mengganggu konsentrasi dan kesemangatan dalam belajar. Sedangkan muthala’ah adalah jalan mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan adanya musik, daya intelektual akan menurun. Puncaknya, kekuasaan tak lagi ada di tangan muslimin. Jika harapan satu-satunya belajar ilmu agama hanyalah santri, maka apa jadinya jika sanri sendiri yang doyan pada musik. Bagaimana nasib negeri kita?! Muhammad ibnu Romli |...

Selengkapnya
Mashuri; Seharusnya Santri Itu Bisa Menulis
Jan19

Mashuri; Seharusnya Santri Itu Bisa Menulis

Saat ini, bisa dikatakan bahwa minat tulis-menulis dalam dunia pesantren mengalami penurunan dibanding dengan masa-masa sebelumnya. Ada sebagian menganggap tidak penting bagi mereka untuk menulis, karena itu bukan bidang mereka, ada pula yang beranggapan belum siap menghadapi tantangan di dunia luar, padahal, banyak sekali kita lihat penulis-penulis luar pesantren yang menulis karya dengan mengatasnamakan agama, sedangkan pengetahuan mereka tentang agama sangatlah minim, sehingga tidak sedikit ditemukan kesalahan-kesalahan pemahaman dalam isi buku hasil karangan mereka. Lebih parahnya lagi bila si penulis merupakan seorang tokoh masyarakat yang banyak penganutnya. Berikut wawancara Alfin Nurdiansyah, dari Maktabati dengan Mashuri M.A (peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur) mengenai perihal di atas. Apakah peran pesantren dalam dunia tulis menulis? Pada zaman dahulu, pesantren terkenal dengan tulisannya, entah itu dalam penulisan sajak atau pun kitab-kitab. Banyak penulis-penulis andal berlatar belakang pesantren. Diantaranya, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. As’ad Samsul Arifin, dan beberapa kiai yang pernah menuntut ilmu di Haramain, semuanya adalah penulis andal. Bahkan, banyak dari Masyaikh Sidogiri merupakan penulis andal. Entah seiring berjalanya waktu, minat menulis di kalangan santri itu menurun. Seharusnya ini menjadi instropeksi kita bersama, kenapa di kalangan pesantren minat menulis menurun, padahal banyak di luar sana yang mengharapkan tulisan dari pesantren, untuk melawan pendapat-pendapat yang tidak sesuai dengan syariat. Jika dulu pesantren bisa menyumbang banyak pada dunia, seharusnya sekarang, dengan fasilitas yang terbilang lebih maju harus bisa menyumbang lebih banyak. Apa tantangan penulis pesantren di dunia luar? Sebenarnya tantangan bagi penulis bukan hanya di luar atau pun di dalam, tetapi, tantangan terbesar bagi penulis ada pada diri sendiri. Tantangan yang bersumber dari dirinya sendiri seperti malas, itu terjadi bukan hanya pada penulis pemula saja, bahkan penulis mapan pun juga sering mengalaminya. Namun, penulis sekarang lebih dimanja dengan fasilitas yang lebih nyaman, entah itu dalam segi penerbitan maupun media. Dengan akses yang serba mudah ini jarang ada penulis sekarang yang mampu membuat tulisan yang mendalam, berbeda dengan zaman dulu yang serba keterbatasan, tulisanya sangat mendalam dan detail. Istilahnya, jika kita dimanjakan sesuatu kita akan terlena, karena segala sesuatu jadi lebih mudah, hingga akhirnya kita meremehkan. Mungkin ini bisa dijadikan tantangan untuk penulis, mampukah kita mengembangkan tulisan kita dan mampu memanfaatkan fasilitas yang ada. Akhirnya, tantangan itu kembali pada diri sendiri juga. Selain itu, kita juga ditantang untuk membuat pembaruan, bagamana kita belajar dari tulisan yang ada hingga kemudian menciptakan karya baru yang dapat menarik masyarakat.   Bagaimana cara penulis agar bisa menarik minat baca, meninjau menurunnya minat baca orang Indonesia? Indonesia memang terbilang negara dengan minat baca yang rendah. Namun, jika bicara soal minat baca, sebenarnya itu bukan hanya tugas penulis, tapi itu tugas kita semua, baik itu dari sisi masyarakat dan pemerintah. Kita...

Selengkapnya
Memaknai Liburan
Jan18

Memaknai Liburan

Saat iktikaf, aku dikagetkan seseorang yang langsung menyelinap dipinggirku. Setelah diselidiki raut mukanya, ternyata dia adalah santri yang baruku kenal. Dia bercerita mulai dari “A” sampai “Z” dengan runtut, sebagaimana lazimnya orang baru kenal, tanpa mempedulikan bahwa yang kita duduki adalah: masjid. “Ah, seekor “setan” datang lagi!” Desahku dalam pojok hati yang paling sunyi. Hingga akhirnya dia menanyakan sesuatu yang “aneh”. Ya, “aneh” karena tentang dirinya ditanyakan kepadaku. “Kamu tahu fan kesukaanku?” Demi menghemat waktu, aku hanya menggelengkan kepala. “Ya, tentu riyâdhah (baca: olahraga)” “Kalau aku tidak!” “Lantas, apa fan kesukaanmu?” Setelah 15 detik menghirup oksigen, segera ku sebutkan. “Liburan!” Awalnnya, aku hanya bercanda. Tapi saat ku pikir berkali-kali, perkataan itu ada benarnya. Liburan pesantren berbeda dengan liburan lembaga formal. Dalam lembaga formal, liburan sekadar me-refresh otak. Sebaliknya “pulangan”. Liburan yang satu ini bukan malah membiarkan bersenang-senang, akan tetapi malah menuntut untuk mengaplikasikan semua ilmu yang diperoleh. Untuk itu, aku kategorikan liburan sebagai salah-satu pelajaran di pesantren. Di dalam liburan, banyak point penting yang terlupakan oleh mayoritas santri. Karena itulah kita merasa bebas. Seandainya kita sadar bahwa pulangan adalah ujian, niscaya akan kita persiapkan jauh-jauh hari, layaknya ujian sekolah. Ya, sebelum ujian, kita belajar sekuat tenaga, agar lancar mengisi kertas soalan. Tapi adakah santri sebelum pulang sekuat tenaga mencari guru, pengurus, dan teman untuk meminta maaf? Kurang beberapa bulan menjelang ujian, kita mencoret kalimat yang penting-penting, agar mudah dipelajari. Tapi, apakah kita juga mencatat baik-baik pesan guru yang perlu dikerjakan ketika pulangan? Mungkin tidak. Karena kebanyakan para santri, mengagap liburan sebagai pelepas letih. Sehingga tak ada yang perlu dipersiapkan. Dari itulah muncul perbuatan-perbuatan onar saat pulangan. Untuk itu, marilah kita sadari bersama, bahwa liburan adalah tugas yang penting. Tugas menjaga nama baik pesantren; mengalirkan ilmu kepada masyarakat; mengamalkan ilmu yang telah didapat. Tunjukkan kita kepada masyarakat, bahwa kita yang dulu, bukanlah yang...

Selengkapnya