Begadang, Boleh Saja!
Jan08

Begadang, Boleh Saja!

Begadang jangan begadang/ Kalau tiada artinya// Begadang boleh saja/ Kalau ada artinya/ Itulah cuplikan lirik lagu karya Bang Haji, Rhoma Irama. Dengan lagunya, Bang Haji memperbolehkan kita begadang selagi ada artinya. Begadang memang disukai banyak kalangan, mulai dari remaja hingga lansia. Sebab, kesunyian, ketentraman dan jaringan lancar menjadi pembeda antara siang dan malam. Lantas siapa yang tidak suka begadang jika jaminannya begitu? Termasuk saya sendiri. Malam adalah hutan inspirasi. Berdiri di hadapan malam, bagaikan memegang tembak. Ya, bisa menembak inspirasi yang ada, dan juga sebaliknya. Malam tergantung yang menafsirkannya. Bisa bermakna baik, dan bisa juga buruk. Untuk itu, saya sama sekali tidak melarang begadang. Bahkan menganjurkan. Jika memang digunakan pada tempat semestinya. Ingat, orang bisa menjadi wali disebabkan memaksimalkan waktu malam. Pahala yang ditawarkan oleh Allah SWT pun tidak tanggung-tanggung. Apalagi di bulan Ramadan. Pada waktu itu, ada satu malam yang setara dengan seribu bulan. Malam yang terkenal dengan istijabah. Malam yang bisa melangkahkan kaki, seribu kali kedepan. Ketika begadang—yang ada artinya—pada malam itu. Niscaya sangat beruntung. Ya, keberuntungan yang sulit diungkapkan. Sebagaimana dawuh Habib Lutfi bin Yahya, “Seseorang yang memperoleh keindahan lailatul-qadr, bagaikan pengantin anyar. Kebahagiannya tak bisa diungkapkan!” Tapi disisi lain, malam adalah waktu yang paling menyeramkan. Lantaran banyak sekali setan yang mengganggu. Bukan mengganggu dengan penampakannya yang menyeramkan, melainkan menggoda akan hal yang berbau negatif. Jika kita sudah terperangkap dalam jebakan itu, maka sia-sialah amal kita selama berbulan-bulan di pesantren. Bagaikan pencari kayu, yang sudah mengumpulkan kayunya selama berbulan-bulan, tapi hangus dibakar api dalam satu menit. Walhasil, silahkan begadang, asal ada artinya. Muhammad ibnu...

Selengkapnya
Sejarah Kuliner Santri dan Restu Kiai Hasani
Jan07

Sejarah Kuliner Santri dan Restu Kiai Hasani

Keterbatasan lembaran sejarah membuang sebagaian besar sejarah yang belum tertulis. Pada semester pertama, Badan Pers Pesantren (BPP) mengupayakan untuk menelusuri sejarah awal seluruh media pesantren, dalam bentuk lomba. Pada semester kedua, BPP kembali mengadakan sayembara penelususran sejarah instansi di Sidogiri. Namun, sampai saat ini, belum pernah sejarah berdiri Pasar Santri dan Kuliner Santri tertuang dalam naskah. Untuk itu, Kabar Ikhtibar menghadirkan sepak-terjang keduanya pada edisi kali ini. Laporan: Muhammad ibnu Romli Malam Senin (02/08) kami berbincang lebar dengan Mohamad Hilmi Khoifillah (21), Rembang, yang konon ayahnya menjadi perintis bazar satiap akhir tahun ajaran. Bpk. H Nor Hamim, namanya. Beliaulah yang memiliki inisiatif membangun bazar di halaman Daerah K. “Dulu, pertama kali bazar didirikan terletak di depan Daerah K,” ceritanya, mengawali perbicaraan. Setelah mengambil nafas sejenak beliau melanjutkan, “Pertama kali saya memiliki inisiatif semacam itu, saya izin ke kantor, dan diberi restu oleh KH Hasani Nawawie. Pertama kali yang meresmikan adalah KH. Abdul Alim bin Abd. Djalil. Sehari setelahnya, baru KH Hasani yang meresmikan,” tambahnya. Menurut laporan, kantor sekretariat dulu masih terletak di samping Daerah F (kini Daerah P). Di sanalah tempat pengurus harian bisa ditemui, termasuk KH. Hasani bin Nawawie. “Bazar yang dulu tidak seperti sekarang. Konon, hanya ada kitab dan semacamnya, sementara makanan dan minuman masih jarang,” terang alumni asal Pekoren, Rembang ini. Setelah dimintai penjelasan perihal tujuan, beliau menjelaskan, “Saya ingin, kalau nanti tabungan sudah keluar, santri bisa lebih bijak mengelolanya. Dengan artian, memilih barang yang lebih besar manfaatnya, seperti kitab dan lain sebagainya.” Memang, bazar dulu hanya identik dengan kitab, buku dan pakaian. Namun, seiring waktu berjalan, tersedialah makanan dan minuman. Dari sana bazar terbagi menjadi dua: Pasar Santri dan Kuliner Santri. Asal-mula muncul kuliner, sangat erat dengan kopontren. Mula-mula kopontren membuka stand sendiri. Sejak dulu, di antara lauk-pauk di sana berasal dari keluarga Sidogiri.Dari sanalah, bazar (kini: Kuliner Santri) membuka stand khusus keluarga Sidogiri, secara terpisah dari kopontren. Letak stand Kuliner Santri ini pun sempat berpindah-pindah. Pada mula, Daerah K, lalu pindah ke kopontren unit I. Lalu, ke timur as-Suyuthi. Pada Milad Sidogiri 280, Kuliner Santri sempat berpindah ke lapangan...

Selengkapnya
Bedah Kitab Hadirkan al-Habib Umar bin Muhammad as-Seggaf
Jan06

Bedah Kitab Hadirkan al-Habib Umar bin Muhammad as-Seggaf

Sabtu (04/01),  al-Habib Umar bin Muhammad as-Seggaf dari Rejoso, Pasuruan kembali mengisi Dauroh Ilmiyah yang bertempat Aula Kantor SEC (Sidogiri Excellent Centre). Ini bukanlah pertama kalinya beliau mengisi acara Pondok Pesantren Sidogiri. Acara yang diselenggarakan oleh Kuliah Syariah kali ini, mengkaji kitab al-Muntholaqaad fi binaai dzawaatid-Daa’iyaadz. Sebuah kitab karya al-Habib Umar bin Hafidz, yang juga merupakan guru dari Habib Umar bin Muhammad ketika beliau belajar di Tarim, Hadromaut. Dan darinyalah Habib Umar bin Muhammad banyak belajar dan memahami teori maupun praktek berdakwah. “Dakwah itu mengikat makhluk kepada pencipta-Nya”, jelas habib yang juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Sidogiri. Tiga hal yang harus dipenuhi oleh seorang da’i atau pendakwah, yaitu ilmu, ‘amalul-ilm atau pengamalan, dan berpengetahuan luas. [Kang/MKT]...

Selengkapnya
Ubudiyah Adakan Diklat di Daerah D
Jan05

Ubudiyah Adakan Diklat di Daerah D

  Pagi ini, Ahad (05/01) Bagian Ubudiyah Pondok Pesantren Sidogiri adakan Pendidikan shalat di Daerah D. Dengan pemateri ketua Diklat Sholatuna, Ust. Mustafid Ibnu Khozin. Acara merupakan serangkaian agenda Wakil I Ubudiyah untuk mengadakan diklat di asrama santri. Kegiatan di mulai setelah pelaksanaan shalat shubuh. Daerah D yang merupakan asrama khusus bagi santri di tingkat Ibtidaiyah terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 4. Mereka telah siap untuk mengikuti program ini, walau mengantuk, acara berjalan dengan lancar. “Semua santri sudah kami kondisikan untuk meliburkan kegiatan setelah shubuh dengan diganti kegiatan pendidikan shalat dari Ubudiyah ini. Rata-rata anak-anak cukup antusias ingin mengikuti ini”, kata pengurus Daerah D ketika ditanya antusias anak daerahnya. Program ini telah disiapkan sejak sebelum libur Maulid dan masuk dalam kalender kegiatan Diklat. Dan baru bisa terlaksana ketika selesai pelaksanaan Imtihan Dauri ke-II. “Kami telah mempersiapkan ini dan baru terlaksana hari ini. Karena dari pihak Daerah D mengkonfirmasi program kami bisanya setelah pelaksanaan IMDA II dan diletakkan setelah kegiatan shalat shubuh berjamaah”, kata pengurus Diklat. Pelaksanaan yang direncanakan berdurasi 1 jam ternyata lebih hingga ke pelaksanaan shalat dhuha. Hal ini karena banyak yang harus disampaikan tidak sekedar praktek gerakannya saja. Walau masih terdapat kekurangan baik dari perlengkapan dan alokasi waktu, secara keseluruhan kegiatan telah diapresiasi dengan baik oleh pihak Daerah D. Kedepan akan dilakukan perbaikan secara signifikan. _____ Penulis : Musafal Habib Editor    : Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Pelantikan Panitia IMNI Periode 1440-1441 H
Jan04

Pelantikan Panitia IMNI Periode 1440-1441 H

  Malam Sabtu (03/01) panitia ujian Imtihan Niha’i (IMNI) Madrasah Miftahul Ulum (MMU) resmi  dilantik oleh Ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, M. Aminulloh Bq. Bertempat di ruang auditorium sekretariat lantai II. Acara dihadiri oleh ketua I Pondok Pesantren Sidogiri, M. Aminulloh Bq, Kepala Madrasah (KM) Aliyah, Ust. Abd. Qodir Ghufron, KM Tsanawiyah, Ust. HM. Masykur Dahlan, KM Ibtidaiyah, Ust, Muntahal Hadi dan beberapa guru dari masing-masing tingkatan. Personalia panitia IMNI Ibtidaiyah: Ketua, M. Nurul Hakim, Pasuruan. Wakil Ketua, M. Misbahul Munir, Pasuruan. Sekretaris, Yuslul Fuad, Banyuwangi. Wakil I Sekretaris, Tolut Hasan, Pasuruan. Wakil II Sekretaris, Salaman, Sampang. Bendahara, M. Ali Wafa, Pasuruan. Personalia panitia IMNI Tsanawiyah: Ketua, Mustofa, Pasuruan. Wakil Ketua, A. Saiful Furqon, Sampang. Bendahara, Abd. Qodir, Bangkalan. Sekretasis, Masruhin, Gersik. Wakil Sekretaris, Hayatulloh, Pasuruan. Personalia panitia IMNI Aliyah: Ketua, Umar Hamdan, Pasuruan. Sekretaris, Fakhruzi, Jakarta Utara. Bendahara, Nur Hasyim, Probolinggo. Dalam pelantikan tersebut, ketua I Pondok Pesantren Sidogiri menyampaikan bahwa biaya IMNI untuk tingkat Tsanawiyah dan Ibtidaiyah adalah gratis. Beliau juga berpesan kepada seluruh guru yang hadir, agar segera mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menghadapi IMNI, “Segera disiapkan segala sesuatunya, mulai sekarang jangan santai-santai karena waktunya terbatas,” pesan beliau. Harapan beliau untuk IMNI tahun ini adalah semua murid dari setiap tingkatan bisa lulus murni seratus persen, “Saya ingin semua peserta IMNI lulus murni seratus persen,” jelas beliau. _________ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya