Kajian Tafsir Gus Baha, Bahas Teori Nasakh-Mansukh
Jan01

Kajian Tafsir Gus Baha, Bahas Teori Nasakh-Mansukh

Malam Kamis (01/01) Kuliah Syariah kembali melanjutkan kajian tafsir bersama KH. Bahauddin Nur salim, pakar tafsir dari Rembang, yang digelar rutin setiap bulannya. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. Bertempat di ruang auditorium sekretariat lantai II. Kali ini Gus Baha (sapaan akrab beliau) membahas mengenai nasikh-mansukh dalam kajian ilmu tafsir. Metode ini kerap menimbulkan masalah ketika tidak dipahami dengan benar. Beliau menjelaskan, imam Suyuti sendiri, dalam kitab Itqan-nya menjelaskan beberapa kesalahan beliau dalam menetukan beberapa ayat yang di nasakh dalam kitab beliau yang lain. Beberapa orang kerap menentukan bahwa sebuah ayat telah di nasakh hukumnya, padahal sebenarnya Allah tidak menasakh hukum dari ayat tersebut. Perubahan hukum yang terjadi dalam sebuah ayat, terkadang hanya karena illat hukum-nya. Sebagai contoh ayat yang menganjurkan orang muslim untuk diam ketika dihujat oleh orang kafir. Ayat yang menjelaskan hal itu turun dikota Makkah yang mana ketika itu umat Islam masih menjadi minoritas. Setelah peristiwa hijrah, Allah kembali menurunkan wahyu yang menganjurkan umat Islam untuk memerengi orang kafir, terlebih ketika diusik. Ayat yang turun di Madinah tersebut tidaklah me-nasakh ayat yang turun di Makkah. Perbedaan hukum dari kedua ayat tersebut hanya dikarenakan illat hukum yang berbeda. Ketika di Makkah umat Islam masih menjadi minoritas, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadap orang kafir. Coba bayangkan andaikan orang muslim ketika itu memberontak, pasti akan dibantai oleh orang kafir Qurasy. Sebaliknya, ketika berada di Madinah, umat Islam telah bertambah banyak dan menjadi mayoritas di sama, sehingga memungkinkan untuk melakukan perlawanan terhadap orang kafir. Begitu juga dengan keadaan muslim saat ini, ketika muslim menjadi mayoritas maka dianjurkan untuk melawan orang kafir, sebaliknya jika minoritas seharusnya bagi seorang muslim diam saja ketika ada kemungkaran, sengan catatan harus ada ingkar dalam hatinya terhadap maksiat itu. Intinya dalam beberapa ayat al-Quran ada beberapa ayat al-Quran yang sekilas menimbulkan konsekuensi hukum yang berbeda, tapi bukan berarti dalam ayat itu terjadi hukum nasakh-mansukh. _______ Penulis: Kanzul Hikam Editor: Saeful Bahri bin...

Selengkapnya
Budaya Tahun Baru
Jan01

Budaya Tahun Baru

Deskripsi Masalah Pukul 00.00 WIB, pada tanggal 01 Januari. di seluruh dunia terdengar bunyi petasan, terompet dan teriakan-teriakan kegembiraan, akan tetapi ada salah satu pondok di jagad raya ini yang sangat tampil beda.  Sebut saja ponpes “AL IHSAN” Di saat sekitar jam 23.30 WIB bukan menyiapkan petasan dan terompet seperti umumnya manusia untuk dinyalakan akan tetapi para santri bersiap-siapa dan berkumpul  di Masjid untuk melakukan doa akhir tahun dan pada saat jam 00.00 WIB tepat mereka mengumandandangkan doa awal tahun secara bersama-sama. Mereka beranggapan walaupun tahun baru tersebut itu adalah peringatan milik non islam. Akan tetapi apabila kita memperingati hari tersebut dengan diisi hal-hal yang dilegalkan oleh syara’ seperti dzikir, sholawat, istighosah dll. Maka hukumnya tidak haram lagi bahkan bisa sunah. Dan pondok ini juga tampil beda lagi ketika penutupan pondok pasaan (Pondok Ramadhan). Pondok tersebut merayakannya dengan menyalakan kembang api dan petasan yang sampai menelan dana jutaan. Pertanyaan Apakah anjuran doa awal tahun dan akhri tahun juga dianjurkan pada awal tahun Masehi? ataukah hanya husus tahun Hijriyah? Apakah benar anggapan mereka memperingati moment-moment/hari-hari yang identik dengan non-Islam seperti Natal, Tahun baru masehi, dan Valentine day, ketika diisi dengan hal-hal yang dianjurkan syara’ hukumnya bukan haram lagi bahkan sunah? Jawaban Tidak dianjurkan, karena doa awal tahun dianjurkan untuk awal tahun hijriyah. Tidak dibenarkan karena ada unsur muwâfaqah, yaitu dengan sengaja mengadakan acara bertepatan dengan Syi’ar agama mereka. Tapi bila sama sekali tidak ada unsur muwafaqah (sengaja mengadakan acara bertepatan dengan Syi’ar agama orang-orang kafir) dan hanya kebetulan saja bersamaan maka tidak mengapa. Rujukan فائدة من قال أول المحرم اللهم أنت الأبدي القديم وهذه سنة جديدة أسألك فيها العصمة من الشيطان وأوليائه والعون على هذه النفس الأمارة بالسوء والاشتغال بما يقربني إليك يا كريم قال الشيطان أيسنا من نفسه، ويوكل الله به ملكين يحرسانه تلك السنة. (نزهة المجالس ومنتخب النفائس، 1/164( من دعا بهذا الدعاء اول يوم من المحرم فان الشيطان يقول استاءمن على نفسه فيما بقي من عمره لان الله يوكل به ملكين بحرسانه من الشيطان… من صلى فى اخر ليلة من ذى الحجة عشر ركعات وفرأ في كل ركعة الفاتحة مرة واية الكرسي عشر مرات, والاخلاص عشر مرات ثم رفع يديه واستغفر الله لنفسه والوالديه وللمؤمنين والمؤمنات ماشاء ودعا بهذ الدعاء ثلاث مرات فان الشيطان يقول قد تعبنا معه سائر السنة فأفسد عملنا في واحدة ويحثو التراب على وجهه. (مجموعة الموالد والادعية، 76-77) النهي عن الاحتفال بما يسمى بليلة رأس السنة الميلادية ومما يفعله كثير من الناس في فصل الشتاء، ويزعمون أنه ميلاد عيسى عليه السلام، فجميع ما يصنع أيضا في هذه الليالي من المنكرات، مثل: إيقاد النيران، وإحداث طعام، وشراء شمع، وغير ذلك؛ فإن اتخاذ هذه المواليد موسما هو دين النصارى، وليس لذلك أصل في دين الإسلام....

Selengkapnya
Meminjam Air untuk Wudhu
Jan01

Meminjam Air untuk Wudhu

a. Deskripsi Masalah Di Madura terjadi musim kemarau panjang, sehingga mengalami kekurangan air. Tapi tidak semua orang terkena dampaknya, karena sebagian ada yang memiliki tempat penampungan air yang cukup banyak. b. Pertanyaan Bagaimana hukum meminjam air untuk wudhu? c. Jawaban Meminjam air untuk wudhu dihukumi sah. d. Rujukan قَالَ بَعْضُ عُلَمَاءِنَا: وَكَوْنُ الإِعَارَةِ لاِسْتِفادَةِ المُسْتَعِيْرِ مَحْضَ المَنْفَعَةِ هُوَ الغَالِبِ (قَوْلُهُ لاِسْتِفَادَةِ المُسْتَعِيْر الخ) يَجُوْزُ إِعَارَةُ الوَرَقِ لِلْكِتَابَةِ وَكَذَلِكَ إِعَارَةُ المَاءِ لِلْوُضُوْءِ وَغَسْلِ النَجاسَةِ لاَ يَنْجُسُ بِهَا اهـ وهذه العبارة بمعناها موجودة في (إعانة الطالبين, 3/130), و (البجيرمي على الخطيب, 3/130). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Darah pada Daging Sapi
Jan01

Darah pada Daging Sapi

a. Deskripsi Masalah Sebagaimana biasanya, daging yang dibuat pentol bakso sewaktu digiling darahnya keluar, sedangkan bila dicuci rasanya akan hambar. b. Pertanyaan Bagaimana hukum darah tersebut? c. Jawaban Jawaban ada pemilahan: darah tersebut dihukumi najis yang di-ma’fû kalau tidak bercampur dengan barang lain sebelum digiling.  Dihukumi najis yang tidak di-ma’fû apabila bercampur dengan barang lain sebelum digiling (yang dimaksud bercampur di sini adalah, seperti sebelum digiling daging tersebut dicuci dengan air, ternyata setelah dicuci masih ada sisa darah. Darah ini dikatakan bercampur dengan barang lain, yaitu air). Tetapi, menurut apa yang ditunjukkan oleh pernyataan Imam an-Nawawi dalam al-Majmû’, darah tersebut dihukumi suci. d. Rujukan وَأَمَّا الدَّمُ البَاقِيْ عَلَى اللَّحْمِ وَعِظَامِهِ وَعُرُوْقِهِ مِنَ المُذَكَّاةِ فَنَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ، وَذَلكَ إِذَا لَمْ يَخْتَلِطْ بِشَيْءٍ كَمَا لَوْ ذُبِحَتْ شَاةٌ وَقُطِعَ لَحْمُهَا وَبَقِيَ عَلَيْهِ أَثَرٌ مِنَ الدَّمِ وَإِنْ تَلَوَّنَ الْمَرقُ بِلَوْنِهِ، بِخِلافِ مَا لَوْ اخْتَلَطَ بِغَيْرِه كَالماءِ كَمَا يُفْعَلُ في البَقَر الذِيْ تُذْبَحُ فِي المَحَلِّ المُعَدِّ لِذِبْحِهَا مِنْ صَبِّ المَاءِ عَلَيْهَا لإِزَالَةِ الدَّمِ عَنْهَا فَإِنَّ البَاقِيَ مِنَ الدَّمِ عَلَى اللَّحْمِ بَعْدَ صَبِّ الْمَاءِ عَلَيْهِ لاَ يُعْفَى عَنْهُ وَإِنْ قَلَّ لاِخْتِلاطِهِ بِأَجْنَبِيٍّ اهـ (نهاية الزين, 40). (قَوْلُه حَتَّى ما بَقِيَ على نَحْوِ عَظْمٍ) أي حَتَّى الدَّمِ البَاقِيْ عَلَى نَحْوِ عَظْمٍ فَإِنَّهُ نَجِسٌ وَقِيْلَ إِنَّهُ طَاهِرٌ وَهُوَ قَضِيَّةُ كَلامِ النَّوَوِيِّ فِي المَجْمُوْعِ اهـ (حاشية إعانة الطالبين,1/83), وكذا في (حاشية الشرقاوي على شرح التحرير, 1/121). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya
Daging Tambahan
Jan01

Daging Tambahan

a. Deskripsi Masalah Ada orang tabrakan yang mengakibatkan pipinya luka dan berlubang. Kemudian lubang itu ditambal dengan mengambil daging dari aurat (bagian tubuh) orang lain. b. Pertanyaan Apakah daging tambalan itu masih berstatus aurat yang harus ditutupi? c. Jawaban Daging tambalan tersebut termasuk aurat yang wajib ditutupi. d. Rujukan وَكذَا لَوْ تَقَلَّعَتْ جلدَةٌ مِنْ غَيْرِ العَوْرَةِ وَوَصَلَتْ إِلَيْهَا، سَواءٌ مَعَ الاِلْتِصاقِ أَوْ دُوْنَه، بِخِلافِ العَكْسِ بِأَنْ تَقَلَّعَتْ مِنْ العَوْرَةِ إِلَى غَيْرِهَا عَلَى مَا مَرَّ فَإِنَّهُ يَجِبُ سَتْرُهَا، اِعْتِبَارًا بِالأَصْلِ فِيْهِمَا اهـ (حاشية الشرقاوي على شرح التحرير,1/174). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...

Selengkapnya