Jabat Tangan
Pepatah mengatakan, jabat tangan adalah simbol dari maaf. Di mana ada persalaman, di situ ada ampunan. Sehingga dikatakan mustahil jika “memberikan” tangan kita kepada orang yang dibenci. Sebenarnya, memaafkan adalah sifat hati. Mengetahui “maaf” hanya bisa dilakukan dengan tanda-tandanya, yaitu: jabat tangan. Wajar saja jika Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai salam dengan: damai. Ucapan maaf adalah bagian dari magic work. Dengan aritian, “maaf” bukanlah perkataan biasa. Tanpa ada maaf-memaafkan dunia menjadi rumit, akhirat pun juga ikut kacau. Dalam Shahih Muslim II/430 Rasulullah SAW menganjurkan kepada yang bermasalah alias memiliki tanggungan haqqul-âdamî, untuk segera diselesaikan, karena saat kita berpindah alam, hanguslah istilah tebus-menebus. Hanya amal saleh yang dapat menebus urusan kita. Itu pun jika memiliki perbuatan baik. Jika tidak, maka dosa si korban, akan dibebankan kepada kita. Kesadaran dalam kesalahan adalah hal yang penting untuk dipelihara. Konon, salah-satu jurus mutakhir setan adalah membenarkan semua yang kita lakukan. Kita diiming-imingi argumen yang membenarkan perbuatan kita, sehingga enggan meminta maaf. Dengan begitu, mendapat ampunan Tuhan hampir tertangkap mimpi. Mengingat, ampunan Tuhan—dalam haqqul-âdamî—dititipkan kepada korban kezaliman kita. Coba kita bandingkan, lantaran berbuat kesalahan, Nabi Adam AS dengan Iblis sama-sama diusir dari surga. Akan tetapi, Nabi Adam AS mendapat ampunan, sedangkan Iblis tidak. Padahal perbedaan keduanya sangat tipis, yaitu Nabi Adam AS tobat alias minta maaf, sedangkan Iblis tidak. Dari kisah di atas, kita dapat merasakan betapa besar pengaruh minta maaf. Dengan tobat, Nabi Adam AS diberi pangkat yang mulia, sedangkan Iblis—karena gengsi untuk bertobat—malah mendapatkan gelar ar-rajîm (terlaknat). Sama halnya meminta maaf, memaafkan adalah perbuatan yang tak kalah penting. Syaikh Muhammad bin Hazm berkata, “Jika ada seseorang meminta maaf atas kesalahannya, maka kesalahan tersebut berpindah pada kita, jika tidak memaafkannya.” Dari itu, Ibnu Hazm memaklumi orang yang berbuat salah, karena manusia memang wadah dari kesalahan. Justru yang tidak memaafkanlah yang salah. Mengingat, ampunan Tuhan tergantung pemaafan si korban. Selain itu, dengan memaafkan, Allah—Yang Maha Pemaaf—akan mengkasifikasikan orang tersebut pada golongan takwa dan muhsîn yang dicintai-Nya (Lihat: Ali Imran: [4] 133). Akan tetapi, dalam menyikapi “pemaafan”, kita harus waspada. Kita berhak memaafkan kesalahan orang lain yang bersifat haqqul-âdamî. Tidak selebihnya! Segala kesalahan yang berbentuk haqqul-Lah, bukan kita yang memiliki wewenang. Dalam hal ini, masyarakat sulit membedakan, mana yang sebenarnya harus kita maafkan dan yang harus kita tuntut. Sehingga, kita sering disalahkan, jika menuntut oknum yang meminta maaf karena melecehkan Agama. Bukankah Rasulullah SAW—yang lemah-lembut—akan murka jika ada kezaliman yang berbau Agama? Lupakah kita akan hadis shahih tentang pencuri? (Pada zaman Raulullah SAW, seorang dari kalangan terhormat “tertangkap-basah” kasus pencurian. Ini tentu sangat skandal. Maka masyarakat sekitar memohon kepada para sahabat dekat Rasulullah SAW untuk ‘membicarakan’-nya dan memintakan ampunan bagi si ‘pencuri terhormat’ itu....
Kaffah Kaji Kitab Imam Syafi’i
TTQ (Taklimiyah wa Tahfidz al-Quran) melalui pengurus Kaffah mengadakan pembinaan dan bedah kitab Mustholah Imam As-Syafi’i. Pembinaan tersebut disampaikan langsung oleh Ust. Sholeh Romli, guru senior di tingkat Aliyah. Pesertanya adalah anggota Kaffah sendiri dan santri yang berkenan mengikutinya. Pembinaan tersebut berada di Perpustakaan Sidogiri pada malam Jum’at (06/01/1441). “Kami mengadakan pembinaan ini agar anak-anak yang baru mempelajari kitab-kitab bukan hanya mengetahui maksud kitab yang dipelajari, tapi juga paham istilah-istilah yang ada di kitab-kitab yang bermazhab Imam As-Syafi’i. Selain itu, mereka bisa mengetahui mana ibarat yang sesuai digunakan dalam hukum”, jelas Ust. Taufik selaku Ketua Kaffah kepada Crew...
Digital Merusak Moral
Intelektual dan moral dalah dua sasaran dari adanya digital. Meski digitalisasi sepertinya mendukung, akan tetapi di balik itu terpendam perusakan kualitas akhlak dan ilmu. Lantaran itu, dulu—sebelum masuknya digitalisasi ke pesantren—yang memprovokatori “anti globalisasi” adalah pesantren salaf. Sampai detik ini pun, pesantren agak alergi pada kemajuan tersebut. Sejarah mencatat, perkembangan falak di pesantren menurun drastis saat adanya pendigitalan falak. Sehingga, kemajuan fan itu sudah berakhir di software instan dan super mudah itu. Secara otomatis, jika software itu rusak atau diblokir, maka sudah pasti kita kehilangan falak. Kita tidak tahu pada arah kiblat, waktu shalat, gerhana, awal tahun dan lain semacamnya. Kita akan terasa bodoh dengan adanya aplikasi tersebut. Pepatah, “Ilmu ada di hati, bukan di kertas,” juga pepatah, “Ilmuku takkan hilang selagi aku masih ada,” dan mutiara hikmah lainnya, akan terasa asing di dunia nyata. Juga dengan adanya alat instan, akan mengurangi kesemangatan kita dalam menuntut ilmu. Pernah saya mendengar guyonan teman. Dia berkata, “Kamu di pesantren ini ada yang hafal logaritma, niscaya ku beri dia uang satu miliar.” Buat apa menghafalkan logaritma? Mungkin itu yang ada rasakan. Begitu pula dengan saya. Akan tetapi, itulah bukti nyata bahwa ilmu kita tidak lagi di hati. Kita selalu merasa tergantung pada buku, internet dan lain semacamnya. Sehingga otomatis, jika kita kehabisan paket, atau jaringan offline, maka seketika itu juga kita bodoh. Selain sifat malas, rasa muraqabah (pengawasan dari Allah) pun terkikis oleh adanya digital. CCTV diantaranya. Dengan adanya benda itu—wabil-khusus di pesantren—segala tindak tanduk kita tergantung pada alat tersebut. Ketika ada, kita berbuat amal shaleh. Jika tidak, maka kita berbuat “amal salah”. Lebih-lebih saat pulangan. Semua yang dilarang pesantren, seperti pacaran, mencemarkan nama baik, dan lain sebagainya, dengan enteng dia lakukan. Mengingat, sudah tidak ada lagi CCTV yang terhubung ke keamanan pesantren. Yang perlu digarisbawahi, saya bukan melarang menggunakan benda digital. Akan tetapi, jangan sampai prinsip di hatimu berubah gara-gara efek digitalisasi. Muhammad ibnu Romli |...
