Resahkan Pengurus, Stok Lencana Santri Tidak Memadai!
Kewajiban mengenakan lencana menjadi sorotan dalam rapat pendidikan yang diikuti oleh semua instansi bawahan ketua I, hampir semua resah terkait murid-murid yang tidak mengenakan lencana. Sudah pasti ketika mereka tidak mengenakannya maka mereka terkena pelanggaran undang-undang Pondok Pesantren Sidogiri. “Lencana ini wajib, tapi kami selalu kehabisan stok,” tutur Ust. Rifqi al-Mahmoudy, Kepala Madrasah I’dadiyah yang turut menghadiri acara tersebut. Dari permasalahan inilah timbul inisiatif untuk menjadikan lencana permanen pada seragam. Bordiran lencana akhirnya diletakkan pada bagian sisi atas saku. Ada sedikit perubahan pada desain bagian kanan baju, yang kini menggunakan bordir berbentuk terompah nabi. Akhirnya, beberapa minggu terakhir ini telah terealisasikan, tetapi masih dalam proses percobaan. “Pihak Kopontren Sidogiri telah menyediakan 500 potong seragam dengan model baru di Toko Basmalah Unit 1, dan stok ini telah habis kurang lebih hanya dalam waktu 1 minggu saja,” ungkap Mansur Assidiqi, Staff Administrasi Toko Basmalah Unit 1 kepada Reporter Maktabati....
Hadiah Untuk Mustawa
“Daerah Arab (Daerah K dan B) asrama santri yang berprestasi tinggi,” sebut Ust. Mahbub Shonhaji selaku Ketua Lembaga Pembelajaran Bahasa Arab dan Asing (LPBAA). Beliau menginginkan santri yang bermukim di Daerah Arab bisa berbahasa Arab dengan lancar layaknya orang Arab. Untuk meraih upaya tersebut, peningkatan dan pembaruan selalu diproses setiap tahun. “Sudah saatnya kualitas Bahasa Arab meningkat,” ungkap Sekretaris Umum, HA. Saifulloh Naji. Program baru tersebut diterapkan pada semua tingkat mustawa. Pada tahun ini Beliau akan mengubah materi dan sistem ujian, agar mereka lebih semangat dan mahir dalam berbahasa Arab. Selain itu, materi pembelajaran mengalami beberapa perubahan. Misalnya, kitab Qawaid al-Lughah al-Arabiyah diganti kitab Mahir fil-muhawarah di mustawa I. “Dalam masa setengah tahun, anggota baru sudah bisa berbicara seperti keinginan kami,” jelas staf pengajar kelas 2 Tsanawiyah tersebut. Pengurus LPBAA menganggap warga baru Daerah Arab sudah mumpuni di bidang nahwu dan sorrof sejak I’dadiyah, dan khawatir terjadi kemandekan seperti pada tahun sebelumnya. Di samping itu, sistem ujian mustawa I memiliki dua jenis ujian, yakni tahriri dan shafahi sebagai sensasi mahir berbahasa. Mengenai penilaian, masih dalam perencanaan rapat pengurus LPBAA. Selanjutnya, beliau berharap muhawarah (percakapan) Daerah Arab meningkat sesuai dengan bahasa modern, lebih peka pada istilah-istilah Arab. Bukan menerjemah Bahasa Indonesia ke Bahasa Arab secara literal. “Sidogiri saja yang mengalami peningkatan Bahasa Arab, yang lainnya masih belum”, tutup ayah dari dua anak tersebut. Nama: Agus Hidayat* *Wartawan...
Manusia Bambu
Dulu, semasa saya anak-anak—ya, sekarang pun juga “anak-anak”—pernah bermain tebak-tebakan dengan teman sekolah. Pertanyaannya begini, “Apakah gerangan, sedari kanak-kanak memakai baju, tapi beranjak dewasa, semakin telanjang?” Saya kebingungan menjawabnya, hingga harus mengibarkan bendera putih, alias menyerah. Tapi, alangkah mengejutkan, saat temanku itu memberi jawaban perkarara enteng: bambu. Ya, benda itu sudah bosan saya lihat. Kutubut-turâts pernah “mengatakan”, suatu saat nanti, akan ada fase manusia (perilakunya, red) sama seperti binatang. Fakta membenarkan ramalan itu. Bahkan lebih. Sebab, realita yang kita temukan bukan sekedar berperilaku hewan, akan tetapi malah persis benda mati, alias bambu. Sebagaimana tebak-tebakan di atas, bambu sedari kecil terbungkus rapi. Beranjak dewasa, daun yang menyelimuti bambu itu semakin terbuka, hingga akhirnya telanjang. Begitu pula manusia. Sedari kecil orang tuanya memakaikan baju yang tertutup. Sehingga, mereka terlihat imut. Semakin dewasa malah sedikit demi sedikit pakaian utuh itu mulai “ompong”. Mulai dari membuang kerudung, rok dipotong seukuran lutut, pakaian diperketat sehingga berpakaianpun sama seperti telanjang. Maka jangan heran jika manusia zaman sekarang lebih hafal mengenai—maaf—paha wanita dari pada paha ayam. Bukankah sangat lucu! Lebih herannya lagi, wanita yang setengah telanjang itu malah PD dijadikan tontonan khalayak umum. Bahkan dia senang. Di manakah gerangan rasa malu mereka? Bukankah wanita yang tidak memiliki rasa malu, berarti dia tidak memiliki—maaf—kemaluan?! Ya, sebenarnya kemaluan mereka hilang dibawa “burung”. Ketidaksemangatannya mengamankan tubuhnya cukup dijadikan bukti. Mana mungkin orang yang masih original membiarkan “segel”-nya lepas? Hal ini tidak serta-merta memfonis mereka sebagai pezinah. Akan tetapi, harapan saya, jadikanlah pedoman ini sebagai catatan yang perlu digarisbawahi. Partanyaan terakhir, apakah Anda mau menikahi gadis yang tidak memiliki kemaluan, eh maksudku, rasa malu? Muhammad ibnu Romli |...
Tambah Fasilitas Agar Kebersihan Terjaga
Pada tahun ini, Pondok Pesantren Sidogiri melakukan penambahan fasilitas baru berupa wastafel. Hal tersebut bertujuan agar para santri lebih mudah untuk tidak meludah dan membuang ingus ke sembarang tempat, ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. ”Kami rasa pemasangan wastafel ini sangat dibutuhkan, karena banyak santri yang meludah sembarangan dan mengotori masdrasah, sehingga kami harus menyediakan wastafel di madrasah, ” ungkap Ust. Abdullah Mustofa kepada reporter Maktabati (1/2). Biaya pemasangan wastafel tersebut menghabiskan dana kurang lebih Rp. 35.000.000,- sesuai dengan kebijakan pengurus bahwa fasilitas baru tersebut harus diletakkan di setiap tangga mabna madrasah. Untuk mabna al-Ghazali terpasang 6 wastafel dan mabna as-Suyuthi sebanyak 10 wastafel. Selain itu, untuk mabna an-Nawawi pengurus belum merealisasikan. Baca juga: Madinah Adakan Reuni Penggunaan fasilitas tersebut bersifat umum tidak tertentu pada guru atau murid, semuanya boleh memakai wastafel sesuai kehendak mereka, tapi fasilitas tersebut hanya diprioritaskan untuk pembersih diri saja, tidak yang lain. “Dengan adanya fasilitas baru ini semoga santri menggunakannya dengan baik dan berhati-hati agar alat tersebut tidak mudah rusak,” pesannya....
Semua Keburukan Muncul dari Sini
Sering aku katakan—lebih tepatnya, menulis—tentang waktu. Bahkan, kecerdasan seseorang dapat diukur dengan seberapa lihai dia mengatur waktu. Semakin pintar dia mengatur waktu, kehidupan pun terasa lebih “lezat”. Bahkan di buku Hasyiyah, Catatan Kaki Seorang Santri (1) saya menulis waktu iitu dengan judul yang agak aneh, yaitu Waktu adalah “Kutu”. Satu hal yang melatarbelakangi judul tersebut, yakni beraneka-ragam definisi yang diberikan masyarakat. Dari pada saya memilih salah satu definisi itu—yang akhirnya ada pilih kasih pada salah satu pihak—mending buat sendiri. (Selain itu, banyak alasan lain yang sangat penting, dan bisa kalian baca—yang jelas membeli dulu—di buku itu). Perbedaan dalam memberikan definisi, sudah mewakili dari pentingnya sebuah waktu. Sebab, jika barang remeh, mana mungkin orang memikirkan definisinya? Apalagi sampai silang pendapat. Saya teringat akan sebuah kisah yang dialami saya sendiri. Pada saat itu, lebih tepatnya masa-masa IMDA (Imtihan Dauri) berlangsung. Salain belajar, dari instansi TTQ (Ta’limiyah wa Tahfidzul-Quran), yang menangani khusus program Kaffah (Kaderesasi Fuqaha’) menuntut saya fokus pada BMW (Bahtsul Masail Wustha), yang merupakan musyawarah antar pesantren. Dari instansi Perpustakaan Sidogiri menuntut untuk segera menyelesaikan buku profil perpustakaan, mulai dari sejarah hingga SOP kinerjanya. Tidak hanya itu, dari derah, yang merupakan daerah khusus Tahfidzul-Mutûn memaksa saya menakror ulang dengan tahqîq berikut dengan pemahamannya, untuk diikut sertakan dalam lomba Smart Tahfidz. Belum lagi tuga-tugas saya selaku Sekretaris Redaksi Matabaca, dan Leader dalam Ihya’ Ulumiddin Community. Itu semua masih sebatas kewajiban yang harus saya lakukan. Belum aktifitas sampingan yang merupakan target pribadi. Hanya merenung yang bisa saya lakukan, meratapi semua agenda yang berantakan. Demi meringankan beban, saya mencoba curhat pada teman dekat. Anehnya, di cover nadzam Alfiyyah-nya terdapat tulisan, “Dunia terasa enak, jika dapat mengatur waktu”. Kita takkan terlepas dari kejaran waktu. Meskipun ketika liburan. Hanya saja bagaimana kita dapat memaksimalkannya. Ketika kembalian, hal itu sangat nampak. Sebagian teman saya, ada yang mampu mengarang beberapa buku selama libur panjang Ramadhan. Ada juga—bahkan banyak—teman saya saat pulangan hanya bisa “mengarang” luka pada sekitar tubuhnya, akibat kecelakaan. Karena itu, ingatlah bahwa: waktu takkan melepas kita, meski saat liburan. Jangan sia-saiakan! Karena waktu itu enggan untuk kembali. Sebagaimana dawuh Syaikh Sa’id Ramadan al-Buthi, “Jika hari baru datang padamu, ucapkanlah, “Selamat datang ‘tamu’.” Muliakanlah dengan ibadah dan tobat. Jangan kau kotori dengan dosa. Jika tidak, engkau akan menyesal, karena tamumu tak akan pernah kembali.” Muhammad ibnu Romli |...