Seminar Sastra, ISS Datangkan Sastrawan Internasional
Ikatan Santri Sidogiri (ISS) Pusat akan mengadakan Seminar Sastra dengan mendatangkan Sastrawan Internasional dari Madura, KH. D. Zawawi Imron. Dengan tema, Bincang Sastra Pesantren dari Teori hingga Praktek, acara ini akan dilaksanakan pada Malam Kamis mendatang (02/01) di Gedung Sidogiri Excellent Center (SEC). Selain ISS Pusat, acara ini juga didukung oleh Buletin Nasyith, Sidogiri Expo, dan Jamiiyah Tahsin Sidogiri. Bagi yang ingin mengikuti acara ini, cukup dengan membayar uang IDR sebesar Rp. 10.000 berikut materinya. Kabar baik, bagi simpatisan sekitar Sidogiri yang akan mengikuti acara juga bisa membeli materi langsung di lokasi pelaksanaan, yakni di gedung SEC atau LAZ Sidogiri. Sejak tiga hari yang lalu, pemberitahuan dalam bentuk poster sudah di pasang di berbagai sudut Pesantren Sidogiri. Mengetahui hal tersebut salah seorang santri yang membaca merasa bahagia, karena dia akan bertemu dengan tokoh yang sangat dia kagumi. “Senang pastinya, apalagi kita diberi kesempatan untuk membuat puisi yang kalau terpilih bisa dibacakan di depan beliau”, komentar salah satu santri yang kebetulan membaca poster tersebut. Acara juga memberikan kesempatan bagi santri atau peserta yang ingin membuat puisi yang nantinya akan dibacakan di depan beliau, KH. D. Zawawi Imron. Tentu bukan kesempatan yang akan datang dua kali. Banyak santri yang berbondong-bondong mengirimkan puisi ke Kantor ISS di gedung Sekretariat Pondok Pesantren Sidogiri atau ke kotak yang berada di bawah Daerah J (dekat Majalah Dinding Koreksi). Hingga senin kemarin, pengirim puisi berjumlah 10 santri, dan itu yang mengirim langsung ke kantor ISS. Nantinya, hanya lima puisi terbaik yang akan di bacakan di depan sang Sastrawan Internasional asal Sumenep Madura ini. Penulis: Musafal Habib Editor : Saeful Bahri bin...
Pengurus Kontrol Santri yang Tidak Ikut Pengajian Kitab
Senin 25 rabiuts sani 1441 H, pengurus kitab ma’hadiyah mengadakan pengontrolan pada santri yang yang tidak mengikuti pengajian kitab ma’hadiyah. hal ini di lakukan karena minimnya antusias dan banyak nya santri yang alpha saat pengajian kitab ma’hadiyah ,sebagaimna yang di sampaikan oleh wakil II ta’limiyah wa tahfidzul qur’an ,ust.angsuryadi “pengontrolan ini di lakukan karena banyaknya santri yang alpha saat pengajian kitab ma’hadiyah”. Pengontrolan ini rencanya akan di laksanakan satu kali setiap minggu ,sebagaimna yang di samapaikan oleh staf I pengajian kitab ma’hadiyah ,ust.choiri bahwa ”pengontrolan ini akan di laksanakan setiap malam sabtu,karena malam itu banyak sekali santri yang alpha dalam pengajian kitab ma’hadiyah,terutama yang masih aktif di instansi ,jadi untuk meminimalisir hal itu, kita turun tangan saja ke semua instansi dan daerah untuk mengetahui langsung keadaan mereka. selanjutnya kabag Ta’limiyah wa tahfidzul qur’an ,ust.fahmi aziz akan mengadakan koordinasi dengan pihak ubudiyah pondok pesantren sidogiri untuk bekerja sama mengontrol setiap instansi dan daerah saat pengajin al qur’an dan pengajian kitab ma’hadiyah.karena menurut beliau ,semua santri pada jam 06:00 – 08:00 mempunyai kewajiban masing masing,ada yang ngaji al qur’an ,shalawat,dan ada yang ngaji kitab,jadi yang masih ada di daerah atau instansi itu sudah jelas melanggar dan tidak mengikuti kewajiban-kewajibannya”tegas beliau. Untuk perdana ,pengontrolan ini di mulai dari instansi sekretariat karena merupakan instansi yag terdekat dengan instansi TTQ.syahdan ,banyak santri yang terciduk tidak mengikuti pengajian kitab, hal ini di benarkan langsung oleh satf III ta’limiyah wa tahfidz al qur’an ,ust emha ainul ahkam, yang menangani bagian kedisiplinan dan keaktifan audien pengajain kitab ma’hadiyah ,”bayak sekali petugas sekretariat yang tidak mengikuti ngaji kitab,bedeh se ibtidaiyah bedeh jugen se ampon aliyah”.jelas beliau Mengenai tindak lanjut santri yang terciduk tidak mengikuti pengajian kitab ma’hadiyah,untuk pertama adalah peringatan selanjutnya di laporkan pada taklimiyah masing masing dan jika masih tetap maka akan di laporkan pada bagian ketertiban dan keamanan pondok pesantren...
Tahun Baru, Apa Tahun “Bherui”?
Selamat tahun barui (baca: basi). Itulah gojlokan salah satu teman kepada saya. Awalnya agak jengkel, akan tetapi setelah dipikir ulang, omelan itu ada benarnya. Mengingat, kalender memang sudah baru, akan tetapi diri saya sendiri belum pernah baru, alias barui. Dari cemoohan itulah, saya sadar, bahwa yang terpenting dalam tahun baru bukan perayaan. Akan tetapi, me-restart ulang semua perilaku saya. Ctrl + S (save) pada semua file penting, sedangkan virus harus segera di-Ctrl + D (delete). Selain itu, saya harus meng-instal software baru serta meng-upgrade ke versi terbaru. Agar omongan barui tidak terdengar lagi. Sebab, dengan melakukan semua itu, “komputer” akan terasa baru, tanpa harus membeli yang baru. Juga, yang lebih penting adalah: empty recycle bin. Dengan begitu, semua virus yang sudah di-delete tidak bisa di-restore kembali. Terakhir, jangan malu untuk merubah background dan menata ulang tampilan di desktop. Karena, untuk menata bagian dalam, harus dimulai dengan menata bagian luar terlebih dahulu. Seandainya, setiap tahun baru saya melaksanakan seluruh item di atas, niscaya akan menjadi manusia baru. Meski kenyataannya sudah berkepala tiga. Saya teringat pada saat liburan (baca: pulangan) kemarin. Tepatnya, saat jalan-jalan di ITCity, Surabaya. Di salah-satu lantai—entah lantai berapa—saya melihat jejeran stan eletronik. Di salah satu stan, terlihat penjual memamerkan salah-satu barangnya. Saya tertawa dalam hati, melihat laptop baru keluaran 2017, Microsoft Office-nya masih 2003. Lebih tepatnya—julukan untuk laptop tersebut—baru rasa barui. Jika dipikir-pikir, lebih baik komputer lama, tapi programs-nya baru. Di bandingkan dengan komputer baru, tapi programs-nya barui. Karena, yang terpenting adalah dalam kinerja komputer adalah programs. Begitupula manusia, yang terpenting dalam diri manusia adalah: perilaku. Bukan dari orangnya. Samahalnya pepetah Madura, tékká’ah muáh júbé’, sé pénting ghéllém mekól. Meskipun bermuka jelek, tapi mau disuruh memikul (baca: bekerja). Dari pepatah itu, dapat diambil kesimpulan bahwa: yang paling dilirik masyarakat adalah sifat dan perangai, sedangkan penampilan itu nomor belakang. Begitupun tahun baru, yang terpenting bukanlah cara kita merayakan. Akan tetapi, sebesar mana perubahan yang ada. Sungguh rugi jika umur berkurang, malah amal baik juga ikut menurun. Lantas apa yang dibanggakan, hingga dirayakan besar-besaran? Sungguh malu, jika yang belum menjadi lebih baik meneriakkan, “Selamat tahun baru!” Perkataan itu seakan-akan mengucapkan selamat pada sû’ul-khatimah. Na’udzubil-Lah! Muhammad ibnu...
