KH. AD. Rohman Syakur Wafat
KH. AD. Rohman Syakur, Guru Sepuh Pondok Pesantren Sidogiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Karanganyar, Kraton, Pasuruan meninggal dunia pada Rabu (15/1/2020). Rencananya, jenazah akan dimakamkan pada pukul 14.00 WIB. Kiai Abdur Rohman Syakur meninggal selepas subuh. Semasa hidup, Pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin ini juga pernah menjadi Rois Syuriah PCNU Kabupaten Pasuruan periode 2006-2016. Setelah itu, Kiai kharismatik ini menjadi Mustasyar PCNU periode 2016-2021. ...
Mengatur Waktu ala Santri
Sering aku katakan—lebih tepatnya, menulis—tentang waktu. Bahkan, kecerdasan seseorang dapat diukur dengan seberapa lihai dia mengatur waktu. Semakin pintar dia mengatur waktu, kehidupan pun terasa lebih “lezat”. Bahkan di buku Hasyiyah, Catatan Kaki Seorang Santri (1) saya menulis waktu iitu dengan judul yang agak aneh, yaitu Waktu adalah “Kutu”. Satu hal yang melatarbelakangi judul tersebut, yakni beraneka-ragam definisi yang diberikan masyarakat. Dari pada saya memilih salah satu definisi itu—yang akhirnya ada pilih kasih pada salah satu pihak—mending buat sendiri. (Selain itu, banyak alasan lain yang sangat penting, dan bisa kalian baca—yang jelas membeli dulu—di buku itu). Perbedaan dalam memberikan definisi, sudah mewakili dari pentingnya sebuah waktu. Sebab, jika barang remeh, mana mungkin orang memikirkan definisinya? Apalagi sampai silang pendapat. Saya teringat akan sebuah kisah yang dialami saya sendiri. Pada saat itu, lebih tepatnya masa-masa IMDA (Imtihan Dauri) berlangsung. Salain belajar, dari instansi TTQ (Ta’limiyah wa Tahfidzul-Quran), yang menangani khusus program Kaffah (Kaderesasi Fuqaha’) menuntut saya fokus pada BMW (Bahtsul Masail Wustha), yang merupakan musyawarah antar pesantren. Dari instansi Perpustakaan Sidogiri menuntut untuk segera menyelesaikan buku profil perpustakaan, mulai dari sejarah hingga SOP kinerjanya. Tidak hanya itu, dari derah, yang merupakan daerah khusus Tahfidzul-Mutûn memaksa saya menakror ulang dengan tahqîq berikut dengan pemahamannya, untuk diikut sertakan dalam lomba Smart Tahfidz. Belum lagi tuga-tugas saya selaku Sekretaris Redaksi Matabaca, dan Leader dalam Ihya’ Ulumiddin Community. Itu semua masih sebatas kewajiban yang harus saya lakukan. Belum aktifitas sampingan yang merupakan target pribadi. Hanya merenung yang bisa saya lakukan, meratapi semua agenda yang berantakan. Demi meringankan beban, saya mencoba curhat pada teman dekat. Anehnya, di cover nadzam Alfiyyah-nya terdapat tulisan, “Dunia terasa enak, jika dapat mengatur waktu”. Kita takkan terlepas dari kejaran waktu. Meskipun ketika liburan. Hanya saja bagaimana kita dapat memaksimalkannya. Ketika kembalian, hal itu sangat nampak. Sebagian teman saya, ada yang mampu mengarang beberapa buku selama libur panjang Ramadhan. Ada juga—bahkan banyak—teman saya saat pulangan hanya bisa “mengarang” luka pada sekitar tubuhnya, akibat kecelakaan. Karena itu, ingatlah bahwa: waktu takkan melepas kita, meski saat liburan. Jangan sia-saiakan! Karena waktu itu enggan untuk kembali. Sebagaimana dawuh Syaikh Sa’id Ramadan al-Buthi, “Jika hari baru datang padamu, ucapkanlah, “Selamat datang ‘tamu’.” Muliakanlah dengan ibadah dan tobat. Jangan kau kotori dengan dosa. Jika tidak, engkau akan menyesal, karena tamumu tak akan pernah kembali.” Muhammad ibnu Romli |...
KM Tsanawiyah; Upramer Kemungkinan di Tingkat Ibtidaiyah.
Upramer (ujian praktek mengajar) yang terlaksana pada tahun kemarin (1439-1440 H) banyak menuai kritikan dari mayoritas guru Tsanawiyah maupun dari peserta upramer sendiri. Hal itu karena upramer dilaksanakan ketika Imni di depan mata sehingga para peserta kurang persiapan untuk menghadapi tugas tersebut. Oleh karena itupelaksaan upramer kurang maksimal, sehingga pimpinan madrasah memutuskan bahwa upramer akan dilaksanakan sebelum pelaksanaan Imda II agar tidak mengganggu pelaksanaan Imni (6/2). Isu-isu yang telah menyebar di kalangan murid kelas III Tsanawiyah terkait upramer, yang akan dilaksanakan sebelum libur Maulid merupakan hal yang bersifat spekulatif dan masih belum menemukan titik terang. Kendala waktu adalah menjadi alasan pokok mengapa upramer kali ini tidak diletakkan pada waktu-waktu menjelang Imni. “Untuk tahun kemarin, upramer dilaksanakan ketika jam musyawarah hasilnya tidak begitu maksimal, karena tidak diawasi oleh wali kelas sehingga kondisi kelas tidak stabil,” terang Ust. Musthofa, TU Tsanawiyah. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika pelaksanaan upramer, pimpinan madrasah berencana akan meletakkan pelaksanaan tersebut di tingkat Ibtidaiyah agar kegiatan tersebut berjalan kondusif sesuai harapan pimpinan madrasah. “Untuk ini (upramer di Ibtidaiyah) kami masih menunggu kesepakatan pimpinan Madrasah Ibtidaiyah. Kalau beliau bersedia maka kami akan laksanakan di tingkat Ibtidaiyah sesuai harapan dari KM Tsanawiyah,” tambahnya. Upramer menjadi kewajiban bagi murid kelas III Tsanawiyah dengan kriteria penilaian mencakup pada penguasaan kelas, materi, akhlak, penyesuaian metode, aksi, koaksi, dan tranaksi. “Meskipun mereka nanti tidak ditugaskan, mereka sudah pernah merasakan praktek mengajar ketika masih di bangku Tsanawiyah,” pungkas beliau saat kami temui di Kantor MMU Tsanawiyah siang kemarin (6/2). [Dim/MKT] Editor : Saeful Bahri Bin...
Kita Tetap Santri
Pernah suatu ketika teman bilik saya bercerita, “Kalau pulangan, yang seru saat naik bis. Baju putih dilepas, serasa bukan santri!” Dari perkataan itu, saya dapat menebak suatu penyebab perubahan sikap santri saat liburan. Padahal, liburan atau tidak, masyarakat tetap melihat “jidat” kita berlabel santri. Sebab, keasingan kita di kampung halaman menarik “mata” masyarakat. Semua tindak-tanduk kita, akan diawasi dengan ketat. Persis seperti melihat suatu yang mencurigakan. Sehingga dari sanalah kita tertantang untuk membuktikan bahwa “kita tetap santri!” Jaim (baca: jaga image) adalah ritual yang harus kita kerjakan. Minimal dengan mengerjakan semua rutinitas pesantren. Dengan kata laian, tetap mentaati undang-undang yang ada di pesantren. Mulai dari kewajiban hingga larangan. Jamaah dalam shalat, istikamah membaca al-Quran, dan senantiasa muthala’ah, harus tetap kita lakukan di rumah. Tidak hanya menjaga keistikamahan kita, akan tetapi hal itu menjaga keharuman aroma pesantren. Sehingga, masyarakat “luar” tak ada yang beranggapan miring pada pesantren. Jangan kira masyarakat menanggapi kita sebagai sosok “bersih”. Buktinya, celotehan, “jaringan lemot, dampak pulangan pondok!” Atau, “jalan macet, gara-gara ulah santri” dan kicuan-kicauan miring lainnya berserakan disana-sini. Komentar semacam itulah sebenarnya “suara peluit” dimulainya pertandingan. Ya, pertandingan kaum sarungan melawan masyarakat “luar”. Kita tertantang agar melakukan “tendangan” pada ediologi itu. Agar perkataan mereka berubah 180c derajat. Bukan malah melakukan “goal bunuh diri” yang mengakibatkan tercemarnya cita-rasa pesantren. Yang menjadikan minimnya orang belajar Agama. Akhirnya, Agama Islam pergi dari bumi pertiwi. Na’udzubillah! Untuk itu, wajib hukumnya bagi santri, memakai “sarung”-nya ketika pulangan. Hal ini demi tercapainya visi dakwah Islam secara hakiki, yakni, i’lâ’ kalimâtil-Lah, mengagungkan syiar Agama. Allahu-Akbar! Muhammad ibnu Romli |...
Pengurus Resmi Tetapkan Kalender Mencakup Pembayaran Milad PPS
Sabtu (8/5), surat keputusan terkait pembayaran Milad PPS ke-283 telah disebarkan melalui kelas-kelas dengan nominal pembayaran sebesar 400 ribu rupiah. Nominal ini sudah mencakup pembelian 2 biji Kalender PPS. Menurut Sekretaris Panitia Milad PPS ke-283, Ust. Hamdan,”Pembayaran milad yang disepakati oleh pengurus awalnya adalah 360 ribu rupiah”. Hal ini sama dengan kenaikan-kenaikan pada tahun-tahun sebelumnya. “Setelah dirapatkan, setiap pembayaran milad akan mendapatkan kalender seperti halnya mendapatkan voucher. Bahkan hal ini lebih sesuai secara hukum fikih dengan alasan kalender adalah bagian dari syiar Pondok Pesantren Sidogiri”, tambah guru yang menjabat TU MMU Tsanawiyah ini. “Jadi ini saran dari lajnah tashih serta solusi kepada pelaksana yang menjual kalender agar lebih sederhana dan tidak ruwet dalam masalah hukum dan transaksi. Cukup bayar ikhtibar nanti akan diberi kalender”, jelas Ust. Baihaqi Juri, salah satu anggota Lajnah Tashih PPS. Dengan yang demikian, mulai tahun ini dan selanjutnya pembiayaan Kalender PPS disatukan dengan pembayaran milad. Bagi santri yang ingin mendistribusikan kalender lebih luas, maka bisa menghubungi bagian bawahan Bendahara PPS. [Kang/MKT] Editor : Saeful Bahri Bin...