Madinah Adakan Reuni
Malam Ahad (12/01), Redaksi Majalah Dinding Annajah Tsanawiyah (Madinah) tahun 1441 telah mengadakan reuni yang bertempat di Ruang Auditorium Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri. Acara dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi dan saling mengenang satu sama lain. Majalah dinding Madinah merupakan salah satu media di Pondok Pesantren Sidogiri yang berada di bawah naungan Madrasah Miftahul Ulum Tsanawiyah. Redaksi diambil dari murid-murid Tsanawiyah. Tujuan dibuatnya mading Madinah adalah agar hasil kursus Annajah Tsanawiyah bisa disampaikan melalui tulisan-tulisan di media. Kini, di usianya yang ke 19 tahun, Madinah yang dikoordinatori Ust. Hamdan Mahalli mengadakan reuni bagi santri aktif maupun alumni yang pernah menjabat sebagai redaksi Madinah. Dalam sambutannya, Ust. Ali Abdillah, Pemimpin Redaksi Madinah tahun ini menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran sejumlah alumni yang turut meramaikan acara. Selain itu beliau mengisahkan bagaimana militansinya dalam mencari berita dan data tentang sejarah Madinah ini, yang waktu itu masih menjabat sekretaris redaksi. Tercatat sudah 19 tahun Madinah berdiri dengan masa 11 tahun yang diketahui datanya. Bahkan sebelum berada di Tsanawiyah, Madinah dulu dikelola oleh Instansi TTQ. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan ramah-tamah yang diisi dengan cerita pengalaman dari beberapa redaksi yang ditunjuk untuk bercerita. Yang ditunjuk untuk bercerita salah satunya adalah Pemred tahun sebelumnya, Ust. Muizullah yang kini aktif di organisasi NU di Kabupaten Sampang. Selain itu, juga ada Ust. Ahmad Rizqon, yang kini menjadi Sekretaris Redaksi Sidogiri Media. Perwakilan dari Detik Madinah ada Musafal Habib, menjelaskan tentang sejarah Detik Madinah yang merupakan edisi khusus akhir tahun untuk Mading Madinah. Acara dilanjutkan dengan motivasi dari Ust. Afifuddin, Koordinator Madinah tahun 1435-1437. Dalam penyampaiannya beliau menegaskan untuk selalu bersemangat dan terus berinovasi. Selain itu, beliau juga mengingatkan bahwa tidak semua yang dipilih di Pondok Pesantren Sidogiri itu karena ahli, tetapi keahlian itu ada bersamaan dengan pengangkatan. Acara dengan judul Silaturahmi dalam bingkai Madinah dan Detik Madinah ini ditutup dengan berfoto bersama. ____ Penulis: Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...
Mengontrol Kedisiplinan Murid Melalui CCTV
Sebanyak 116 buah CCTV disediakan oleh pengurus melalui BATARTAMA yang akan dipasang di setiap sudut kelas. Sebagian CCTV lagi akan diletakkan di luar kelas dan di kantor madrasah. Pemasangan CCTV tersebut merupakan inisiatif dari Mas D. Nawawie Sadoellah yang menginginkan pemasangan CCTV di setiap ruang kelas. “Awalnya, beliau menginginkan pemasangan CCTV di asrama santri. Berhubung ada beberapa kendala, maka pemasangan CCTV sementara waktu hanya bisa dipasang di beberapa kamar saja,” jelas Ust. Muhammad Khozin, TU II Madrasah Ibtidaiyah. Berbeda dengan yang lain, CCTV jenis Hikvision ini memiliki keunggulan tersendiri seperti dapat mengeluarkan suara sesuai orang yang mengendalikannnya, sekaligus dapat berputar 360 derajat dari posisi semula. CCTV ini juga bisa bergerak secara otomatis apabila ada subjek yang terekam. Dengan adanya CCTV tersebut, pimpinan madrasah bisa memantau kegiatan belajar mengajar murid di kelas lewat pos pantau yang berada di kantor pengurus. Pengurus juga bisa melihat lewat aplikasi CCTV yang sudah tersedia di ponsel pribadi. (Naf/MKT)...