Tradisi Natalan
Deskripsi Masalah Kepala bagian operasi Polres Jember mengatakan sebanyak dua pertiga anggota Polres Jember atau sekitar delapan ratus personel dikerahkan untuk mengamankan acara Natal 2007 dan tahun baru 2008. Selain TNI AD, aparat kepolisian tersebut juga dibantu oleh ratusan anggota Gerakan Pemuda Anshor yang ikut mengamankan Gereja pada perayaan Natal (KOMPAS, Jumat 21/12/2007). Selain itu di tempat terpisah sejumlah tokoh Islam dan pejabat setempat hadir dalam perayaan Natal yang dilaksanakan di GOR Sidoarjo, Jumat 18/1. Pertanyaan Apakah boleh seorang Muslim mengamankan kegiatan Natal? Bagimana pandangan Islam tentang tokoh Islam atau pejabat Muslim yang menghadiri perayaan Natal? Jawaban Terdapat perincian sebagai berikut: Bagi relawan tidak diperbolehkan kecuali saat terjadi kerusuhan yang mengancam nyawa orang-orang kafir tersebut, semata-mata untuk menyelamatkan nyawa mereka. Bagi petugas keamanan diperbolehkan menjaganya untuk mengantisipasi ancaman para teroris yang mengganggu keselamatan mereka. Tidak diperbolehkan. Rujukan (وَبِأَمْرٍ بِمَعْرُوفٍ وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ) أَيْ الْأَمْرِ بِوَاجِبَاتِ الشَّرْعِ وَالنَّهْيِ عَنْ مُحَرَّمَاتِهِ إذَا لَمْ يَخَفْ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ أَوْ عَلَى غَيْرِهِ مَفْسَدَةً أَعْظَمَ مِنْ مَفْسَدَةِ الْمُنْكَرِ الْوَاقِعِ وَلَا يُنْكِرُ إلَّا مَا يَرَى الْفَاعِلُ تَحْرِيمَهُ (قَوْلُهُ وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ) وَالْإِنْكَارُ يَكُونُ بِالْيَدِ فَإِنْ عَجَزَ فَبِاللِّسَانِ فَعَلَيْهِ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِكُلِّ وَجْهٍ أَمْكَنَهُ وَلَا يَكْفِي الْوَعْظُ لِمَنْ أَمْكَنَهُ إزَالَتُهُ بِالْيَدِ وَلَا كَرَاهَةُ الْقَلْبِ لِمَنْ قَدَرَ عَلَى النَّهْيِ بِاللِّسَانِ وَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِغَيْرِهِ إذَا لَمْ يَخَفْ فِتْنَةً مِنْ إظْهَارِ سِلَاحٍ وَحَرْبٍ وَلَمْ يُمْكِنْهُ الِاسْتِقْلَالُ فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ رَفَعَ ذَلِكَ إلَى الْوَالِي فَإِنْ عَجَزَ عَنْهُ أَنْكَرَهُ بِقَلْبِهِ اهـ مِنْ الرَّوْضِ وَشَرْحِهِ (قَوْلُهُ إذَا لَمْ يَخَفْ عَلَى نَفْسِهِ وَمَالِهِ إلَخْ) عِبَارَةُ شَرْحِ م ر وَشَرْطُ وُجُوبِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ أَنْ يَأْمَنَ عَلَى نَفْسِهِ وَعُضْوِهِ وَمَالِهِ وَإِنْ قَلَّ كَمَا شَمِلَهُ كَلَامُهُمْ بَلْ وَعِرْضِهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَعَلَى غَيْرِهِ بِأَنْ يَخَافَ عَلَيْهِ مَفْسَدَةً أَكْثَرَ مِنْ مَفْسَدَةِ الْمُنْكَرِ الْوَاقِعِ وَيَحْرُمُ مَعَ الْخَوْفِ عَلَى الْغَيْرِ وَيُسَنُّ مَعَ الْخَوْفِ عَلَى النَّفْسِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْإِلْقَاءِ بِالْيَدِ إلَى التَّهْلُكَةِ مَخْصُوصٌ بِغَيْرِ الْجِهَادِ وَنَحْوِهِ كَمُكْرَهٍ عَلَى فِعْلِ حَرَامٍ غَيْرِ زِنًا وَقَتْلٍ وَأَنْ يَأْمَنَ أَيْضًا أَنَّ الْمُنْكَرَ عَلَيْهِ لَا يَقْطَعُ نَفَقَتَهُ وَهُوَ مُحْتَاجٌ إلَيْهَا وَلَا يَزِيدُ عِنَادًا وَلَا يَنْتَقِلُ إلَى مَا هُوَ أَفْحَشُ وَسَوَاءٌ فِي لُزُومِ الْإِنْكَارِ أَظَنَّ أَنَّ الْمَأْمُورَ يَمْتَثِلُ أَمْ لَا انْتَهَتْ. (حاشية الجمل، 5/182–183) ثَالِثًا عَدَمُ التَّعَرُّضِ لَهُمْ فِي عَقِيدَتِهِمْ وَعِبَادَتِهِمْ. إِنَّ مِنْ مُقْتَضَى عَقْدِ الذِّمَّةِ أَلاَّ يَتَعَرَّضَ الْمُسْلِمُونَ لأِهْل الذِّمَّةِ فِي عَقِيدَتِهِمْ وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِمْ دُونَ إِظْهَارِ شَعَائِرِهِمْ، فَعَقْدُ الذِّمَّةِ إِقْرَارُ الْكُفَّارِ عَلَى كُفْرِهِمْ بِشَرْطِ بَذْل الْجِزْيَةِ وَالْتِزَامِ أَحْكَامِ الْمِلَّةِ، وَإِذَا كَانَ هُنَاكَ احْتِمَال دُخُول الذِّمِّيِّ فِي الإْسْلاَمِ عَنْ طَرِيقِ مُخَالَطَتِهِ لِلْمُسْلِمِينَ وَوُقُوفِهِ عَلَى مَحَاسِنِ الدِّينِ، فَهَذَا يَكُونُ عَنْ طَرِيقِ الدَّعْوَةِ لاَ عَنْ طَرِيقِ الإْكْرَاهِ، وَقَدْ قَال اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ]لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ[، وَفِي كِتَابِ النَّبِيِّ e لأِهْل نَجْرَانَ: وَلِنَجْرَانَ وَحَاشِيَتِهَا جِوَارُ اللَّهِ وَذِمَّةُ مُحَمَّدٍ رَسُول اللَّهِ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَمِلَّتِهِمْ وَبِيَعِهِمْ وَكُل مَا تَحْتَ أَيْدِيهِمْ وَهَذَا الأْصْل مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ. (الموسوعة الفقهية الكويتية،...
Wudhu dengan Menyelam
a. Deskripsi Masalah Ketika air di sungai sedang pasang, Hasyim langsung saja menceburkan dirinya ke sungai lalu menyelam. Saat menceburkan diri itu ia sekaligus nait wudhu. b. Pertanyaan Bagaimana hukum berwudhu dengan cara mencebur-kan diri ke dalam sungai? c. Jawaban Hukumnya sah apabila berniat, sekalipun ketika menceburkan diri tidak diam kira-kira selama orang wudhu dengan tertib. d. Rujukan وَلَوِ انْغَمَسَ مُحْدِثٌ وَلَوْ فِي مَاءٍ قَلِيْلٍ بِنِيَّةٍ مُعْتَبَرَةٍ مِمَّا مَرَّ أَجْزَأَهُ عَنِ الوُضُوْءِ وَلَوْ لَمْ يَمْكُثْ فِي الِإنْغِمَاسِ اهـ (إعانة الطالبين, 1/42). Disadur dari buku: Santri Salaf Menjawab untuk mendapatkannya, klik tombol di bawah ini Pesan...